Kamis, 30 Maret 2017

Pulang Kampung Melewati Jalan Tol Jakarta-Medan

Saya masih ingat, ketika keluarga saya berangkat ke Jakarta dari Medan sekitar 1984 dengan menumpang bus bermerek Liberty, harus menghabiskan waktu seminggu di jalan untuk bisa tiba di Jakarta. Bus terpaksa berhari-hari tertahan di tengah perjalanan karena kondisi jalan yang terputus. Pasokan makanan pun terpaksa dibeli dari warga sekitar dengan harga yang tentu tidak murah. Sangat menyedihkan kalau mengingat kembali kenangan tersebut.

Transportasi bus memang menjadi andalah bagi saya dan keluarga untuk bepergian dari Jakarta ke Medan atau sebaliknya pada masa-masa ketika pesawat masih menjadi barang sangat mewah bagi kebanyakan orang Indonesia. Memang ada juga kapal laut yang melayani Jakarta-Belawan yang berangkat dua minggu sekali. Tapi, bus saat itu tetap menjadi favorit bagi sebagian warga Sumatera Utara untuk bepergian Jakarta-Medan atau sebaliknya.

Karena itu, sejumlah merek bus pun sangat populer di kalangan masyarakat Sumatera Utara. Sebut saja bus Liberty, Medan Jaya, ALS, Sampagul, Makmur, PMH, dan sejumlah merek bus lain. Masing-masing merek punya pelanggan setia sendiri. Umumnya, pelanggan ini berdasarkan asal daerah si pemilik bus. Ada beberapa merek bus yang kini tinggal kenangan. Beberapa merek lagi masih ada tapi tidak lagi melayani jalur Medan-Jakarta karena penumpang yang kian sepi.

Dalam kondisi normal, Jakarta-Medan yang membentang sekitar 2.000 kilometer (sekitar 2x Jakarta-Surabaya) bisa ditempuh dalam waktu tiga hari dua malam. Pernah ada bus yang berani berpromosi mampu menempuh Jakarta-Medan dalam waktu 48 jam atau dua hari dua malam untuk memikat penumpang. Namun, promosi ini sepertinya sulit terpenuhi ketika musim jalan rusak sedang terjadi.

Biasanya, bus berangkat dari Jakarta atau Medan pada pagi hari dan tiba sore atau malam tiga hari kemudian. Misalkan Anda berangkat dari Jakarta pada Senin pagi, maka Anda paling cepat akan tiba di Kota Medan pada Rabu sore. Silahkan Anda bayangkan bagaimana rasanya duduk selama itu di dalam bus antar kota antar provinsi. Jangan bayangkan bus tersebut seperti bus hari ini yang supermewah, full AC, ada toilet, ada TV LED dengan suara speaker yang begitu jernih, dan tentu saja punya klakson telolet.

Kadang-kadang, muncul juga keinginan untuk bernostalgia untuk kembali naik bus ke Medan dari Jakarta. Merasakan kembali pengalaman masa kecil yang dulu sering saya jalani. Kalau tidak salah, saya terakhir naik bus dari Medan ke Jakarta pada 2001, ketika saya ingin menjajal bagaimana rasanya naik bus AC dengan bangku 1-2.

Beberapa kali, saya dan keluarga juga pernah mudik ke Medan dengan mengendarai mobil pribadi. Kami pernah melintasi jalur tengah lintas Sumatera yang melewati Bukittinggi terus ke Danau Toba dan ke Medan. Lain waktu, kami melewati lintas Timur yang melalui Palembang, Jambi, Pekanbaru, dan terus ke Medan. Kata orang, lintas timur ini lebih pendek daripada jalur tengah dan barat. Tapi, jalur manapun yang dilalui, jalan yang rusak tetap saja harus kami nikmati.

Segala cerita masa lalu tersebut mungkin tidak akan pernah lagi dialami. Yang kini saya bayangkan adalah, saya mudik ke kampung halaman di Sumatera Utara melalui jalan tol. Ya, saya bisa terus melaju di jalan bebas hambatan sejak dari Jakarta hingga tiba di Medan.

Sepertinya, impian tersebut bukan lagi sebuah mimpi di siang bolong. Lihat saja bagaimana pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera terus dikebut oleh pemerintah. Apalagi, kalau pembangunan jembatan di Selat Sunda terus diwujudkan, maka Jakarta-Medan benar-benar 100% tembus lewat jalan tol. Sungguh sebuah impian, bukan?

Saya sangat menikmati berita-berita yang nyaris muncul setiap hari di media cetak maupun portal berita online mengenai pembangunan jalan tol di seluruh pelosok negeri. Yang paling menarik perhatian saya tentu saja pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera.

Saat ini, pembangunan jalan tol trans Sumatera sedang dicicil dikerjakan. Yang sedang berjalan adalah ruas jalan tol Bakauheni di Lampung Selatan hingga Terbanggibesar di Lampung Tengah sepanjang 140 kilometer. Ruas tol ini diperkirakan sudah bisa dilalui pada musim mudik Lebaran 2017, walaupun baru sebagian kecil saja.

Seperti dikutip Detik, Jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar merupakan bagian dari rangkaian jalan tol Trans Sumatera sepanjang 2.048 km yang menghubungkan Bakauheni hingga Aceh. Sepanjang 666,5 km yang terdiri dari 8 ruas jalan tol bakal menjadi Prioritas selama periode lima tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Artinya, pembangunan delapan ruas tersebut akan dikebut agar selesai paling lambat pada 2019.

Jalan Tol lain di Pulau Sumatera yang sedang dikebut agar bisa cepat selesai adalah ruas Medan-Binjai sepanjang 17 kilometer. Jalan tol ini akan memangkas waktu tempuh dari Medan-Binjai yang biasanya bisa mencapai satu jam lebih, menjadi tak sampai 30 menit. Setelah ruas Medan-Binjai beroperasi, ruas tol ini akan diteruskan sampai ke perbatasan Aceh.

Ruas lain yang sedang dikerjakan adalah Jalan Tol Palembang-Indralaya sepanjang 22 kilometer, ruas Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 kilometer, dan ruas Kualanamu-Tebing Tinggi di Sumatera Utara sepanjang 60 kilometer. Masalah anggaran tidak lagi menjadi masalah. Sedangkan pembebasan lahan juga tidak terlalu sulit dibanding pembangunan ruas tol baru di Pulau Jawa.

Pemerintah juga berencana untuk memulai pembangunan jalan tol ruas Pekanbaru-Padang mulai 2017. Kepastian ini muncul setelah ada kepastian kucuran bantuan dari Asian Infrastructure Invesment Bank (AIIB) sebesar 400 juta US Dollar atau setara Rp 5 triliun. Proyek jalan tol penghubung Sumatera Barat dengan Riau yang memiliki panjang 240 kilometer itu, akan dikerjakan PT Hutama Karya. Kalau tidak tertunda lagi, pembangunan jalan tol ini akan selesai pada 2024, atau sekitar tujuh tahun lagi.

Ini yang lebih menarik lagi buat saya. Untuk mendongkrak dunia pariwisata di Danau Toba, pemerintah telah memutuskan untuk mempercepat pembangunan jalan tol ruas Medan-Parapat. Pemerintah pun sudah menugaskan BUMN konstruksi PT Hutama Karya untuk mengerjakan ruas tol sepanjang 143,25 km tersebut. Kalau jalan tol ini sudah selesai dibangun, mka akan memangkas waktu perjalanan dari Medan ke Danau Toba yang sekarang bisa memakan waktu 6-7 jam menjadi 2 jam saja.

"Kalau dengan adanya jalan tol, hitungan kami dari Medan ke Danau Toba itu hanya 2 jam saja. Karena jarak dari Medan ke Tebing Tinggi 40 km, dari Tebing Tinggi ke Parapat sekitar 90 km, jadi total 130 km. Kalau kecepatan di jalan tol ya 2 jam," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Herry Trisaputra Zuna, kepada detikFinance.

Wah, rasa-rasanya tak sabar lagi menanti jalan tol Bakauheni-Aceh selesai dibangun. Pulang kampung ke Medan pun sepertinya akan lebih asyik membawa kendaraan sendiri ketika jalan tol tersebut sudah selesai. Mudik sambil menikmati tempat-tempat indah di sudut-sudut Pulau Sumatera yang indah.

Mari kita menanti...
Selengkapnya...

Jumat, 24 Maret 2017

Mempertanyakan Zona Nyaman


Meme di atas saya temukan di dinding salah satu teman di Facebook. Sebuah tulisan yang tiba-tiba sangat mengusik.

Mungkin ada banyak persepsi yang bermunculan pada masing-masing pribadi tatkala membaca kalimat yang terpampang di meme tersebut. Atau, barangkali tak bermakna apapun juga. Tapi, pendapat terakhir ini bisa jadi tidak benar. Buktinya, ketika saya mem-posting meme tersebut di akun path saya, ada banyak teman yang memberikan gambar hati. Satu orang bahkan nge-repath lagi gambar tersebut.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, atau justru saya yang terlalu baper alias bawa perasaan, meme tersebut hanya satu dari beberapa kejadian yang saya alami dalam sepekan terakhir dan tampak saling bertautan.

Yang pertama, ketika saya ada janji untuk bertemu dengan seorang sahabat. Awalnya, kami berjanji untuk bertemu sambil makan siang di dekat kantor di sekitar Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Namun, rupanya ia sedang ada acara di tempat usahanya pada hari yang sudah disepakati, sehingga ia menawarkan saya untuk datang saja ke tempat usahanya itu. Tawaran ini pun saya terima. Saya pun mampir ke kantor sekaligus tempat usahanya.

Sahabat yang saya jumpai ini adalah teman SMA yang secara rutin kami tetap saling berkontakan. Saya merasakan kecocokan berteman dengannya. Saya kagum kepadanya karena punya wawasan yang luas. Cara berpikirnya sering tak biasa bagi kebanyakan orang. Saya juga mengenal beberapa ilmu dan pengetahuan jenis ‘langka’ darinya. Sejumlah nama tokoh-tokoh yang memberi pengaruh ke dunia namun tak familiar bagi orang awam juga saya kenal darinya. Sejumlah buku ‘berat’ yang saya koleksi di rumah merupakan hasil ‘virus’ yang disebarkan sahabat ini.

Berkaitan dengan meme yang saya sebut di awal cerita, sahabat ini dulunya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan manufaktur yang jadi pemasok ke perusahan otomotif terbesar di negeri ini. Namun, sekitar sepuluh tahun lalu, kalau tidak salah, ia berhenti bekerja dan memulai membangun usaha sendiri. Saya cukup tahu bagaimana ia jatuh bangun membesarkan usahanya yang bergerak di bidang pelatihan dalam segala hal mengenai internet ini.

Filosofi untuk berani membangun usaha sendiri juga berkali-kali ia coba untuk tularkan ke saya. Beberapa kali ia pernah nyeletuk ke saya dengan kata-kata yang maknanya mirip dengan kalimat di meme di atas. “Bagaimana bisnisnya sekarang, Bro?” celetukan lain darinya pada setiap kami bertemu. Kata-kata yang sangat mengejek karena ia pasti tahu kalau saya masih tercatat sebagai karyawan.

Rupanya, saya datang ke tempat usaha sahabat ini ketika sedang ada semacam acara berbagi pengalaman dari seorang pakar kepada para murid di tempat pelatihannya tersebut. Pemberi materi pada hari itu adalah Arto Soebiantoro, seorang pakar brand ternama di negeri ini. Ia adalah putra dari Kris Biantoro, seniman yang pasti sangat familiar bagi mereka yang lahir sebelum era 1980-an.

Arto Soebiantoro sedang memberi materi soal brand

Akhirnya, saya ikut menyimak materi tentang seluk-beluk brand yang dipaparkan Arto di salah satu ruang kelas. Ia berbagi ilmu bagaimana membuat merek alias brand yang bernilai tinggi dengan menggunakan materi paparan yang sangat kreatif dan keren. Sebuah materi yang sangat menarik buat saya.

“Brand sangat penting. Orang tidak lagi membeli karena suka dengan product. Tapi, orang membeli persepsi yang dimiliki brand tersebut. Brand menjadi investasi di masa depan,” kata Arto yang dulu lama bekerja di biro iklan di luar negeri dan di Indonesia. Sekarang ia membuat perusahaan sendiri dan juga terlibat dalam sejumlah proyek berbagi ilmu mengenai seluk-beluk brand.

Nah, saya kembali teringat dengan kalimat di meme di awal cerita ini begitu menelusuri siapa Arto Soebiantoro ini. Saya merasakan kalau ia sedang menjalankan apa yang tertulis di meme tersebut. Mewujudkan impian sendiri setelah sekian lama bekerja untuk orang lain. “Kapan-kapan kita ngobrol ya, Mas,” kata Arto kepada saya ketika berpisah di siang hari itu, usai sesi berfoto bersama para peserta.

Arto Soebiantoro usai memberi materi

Kemudian, sepanjang pekan ini saya juga berkali-kali ‘dipanasi’ oleh seseorang yang mungkin baru dua bulan ini saya kenal. Ya, memang belum lama saya mengenalnya, tapi saya sudah cukup tahu banyak mengenai siapa ‘teman baru’ saya ini. Saya tahu bisnis yang ia jalankan, tahu gambaran penghasilan yang ia peroleh, proses jatuh-bangun dalam berbisnis, hingga saya juga sudah tahu siapa dan bagaimana keluarganya juga.

Ketika tulisan ini saya buat, ‘teman baru’ saya tersebut sedang berada di Amerika Serikat bersama keluarganya. Ia berada di negeri Donald Trump tersebut sekitar setengah bulan dan menjelajahi sejumlah kota. Selain untuk liburan, ia pergi ke Amerika Serikat untuk menghadiri acara pemberian bonus dari perusahaan yang produknya ia ikut pasarkan di Indonesia.

Hampir setiap hari ia mengirim foto-foto kegiatannya di Amerika Serikat via WhatsApp kepada saya. Foto-foto yang pastinya membuat ngiri siapa saja. Saya tahu, ia bukan bermaksud untuk pamer kepada saya. Yang saya tangkap, ia sedang berusaha mengirim sejumlah subliminal messages kalau saya juga bisa seperti dia.

Dari rangkaian keping-keping peristiwa yang saya alami ini, timbul sebuah renungan yang mempertanyakan kembali arti zona nyaman. Jangan-jangan, saya, Anda, atau kita semua sedang menumpang di atas gerbong zona nyaman yang selama ini kita anggap zona nyaman, namun sebenarnya hanya semu belaka. Karena zona nyaman yang sesungguhnya ada di gerbong sebelahnya, atau bahkan mungkin di rangkaian gerbong lain.

Saya merenung sambil menyerumput teh pemberi energi yang rutin saya bawa ke kantor hampir dua bulan terakhir ini.
Selengkapnya...

Senin, 20 Maret 2017

Rasakan Sensasi Celana Kedodoran

“Yah, kok celana dalamnya kelihatan terus?” kata si Abang ketika saya beberapa kali bolak-balik berjalan di dekatnya, di ruang nonton TV di rumah.

“Iya nih, Bang. Celana Ayah jadi kebesaran semua sekarang,” kata saya sambil melempar tawa kepada si Abang.

Celetukan anak sulung di hari Minggu pagi itu membuat saya teringat dengan ungkapan di sebuah laman Facebook. “Rasakan Sensasi Celana Kedodoran!” Begitu bunyi ungkapannya.

Ungkapan tersebut benar-benar saya alami sekarang ini. Hampir semua celana yang saya miliki saat ini sudah terasa longgar. Sebanyak satu-dua celana bahkan melorot kalau tidak ditahan ikat pinggang. Celakanya lagi, lubang terakhir di ikat pinggang yang biasa saya kenakan pun sudah melebihi lingkaran pinggang. Ikat pinggang pun tinggal sebagai aksesoris di celana saja.

Kalau celana yang kedodorannya sudah tak mampu tertahan, maka saya terpaksa memakai ikat pinggang cadangan yang jenisnya bisa ‘menancap’ di mana saja. Tak perlu menancap di jejeran lubang seperti di ikat pinggang utama yang rutin saya kenakan.

Ini semua gara-gara pola makan saya yang berubah sejak awal Februari 2017, ketika saya tidak lagi makan nasi untuk sarapan. Saya lupa tanggal persisnya mulai kapan. Yang saya ingat, istri menyuguhkan saya berupa sarapan shake rasa coklat. Saya berpikir itu hanya semacam susu rasa coklat. Karena itu, awal-awalnya, saya tetap sarapan nasi seperti biasa usai meminum shake rasa coklat tersebut.

Beberapa hari kemudian, nafsu untuk makan nasi malang hilang. Saya menjadi tidak selera lagi menyentuh menu sarapan yang masih disediakan istri karena rasa kenyang usai meminum shake.

“Shake ini adalah nutrisi pengganti sarapan, Yah. Ini bukan susu. Ini shake yang berisi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Memberi rasa kenyang yang cukup sampai siang hari. Satu gelas shake ini kalorinya hanya sekitar 200. Sangat cukup buat tubuh kita. Makanya, Ayah tidak lapar lagi,” kata istri mengajari saya.

Menu sarapan yang telah berganti dengan shake yang diproduksi oleh sebuah perusahaan besar asal Amerika Serikat itu, terus saya konsumsi sampai hari ini.

Kini, bukan hanya shake-nya yang saya konsumsi di pagi hari. Ada juga minuman semacam teh yang rasanya nikmat sekali, plus minuman dari lidah buaya yang katanya untuk membersihkan usus agar nutrisi semakin mudah diserap tubuh. Kenyangnya sungguh luar biasa begitu selesai menghabiskan seluruhnya.


Ini dia menu sarapan yang lezat itu. Ada shake untuk nutrisi pengganti sarapan, teh untuk energi, dan satu sloki minuman dari lidah buaya untuk membersihkan pencernaan.

Dampak yang paling terlihat ya soal celana kedodoran tersebut. Rupanya, berat tubuh saya telah turun dari hampir 75 kg menjadi 70 kg setelah sekitar satu bulan mengganti menu sarapan tersebut. Hebatnya lagi, pemandangan perut buncit pun semakin berkurang.

Awalnya, saya juga tidak percaya berat tubuh saya bisa hampir 5 kg susut dalam waktu, yang menurut saya, sangat pendek ini. Hanya satu bulan! Padahal, saya tak pernah ada niat menurunkan berat badan. Apalagi ikut program diet.

“Nutrisi ini bukan pelangsing tubuh, Yah. Bukan juga obat diet. Ini nutrisi untuk tubuh kita. Untuk kesehatan kita. Sehatnya dapat, eh...bonusnya berat badan yang turun,” tambah istri yang kian pandai saja menjelaskan produk yang telah rutin kami konsumsi tersebut.

Istri saya pun telah semakin langsing karena rutin mengkonsumsi shake yang sama sejak Januari 2017. Kini berat badannya sekitar 55 kg dari sekitar 62 kg pada awal 2017.

Sumber Foto: masbroo dan koleksi pribadi
Selengkapnya...

Kamis, 16 Maret 2017

Ketika Perut Kami Buncit-Buncit

Saya terkejut melihat beberapa foto yang dikirim ke salah satu grup Whatsapp mantan teman sekolah. Di foto-foto tersebut terlihat sejumlah rekan yang sedang berkumpul dalam sebuah acara. Saya menghitung jumlah mereka, ...1,2,3,4,5,6,7,8,9,10. Kalau dengan teman yang memotret, berarti ada 11 teman yang berkumpul di acara tersebut. Seluruhnya adalah pria.

Yang membuat saya terkejut adalah melihat tubuh mereka yang tampak gemuk-gemuk. Setidaknya ada enam teman yang terlihat memiliki tubuh paling bongsor dengan perut yang tak enak dipandang. Dengan memperkirakan tinggi badan mereka, saya perkirakan berat badan beberapa teman tersebut sekitar 90 sampai 110 kg.

Saya pun membayangkan wujud mereka ketika masa sekolah dulu. Tiba-tiba saja ada senyum yang muncul. Yang saya ingat, mereka dulu bertubuh kurus seperti saya. Dan, lihatlah mereka pada hari ini setelah 20an tahun kemudian!

Kondisi seperti ini memang tampak lumrah dijumpai sekarang ini. Pada umur seperti kami yang tak bisa disebut muda lagi, badan yang gemuk dengan perut buncit adalah pemandangan yang sangat biasa dijumpai di tengah masyarakat. Saya pun mengalaminya. Walau berat badan saya tidak terlalu over, tapi perut yang terlalu maju ini sungguh mengganggu.

Kalau kata sejumlah artikel, kegemukan atau biasa disebut juga dengan istilah obesitas, didefinisikan sebagai memiliki kelebihan lemak di dalam tubuh. Umumnya, kegemukan banyak dialami oleh mereka yang sudah berusia dewasa, karena gaya hidup yang tak sehat. Umur sudah tidak muda lagi tapi masih memakan makanan yang sama dengan ketika masih berusia belasan tahun. Ketika olahraga pun sudah jarang dilakukan, maka jangan heran kalau lemak di tubuh makin tak terkontrol.

Sejumlah cara sedang saya tempuh saat ini untuk mengurangi lemak yang menumpuk di sekitar perut ini. Hasilnya sudah mulai tampak. Kalau dibandingkan dua bulan lalu, saya patut bersyukur karena sudah beberapa teman yang menyebut saya bertambah langsing dengan perut yang tak terlalu ke depan lagi.

Mungkin saya nanti akan berbagi resep ke teman-teman saya yang ada di foto tadi, agar kami kembali seperti masa sekolah dulu. Biar umur makin tua, tapi tubuh harus tetap segar dan sehat. Plus, perut buncit tak perlu ada lagi. Setuju atau setuju sekali?

Sumber gambar: ifood.tv
Selengkapnya...

Rabu, 15 Maret 2017

Mamak Berkabar tentang Berat Badan

Keluarga saya memiliki sebuah grup di Whatsapp. Grup ini menjadi tempat bagi kami untuk saling berbagi cerita dan kabar.

Tadi malam grup kami ini sangat aktif. Topik utama obrolan adalah mengenai berat badan. Mamak yang tinggal di kampung mengaku baru saja menimbang badannya. Ia mengaku beratnya kini 83 kg. “Karo tadi timbang (badan). Kok turunnya cuma 1 kilo ya? Padahal perasaan badan sudah lebih enteng,” kata mamak. Karo adalah sebutan bagi nenek di daerah asal saya.

Sekitar tiga minggu lalu, berat badan mamak sekitar 84 kilogram. Sebuah angka yang menurut kami sangat tidak baik. Dengan tubuh yang seberat itu, mamak mengaku sudah sangat sulit untuk bekerja di kebun. Ia selalu cepat merasa lelah. Kakinya juga sering pegal-pegal. Dan, yang lebih membuat kami was-was adalah belakangan ini mamak merasa persendian kakinya sering nyeri seperti gejala asam urat atau rematik.

Melihat beragam keluhan yang dirasakan mamak pada saat itu, kami pun menyarankan agar ia menurunkan berat badannya. Kami memberikan saran kalau berat badan mamak setidaknya ada di angka 60an kg saja. Berat badan dengan angka segini setidaknya tidak menyulitkan untuk bergerak. Lemak-lemak yang memenuhi tubuh dan bikin badan lemas dan tak bergairah juga akan berkurang.

“Bagaimana caranya? Karo pun sudah tidak tahan lagi. Karo tidak kuat lagi ke ladang,” kata mamak saat itu.

Kami pun menyarankan agar mamak memperbaiki pola makannya. Kami memintanya untuk menghindari sejumlah makanan yang tidak baik untuk tubuh. Terlebih untuk mamak yang usianya sudah hampir 60 tahun. Gorengan dan makanan berminyak lain, daging merah, jeroan, durian, adalah sejumlah makanan yang kami sarankan untuk dihindari. Kami juga meminta agar mengurangi konsumsi nasi agar tidak bertambah gemuk.

Kami lega karena mamak mau menuruti semua masukan tersebut. Rupanya, mamak begitu bersemangat agar kembali bugar dan bisa kembali aktif ke kebun.


Sumber foto: pedulisehat.info

Untuk melengkapi perbaikan pola makan mamak, saya dan istri lalu mengirim produk nutrisi dari sebuah merek terkenal sebagai pengganti sarapan dan makan malam. Nutrisi yang kami kirim ini sudah sekitar 37 tahun teruji di dunia. Sudah masuk ke Indonesia sejak 1998. Ada begitu banyak orang yang sudah merasakan manfaatnya.

Banyak yang menyebut nutrisi dalam bentuk kaleng seberat 550 gram ini sebagai makanan pelangsing. Tidak sedikit juga yang menyebutnya obat diet. Padahal, tidak demikian faktanya.

Nutrisi yang dikonsumsi dengan cara diblender atau di-shake dengan air ini adalah makanan pengganti sarapan. Cukup satu gelas sekali konsumsi. Kalorinya hanya sekitar 200 kal. Lebih dari cukup untuk kebutuhan sampai siang hari. Kalori yang rendah namun kaya beragam gizi ini, membuat banyak orang kemudian bertambang langsing setelah mengonsumsinya. Padahal, alasannya sederhana saja. Seluruh kalorinya habis dibakar tubuh. Tidak ada tersisa di tubuh dan kemudian menjadi lemak-lemak yang bikin makin gendut.

“Nutrisi ini bukan obat diet. Ini makanan untuk sel-sel tubuh kita. Tubuh kita yang rusak diperbaiki. Setelah itu, baru pelan-pelan tubuh kita akan mencapai berat badan ideal. Makanya sehatnya dapat, eh, bonusnya berat badan menjadi ideal. Ini Karo sudah bagus. Belum ada satu bulan minum, sudah turun satu kilo,” kata istri di dalam grup WA.

Mamak rupanya baru sadar kalau berat badannya yang hanya turun satu kilogram tidak berarti apa-apa dibanding sehat yang sudah didapat. Ia sadar, kalau pola makan yang sudah hampir satu bulan berganti ini, telah membuat hidupnya semakin lebih baik. “Karo lupa sehatnya. Mikirin gemuknya (saja). Padahal tidur sudah enak dan jalan ke ladang juga sudah kuat,” kata mamak.

Sehat-sehat terus kita ya, Mak....
Selengkapnya...

Senin, 13 Maret 2017

Melihat Kemesaraan Jokowi dan SBY

Presiden Jokowi akhirnya bertemu dengan SBY, sebuh momen yang sudah lama dinanti-nanti. Keduanya bertemu di Istana Merdeka pada Kamis, 9 Maret 2017.

"Ya seperti yang sudah sering saya sampaikan bolak-balik kan sudah saya sampaikan bahwa saya akan mengatur waktu untuk beliau, Pak SBY. Dan hari ini Alhamdulillah beliau pas juga ada waktu dan beliau juga ada, maka kita janjian dan ketemu," kata Jokowi ketika ditanya mengapa pertemuan baru terlaksana.

Ada begitu banyak cerita mengapa pertemuan Jokowi-SBY ini menjadi sangat penting. Keduanya sering diberitakan dalam situasi yang tidak saling bertegur sapa.

Lihat saja apa terjadi ketika ada ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa akibat isu terganggunya keharmonisan toleransi pada akhir 2016. Ketika itu, Jokowi mengundang sejumlah ketua umum partai politik ke istana. Ada Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Golkar Setya Novanto, Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo Subianto, dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Namun, saat itu SBY tidak termasuk ketua umum partai yang diundang Presiden Jokowi ke istana. Padahal, SBY adalah Ketua Umum Partai Demokrat, salah satu partai besar di negeri ini. Kalau ada yang mengatakan Jokowi hanya mengundang partai pendukung pemerintah, apa Gerindra memang partai pendukung juga?

Situasi ini akhirnya semakin membuat publik melihat hubungan Jokowi dan SBY memang sedang dalam kondisi tidak harmonis. Sebelumnya, Jokowi juga lebih memilih menemui Prabowo Subianto di Hambalang pada November 2016, daripada bertemu SBY di Cikeas. Padahal, Cikeas dilewati kalau mau ke Hambalang.

Sebelumnya, program kerja Jokowi yang gemar membangun proyek-proyek infrastruktur, juga dikritik SBY. Dalam rangkaian tour de java-nya pada Maret 2016, SBY mengungkapkan bahwa pemerintah sebaiknya tidak menguras anggaran di sektor infrastruktur di tengah kondisi ekonomi tanah air yang sedang lesu.

Kritik SBY ini akhirnya dibalas Presiden Jokowi dengan mengunjungi proyek mangkrak di Hambalang.

Namun, segala rumor yang beredar ini, akhirnya luntur seketika dengan pertemuan Presiden Jokowi dengan SBY di istana pada 9 Maret 2017. Sebuah pertemuan yang kata SBY, digunakan untuk menjelaskan berbagai hal yang selama ini menjadi sumber miskomunikasi antara dirinya dengan Jokowi.


Usai bertemu SBY, Presiden Jokowi melanjutkan acara lain di istana. Jokowi mengundang sejumlah penyanyi dan musisi kondang ke istana dalam rangka Hari Musik Nasional 2017. Setidaknya ada 200 musisi Indonesia yang datang.
Selengkapnya...

Kamis, 23 Februari 2017

Tak Sabar Menanti MRT Jakarta

Kalau berjalan lancar, tepat dua tahun lagi, Jakarta akan memiliki kereta api bawah tanah. Pembangunan MRT, kepanjangan dari Mass Rapid Transit, terus dikebut agar bisa selesai sesuai jadwal, Maret 2019. Tidak ada penjelasan mengapa target selesai di bulan ini. Dugaan saya, karena pada April 2019 ada momen Pemilu.

Untuk kesekian kalinya, Presiden Jokowi melihat langsung proses pembangunan MRT pada hari ini, 23 Februari 2017. Dalam peninjauan kali ini, Jokowi mengumumkan kalau semua terowongan bawa tanah tahap pertama MRT telah tersambung. "Seluruh terowongan yang dibangun untuk MRT sudah tersambung. Hari ini sudah tersambung," ujar Jokowi di lokasi proyek, 300 meter di bawah Jalan Jenderal Sudirman, seperti ditulis Kompas.com.

Pembangunan proyek MRT Jakarta mulai dikerjakan sejak 10 Oktober 2013, ketika Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pada tahap pertama, koridor yang dibangun adalah Lebak Bulus-Bunderan HI sepanjang 15,7 KM. Hingga hari ini, pembangunannya telah kelar 65%. Kurang 35% agar tuntas pada Maret 2019. Tapi, yang terpenting, pengeboran terowongan yang membentang dari Senayan sampai Bunderan HI sudah tuntas. Tinggal membangun sarana dan prasarana. Begitu juta jalur melayang dari Lebak Bulus sampai Senayang yang progresnya juga baik. Tiang-tiang penyangga telah berdiri kokoh.

Begitu tahap pertama ini beroperasi, rencananya akan dilanjutkan dengan tahap kedua yang membentang dari Bunderan HI hingga Kampung Bandan di Jakarta Utara, sepanjang 8,1 KM. Tahap kedua ini ditargetkan selesai dibangun pada 2020. Tapi, tampaknya bakal molor karena hanya selisih satu tahun dari beroperasinya jalur Lebak Bulus-Bunderan HI.


Tidak murah untuk membangun MRT di Jakarta ini. Biaya pembangunan tahap pertama saja diperkirakan bakal menghabiskan anggaran sekitar Rp 15 Triliun rupiah. Besaran biaya yang sama juga bakal habis untuk pembangunan tahap kedua. Sebagian besar anggarannya merupakan pinjaman lunak dari Jepang. Ini yang membuat MRT Jakarta bakal menggunakan teknologi dari negeri matahari terbit itu.

Walau tidak murah, tapi nantinya MRT Jakarta ini akan menjadi kebanggaan Indonesia. Setelah puluhan tahun hanya wacana, mimpi Indonesia untuk memiliki kereta bawah tanah pun terwujud. Indonesia memang jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain yang sudah sangat lama memiliki MRT sebagai solusi transportasi publik. Tetapi, rasa-rasanya tidak masalah terlambat, daripada tidak pernah terwujud.

Berikut ini adalah sejumlah foto mengenai pembangunan MRT Jakarta yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Mohon maaf saya tidak mencantumkan sumbernya karena terlalu banyak. Saya sendiri bahkan sudah lupa darimana saya memperolehnya.



Selengkapnya...