Senin, 20 Maret 2017

Rasakan Sensasi Celana Kedodoran

“Yah, kok celana dalamnya kelihatan terus?” kata si Abang ketika saya beberapa kali bolak-balik berjalan di dekatnya, di ruang nonton TV di rumah.

“Iya nih, Bang. Celana Ayah jadi kebesaran semua sekarang,” kata saya sambil melempar tawa kepada si Abang.

Celetukan anak sulung di hari Minggu pagi itu membuat saya teringat dengan ungkapan di sebuah laman Facebook. “Rasakan Sensasi Celana Kedodoran!” Begitu bunyi ungkapannya.

Ungkapan tersebut benar-benar saya alami sekarang ini. Hampir semua celana yang saya miliki saat ini sudah terasa longgar. Sebanyak satu-dua celana bahkan melorot kalau tidak ditahan ikat pinggang. Celakanya lagi, lubang terakhir di ikat pinggang yang biasa saya kenakan pun sudah melebihi lingkaran pinggang. Ikat pinggang pun tinggal sebagai aksesoris di celana saja.

Kalau celana yang kedodorannya sudah tak mampu tertahan, maka saya terpaksa memakai ikat pinggang cadangan yang jenisnya bisa ‘menancap’ di mana saja. Tak perlu menancap di jejeran lubang seperti di ikat pinggang utama yang rutin saya kenakan.

Ini semua gara-gara pola makan saya yang berubah sejak awal Februari 2017, ketika saya tidak lagi makan nasi untuk sarapan. Saya lupa tanggal persisnya mulai kapan. Yang saya ingat, istri menyuguhkan saya berupa sarapan shake rasa coklat. Saya berpikir itu hanya semacam susu rasa coklat. Karena itu, awal-awalnya, saya tetap sarapan nasi seperti biasa usai meminum shake rasa coklat tersebut.

Beberapa hari kemudian, nafsu untuk makan nasi malang hilang. Saya menjadi tidak selera lagi menyentuh menu sarapan yang masih disediakan istri karena rasa kenyang usai meminum shake.

“Shake ini adalah nutrisi pengganti sarapan, Yah. Ini bukan susu. Ini shake yang berisi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Memberi rasa kenyang yang cukup sampai siang hari. Satu gelas shake ini kalorinya hanya sekitar 200. Sangat cukup buat tubuh kita. Makanya, Ayah tidak lapar lagi,” kata istri mengajari saya.

Menu sarapan yang telah berganti dengan shake yang diproduksi oleh sebuah perusahaan besar asal Amerika Serikat itu, terus saya konsumsi sampai hari ini.

Kini, bukan hanya shake-nya yang saya konsumsi di pagi hari. Ada juga minuman semacam teh yang rasanya nikmat sekali, plus minuman dari lidah buaya yang katanya untuk membersihkan usus agar nutrisi semakin mudah diserap tubuh. Kenyangnya sungguh luar biasa begitu selesai menghabiskan seluruhnya.


Ini dia menu sarapan yang lezat itu. Ada shake untuk nutrisi pengganti sarapan, teh untuk energi, dan satu sloki minuman dari lidah buaya untuk membersihkan pencernaan.

Dampak yang paling terlihat ya soal celana kedodoran tersebut. Rupanya, berat tubuh saya telah turun dari hampir 75 kg menjadi 70 kg setelah sekitar satu bulan mengganti menu sarapan tersebut. Hebatnya lagi, pemandangan perut buncit pun semakin berkurang.

Awalnya, saya juga tidak percaya berat tubuh saya bisa hampir 5 kg susut dalam waktu, yang menurut saya, sangat pendek ini. Hanya satu bulan! Padahal, saya tak pernah ada niat menurunkan berat badan. Apalagi ikut program diet.

“Nutrisi ini bukan pelangsing tubuh, Yah. Bukan juga obat diet. Ini nutrisi untuk tubuh kita. Untuk kesehatan kita. Sehatnya dapat, eh...bonusnya berat badan yang turun,” tambah istri yang kian pandai saja menjelaskan produk yang telah rutin kami konsumsi tersebut.

Istri saya pun telah semakin langsing karena rutin mengkonsumsi shake yang sama sejak Januari 2017. Kini berat badannya sekitar 55 kg dari sekitar 62 kg pada awal 2017.

Sumber Foto: masbroo dan koleksi pribadi
Selengkapnya...

Kamis, 16 Maret 2017

Ketika Perut Kami Buncit-Buncit

Saya terkejut melihat beberapa foto yang dikirim ke salah satu grup Whatsapp mantan teman sekolah. Di foto-foto tersebut terlihat sejumlah rekan yang sedang berkumpul dalam sebuah acara. Saya menghitung jumlah mereka, ...1,2,3,4,5,6,7,8,9,10. Kalau dengan teman yang memotret, berarti ada 11 teman yang berkumpul di acara tersebut. Seluruhnya adalah pria.

Yang membuat saya terkejut adalah melihat tubuh mereka yang tampak gemuk-gemuk. Setidaknya ada enam teman yang terlihat memiliki tubuh paling bongsor dengan perut yang tak enak dipandang. Dengan memperkirakan tinggi badan mereka, saya perkirakan berat badan beberapa teman tersebut sekitar 90 sampai 110 kg.

Saya pun membayangkan wujud mereka ketika masa sekolah dulu. Tiba-tiba saja ada senyum yang muncul. Yang saya ingat, mereka dulu bertubuh kurus seperti saya. Dan, lihatlah mereka pada hari ini setelah 20an tahun kemudian!

Kondisi seperti ini memang tampak lumrah dijumpai sekarang ini. Pada umur seperti kami yang tak bisa disebut muda lagi, badan yang gemuk dengan perut buncit adalah pemandangan yang sangat biasa dijumpai di tengah masyarakat. Saya pun mengalaminya. Walau berat badan saya tidak terlalu over, tapi perut yang terlalu maju ini sungguh mengganggu.

Kalau kata sejumlah artikel, kegemukan atau biasa disebut juga dengan istilah obesitas, didefinisikan sebagai memiliki kelebihan lemak di dalam tubuh. Umumnya, kegemukan banyak dialami oleh mereka yang sudah berusia dewasa, karena gaya hidup yang tak sehat. Umur sudah tidak muda lagi tapi masih memakan makanan yang sama dengan ketika masih berusia belasan tahun. Ketika olahraga pun sudah jarang dilakukan, maka jangan heran kalau lemak di tubuh makin tak terkontrol.

Sejumlah cara sedang saya tempuh saat ini untuk mengurangi lemak yang menumpuk di sekitar perut ini. Hasilnya sudah mulai tampak. Kalau dibandingkan dua bulan lalu, saya patut bersyukur karena sudah beberapa teman yang menyebut saya bertambah langsing dengan perut yang tak terlalu ke depan lagi.

Mungkin saya nanti akan berbagi resep ke teman-teman saya yang ada di foto tadi, agar kami kembali seperti masa sekolah dulu. Biar umur makin tua, tapi tubuh harus tetap segar dan sehat. Plus, perut buncit tak perlu ada lagi. Setuju atau setuju sekali?

Sumber gambar: ifood.tv
Selengkapnya...

Rabu, 15 Maret 2017

Mamak Berkabar tentang Berat Badan

Keluarga saya memiliki sebuah grup di Whatsapp. Grup ini menjadi tempat bagi kami untuk saling berbagi cerita dan kabar.

Tadi malam grup kami ini sangat aktif. Topik utama obrolan adalah mengenai berat badan. Mamak yang tinggal di kampung mengaku baru saja menimbang badannya. Ia mengaku beratnya kini 83 kg. “Karo tadi timbang (badan). Kok turunnya cuma 1 kilo ya? Padahal perasaan badan sudah lebih enteng,” kata mamak. Karo adalah sebutan bagi nenek di daerah asal saya.

Sekitar tiga minggu lalu, berat badan mamak sekitar 84 kilogram. Sebuah angka yang menurut kami sangat tidak baik. Dengan tubuh yang seberat itu, mamak mengaku sudah sangat sulit untuk bekerja di kebun. Ia selalu cepat merasa lelah. Kakinya juga sering pegal-pegal. Dan, yang lebih membuat kami was-was adalah belakangan ini mamak merasa persendian kakinya sering nyeri seperti gejala asam urat atau rematik.

Melihat beragam keluhan yang dirasakan mamak pada saat itu, kami pun menyarankan agar ia menurunkan berat badannya. Kami memberikan saran kalau berat badan mamak setidaknya ada di angka 60an kg saja. Berat badan dengan angka segini setidaknya tidak menyulitkan untuk bergerak. Lemak-lemak yang memenuhi tubuh dan bikin badan lemas dan tak bergairah juga akan berkurang.

“Bagaimana caranya? Karo pun sudah tidak tahan lagi. Karo tidak kuat lagi ke ladang,” kata mamak saat itu.

Kami pun menyarankan agar mamak memperbaiki pola makannya. Kami memintanya untuk menghindari sejumlah makanan yang tidak baik untuk tubuh. Terlebih untuk mamak yang usianya sudah hampir 60 tahun. Gorengan dan makanan berminyak lain, daging merah, jeroan, durian, adalah sejumlah makanan yang kami sarankan untuk dihindari. Kami juga meminta agar mengurangi konsumsi nasi agar tidak bertambah gemuk.

Kami lega karena mamak mau menuruti semua masukan tersebut. Rupanya, mamak begitu bersemangat agar kembali bugar dan bisa kembali aktif ke kebun.


Sumber foto: pedulisehat.info

Untuk melengkapi perbaikan pola makan mamak, saya dan istri lalu mengirim produk nutrisi dari sebuah merek terkenal sebagai pengganti sarapan dan makan malam. Nutrisi yang kami kirim ini sudah sekitar 37 tahun teruji di dunia. Sudah masuk ke Indonesia sejak 1998. Ada begitu banyak orang yang sudah merasakan manfaatnya.

Banyak yang menyebut nutrisi dalam bentuk kaleng seberat 550 gram ini sebagai makanan pelangsing. Tidak sedikit juga yang menyebutnya obat diet. Padahal, tidak demikian faktanya.

Nutrisi yang dikonsumsi dengan cara diblender atau di-shake dengan air ini adalah makanan pengganti sarapan. Cukup satu gelas sekali konsumsi. Kalorinya hanya sekitar 200 kal. Lebih dari cukup untuk kebutuhan sampai siang hari. Kalori yang rendah namun kaya beragam gizi ini, membuat banyak orang kemudian bertambang langsing setelah mengonsumsinya. Padahal, alasannya sederhana saja. Seluruh kalorinya habis dibakar tubuh. Tidak ada tersisa di tubuh dan kemudian menjadi lemak-lemak yang bikin makin gendut.

“Nutrisi ini bukan obat diet. Ini makanan untuk sel-sel tubuh kita. Tubuh kita yang rusak diperbaiki. Setelah itu, baru pelan-pelan tubuh kita akan mencapai berat badan ideal. Makanya sehatnya dapat, eh, bonusnya berat badan menjadi ideal. Ini Karo sudah bagus. Belum ada satu bulan minum, sudah turun satu kilo,” kata istri di dalam grup WA.

Mamak rupanya baru sadar kalau berat badannya yang hanya turun satu kilogram tidak berarti apa-apa dibanding sehat yang sudah didapat. Ia sadar, kalau pola makan yang sudah hampir satu bulan berganti ini, telah membuat hidupnya semakin lebih baik. “Karo lupa sehatnya. Mikirin gemuknya (saja). Padahal tidur sudah enak dan jalan ke ladang juga sudah kuat,” kata mamak.

Sehat-sehat terus kita ya, Mak....
Selengkapnya...

Senin, 13 Maret 2017

Melihat Kemesaraan Jokowi dan SBY

Presiden Jokowi akhirnya bertemu dengan SBY, sebuh momen yang sudah lama dinanti-nanti. Keduanya bertemu di Istana Merdeka pada Kamis, 9 Maret 2017.

"Ya seperti yang sudah sering saya sampaikan bolak-balik kan sudah saya sampaikan bahwa saya akan mengatur waktu untuk beliau, Pak SBY. Dan hari ini Alhamdulillah beliau pas juga ada waktu dan beliau juga ada, maka kita janjian dan ketemu," kata Jokowi ketika ditanya mengapa pertemuan baru terlaksana.

Ada begitu banyak cerita mengapa pertemuan Jokowi-SBY ini menjadi sangat penting. Keduanya sering diberitakan dalam situasi yang tidak saling bertegur sapa.

Lihat saja apa terjadi ketika ada ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa akibat isu terganggunya keharmonisan toleransi pada akhir 2016. Ketika itu, Jokowi mengundang sejumlah ketua umum partai politik ke istana. Ada Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Golkar Setya Novanto, Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo Subianto, dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Namun, saat itu SBY tidak termasuk ketua umum partai yang diundang Presiden Jokowi ke istana. Padahal, SBY adalah Ketua Umum Partai Demokrat, salah satu partai besar di negeri ini. Kalau ada yang mengatakan Jokowi hanya mengundang partai pendukung pemerintah, apa Gerindra memang partai pendukung juga?

Situasi ini akhirnya semakin membuat publik melihat hubungan Jokowi dan SBY memang sedang dalam kondisi tidak harmonis. Sebelumnya, Jokowi juga lebih memilih menemui Prabowo Subianto di Hambalang pada November 2016, daripada bertemu SBY di Cikeas. Padahal, Cikeas dilewati kalau mau ke Hambalang.

Sebelumnya, program kerja Jokowi yang gemar membangun proyek-proyek infrastruktur, juga dikritik SBY. Dalam rangkaian tour de java-nya pada Maret 2016, SBY mengungkapkan bahwa pemerintah sebaiknya tidak menguras anggaran di sektor infrastruktur di tengah kondisi ekonomi tanah air yang sedang lesu.

Kritik SBY ini akhirnya dibalas Presiden Jokowi dengan mengunjungi proyek mangkrak di Hambalang.

Namun, segala rumor yang beredar ini, akhirnya luntur seketika dengan pertemuan Presiden Jokowi dengan SBY di istana pada 9 Maret 2017. Sebuah pertemuan yang kata SBY, digunakan untuk menjelaskan berbagai hal yang selama ini menjadi sumber miskomunikasi antara dirinya dengan Jokowi.


Usai bertemu SBY, Presiden Jokowi melanjutkan acara lain di istana. Jokowi mengundang sejumlah penyanyi dan musisi kondang ke istana dalam rangka Hari Musik Nasional 2017. Setidaknya ada 200 musisi Indonesia yang datang.
Selengkapnya...

Kamis, 23 Februari 2017

Tak Sabar Menanti MRT Jakarta

Kalau berjalan lancar, tepat dua tahun lagi, Jakarta akan memiliki kereta api bawah tanah. Pembangunan MRT, kepanjangan dari Mass Rapid Transit, terus dikebut agar bisa selesai sesuai jadwal, Maret 2019. Tidak ada penjelasan mengapa target selesai di bulan ini. Dugaan saya, karena pada April 2019 ada momen Pemilu.

Untuk kesekian kalinya, Presiden Jokowi melihat langsung proses pembangunan MRT pada hari ini, 23 Februari 2017. Dalam peninjauan kali ini, Jokowi mengumumkan kalau semua terowongan bawa tanah tahap pertama MRT telah tersambung. "Seluruh terowongan yang dibangun untuk MRT sudah tersambung. Hari ini sudah tersambung," ujar Jokowi di lokasi proyek, 300 meter di bawah Jalan Jenderal Sudirman, seperti ditulis Kompas.com.

Pembangunan proyek MRT Jakarta mulai dikerjakan sejak 10 Oktober 2013, ketika Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pada tahap pertama, koridor yang dibangun adalah Lebak Bulus-Bunderan HI sepanjang 15,7 KM. Hingga hari ini, pembangunannya telah kelar 65%. Kurang 35% agar tuntas pada Maret 2019. Tapi, yang terpenting, pengeboran terowongan yang membentang dari Senayan sampai Bunderan HI sudah tuntas. Tinggal membangun sarana dan prasarana. Begitu juta jalur melayang dari Lebak Bulus sampai Senayang yang progresnya juga baik. Tiang-tiang penyangga telah berdiri kokoh.

Begitu tahap pertama ini beroperasi, rencananya akan dilanjutkan dengan tahap kedua yang membentang dari Bunderan HI hingga Kampung Bandan di Jakarta Utara, sepanjang 8,1 KM. Tahap kedua ini ditargetkan selesai dibangun pada 2020. Tapi, tampaknya bakal molor karena hanya selisih satu tahun dari beroperasinya jalur Lebak Bulus-Bunderan HI.


Tidak murah untuk membangun MRT di Jakarta ini. Biaya pembangunan tahap pertama saja diperkirakan bakal menghabiskan anggaran sekitar Rp 15 Triliun rupiah. Besaran biaya yang sama juga bakal habis untuk pembangunan tahap kedua. Sebagian besar anggarannya merupakan pinjaman lunak dari Jepang. Ini yang membuat MRT Jakarta bakal menggunakan teknologi dari negeri matahari terbit itu.

Walau tidak murah, tapi nantinya MRT Jakarta ini akan menjadi kebanggaan Indonesia. Setelah puluhan tahun hanya wacana, mimpi Indonesia untuk memiliki kereta bawah tanah pun terwujud. Indonesia memang jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain yang sudah sangat lama memiliki MRT sebagai solusi transportasi publik. Tetapi, rasa-rasanya tidak masalah terlambat, daripada tidak pernah terwujud.

Berikut ini adalah sejumlah foto mengenai pembangunan MRT Jakarta yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Mohon maaf saya tidak mencantumkan sumbernya karena terlalu banyak. Saya sendiri bahkan sudah lupa darimana saya memperolehnya.



Selengkapnya...

Rabu, 22 Februari 2017

Akurasi adalah Mahkota Berita

Belasan tahun lalu ketika masih berkarya di media cetak, saya pernah membuat satu berita mengenai peristiwa kebakaran yang menimpa sebuah rumah. Berita ini saya tulis sepanjang 30 baris dan naik di halaman metropolitan di koran tempat saya bekerja.

Oya, kami memang menggunakan jumlah baris dalam menulis berita. Kalau dalam satu baris ada sekitar 15 kata, maka 30 baris menjadi sekitar 450 kata. Sebagai perbandingan, rata-rata untuk berita utama di tiap halaman koran sekitar 70-80 baris atau sekitar 1.050 sampai 1.200 kata.

Redaktur saya saat itu menganggap berita kebakaran satu rumah ini layak turun (istilah di media cetak untuk berita yang dimuat) karena ada satu orang yang meninggal dunia. Berita ini dianggap punya nilai berita cukup besar karena korban yang meninggal itu adalah seorang nenek yang berusia lebih dari 60 tahun. Tanpa ada korban jiwa ini, berita kebakaran ini pasti tidak layak muncul. Kerugian pun hanya belasan juta rupiah. Kalaupun masih layak muncul, mungkin hanya sebagai berita singkat dengan panjang sekitar 10 baris.

Berita kebakaran ini sangat saya ingat sampai hari ini, karena memberikan sebuah pelajaran sangat berharga untuk saya sebagai seorang jurnalis. Saat itu, berita kebakaran ini saya peroleh dari laporan kepolisian. Saya pun mencatat seluruh data yang ada di dalam laporan itu. Di laporan itu tertulis kalau ada satu korban jiwa dalam musibah kebakaran itu.

Hanya laporan kepolisian itu yang menjadi bekal membuat beritanya. Saya tidak sempat mendatangi lokasi kebakaran karena lokasi yang cukup jauh. Sedangkan saya harus segera berangkat ke kantor karena sudah mendekati deadline. Maklum, saat itu wifi belum lahir. Warnet juga masih barang langka. Kami diwajibkan untuk setiap hari ke kantor untuk menulis berita-berita yang kami peroleh.

Keesokan harinya, saya mendapatkan kabar kalau sebenarnya tidak ada korban meninggal dunia dalam musibah kebakaran tersebut. Nenek yang saya sebutkan meninggal dunia di dalam berita, hanya mengalami luka dan masih dirawat di rumah sakit. Kata ‘korban jiwa’ yang tertulis di laporan kepolisian yang saya contek sebenarnya bukan untuk menyebut korban meninggal dunia, namun untuk menyebut korban luka.

Kesalahan data ini menjadi tamparan untuk saya. Bahwa sangat penting untuk melakukan cek dan ricek terhadap setiap informasi yang kita dapat. Bahwa wajib untuk meminta konfirmasi atas setiap data yang kita peroleh. Yang lebih penting lagi, sebisa mungkin datanglah ke lokasi kejadian untuk mendapatkan banyak cerita, sekaligus mengecek kebenaran dari data yang sudah kita pegang.

“Akurasi adalah mahkota dari sebuah berita. Jangan pernah salah dalam akurasi,” kata Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun, dalam rapat redaksi pekan ini.

Sebuah kata-kata yang kembali mengingatkan saya kepada kisah nenek yang menjadi korban kebakaran yang pernah saya tulis belasan tahun lalu, di awal-awal menjadi jurnalis.

Selengkapnya...

Senin, 20 Februari 2017

Belanja Iklan yang Sungguh Fantastis

Promosi masih dipercaya sebagai jalan termulus untuk mengerek penjualan. Tak heran kalau biaya iklan selalu meningkat tiap tahun. Apalagi ditambah dengan persaingan dunia bisnis yang semakin ketat. Iklan kemudian menjadi andalan utama perusahaan untuk memenangkan persaingan dan mempertahankan posisi pasar. Bisa jadi, indikator utama kredibilitas perusahaan juga terletak pada seberapa besar dana yang dialokasikan untuk iklan.

Saya pun penasaran dengan berapa sebenarnya uang yang dihabiskan perusahan untuk biaya iklan dan promosi produk-produk mereka. Iseng-iseng saya pun merisetnya. Ternyata, angkanya luar biasa besar. Bisa mencapai ratusan hingga triliuan rupiah untuk satu tahun.

Berikut beberapa fakta yang saya dapat:

Berdasarkan data Nielsen, belanja iklan mi instan pada 2015 mencapai Rp 3,2 triliun. Indofood merupakan pengiklan terbesar yang mencapai Rp 2,1 triliun. Sementara di 2014 total belanja iklan industri mi instan mencapai Rp 2,8 triliun dan di 2013 mencapai Rp 2 triliun. (Sumber: Swa.co.id)

PT Sigi Kaca Pariwara, pengembang produk Adstensity, telah menghitung belanja iklan di sejumlah stasiun televisi. Hasilnya, terdapat 10 perusahaan yang royal mengucurkan dana hingga miliar rupiah untuk mempromosikan produknya terhitung dari 1 Januari hingga 30 November 2015. Ini dia peringkatnya:
1. Produk rokok dari PT Djarum Indonesia dengan belanja iklan Rp 1 triliun.
2. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk dengan belanjak iklan Rp 902,9 miliar.
3. Pepsodent dengan belanja iklan Rp 804,5 miliar.
4. Dettol dengan belanja iklan Rp 761,8 miliar.
5. Lifebuoy dengan belanja iklan Rp 730,5 miliar.
6. Produk susu dari Frisian Flag dengan belanja iklan Rp 664 miliar.
7. Indomie dengan nilai Rp 593,4 miliar.
8. Mie Sedaap dari Wings Food dengan nilai Rp 583,4 miliar.
9. Tokopedia dengan belanja iklan Rp 559,9 miliar
10. Traveloka dengan nilai Rp 553,2 miliar.
(sumber: liputan6.com)

Pada kuartal pertama 2016, belanja iklan bertumbuh 24% menjadi Rp 31,5 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, belanja iklan baru mencapai Rp 25,4 triliun. Iklan rokok masih mendominasi belanja iklan nasional sebesar Rp 1,9 triliun. Dunhill dan Djarum Super Mild adalah merek yang paling agresif dalam belanja iklan pada kuartal tersebut. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menambah belanja iklan dan promosi menjadi Rp 512,43 miliar pada kuartal pertama 2016. Beban iklan dan promosi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) di kuartal pertama pun naik 22,93% menjadi Rp 375,01 miliar. (Sumber: Kontan.co.id)

Data Nielsen Advertising Information Services menunjukkan pertarungan teratas terjadi di kategori mie instant, yakni antara brand Indomie dan Mie Sedaap. Keduanya menempati dua teratas pada daftar Top 10 Pembelanja Iklan Tertinggi di tahun 2015. Jika Indomie menempati posisi pertama dengan belanja iklan Rp 971,2 miliar, maka Mie Sedaap menempati posisi kedua dengan belanja iklan Rp 733,7 miliar. Pertarungan sengit kedua terjadi pada industtri e-Commerce. Di industri itu, ada dua brand yang sengit membetot perhatian konsumen Indonesia lewat iklan TV dan cetak. Keduanya adalah Traveloka.com dan Tokopedia. Jika Traveloka.com menempati posisi ketiga terbesar dengan belanja iklan Rp 697,3 miliar. (Sumber: mix.co.id)

Siapa saja Top 5 brand yang memutuskan untuk meningkatkan belanja iklan di televisi secara fantastis di sepanjang semester pertama tahun 2015?
1. Traveloka yang membelanjakan Rp 376,3 miliar.
2. Pantene Total Demage Care dengan belanja iklan Rp 199,9 miliar.
3. Wall’s Cornetto dengan belanja iklan Rp 250,9 miliar.
4. Djarum Super Mild yang telah membelanjakan iklan TV Rp 238,6 miliar.
5. The Pucuk Harum dengan belanja iklan TV sebesar Rp 190,2 miliar.
6. Clear anti ketombe dengan belanja iklan TV Rp 188,1 miliar.
(Sumber: mix.co.id)
Selengkapnya...