Jumat, 10 Februari 2017

Duo Captain with Soetikno Soedarjo & Emirsyah Satar

Sekitar September 2016 sempat muncul berita yang membuat heboh dari KPK. Heboh karena mengandung teka-teki yang mungkin hanya Tuhan dan KPK yang tahu jawabannya.

Saat itu, Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan adanya seorang direktur utama dari sebuah BUMN yang diduga menerima suap di Singapura. Hanya ini yang disampaikan Agus ketika itu. Selebihnya tidak ada informasi yang bisa didapat. Agus mengunci mulutnya rapat-rapat ketika pers mempertanyakan siapa si pejabat itu, apa BUMN yang dia pimpin, bagaimana modus pemberian suap, siapa pemberi suap, atau dalam kaitan apa suap diberikan.

Rumor pun berkembang dan berubah menjadi bola liar yang melambung ke segala arah. Teki-teki siapa si direktur utama menjadi topik pembicaraan beberapa hari kemudian. Ada yang mencoba memancing KPK agar segera mengungkap siapa dia dengan menyebut pasar bisa dilanda kepanikan kalau terlalu lama dibiarkan tanpa kejelasan.

Berhari-hari spekulasi dan main tebak-tebakan pun menjamur. Bahkan ada anggota DPR yang mengaku sudah tahu siapa direktur yang sedang dibidik KPK itu. "Informasi yang saya dengar dari salah satu kementerian yang berkaitan dengan ESDM, tapi bukan Pertamina. Yang kaitannya dengan gas atau apalah," kata si anggota DPR seperti dikutip situs batamnews.co.id.

Teka-teki yang diutarakan Ketua KPK ini pun akhirnya terjawab sekitar tiga bulan kemudian.

Hari Kamis, 19 Januari 2017, KPK mengumumkan status tersangka terhadap Emirsyah Satar. Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia itu diduga menerima suap terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia. Nilai suap diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar. Suap diduga diterima Emir semasa ia menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia pada 2005-2014.
Sumber Foto:Viva.co.id

Suap diduga sampai ke Emirsyah melalui seorang perantara yang bernama Soetikno Soedarjo. KPK menyebut Soetikno adalah pemilik Connaught International Pte Ltd. Menurut Kompas.com, di perusahaan yang bermarkas di Singapura ini, Soetikno selaku beneficial owner, atau pemilik sebenarnya dari penghasilan berupa bunga, deviden, dan royalti yang bersumber dari badan usaha tersebut. KPK pun sudah menjadikan Soetikno sebagai tersangka bersama Emirsyah.

"Connaught International ini perusahaan yang memiliki hubungan dengan Airbus dan Rolls-Royce, yakni sebagai konsultan penjualan pesawat dan mesin pesawat di Indonesia," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah, seperti yang ditulis kompas.com.

Sumber Foto: Forbesindonesia.com

Di Indonesia, Soetikno Soedarjo lebih dikenal publik sebagai CEO sekaligus salah satu pendiri PT Mugi Rekso Abadi, atau biasa disebut MRA Group, yang merupakan perusahaan induk yang membawahi beberapa unit usaha. Sebagian besar unit usaha MRA Group bergerak di bidang hiburan dan gaya hidup. Situs Wikipedia mengungkap, PT Mugi Rekso Abadi didirikan pada tahun 1993 oleh Soetikno Soedarjo bersama dua rekannya, Adiguna Sutowo dan Dian M Soedardjo.

MRA Group memiliki tujuh divisi, yakni media cetak, media penyiaran, retail and lifestyle, makanan dan minuman, otomotif, hotel dan properti. Beberapa merek yang ada dalam genggaman MRA Group adalah Cosmopolitan FM, Hard Rock FM, I-Radio, Trax FM, Brava FM, MNI, Ghiboo.com, Q Research Indonesia, dan IP Entertainment. Untuk media cetak ada Majalah Cosmopolitan, Harper's Bazaar, Bravacasa, Cosmogirl, Amica, Good Housekeeping, Bali & Beyond, Spice!, Trax, FHM, Mother & Baby ,Autocar, Hair Ideas, Esquire, Fitness, Men's Fitness , dan HELLO!.

Soetikno dan PT Mugi Rekso Abadi juga pemilik dan pemegang distribusi untuk Indonesia dari sejumlah merek dunia, seperti Bulgari, Jewelry, Paris Hilton, Bang & Olufsen, Vision Home Entertainment, Hard Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali, Häagen Dazs, The Cloud, Zoom Bar & Lounge, Harley Davidson, Ferrari, Maserati, Abarth, dan Bulgari Hotel & Resort.
Sumber Foto: mabuamedia.com

Saya pun melakukan riset kecil-kecilan mengenai hubungan Emirsyah Satar dengan Soetikno Soedarjo. Dari hasil satu-dua jam menelusuri begitu banyak informasi di Google, saya mendapatkan sejumlah fakta tentang kedekatan dua tokoh ini.

Keduanya pernah hadir di acara Garuda Indonesia berupa peluncuran layanan "Mobile Ticketing Counter" yang berlangsung di Jakarta, 17 Desember 2013. Kehadiran Soetikno di acara ini bukan semata-mata karena ia berteman baik dengan Emirsyah. Peluncuran bis pelayanan tiket berjalan oleh Garuda Indonesia ini menggandeng sejumlah radio di dalam jaringan MRA Group sebagai media publikasi. Tidak heran kalau logo radio milik Soetikno pun menempel di badan bis.

Nah, jelas sudah kalau Soetikno hadir di acara ini sebagai petinggi dari MRA Group, bukan karena diundang sebagai rekan bisnis dari Emirsyah ataupun Garuda Indonesia. Tak heran kalau kemudian pengusaha ini berdiri di tengah ketika berlangsung acara gunting pita di acara ini.

Sumber foto: Beritasatu.com

Keduanya juga pernah tampil bersama di acara ulang tahun Brava Radio FM, yang juga berada dalam jaringan MRA Group, pada Maret 2015. Keduanya muncul dalam program bernama ‘Duo Captain with Soetikno Soedarjo & Emirsyah Satar’. Mereka mengambil alih alih siaran Good Day Jakarta selama satu jam. Sejumlah foto yang di ada di situs Brava Radio memperlihatkan bagaimana suasana ketika Soetikno Soedarjo dan Emirsyah Satar sedang berperan sebagai penyiar.

Sumber Foto: Bravaradio.com

Saya juga menemukan foto Soetikno Soedarjo dan Emirsyah Satar yang berada di antara enam orang lainnya dalam sebuah acara. Dari spanduk yang ada di belakang mereka, terlihat momen ini berlangsung pada acara penandatanganan kerja sama yang antara PT Garuda Indonesia, PT Citra Langgeng Otomotif (Ferrari Indonesia) dan Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI). Sebuah situs menulis acara ini berlangsung pada 10 Mei 2012 di Denpasar, Bali. Perlu diketahui, distribusi mobil Ferrari untuk Indonesia juga dipegang oleh MRA Group, yang dipimpin oleh Soetikno Soedarjo.
Sumber Foto: mobil.sportku.com

Semasa Emirsyah Satar menjabat Direktur Utama Garuda Indonesia, maskapai kebanggan Indonesia ini juga pernah bekerja sama dengan Ferrari untuk menggelar 'Joy Flight' (terbang tamasya) pada hari Minggu, 18 Desember 2011. Saat itu, ada sekitar 45 anak kurang beruntung dari sebuah yayasan yang dibawa terbang ke wilayah udara sekitar Banten selama satu jam dengan pesawat Garuda Indonesia.

Pada hari yang sama, puluhan mobil Ferrari yang pemiliknya tergabung dalam Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI), juga menggelar konvoi menuju markas Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Yang istimewa, Emirsyah Satar saat itu menjempur para peserta konvoi dari sebuah kawasan bisnis di Jakarta dan kemudian bersama-sama menuju markas Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta.

Sumber Foto: http://prima-rizqa.blogspot.co.id

Inilah sedikit riset yang saya dapatkan ketika penasaran mengenai apa hubungan Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo, selain keduanya sama-sama menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap dari pabrik mesin pesawat Rolls-Royce kepada Garuda Indonesia.
Selengkapnya...

Rabu, 08 Februari 2017

Morotai: A Memoir of War

Morotai adalah sebuah pulau seluas 1.800 meter persegi di sebelah utara Provinsi Maluku Utara. Pulau ini sangat strategis karena berada di salah satu titik terluar Indonesia. Morotai terletak di pinggir Samudera Pasifik dan cukup dekat dengan sejumlah negara tetangga di kawasan Pasifik.

Sang Pencipta memberikan Morotai sejumlah karunia yang menjadi kebanggaan. Pulau yang berpenduduk sekitar 55.000 jiwa ini dikelilingi beberapa pantai dengan pemandangan memukau. Sejumlah pulau kecil nan indah juga mengelilingi Morotai. Belum lagi lautnya dihiasi keindahan bawah laut yang menyimpan misteri, yakni sisa-sisa Perang Dunia II. Keindahan Morotai dengan segudang sejarah dari Perang Dunia II ini membuatnya dijuluki sebagai “Mutiara di Bibir Pasifik”.

Pulau Morotai adalah bagian dari sejarah Perang Dunia II. Letak Morotai yang sangat stategis, pernah dimanfaatkan Jepang sebagai markas tentaranya untuk menyerang Amerika Serikat dan sekutunya di sejumlah negara di sekitar Morotai. Belakangan, tentara Jepang malah terusir ketika Amerika Serikat berhasil merebut Morotai, dan gantian menjadikan pulau ini sebagai basis untuk menyerang negeri matahari terbit yang berkuasa di Filipina dan Indonesia sekitar 1944-1945.

Ketika Jepang menyerah, Amerika Serikat pun meninggalkan Morotai setelah membakar seluruh bangunan dan sarana yang ada. Entah apa alasan mereka. Mungkin untuk menutup jejak mereka. Yang pasti, aksi ini membuat nyaris tidak ada sisa-sisa kejayaan Amerika Serikat bisa dijumpai di Morotai pada hari ini, kecuali bangkai-bangkai alat perang yang berserakan di darat maupun di dasar laut.

Beberapa prajurit yang pernah bertugas di pulau ini hanya membuat buku. Salah satu buku yang ditulis seorang prajurit diberi judul “Morotai: A Memoir of War”.


Pulau Morotai memiliki banyak sisi menarik yang bisa dinikmati. Pantai yang landai dengan pasir putih dan airnya yang jernih, menggoda banyak orang untuk berenang. Pulau Kecil di sekitar Morotai bagai surga mungil yang begitu memesona. Lautnya juga kaya dengan terumbu karang yang masih terawat. Dan, yang membedakannya dengan kawasan lain yang juga memiliki spot menyelam yang indah adalah, adanya sejumlah bangkai peralatan perang di dasar laut Morotai.

Bawah laut Morotai bagai sebuah museum tentang Perang Dunia II. Banyak bangkai peralatan perang di dasar lautnya di kedalaman 20 sampai 30 meter. Mulai dari jeep, truk, hingga pesawat tempur. Jumlahnya tak terhitung dan berserakan di areal yang cukup luas. Seluruhnya telah berselimut karang dan menjadi rumah biota laut. Ini yang membuat ada julukan populer dari para penyelam dunia untuk Morotai, yakni Dive Site World War II Wrecks.


Dulunya, untuk mencapai salah satu pulau indah yang ada di Maluku Utara ini, Anda harus menempuhnya dalam waktu sekitar 6 jam dari Kota Ternate, Ibu Kota Maluku Utara. Kemudian disambung selama satu jam naik speedboat dari Ternate menuju Sidangoli, lalu disambung lagi 3 jam ke Tobelo menggunakan kendaraan darat, dan kemudian naik speedboat selama 1,5 jam lagi untuk sampai ke Pulau Morotai. Cukup melelahkan. Setidaknya bagi saya ketika berkesempatan untuk pertama kalinya ke Morotai yang kini telah menjadi kabupaten mandiri, dan berpisah dari Kabupaten Halmahera Utara.

Kini semakin mudah menuju Morotai karena telah ada maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Morotai. Pemerintah sudah membangun bandara dan infrastruktur lainnya di pulau ini dalam dua tahun terakhir. Dan, untuk pertama kalinya setelah Perang Dunia II, Morotai didarati pesawat Wings Air ATR-72 berkapasitas 70 kursi pada 18 Maret 2016. Ke depannya, pemerintah mau memperpanjang landas pacu menjadi 3.000 meter agar bisa didarati pesawat berbadan besar.


Pemerintahan Jokowi juga memasukkan Morotai sebagai satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas yang akan kembangkan. Kesepuluh destinasi ini akan dijadikan sebagai Bali-nya Indonesia yang baru demi mencapai target 20 juta wisatawan pada 2019. Bagi yang belum tahu, 10 destinasi pariwisata prioritas ini adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Pulau Morotai di Maluku Utara, Kepulauan Seribu di Jakarta, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Jokowi rupanya tidak main-main dengan memasukkan Morotai sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Sang presiden pun terbang ke pulau ini pada April 2016 untuk melihat langsung kondisi Morotai. Mulai dari segala fasilitas yang yang sudah dibangun, seperti listrik, meseum Perang Dunia II, hingga infrakstruktur bandara yang akan dikembangkan menjadi bandara berkelas internasional, dicek langsung oleh Presiden Jokowi.

Kalau tidak salah, Jokowi adalah presiden pertama negeri ini yang berkunjung ke Morotai. Sebuah kunjungan yang membuat bangga warga Morotai karena mereka semakin mendapatkan perhatian dari negeri ini.

Di bawah adalah beberapa foto hasil kunjungan saya ke Morotai yang telah saya posting di akun Instagram saya:


Selengkapnya...

Sabtu, 31 Desember 2016

Konsolidasi Jokowi di Pertengahan Jalan

Tahun pertama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah masa-masa sulit. Terjadi banyak upaya untuk menjegal dan mengakhiri kekuasaannya. Ini yang membuat beberapa kalangan mulai mempertanyakan kemampuan Jokowi untuk bermain politik. Sebuah keraguan yang telah dijawab Jokowi dengan semakin memperkuat duduk di puncak di pemerintahan.

Presiden Jokowi pelan-pelan terus menggalang kekuatan politik. Di tahun 2016, ia pun sukses mengumpulkan partai-partai yang sebelumnya beroposisi, untuk berbalik mendukungnya.

Hari Rabu, 27 Juli 2016, Presiden Joko Widodo mengumumkan reshuffle Kabinet Kerja jilid II. Pengumuman ini menarik untuk dicatat, karena sekaligus mengonfirmasi telah bergabungnya Partai Golkar dan PAN ke dalam pemerintahan.

Lebih dari setahun Jokowi dirongrong kanan-kiri oleh menteri-menteri yang senang berbicara di media dan saling bantah. Lewat reshuffle II ini, Jokowi pun mengakhiri kegaduhan ini dengan menyingkirkan beberapa menteri yang suka bikin gaduh. Melihat komposisi Kabinet Kerja pasca reshuffle jilid II ini, terasa sekali bagaimana Jokowi telah mampu melakukan konsolidasi politik di dua tahun pemerintahannya.

Yang paling terasa tentu saja di parlemen. Koalisi partai-partai pendukung pemerintah kini menjadi kekuatan mayoritas dengan menguasai sekitar 70 persen kursi. Sebanyak 30 persen lagi adalah 3 kekuatan partai tersisa, yakni Gerindra, PKS, dan Demokrat. Dengan komposisi seperti ini, tentu saja ada konsekwensi positif dan negatifnya. Jokowi tidak perlu risau lagi bakal mendapatkan tekanan dari parlemen seperti awal-awal pemerintahannya.

Walau Gerindra tidak masuk dalam barisan partai pendukung pemerintah, hubungan Jokowi dengan Gerinda bukannya tidak mesra. Sejarah mencatat, Prabowo yang menjadi rival Jokowi di Pilpres 2014, segera menemui Jokowi di Istana Bogor pada Januari 2015, atau sekitar tiga bulan setelah Jokowi menjadi presiden.

Bulan oktober 2016, giliran Jokowi yang bertamu ke kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, ketika jagat perpolitikan Indonesia sedang memanas, yang dipicu oleh suasana Pilkada DKI Jakarta. Pertemuan ini disebut sebagai diplomasi berkuda, karena kedua tokoh sempat berdiskusi sambil menunggangi dua kuda peliharaan prabowo.


Tanggal 17 November 2016, giliran Prabowo lagi yang menemui Jokowi. Di Istana Negara, Jokowi pun menjamu makan siang Prabowo dengan menu ikan bakar sambil berdiskusi mengenai masalah kebangsaan.

Sepertinya hanya Ketua Umum artai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang belum pernah bertemu empat mata dengan Jokowi. Ketika ramai-rama rencana aksi masa tanggal 4 November, SBY rupanya juga lebih memilih menyambangi Wakil Presiden Jusuf Kalla pada hari Selasa , 1 November 2016.

Publik pun menanti bagaimana hubungan Jokowi dan SBY selanjutnya pada tahun 2017. Karena tidak baik ada jarak di antara para pemimpin bangsa ini. Terlebih mereka adalah negarawan.


Dua tahun menjadi presiden, Jokowi semakin menunjukkan kematengannya dalam berpolitik. Ia punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul, termasuk masalah yang entah bagaimana caranya, selalu dikaitkan dengan kursi presiden yang ia duduki.

Termasuk ketika mulai ramai-ramai kasus Ahok di penghujung 2016, yang sangat menyita perhatian seorang Jokowi. Pangkal persoalannya adalah ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tersandung masalah dugaan penodaan agama. Sebuah permasalahan yang melebar ke mana-mana, termasuk urusan makar yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Kemampuan presiden jokowi untuk merangkul semua kelompok pun diuji di sini. Salah satu yang dilakukan Presiden Jokowi adalah, tiba-tiba saja rajin bersafari ke sejumlah markas pasukan elit TNI-Polri. Dalam kunjungannya ke markas tentara ini, Presiden Jokowi berkali-kali menyebut, sebagai panglima tertinggi TNI, ia ingin memastikan semua prajurit loyal kepada negara dan bangsa. Juga ingin memastikan apakah semua prajurit siap digerakkan kalau kondisi sedang darurat.



Tidak hanya mengunjungi para prajurit, Presiden Jokowi juga melakukan sejumlah pertemuan dengan berbagai organisasi keagaman dan para tokoh ulama. Mengenai persoalan hukum yang menyangkut gubernur DKI Jakarta, Presiden cukup lama terdiam sebelum menyebut nama Ahok.
Safari jokowi ke sejumlah markas tentara dan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama ini, dilakukan setelah terjadinya aksi demonstrasi pada hari Jumat, 4 November 2016. Aksi ini dimotori oleh kelompok yang mendesak penegakan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dituduh menodai agama Islam.

Malam harinya, Kerusuhan pecah di sekitar depan Istana Merdeka, ketika para peserta aksi 4 November sudah membubarkan diri.

Usai menggelar rapat pada malam itu juga, Presiden Jokowi yang tampil dengan mengenakan jaket bomber, menuding ada aktor politik yang menunggangi aksi damai 4 November.


Banyak yang berkomentar, Jokowi yang sekarang adalah Jokowi yang telah pintar berpolitik. Ia pandai merangkul lawan-lawan politiknya. Dan, hebatnya, jokowi hanya membutuhkan satu setengah tahun untuk mengusai parlemen.

Misalkan saja, ketika jokowi mengundang sejumlah ketua umum partai politik ke istana. Serangkaian pertemuan dengan para ketua umum partai ini dibaca publik sebagai bagian dari manuver jokowi untuk menurunkan tensi politik nasional yang sedang menghangat. Jokowi sepertinya sadar kalau orang-orang yang menggoreng kasus yang sedang menjerat Ahok, juga menyasar dirinya.

Terjadi dua kali aksi massa besar-besar di Ibu Kota terkait persoalan hukum yang menjerat Ahok. Setelah aksi tanggal 4 November 2016, lautan manusia kembali memadati Ibu Kota pada Jumat, 2 Desember 2016. Puncak dari aksi yang dikenal dengan sebutan aksi super damai 212 ini adalah sholat jumat.

Di luar dugaan, Presiden Jokowi pun ikut sholat jumat di monas. Presiden Jokowi juga berkesempatan naik ke panggung usai sholat jumat dan memberikan sambutan.

Kehadiran Jokowi di tengah masa aksi 2 Desember 2016 ini memang pas sekali dengan sifat Jokowi yang sangat sederhana dan tidak mau berjarak dengan rakyatnya. Jokowi juga tipe presiden yang tidak suka dengan pembuat gaduh dan pembuat hal-hal kontroversi di tengah masyarakat.


Jokowi adalah tipe pekerja, sesuai dengan nama kabinetnya, kabinet kerja. Ia sangat tegas dalam mengawal setiap pekerjaan yang dilaksakan para menterinya. Sepanjang tahun 2016, Jokowi sangat rajin blusukan sekadar untuk melihat perkembangan proyek yang sedang berjalan.

Walau baru dua tahun menjadi orang nomor satu di negeri ini, hasil karya seorang Jokowi tidak bisa dipandang sebelah mata. Kita lihat beberapa indakotor berikut ini; jumlah penduduk miskin indonesia terus mengalami penurunan, proses pengurusan perizinan yang bisa mencapai ratusan hari hingga sampai waktu tak terhingga dipercepat sampai 600 persen, pembangunan ribuan kilometer jalan baru di kawasan perbatasan dan terluar, dan ratusan proyek dikerjakan untuk mengurangi ketimpangan Jawa dan di luar Jawa.

Ini tadi hanya beberapa capaian prestasi Jokowi-JK selama 2 tahun memerintah.

Ada banyak capaian lain, termasuk program tax amnesty atau pengampunan pajak yang sampai periode pertama saja, hasilnya tercatat tertinggi di seluruh dunia.

Ada saja kejadian menarik dalam kunjungan Presiden Jokowi ke daerah. Misalkan saja, ketika Jokowi dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh seorang santri saat menghadiri perayaan Isra Miraj di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Mei 2016.


Di balik sikap sederhana seorang Joko Widodo, ia adalah presiden yang sangat tegas dan serius dalam bekerja. Salah satunya mengenai pemberantasan pungutan liar atau pungli yang menjadi isu besar di tahun 2016.

Di sisi lain, Presiden Jokowi rupanya juga seorang pemaaf, tidak pendendam, dan juga tidak suka mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Ignasius Jonan yang pernah diberhentikan karena diangap keras kepala, kembali diangkat menjadi menteri, menteri ESDM tepatnya.

Oya, Pak Jokowi sepertinya sangat gemar mengenakan sarung di waktu santainya. Berikut beberapa buktinya sepanjang tahun 2016.



Selengkapnya...

Selasa, 27 Desember 2016

Mengerek Gerobak Anggaran


Sepintar-pintah tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sekiranya pesan ini jangan lupa diingat oleh pemerintah dan wakil rakyat ketika selalu ada celah untuk memanfaatkan kesempatan dengan berbagai cara. Semoga saja hubungan harmonis antara pemerintah dan DPRD di DKI Jakarta tidak diikuti dengan kompromi politik lain. Karena membangun komunikasi politik dengan memuluskan anggaran agar lolos, bisa bisa malah menjadi masalah di masa depan.

(MENGEREK GEROBAK ANGGARAN, Realitas 27 Desember 2016)

Selengkapnya...

Rabu, 07 Desember 2016

Sori, Saya Terpaksa Unfollow Kamu!

Beberapa waktu yang lampau, setiap akhir tahun saya selalu merindukan tentang tiga hal. Ketiganya adalah musim durian, musim rambutan, dan musim duku.

Menikmati buah duku atau rambutan sambil menanti hujan reda adalah suasana yang sangat menyenangkan ketika itu. Atau, waktunya untuk menyantap durian ketika berkunjung ke rumah saudara yang merayakan Tahun Baru.

Itu dulu. Dulu sekali. Karena situasi kini sudah berbeda.

Di penghujung akhir tahun ini, bukan lagi tiga hal tadi yang tersaji. Yang ramai bermunculan saat ini adalah left dari grup Whatsapp, unfriend di Facebook, atau unfollow di Twitter. Ya, ketiga inilah yang bermunculan pada saat ini. Mungkin Anda juga melakukannya. Atau, jangan-jangan justru Anda yang dihapus dari pertemanan sejumlah kawan karib Anda gara-gara perilaku Anda yang tidak berkenan bagi mereka.

Seorang kawan tiba-tiba saja memilih keluar dari grup Whatsapp setelah terjadi perdebatan yang tak berujung ketika ada sebuah postingan berbau politik dikirim seorang teman. Yang mengirim artikel menjelaskan hak setiap anggota untuk memposting apapun kalau dianggap punya manfaat untuk orang lain. Menurut dia, kalau ada anggota yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari postingan itu, maka tinggal mengabaikan saja. Sikap seperti ini segera memancing reaksi keras dari banyak anggota. Dan, ujung-ujungnya si kawan tadi memilih left dari grup.

Di grup Whatsapp lain, ada seorang teman yang kembali keluar walau sudah sebelumnya sudah ditarik lagi untuk masuk ke dalam grup. Alasannya sama saja, tidak tertarik lagi dengan percakapan di dalam grup ketika banyak materinya mengenai agama yang dibumbui dengan isu politik.

”Kalau postingan soal agama sih ga apa-apa. Ada manfaatnya buat gua. Tapi kalau agama yang dicampuri urusan politik, gua gak tertarik. Males baca ceramahan melulu. Cukup gua nikmati postingan-postingan ceramahan soal politik di Facebook,” begitu kata kawan tersebut ketika saya tanya mengapa ia keluar lagi dari grup.

Hal yang sama juga terjadi di media sosial Facebook dan Twitter. Sejumlah teman mengaku sudah melenyapkan teman-teman mereka dari daftar pertemanan karena sering membuat status yang provokatif atau suka membagikan tautan berita dari situs abal-abal. “Niatnya mau cari hiburan malah mengundang amarah,” kata seorang teman.

Ya, begitulah yang terjadi belakangan ini. Dari belasan grup Whatsapp yang saya ikuti, mayoritas grup saat ini memang sering membahas isu-isu berbau agama yang dibumbui politik praktis. Tiba-tiba saja banyak yang menjadi pakar politik atau pakar agama. Ironisnya, sering tidak tercipta diskusi yang sehat ketika yang lebih banyak terjadi adalah ‘saya yang benar dan kamu selalu salah’.

Kalau sudah begini, jangan heran kalau banyak yang memilih untuk left. “Untuk menjaga pikiran tetap sehat,” kata seorang teman.
Selengkapnya...

Selasa, 29 November 2016

Cerita Pahit Industri Gula


Swasembada gula yang ditargetkan tahun 2019, sejatinya dapat tercapai jika pemerintah serius membuat kebijakan yang pro petani gula, dan juga memikirkan industrinya.

Jangan sampai swasembada gula hanya berupa cita-cita yang enggan diwujudkan.

Kalah semangat dengan mereka yang selalu meraup untung besar dari bisnis impor gula.

(CERITA PAHIT INDUSTRI GULA, 29 November 2016)

Sumber Foto: Kanalsatu.com

Selengkapnya...

Senin, 28 November 2016

Gerilya Para Petinggi Negeri

Inilah yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya di Ibu Kota Jakarta belakangan ini.

Aksi unjuk rasa besar yang direncanakan lagi pada tanggal 2 Desember 2016 telah dibumbui dengan beragam rumor yang menebar rasa kekhawatiran.

Isu sara terus digoreng-goreng. Ajakan tarik tunai rupiah untuk menggoyang roda ekonomi juga dihembuskan. Belum lagi ujaran kebencian dan fitnah yang ditiup sangat deras di media sosial.

Jangan sampai bangsa ini mengalami nasib terpuruk lagi, ketika adu kuat berebut kekuasaan terjadi, dan meledak.

(GERILYA PARA PETINGGI NEGERI, Realitas 28 November 2016)
Selengkapnya...