Senin, 26 Desember 2005

MASA LALU YANG GELAP

Setiap orang punya masa lalu. Masa lalu itu bisa indah maupun gelap. Masa lalu yang indah akan selalu terekam di dalam memori. Kita tidak pernah ingin melupakannya Bahkan, kalau bisa, kita ingin memgulanginya hingga berkali-kali. Namun, sangat beda dengan masal lalu yang gelap. Kalau yang ini, pasti selalu ingin dihapus dari ingatan kita. Namun, terkadang, menghapus masa lalu yang gelap itu tidak semudah menghapus file di dalam komputer. Kita tidak punya tombol 'delete' yang bisa diklik kapanpun kita mau.

Yang bisa kita lakukan hanyalah menjadikan masa lalu yang gelap itu, tidak membuat hidup kita terus gelap.Semangat dan harapan harus bertambah justru dengan adanya masa lalu yang gelap itu. Ini memang susah. Tapi, sepanjang ada niat dan usaha kita, itu bukan pekerjaan susah seperti menembus tembok yang begitu tebal. Kita tidak boleh menyesali masa lalu yang gelap itu sebagai sebuah peristiwa yang tidak sepantasnya terjadi. Menyesal kemudian tentu tidak berguna. Itu sudah terjadi. Hadapilah dengan jiwa yang besar, walau masa lalu yang gelap itu telah menumbuhkan luka di hati kita.

Kalau yang selalu hadir adalah penyesalan dan penyesalan, maka luka tadi tidak akan sembuh-sembuh. Kita bahkan harus siap untuk melihat luka itu akan menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya, lambat tapi pasti, jurang kematian akan hadir di depan kita.

Selengkapnya...

Selasa, 20 Desember 2005

MAKASSAR YANG PANAS

Hampir setiap hari ada berita bentrokan di Makassar, Sulawesi Selatan. Sampai-sampai ada yang mengatakan, apapun bisa memancing bentrokan kalau di Makassar. Apa begitu? Aku sendiri tidak percaya.

Sampai akhirnya, aku punya kesempatan pergi ke Makassar pertengahan Desember 2005 ini. Selama enam hari di kota yang dulu bernama Ujung Pandang ini, aku punya banyak cerita tersendiri mengenai kota terbesar di sebelah timur Indonesia ini.

Hotel Aston Makassar menjadi pilihan karena hotel yang biasa jadi langganan kantor, sudah full. Padahal, hotel itu lumayan enak. Persin diujung pantai Losari. Ada di tengah kota pula. Mau ke Nusantara, kawasan Mangga Besar-nya Makassar, tinggal jalan kaki. Mau ke jalan teramai, juga tinggal nyeberang. Namun, apa daya, hotel itu sudah penuh untuk aku.

Hotel Aston Makassar akhirnya menjadi pilihan. Letaknya tidak jauh dari Biro Metro TV. Saat ke front office, ternyata ada kru Trans TV yang tadi ketemu di Bandara. Pas aku tanya, ia dapat harga Rp 300.000/ malam untuk kamar superior. Tenyata untuk aku, harganya Rp 350.000. Kok mahalan? "maaf, pak menejernya gak ngasih," kata petugas yang melayani aku. Kesel tambah jengkel..... Rasanya mau marah.

Besoknya, aku mulai menjalankan misiku ke Makassar. Sepertinya aku salah mengambil sopir. Sebab, kecepatan 40 km/jam adalah maksimal baginya. Gemes melihat mobil Kuda yang aku naiki, sangat lambat. Sudah dikasih tahu lebih cepat, tuh sopir tetap aja lambat. Udah gitu, gak tahu jalan lagi. Larangan belok kiri ia terobos. Akhirnya, polisi menyetop. Dia panik dan turun menuju si polisi. Ketika kembali eh...dia salah naik mobil. Yang dinaiki mobil yang ada di depan mobil yang aku sewa. Ternyata ia sangat panik. Dimana kantor walikota Makassar saja ia tidak tahu.

Ketika pulang, aku juga mengalami masalah di Bandara Hasanuddin. Petugas Check in Lion Air mengatakan, aku tidak bisa berangkat karena belum melapor sebelumnya. Jadi, namaku tidak ada di list penumpang. Mana Bisa. Aku sudah pegang tiket kok. Aku disuruh menunggu. Kalau ada bangku kosong, maka aku berangkat. Enak aja. Akhirnya, aku mengirim sms ke Hasyim, Humasnya Lion Air. Beberapa menit kemudian, petugas di check in menghampiri aku. Dua jam kemudian, akupun tiba di Bandara Soekarno-Hatta

Akupun menyadari, ternyata udara Makassar memang panas. Orang mudah sekali marah. Tidak salah kalau aksi tawuran dan bentrokan sering terjadi. Namun, yang aku pertanyakan, yang panas udara atau tanah di Makassar? Selengkapnya...

Senin, 12 Desember 2005

MAKASSAR, AKU DATANG!

Hari ini sudah seminggu dua hari aku 'menganggur'. Kepala pun terasa sudah sakit. Aku tidak tahu apalagi yang harus kulakukan di kantor. Sejak hari Jumat minggu lalu, aku sudah sibuk di depan komputer untuk memelototi setiap berita yang ada di seluuruh penjuru negeri ini. Bahkan, sampai ke negara tetangga. Namun, tidak ada berita yang menarik. Sedangkan, hari terus bergulir. Semakin dekatnya hari Selasa pekan depan, membuat jantung ini berdetup lebih kencang lagi. Apalagi ya, bahan buat tayang minggu depan.

Sampai akhirnya pada pukul tujuh malam tadi, aku menemukan berita menarik di detikcom. Mahasiswa Unhas Makassar kembali tawuran. Aha... berita menarik nih. Kontak sana kontak sini, lobi sana lobi sini. Akhirnya, akupun boleh berangkat ke Makassar. Wah, rasanya senang juga impian ke Makassar terwujud. Pantai Losari...tunggu aku besok ya! Selengkapnya...

Sabtu, 10 Desember 2005

AMOY SINGKAWANG

Hari Rabu, tanggal 30 November 2005, tepatnya menjelang pukul empat sore, aku tiba di Singkawang. Sudah lama aku mendengar tentang kota yang berada di utara Kalimantan Barat ini. Namun, baru kali ini aku memiliki kesempatan untuk berkunjung ke sini.

Yang selalu aku dengar tentang Singkawang adalah mengenai kecantikan amoy-amoynya. Gadis keturunan Cina asal Singkawang begitu tersohor kemana-mana. Bahkan, banyak berita di TV maupun koran atau majalah yang mengulas panjang lebar tentang bagaimana amoy-amoy Singkawang sampai diekspor ke Taiwan. Orang luar aja mengagumi kecantikan amoy-amoy Singkawang, apalagi orang lokal kayak aku ini.

Empat hari berada di Singkawang cukuplah bagiku untuk membuktikan semua yang aku dengar tentang amoy-amoynya. Dan, memang tidak salah apa yang aku dengar selama ini. Hampir semua amoy yang aku temui di jalan-jalan kota Singkawang, memiliki ciri-ciri yang sama. Rambut panjang, body langsing, dan baju ketat. Kuningnya kulit mereka tidak perlu diragukan lagi. Saking putihnya kulit mereka, dari jarak 5 meterpun aku bisa melihat bintik hitam di lengan mereka.

Itu baru keindahan fisik mereka. Soal wajah, mmm..... tidak diragukan lagi. Mayoritas amoy-amoy yang dijumpai di jalan-jalan berparas aduhai. Wajah mereka bersih dan pada umumnya berbentuk oval. "Gue mau deh tinggal di sini kalau pemandangannya begini," kata kawan yang sama-sama berangkat dari Jakarta.


Tidak siang ataupun malam hari, banyak amoy-amoy singkawang yang memakai baju tengtop. Dada mereka terbuka. Sepertinya mereka tidak takut masuk angin. Dengar-dengar, mereka memang tahan masuk angin karena tubuh mereka selalu hangat akibat gemar memakan bawang putih. Benar tidaknya rumor ini, aku tidak sempat membuktikannya.

Kota Singkawang juga sangat bersih. Dibandingkan Jakarta, Singkawang jauh lebih unggul. Karena itu, untuk membuang puntung rokok pun rasanya aku tidak tega. Kebersihan kota Singkawang rasa-rasanya terwujud karena kedisplinan masyarakatnya. Jangan harap kita akan menemukan pengendara motor yang lupa memakai helm di sini. Sebab, walau hanya naik motor beberapa meter, setiap warga Singkawang akan selalu memakai helm. Selengkapnya...