Selasa, 20 Desember 2005

MAKASSAR YANG PANAS

Hampir setiap hari ada berita bentrokan di Makassar, Sulawesi Selatan. Sampai-sampai ada yang mengatakan, apapun bisa memancing bentrokan kalau di Makassar. Apa begitu? Aku sendiri tidak percaya.

Sampai akhirnya, aku punya kesempatan pergi ke Makassar pertengahan Desember 2005 ini. Selama enam hari di kota yang dulu bernama Ujung Pandang ini, aku punya banyak cerita tersendiri mengenai kota terbesar di sebelah timur Indonesia ini.

Hotel Aston Makassar menjadi pilihan karena hotel yang biasa jadi langganan kantor, sudah full. Padahal, hotel itu lumayan enak. Persin diujung pantai Losari. Ada di tengah kota pula. Mau ke Nusantara, kawasan Mangga Besar-nya Makassar, tinggal jalan kaki. Mau ke jalan teramai, juga tinggal nyeberang. Namun, apa daya, hotel itu sudah penuh untuk aku.

Hotel Aston Makassar akhirnya menjadi pilihan. Letaknya tidak jauh dari Biro Metro TV. Saat ke front office, ternyata ada kru Trans TV yang tadi ketemu di Bandara. Pas aku tanya, ia dapat harga Rp 300.000/ malam untuk kamar superior. Tenyata untuk aku, harganya Rp 350.000. Kok mahalan? "maaf, pak menejernya gak ngasih," kata petugas yang melayani aku. Kesel tambah jengkel..... Rasanya mau marah.

Besoknya, aku mulai menjalankan misiku ke Makassar. Sepertinya aku salah mengambil sopir. Sebab, kecepatan 40 km/jam adalah maksimal baginya. Gemes melihat mobil Kuda yang aku naiki, sangat lambat. Sudah dikasih tahu lebih cepat, tuh sopir tetap aja lambat. Udah gitu, gak tahu jalan lagi. Larangan belok kiri ia terobos. Akhirnya, polisi menyetop. Dia panik dan turun menuju si polisi. Ketika kembali eh...dia salah naik mobil. Yang dinaiki mobil yang ada di depan mobil yang aku sewa. Ternyata ia sangat panik. Dimana kantor walikota Makassar saja ia tidak tahu.

Ketika pulang, aku juga mengalami masalah di Bandara Hasanuddin. Petugas Check in Lion Air mengatakan, aku tidak bisa berangkat karena belum melapor sebelumnya. Jadi, namaku tidak ada di list penumpang. Mana Bisa. Aku sudah pegang tiket kok. Aku disuruh menunggu. Kalau ada bangku kosong, maka aku berangkat. Enak aja. Akhirnya, aku mengirim sms ke Hasyim, Humasnya Lion Air. Beberapa menit kemudian, petugas di check in menghampiri aku. Dua jam kemudian, akupun tiba di Bandara Soekarno-Hatta

Akupun menyadari, ternyata udara Makassar memang panas. Orang mudah sekali marah. Tidak salah kalau aksi tawuran dan bentrokan sering terjadi. Namun, yang aku pertanyakan, yang panas udara atau tanah di Makassar?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar