Sabtu, 28 Oktober 2006

SMS LEBARAN 1427 H

Maafkanlah segala kesalahan yang pernah kubuat. Kecuali banjir LUMPUR LAPINDO & ASAP KEBAKARAN HUTAN. Bukan aku pelakunya lho! MET IDUL FITRI 1427 H. Selengkapnya...

Sabtu, 14 Oktober 2006

KETIKA HATI TIDAK TENANG

Ketika hatimu tidak tenang, maka engkau akan merasakan ada yang tidak beres dengan dadamu. Jantungmu berdegup kencang dan engkau selalu was-was. Pikiranmu melayang ke mana-mana. Lucunya, engkau tidak tahu apa yang membuatmu harus memikirkan hal tersebut. Akhirnya, engkau hanya menduga-duga tanpa tahu ujung pangkalnya.

Engkau tidak tenang dengan hidupmu. Engkau jadi sulit bercanda. Raut mukamu memancarkan ketidaknyamanan. Engkau menjadi seperti apa yang orang sebut dengan badmood.

Engkau perlu mencari tahu mengapa engkau sedang mengalami ini? Jangan-jangan memang ada sesuatu di sekitarmu yang sedang berubah, dan akhirnya kontak batin denganmu. Selengkapnya...

Kamis, 07 September 2006

PERTEMUAN DENGAN DUA SAHABAT

Aku kembali bertemu dengannya. Kalau tidak salah, aku terakhir kali bertemu dengannya sekitar tahun 2001. Sudah cukup lama bukan? Saat pertemuan terakhir itu, aku tidak sempat berlama-lama ngobrol dengannya. Saat itu, ia sedang bersama suami dan anaknya. Lagi pula, bukan hanya ada aku dan keluarganya. Ada banyak teman-teman lain di tempat itu, sehingga tidak banyak waktu untuk mengobrol dengannya.

Hari Rabu kemarin, aku kembali bertemu dengannya. Pertemuan ini sebenarnya sudah tertunda selama seminggu, karena rencananya kami janjian bertemu hari Rabu minggu lalu. Namun, ia mengaku sedang sibuk saat itu.

Aku pergi ke lokasi janjian bersama seorang kawan yang juga jarang bisa aku jumpai. Sejak sepuluh tahun terakhir ini, ia merantau ke negeri orang. Jarang sekali ia pulang ke Indonesia. Karena itu, kita ia mengajak aku untuk janjian ketemu kawan tadi, aku langsung mengiyakan.

Kedua kawanku ini adalah teman SMA. Yang satu perempuan dan satu lagi laki-laki seperti aku. Dulunya, aku sangat akrab dengan mereka berdua. Sangat mengenakkan untuk berteman dengan mereka. Mereka adalah orang-orang yang selalu memandang dunia ini dengan penuh senyum dan tawa. Masalah tidak boleh mengganggu nikmatnya hidup ini.

Si kawan wanita ini dulunya tergolong cantik di sekolah. Dan, ketika aku kembali bertemu dengannya kemarin, aku merasakan gaya dan penampilannya sama sekali tidak berubah. Ia tetap cantik walau postur tubuhnya sudah sedikit besar. Sekilas, aku tidak merasakan perubahan pada dirinya. Ia tetap 'bocor' kalau bicara, selalu tersenyum, dan punya banyak gosip-gosip yang belum pernah kudengar sebelumnya. Padahal, sekarang ia sudah memiliki dua anak. Maklum saja, ia tergolong kawin muda, tahun 1999.

Sedangkan kawan yang satu lagi adalah kawan karib ketika sama-sama aktif di majalah sekolah. Aku punya hobi yang sama dengannya. Bahkan, dulu kami sering bolos sekolah hanya untuk melihat kedatangan artis luar negeri di Bandara Soekarno-Hatta. Ia adalah seorang kawan yang menyenangkan, sampai sekarang.

Sekitar tiga kami kami bertiga larut dalam obrolan di sebuah tempat makan di BSDCity. Obrolan sering diselingi dengan tawa-tawa. Maklum saja, kami bertiga sepertinya miliki sifat yang sama, yakni tidak bisa bicara serius. Waktu tidak terasa sudah pukul setengah sembilan malam, dan kami memutuskan untuk berpisah.

Terima kasih kawan-kawan. Kalian berdua adalah sahabat terbaikku… Selengkapnya...

Jumat, 25 Agustus 2006

PINGPONG BERWARNA COKLAT

Aku menelepon sang wakil. Panggilan pertama tidak diangkat. Begitu juga dengan panggilan kedua. Aku memutuskan untuk mengirim pesan pendek kepadanya. Lima menit kemudian, sang wakil akhirnya meneleponku. Aku menduga, ia penasaran dengan istilah 'machoisme' yang aku pakai dalam pesan pendek yang tadi aku kirim padanya.

"Gini aja. Ginting ke kadiv dulu. Saya kan cuma wakil saja. Nanti kalau pak kadiv mendelegasikan ke saya, baru saya bicara."
Aku pun bergegas menuju ruang kerja pimpinan sang wakil. Jaraknya dari posisiku berada sekitar seratur meter, dan harus menyeberang jalan raya. Dengan semangat 45, akupun tiba dalam waktu lima menitan saja. Sesampainya di sana, aku cuma bertemu dengan staf-staf sang pimpinan sang wakil. Sang pimpinan tidak berhasil aku temui, dan aku malah disuruh menghadap ke seorang pejabat yang ada di bawah sang wakil.

Dengan hati jengkel, akupun ke ruang yang dimaksud. Kali ini aku bisa langsung bertemu dengan sang pejabat. Aku utarakan maksud keperluanku secara baik-baik. Sekitar sepuluh menit aku berada di sana, dan aku sama sekali tidak mendapatkan apa yang aku cari. Aku hanya memperoleh 'petunjuk-petunjuk', yang malah semakin memperjauh aku dengan tujuanku semula.

Aku pun akhirnya memilih pulang. Aku sedikit jengkel. Tidak tahu jengkel pada siapa, pada diriku atau pada mereka. Percuma saja aku minta baik-baik kepada mereka. Sudah dua hari ini aku mendapatkan pengalaman begini. Lebih baik aku mencegat mereka di luar ruangan. Kalau ini yang aku lakukan, pasti deh segera kuperoleh apa yang kucari. Mereka pasti tidak akan bisa menolaknya. Aku sangat yakin. Selengkapnya...

Selasa, 22 Agustus 2006

JAKARTA KEMBALI KE HABITATNYA LAGI

WELCOME BACK....
Ucapan ini aku sampaikan untuk kawan-kawan semua yang baru saja merayakan liburan panjangnya. Sudah lima hari kalian libur. Cukup lama bukan? Berbahagialah kalian yang telah menikmati liburan panjang ini, karena aku tidak bisa demikian. Aku hanya libur hari Kamis dan Minggu kemarin. Hari-hari lainnya aku harus tetap melaksanakan tugas-tugas seperti biasa.

Sebenarnya aku merasa bahagia juga dengan liburan panjang yang kalian nikmati. Jakarta menjadi sangat lengang. Tidak ada kemacetan dimana-mana. Hidup ini terasa sangat nikmat selama kalian menikmati liburan panjang. Kemana-mana sangat cepat. Aku juga tidak perlu naik bis AC karena sudah pasti jalanan tidak macet. Jadi, ada penghematan di sana.

Dan, ketika kalian telah kembali lagi, lihatlah! Hari ini Jakarta kembali ramai dan padat. Lalulintas pun kembali macet. Jalan tol bukan lagi jalan bebas hambatan. Aku hanya bisa menikmati macet di dalam jalan tol dengan tertelap tidur di bangku bis ber AC yang aku naiki. Selain itu, banyak persimpangan jalan yang terjebak dalam kesemrautan. Sopir angkot yang aku naiki pun akhirnya harus bersitegang dengan pengemudi lain karena telah menerobos antrean. Aku sih senang aja. Kan aku jadi makin cepat tiba di tujuan. Iya, kan?

Jakarta oh Jakarta....Engkau kembali ke habitatmu lagi! Selengkapnya...

Jumat, 18 Agustus 2006

ENAM SATU


DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA
KE-61

M E R D E K A ! ! !
Selengkapnya...

Selasa, 15 Agustus 2006

SETAHUN ACEH DAMAI

HARI ini tepat setahun perdamaian di Aceh. Tidak terasa, memang. Sudah 365 pemerintah negeri ini menandatangani MoU perjanjian perdamaian dengan GAM, di Helsinki, Finlandia. Hasil MoU tersebut sungguh luar biasa. Kondisi Aceh ini kini jauh lebih baik. Tidak ada lagi terdengar suara tembakan anggota GAM. Tidak ada lagi pasukan TNI yang menguber-nguber anggota GAM yang lari ke hutan-hutan. Kedua kubu sudah berjabat tangan. Permusuhan tidak tampak lagi. Mudah-mudahan kondisi ini bukan seperti sebuah gencatan senjata, dimana perang sewaktu-waktu bisa meletus lagi. Perdamaian ini moga-moga bukan hanya di permukaan saja, sedangkan baik TNI maupun GAM tetap bersiaga untuk menghadapi perang berikutnya. Ah... smoga saja tidak. Smoga yang ada adalah sebuah perdamaian yang abadi. Sekali lagi, abadi.

Tanggal yang sama, setahun lalu, aku berada di Aceh Timur. Aku menyaksikan penandatangan MoU bersama ratusan orang di sebuah lapangan di Idi Rayek, sebuah kota kecil di Aceh Timur. Hari itu, sekitar empat TV berukuran besar dipasang di lapangan. Para pejabat Aceh Timur seperti bupati, dandim, kapolres, bergabung bersama ratusan warga di lapangan tersebut. Di bawah tenda-tenda, mereka menyaksikan acara penandatangan MoU RI-GAM yang disiarkan secara langsung oleh Metro TV. Mereka bertepuk tangan yang lumayan lama, ketika gambar MoU ditandatangani, tampak di layar kaca.

Aku tertarik untuk berada di Idi Rayek karena selama konflik Aceh, kota kecil ini terkenal sebagai salah satu kawasan hitam di Aceh. Kawasan ini disebut-sebut sebagai salah satu basis GAM. Jumlah anggota GAM di kawasan ini diperkirakan sangat banyak. Mereka terkenal gigih melawan pasukan TNI. Persenjataan mereka juga cukup besar. Mereka juga rajin melakukan sweping sehingga hampir tidak ada yang berani melewati kawasan ini pada malam hari. Padahal, jalan raya Medan-Banda Aceh melalui kawasan Idi Rayek. Salah satu tokoh GAM yang terkenal dari Idi Rayek adalah Isak Daud. Menurut kabar, GAM juga pernah menguasai Idi Rayek dengan memukul pasukan TNI ketika konflik Aceh berkecambuk.

Cerita kalau Idi Rayek adalah sebuah kawasan hitam cukup membuatku ciut ketika berada di Idi Rayek. Aku tidak berani bepergian cukup jauh dari pusat kota. Terutama masuk ke kawasan perkampungan. Aku merasa aman kalau dekat dengan pasukan TNI atau Polri. Aku juga berusaha ramah kepada siapapun, terutama penduduk lokal. Aku menghindari untuk banyak bicara dengan mereka, kecuali memberi salam atau memberi senyum. Bagaimanapun, yang berdamai hari itu baru pentolan GAM-GAM yang ada di luar negeri dengan pemerintah Indonesia. Karena itu, sedikit waspada tentu tidak salah.

Kini kondisi sudah berubah. Perdamaian sudah lahir di bumi 'serambi mekah'. Bahkan, umurnya sudah tepat setahun. Sebuah harapan telah lahir. Harapan untuk melihat Aceh yang jauh lebih baik dari hari ini. Tidak ada lagi saling permusuhan. Tidak ada lagi saling curiga. Tidak ada lagi penindasan terhadap siapapun dan oleh siapapun.

Dan, aku masih ingin mendatangi Aceh, suatu hari nanti... Selengkapnya...

Senin, 14 Agustus 2006

KEBODOHAN YANG MENAKUTKAN

Aku galau
Hatiku bertanya
Otaku berpikir
Badanku lemah

Jarum itu terus berputar
Bergerak menuju angka lebih besar
Waktu pun terus berlalu
Waktu semakin sedikit

Aku takut menghadapinya
Aku resah dengan nasibku
Aku takut dengan masa depanku
Aku melihat sebuah kegelapan di sana

Aku tidak boleh begini
Aku harus bersikap
Aku harus memutuskan
Aku harus memilih

Smoga ini hanya sebuah ketakutan
Smoga aku telah tepat melangkah
Memang banyak kekurangan
Beberapa terjadi karena kebodohanku
Namun, apa masih ada waktu bagiku?
Aku tidak ingin kegelapan itu datang
Datang dan membunuhkan secara pelan-pelan

Aku mau berteriak
Menumpahkan kecemasanku
Mengapa aku begitu bodoh
Kebodohan yang membuatku jadi takut
Masihkah ada waktu bagiku?

Aku mau teriak
Aaaaa............

(kebon jeruk, 14 agustus 2006, pukul 22.30 wib, ketika aku resah dengan diriku) Selengkapnya...

Selasa, 08 Agustus 2006

LUMPUR PANAS LAPINDO BERANTAS

ADA yang menarik dari perkembangan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur. Mulai hari ini, Jalan tol Surabaya-Gempol akhirnya ditutup total. Tepatnya sejak Selasa (9/8) dini hari. Bagaimana tidak ditutup, saat ini perbedaan tinggi lumpur dengan permukaan jalan tol sudah mencapai empat meter. Lumpur hanya dibendung dengan gundukan tanah dari jalan tol. Di beberapa tempat, juga dipasang kontainer untuk menahan tekanan lumpur terhadap gundukan tanah. Tapi, dengan konstruksi yang darurat tersebut, siapa yang bisa menjamin gundukan tanah tidak akan ’ambrol’. Wah, bisa-bisa tsunami kecil akan terjadi di jalan tol. Kendaraan yang sedang melintas akan terseret ombak lumpur panas. Kalau ini terjadi, mmm.... berita menarik neh.


’’Akibat penutupan tol tersebut, kemacetan panjang mengular hingga 8 kolometer. Kemacetan lalu lintas di sekitar Pasar Porong, misalnya, kendaraan berhenti total. Untuk jalur Surabaya arah Malang kemacetan mulai terasa sebelum Pasar Tanggullangin yang berjarak sekitar delapan kilometer dari Pasar Porong. Kemacetan juga melanda jalur-jalur alternatif sekitar Porong.’’ Demikian isi dari Tempointeraktif.com.

Aku sendiri sempat menyaksikan dahsyatnya lumpur panas dari PT Lapindo Brantas pada hari Kamis, 27 Juli 2005 lalu. Sepulang dari Madura dan hendak menuju Bandar Juanda, aku meminta sopir untuk mampir ke lokasi lumpur panas. Mumpung ada di Surabaya, aku sangat ingin melihat langsung lumpur yang telah membuat geger Indonesia itu. Apalagi, kata kawan di Surabaya, waktu tempuh dari tengah kota Surabaya hanya sekitar setengah jam lewat jalan tol. Bagaimanapun, kasus lumpur panas Lapindo Berantas telah akan tercatat dalam sejarah republik ini. Dan, sekali lagi, aku ingin menjadi saksi sejarah ini.

Informasi itu ternyata benar adanya. Dalam waktu setengah jam aku sudah sampai di lokasi lumpur. Pemandangan yang aku lihat memang sungguh dahsyat. Sebelah kiri jalan tol dari arah Surabaya adalah lokasi tumpahan lumpur yang telah merendam perkampungan. Rumah-rumah hanya tinggal kelihatan atapnya saja. Pohon-pohon telah kering kerontang. Bau menyengat juga tercium dari genangan lumpur yang berwarna abu-abu tersebut. ”Emang gila tuh Lapondo,’’ kata kawan yang pergi bersama aku ketika melihat lumpur.

Mobil pun berputar di pintu keluar berikutnya. Kali ini, yang ada di sebelah kiri tol adalah lokasi pabrik Lapindo Berantas. Dari jalan tol, lumpur tidak kelihatan karena ada tanggul setinggi dua meter yang memisahkan lumpur dengan badan jalan tol. Aku pun turun dari mobil dan menaiki tanggul dari tanah itu. Pemandangan yang luar biasa terlihat di sana. Aku akhirnya bisa melihat lubang sumber lumpur. Asap putih tak henti-hentinya keluar dari semburan lumpur. Sesekali luapan lumpur panas terlihat jelas dan mengalir menuju gorong-gorong yang bermuara ke sisi seberang jalan tol. Aku membayangkan, apa yang akan terjadi pada diriku seandainya gundukan tanah yang aku injak, runtuh dan akhirnya terperosok ke dalam lumpur panas sedalam dua meter itu. Mmm..... sebuah imajinasi yang sangat menakutkan sekali.

Kini, genangan lumpur telah setinggi empat meter. Entah apa akhir dari kisah lumpur panas Lapindo Berantas ini nantinya. Kita tunggu aja deh. Namun, banyak yang mengatakan, kawasan sidoarjo akan runtuh karena bawah tanahnya sekarang sudah ’kopong’. Sebuah danau akan terbentuk di sana. Apa betul? ”Kayaknya gak juga. Kan kalo runtuh, tinggi tanah akan tetap sama. Lumpur akan mengeras dan menutup lubang.’’ Kata seorang teman. Betul juga apa katanya, secara logika sih. Teman lain berceletuk, ”biarin deh jadi danau. Kan bisa dipakai untuk mengatasi banjir di Surabaya.” Hehehe...

Semburan lumpur panas dari PT Lapindo Berantas telah berlangsung sejak Juni 2005. Berapa kerugian yang telah diakibatkannya? Menurut Kompas edisi hari ini, mencapai Rp 33,27 triliun. Jumlah kerugian akan bertambah besar jika semburan gagal dihentikan.

Rinciannya, mencakup pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi Rp 5,79 triliun, dampak pada pertumbuhan ekonomi Rp 4,63 triliun, dampak ekologi Rp 4,63 triliun, pembersihan lumpur Rp 4,37 triliun, restorasi lahan Rp 3,97 triliun, ketidakpastian ekonomi akibat eskalasi dampak Rp 3,70 triliun, penanganan sosial Rp 3,59 triliun, dan biaya kehilangan kesempatan bagi banyak pihak Rp 2,88 triliun.

Wah wah wah... besar sekali ya? Gimana ya rasanya punya uang sebanyak itu? Selengkapnya...

Kamis, 03 Agustus 2006

FLU BURUNG DI TANAH KARO

Ada yang mengusik perhatianku hari ini. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengumumkan, kalau enam penduduk Tanah Karo yang sebelumnya diduga terkena flu burung, ternyata hasil tes menunjukkan mereka negatif flu burung. Artinya, isu mereka sakit karena terkena flu burung terbantahkan sudah.

Lihat selengkapnya di:
http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php

Ah, sebuah kabar yang cukup menggembirakan. Bagaimana tidak, belakangan ini Tanah Karo bertambah ngetop gara-gara flu burung. Tentu saja, ini dalam arti negatif. Flu burung adalah penyakit yang menular. Kemarin saja, ada beberapa menteri yang berkunjung ke RS Adam Malik Medan, untuk melihat beberapa pasien yang diduga terkena flu burung. Dan, semua pasien adalah penduduk Tanah Karo.

Banyak yang mencibir kalau sudah tidak aman berkunjung ke Tanah Karo. Bahkan, memakan segala sesuatu yang berasal dari Tanah Karo juga dianggap tidak sehat lagi. Padahal, Tanah Karo adalah sebuah tempat wisata di Sumatera Utara. Tanah Karo adalah Bogor-nya Medan. Udaranya sejuk dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Belum lagi, selama ini Tanah Karo di kenal sebagai produsen buah-buahan dan sayur mayur.

Kini, semuanya merasa terpukul dengan isu flu burung tersebut. Flu burung telah merugikan penduduk Tanah Karo. Dan, orang Karo membantah keras daerah mereka telah dicemari flu burung. Beberapa waktu lalu, sejumlah orang Karo melakukan demo di kantor Gubernur Sumatera Utara. Mereka berdemo untuk menolak Tanah Karo disebut sebagai wilayah penyebaran flu burung. Bahkan, dalam aksi itu, mereka memakan daging ayam, untuk menunjukkan kalau unggas di Tanah Karo aman untuk dikonsumsi.

Pada bulan Mei 2006 lalu, memang sudah ada tujuh penduduk Tanah Karo yang tewas yang diduga akibat flu burung. Ketujuh korban masih satu keluarga besar, masing-masing Fuji br Ginting (40 tahun), Roy Karo-karo (19), Anita br Ginting (29), Boni Karo-karo (20), Rafael Ginting (8),, Benata Ginting (2), dan Dones Ginting (23).

Pemerintah pusat telah memberi cap ke Tanah Karo sebagai kawasan rawan penyebaran flu burung. Bahkan, unggas dilarang dibawa masuk atau keluar dari Tanah Karo. Padahal, memelihara unggas dilakukan oleh hampir seluruh penduduk Tanah Karo. Di kebun-kebun, mereka selalu memelihara ayam kampung. Ayam-ayam tersebut biasanya untuk dijual kembali. Orang Karo juga terbiasa memelihara babi. Di beberapa desa kabarnya masih boleh melepas bebas babi. Namun, di kebanyakan desa, kini babi tidak boleh lagi dilepas alias harus dikandangkan.

Lantas, apa kepentinganku dengan Tanah Karo? Karena aku lahir di sana. Selengkapnya...

Senin, 31 Juli 2006

POHON DURIAN DAN TEMAN KANTOR

Soal-soal itu sangat memusingkan kepala. Selama tiga jam aku harus menjawab banyak soal yang cukup menguras energi. Kebanyakan harus mikir yang dalam banget karena merupakan soal-soal hitungan matematika. Terkadang ada soal yang menjebak. Misalnya. kita disuruh milih mana yang paling mewakili dan tidak dari lima pilihan yang ada. Yang membingungkan, semua pilihan sepertinya sesuai dengan diri kita. Jadi milih yang mana dong? Ah... bingung. Di bagian lain ada soal yang pertanyaanya mencari persamaan kata yang bisa mewakili kata di depannya. Huh.... enteng tapi berat. Nah lo...

Hari ini, aku ada tugas dari kantor untuk mengikuti psikotest di sebuah lembaga di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Katanya sih, untuk menentukan posisi di kantor. Ada lima orang yang ikut. Tiga orang dari divisi sama en dua orang lagi dari divisi produksi. Jadi, walau memusingkan, paling tidak ada teman yang bisa diajak becanda. Aku sendiri penasaran dengan hasil psikotest ini. Bagaimana ya cara mereka bisa menentukan layak tidaknya seseorang menduduki posisi tertentu hanya dengan tes-tes macam itu? Mmm... penasaran juga aku.

Di bagian akhir, ada tes menggambar. Kami kemudian disuruh untuk membuat dua gambar, masing-masing gambar manusia dan pohon. Menggambar manusia adalah kegiatan yang sampai hari ini paling sulit aku lakukan. Entah mengapa, aku tidak bisa seperti teman SMA-ku, Andreas BP, yang begitu lihai menggambar manusia dalam berbagai ekspresi. Aku kemudian mencoba menggambar sesosok laki-laki yang entah mirip siapa. Celakanya, kami diminta untuk menjelaskan gambar siapa yang dibuat, berapa umurnya, apa kelebihannya, en apa kekurangannya. Nah lo? Siapa ya yang aku gambar itu? Mmm... dengan enaknya, aku sebut aja teman kantor. Paling tidak dari seragam yang dikenakan ada logo tempatku bekerja, aku bisa menyebut kalau itu adalah teman kantorku. Hehehe.... Kelebihannya? Ramah. Kekuranganya? Tidak bisa tepat waktu. Hahaha....

Untuk gambar kedua, kami disuruh menggambar pohon. Tapi, tidak boleh menggambar pohon yang bentuknya khas seperti kelapa, palem, pisang, atau rumput. Aku mikir sebentar. Tak lama kemudian aku mulai menggambar batang pohon dengan banyak cabang. Aku lalu memberi daun-daun yang lebat di hampir seluruh batang. Pohon apakah gerangan yang aku gambar? Pasti tidak ada yang tahu. Aku sendiri saja tidak tahu. Hehehe.... Agar jelas pohon apa yang buat, maka aku menggambar beberapa buah durian di batangnya. Nah, sekarang siapapun pasti mengatakan kalau pohon yang aku gambar adalah pohon durian. Yap, aku memang menulis judul gambarku adalah pohon durian. Aku sempat melirik kawan di sebelah kiri, en ternyata gambarnya tidak beda jauh dengan gambarku. Yang membedakan hanyalah buahnya. Si kawan memberi beberapa buah mangga di pohon. Jadilah pohon mangga. Aku tidak sempat melirik kawan yang di sebelah kanan. Mudah-mudahan ia tidak mengganti buah mangga atau durian tadi menjadi buah duku. Hehehe...

Usai menggambar, kami istirahat selama sejam. Waktu ini kami isi dengan makan siang di kantin. Jam setengah satu siang, kamu kembali ke ruangan untuk tes wawancara satu persatu. Aku mendapat giliran ke empat. Tema wawancara, hanya seputar pengalaman bekerja sebagai wartawan. Wah.... aku makin penasaran aja neh. Kok bisa pengalaman kayak gitu dipakai untuk mengetes seseorang sebagai panduan untuk menentukan posisi di kantor.

Yah... kita tunggu aja deh hasilnya. Selengkapnya...

Jumat, 28 Juli 2006

KEMBALI DUDUK DI BANGKU YANG SAMA

Sudah 22 hari aku tidak mengupdate blog ini. Tanggal 9 Juli aku harus kembali ke Medan karena Bulang meninggal dunia. Kembali ke Jakarta tanggal 13 Juli. Setelah baru dua malam di Jakarta, tanggal 15 Juli aku harus ke Madura. Selama 12 hari aku menghabiskan hari demi hari di pulau yang terkenal dengan garamnya itu. Dan, hari ini, Jumat, 28 Juli 2006, aku kembali duduk di depan komputer yang sama dengan yang aku duduki pada hari Kamis, 6 Juli 2006, hari terakhir aku mengupdate blog ini.

Banyak yang ingin aku ceritakan tentang hari-hariku belakangan ini, yang semakin memperpanjang jejakku. Tunggu saja... Selengkapnya...

Kamis, 06 Juli 2006

SEMBAHE YANG MENYEGARKAN

Baru sekali ini aku ke Sembahe. Kalau lewat sih sering. Bagaimana tidak, untuk menuju ke Tanah Karo dari Medan, pasti melewati kawasan Sembahe. Namun, aku tidak pernah mampir ke tempat tersebut. Aku hanya tahu, kalau Sembahe adalah sebuah kawasan di kaki Gunung Sibayak yang masih penuh dengan pepohonan. Untuk menandai Sembahe sangat gampang. Bila kita sudah memasuki kawasan hutan dari Medan, dan kita menjumpai sebuah jembatan yang cukup panjang dan berwarna kuning, nah…. itulah Sembahe. Mudah, bukan?

Selama ini, yang aku tahu, orang datang ke Sembahe karena ingin mendapatkan suasana segar namun tidak jauh dari Medan. Sebab, kawasan ini memang masih berbentuk hutan. Yah… mirip-mirip dengan kawasan Cipanas Puncak lah. Namun, bisa ditempuh hanya sekitar setengah jam dari Medan.

Ada sebuah sungai yang mengalir di Sembahe. Jadi, yang kupikir selama ini, orang datang ke sana untuk bermain-main dengan sungai yang kalau dilihat dari atas jembatan, tidaklah terlalu besar. Mungkin sama dengan Sungai Ciliwung yang mengalir di dalam Kebun Raya Bogor.

Karena itu, ketika aku diajak ke Sembahe, aku langsung ikut. Aku penasaran mengapa orang Medan banyak yang pergi ke sana. Apalagi, orang Medan sering menyebut sungai di Sembahe dengan sebutan pantai. Bah, kok pantai di gunung, pikirku selama ini.

Jumat, 30 Juni 2006, sekitar pukul 14.00 WIB akupun ikut bepergian ke Sembahe. Saat itu, udara kota Medan memang sedang panas-panasnya. Lebih panas daripada suasana di Jakarta yang selama ini aku rasakan. Tidak lupa aku membawa pakaian salin dan peralatan mandi. Bayanganku, aku akan bisa berendam di dalam sungai dan terasa sangat sejuk di badan. Mmm... membayangkannya saja aku sudah merasa sejuk.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Medan, kami berbelok ke kiri di Sembahe. Sebenarnya banyak tempat untuk berhenti di sepanjang sungai di Sembahe ini. Yang teramai adalah di sekitar jembatan jalan Medan-Berastagi. Namun, kami pergi agak ke hilir karena katanya, tempatnya lebih asyik. Aku sih ikut saja karena aku sama sekali tidak tahu tempat apa ini.

Kami melewati jalan yang agak kecil dan berlubang-lubang. Sekitar 10 menit kemudian, kami masuk ke sebuah taman. Kalau tidak salah, namanya Tirta apa gitu. Begitu turun dari mobil, aku segera menuju ke pinggir sungai. Ternyata saat itu lumayan ramai dengan remaja-remaja. Dan, yang membuatku terkejut, tempatnya ternyata sangat mengasyikkan.

Aku segera masuk ke dalam air tanpa membuka baju. Ternyata tempatnya memang sangat mengasyikkan. Air sungai begitu beningnya. Mungkin lebih bening daripada air sungai di Cipanas. Atau sama bening dengan air Aqua. Sangat menyegarkan air sungai ini. Tidak terlalu dingin, namun pas untuk menyegarkan badanku yang sudah tiga hari dibakar oleh panasnya kota Medan.

Apalagi di tempat kami ini, ada bagian sungai yang tidak berbatu sehingga bisa dipakai untuk berenang. Sungguh menyegarkan berenang di sini. Jangan tanya berapa kedalaman sungai, sebab, ketika aku melompat dari atas batu sekitar dua meter dari permukaan air, sama sekali aku tidak menyentuh dasar sungai. Aku juga mencoba menatap ke bawah. Namun, aku juga tidak menemukan dasar sungai walau air sangat bening. Karena itu, bila tidak jago berenang, jangan coba-coba berenang ke bagian ini. Anda cukup di pinggir saja atau di bagian sungai yang berbatu. Di sana juga puas kok walau hanya berendam di air yang mengalir.

Sekitar 2 jam aku berenang dan berendam di Sungai Sembahe ini. Sekali lagi, sangat menyegarkanku. Aku telentang di atas batu dengan air yang mengalir sambil menatap rindangnya pepohonan. Wah, sungguh mengasyikkan dan menyegarkan. Aku baru dapat memahami mengapa orang Medan begitu membanggakan Sembahe sebagai tempat beristirahat dikala penat dengan panasnya udara Kota Medan.

Puas berendam, jangan lupa untuk mencicipi durian asli Medan yang banyak dijual di pinggir jalan menuju Medan. Rasanya jangan diragukan lagi. Kalau Anda pengagum durian, sudah pasti lihai mencari durian yang memuaskan. Atau, percayakan saja pada si penjual dan makanlah di tempat itu. Bila durian itu busuk, tentu Anda akan segera mendapatkan gantinya. Aku hanya membutuhkan Rp 50.000 untuk membuat aku dan lima orang lainnya kenyang. Mungkin ada sepuluh durian yang kami makan, dan semuanya tidak ada yang busuk. Rasanya juga pahit, seperti yang kugemari.

Lain waktu, aku masih ingin kembali ke sini lagi. Selengkapnya...

Kamis, 08 Juni 2006

MENATAP LETUSAN GUNUNG MERAPI

Hari ini, Gunung Merapi mengeluarkan asap panas terbesar selama letusannya tahun ini. Orang di sekitar Gunung Merapi menyebutnya Wedhus Gembel. Mmm.... nama yang unik. Semua TV memberitakan fenomena alam ini berulang-ulang. Bahkan, Metro TV merasa perlu untuk melakukan Breaking News. Kepanikan masyarakat yang tinggal di kaki gunung terrekam dengan jelas di layar kaca.

Minggu lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 2 Juni 2006, aku sempat melihat letusan gunung Merapi. Aku tiba di kaki gunung ini, tepatnya di sebuah desa di Kecamatan Cangkringan, Sleman, Jogjakarta, sekitar pukul 01.00 WIB. Menurut kawan yang membawaku ke sana, lokasi kami hanya sekitar 10 km dari Merapi. Sebenarnya, kata kawan itu lagi, ada tempat yang lebih dekat yang bisa untuk melihat Merapi dengan jelas. Namun, perlu sejam lagi menuju ke sana dengan kendaraan bermotor. Kami tidak tertarik dengan ajakan sanga kawan, dan memutuskan untuk mengamati Gunung Merapi dari Cangkringan saja.

Ketika kami sampai, tidak ada yang bisa dilihat. Di sekeliling kami gelap gulita. Rupanya, kabut sedang menyelimuti Gunung Merapi. Kami pun hanya bisa menunggu sambil menikmati malam di kawasan Kaliurang. Sesekali aku membayangkan gunung Merapi di balik bukit. Padahal, aku sendiri belum tahu dimana sebenarnya posisi Gunung Merapi dari tempat kami bersantai-santai. Lucu juga.

Sekitar pukul 03.00 WIB, sesuatu terjadi. Aku mulai bisa melihat guguran lava dari puncak Gunung Merapi. Aku pun segera keluar dari mobil dan menatap ke atas. Ternyata benar juga. Posisi Merapi yang tadi aku bayangkan meleset dari posisi sebenarnya. Warna lava Merapi merah menyala. Sangat menakjubkan. Inilah pertama kali aku melihat lava dengan mata telanjang. Selama ini, aku hanya tahu lava dari buku atau televisi. Namun, kali ini ada langsung di depan mataku. Karena Gunung Merapi masih ditutupi kabut, maka guguran lava bagai cat warna merah yang menetes di kanvas warna hitam. Oh.... sungguh indah sekali.

Kata kawan yang bersama kami, Gunung Merapi biasanya terlihat jelas mulai pukul setengah enam pagi sampai pukul sembilan. Setelah itu biasanya kembali ditutupi kabut. Informasi ini semakin memacuku untuk tetap bertahan di Kaliurang sampai pagi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin hanya sekali ini saja kesempatanku untuk melihat Gunung Merapi meletus. Apalagi, besok paginya aku harus kembali ke Jakarta. Biarlah malam ini aku begadang saja sambil menikmati keindahan letusan Gunung Merapi.

Rupanya, informasi kawan tadi sangat tepat. Menjelang pukul enam pagi, kabut mulai minggir dari Merapi. Akupun mulai bisa melihat wujud gunung yang memiliki tinggi 2.914 meter ini secara utuh. Pemandangan pagi hari tidak kalah bagusnya dengan malam. Lava memang tidak terlihat lagi, namun kali ini terlihat jelas asap yang keluar dari puncak Merapi, terbang ke arah kiri dari kami menatap.

Aku pun tidak lupa untuk mengabadikan momen bersejarah ini. Dan, ketika sampai di hotel, aku memperlihatkan foto-fotoku tadi ke kawan yang tidak melihat keindahan Merapi di pagi hari. Ia pun marah karena melewatkan saat-saat terindah di kaki Merapi. Apalagi ketika melihat foto diriku dengan latarbelakang Gunung Merapi. Ia semakin marah kan jengkel. Aku hanya menyindirnya mengapa memilih kembali ke hotel menjelang pagi tadi. Selengkapnya...

Rabu, 07 Juni 2006

JURU KUNCI PARANG TRITIS

Namanya RP Suraksotarwono. Dia adalah juru kunci Pantai Parang Tritis, Jogjakarta. Memang, Suraksotarwono tidak sebeken Mbah Marijan. Padahal, tugas mereka adalah sama. Kalo Mbah Marijan menjadi penjaga Gunung Merapi, maka Suraksotarwono adalah penjaga Laut Selatan. Dan, kata orang, kalau ditarik garis dari Gunung Merapi ke Pantai Parang Tritis, maka Keraton Jogjakarta ada di tengah. Ini sih katanya. Dan, ketika aku bertemu dengan Mbah Surakso ini, ia memang membenarkan posisi tiga kekuatan di Jogjakarta itu.

Tidak sulit menemui Mbah Surakso. Ia memiliki sebuah penginapan di dekat pantai Parang Tritis. Nama hotelnya sama dengan nama toko, wartel, dan beberapa tempat usaha lainnya di sekitar pantai laut selatan itu. Ketika aku bertanya apakah semua tempat usaha itu miliknya karena memiliki nama yang sama, Mbah Surakso mengatakan, semua pemiliknya masih memiliki hubungan saudara. Apakah ia sedang merendah atau memang demikian, aku hanya bisa menduga-duga. Sama dengan Mbah Marijan, Mbah Surakso juga disegani di Parang Tritis. Ini terbukti ketika aku mengikutinya menuju ke pinggir pantai. Semua orang pasti menyapanya. Selengkapnya...

Senin, 05 Juni 2006

ADAM AIR MASIH TIDAK ADEM

Aku kembali mengalami pengalaman tidak enak dengan Adam Air, saat pergi dari Jogjakarta menuju Jakarta. Dan, ini adalah pengalaman ketiga bagiku.

Begini ceritanya, kawan-kawan...

Dengan terpaksa, aku membeli tiket Adam Air. Memang, hanya maskapai itu yang masih menyediakan seat untukku dan kedua kawanku. Maskapai lain menyatakan sudah tidak ada bangku kosong lagi untuk keberangkatan hari Sabtu, 2 Juni 2006 pagi. Saat si pegawai travel menyebutkan hanya ada Adam Air, aku segera teringat pengalaman tidak enak menggunakan jasa Adam Air (baca kisah sebelumnya: Adam yang tidak adem). Ditambah lagi cerita kawan-kawan lain yang juga pernah naik pesawat Adam Air. Jangan-jangan nyasar lagi nih...
Namun, tiada pilihan lain bagi kami. Kamipun memesat tiket untuk keberangkatan pukul 11.30 WIB.

Karena urusan belum kelar, kami harus mengubah jadwal kepulangan menjadi sore hari. Pihak Adam Air pun menggeser keberangkatan menjadi pukul 17.15 WIB. Syaratnya, kami harus menambah biaya 20% dari harga tiket. Tidak ada masalah, daripada kami tidak jadi pulang. Begitu pikir kami. Apalagi, kondisi ini memang juga berlaku pada maskapai lain. Walau, banyak orang yang mengatakan bahwa perlu dilihat dulu kelas tiket kita. Ada beberapa kelas yang membebaskan penumpang dari biaya mengganti jadwal keberangkatan. Tapi, siapa yang memahami hal ini. Tidak pernah ada informasinya kok. Who Knows?

Karena takut ada masalah, sekitar pukul 15.00 WIB, kami sudah sampai di bandara Adisucipto, Jogjakarta. Padahal, keberangkatan masih sekitar 2 jam lagi. Kami segera check in. Mungkin kami yang pertama check in. Tapi mungkin tidak juga. Sebab, kami diberikan bangku nomor 9 DEF. Lumayan di depan sih. Yah... kalau tidak salah, baris ke lima dari depan.

Usai check in, kami segera masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Ini adalah ruang keberangkatan darurat. Tempatnya sempit, panas, dan bau dari kamar mandi tercium jelas. Ruang tunggu keberangkatan bandara Adisucipto yang sebenarnya, telah hancur akibat gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006.

Sampai pukul 17.00 WIB, belum ada pesawat Adam Air yang mendarat di bandara Adisucipto. Padahal, keberangkatan tinggal 15 menit lagi. Bayang-bayang akan delay segera kami rasakan. Apalagi, ketika para penumpang Adam Air dipindahkan ke sebuah ruangan yang lebih terpencil di samping ruangan yang pertama kami duduki. Menuju ruangan itu harus melewati pintu. Jumlah bangkunya saja tidak cukup untuk seluruh penumpang, sehingga banyak yang harus berdiri atau duduk di lantai keramik. Aku segera teringat celetukan seorang petugas kepada petugas lain ketika meminta kami pindah. "Memang bangkunya cukup di sana?" kata petugas wanita itu.

Sampai pukul 18.00 WIB, belum ada tanda-tanda keberangkatan. Bagaimana mau berangkat, pesawat Adam Air saja tidak ada yang landing di bandara. Yang menyedihkan, tidak ada pemberitahuan dari pihak Adam Air kalau keberangkatan tertunda. Kami pun mulai berpikir, jangan-jangan kami dipindahkan ke ruangan yang terpisah dari penumpang maskapai lain, karena sudah tahu pesawat akan delay. Dengan begitu, penumpang maskapai lain tidak akan tahu kelakukan Adam Air ini. Huh...

Lambat laun kecemasan mulai timbul. Bahkan, beberapa penumpang mulai menumpahkan kekesalannya. Mereka mencaci maki pihak Adam Air yang sangat tidak profesional. Bagaimana tidak, sudah lewat sejam, namun belum ada tanda-tanda kami akan berangkat. Bila penumpang yang terlambar check in, mereka harus membayar sekitar 25% dari harga tiket untuk naik penerbangan berikutnya. Namun, bila pihak Adam Air yang terlambat, tiada kompensasi. Kata maaf saja tidak ada. Apa ini adil?

Pukul 19.00 WIB, pihak Adam Air berusaha mengobati kekecewaan para penumpang dengan membagikan satu potong donat dan segelas air meneral. Kalau diuangkan, harganya mungkin hanya 5000 perak. Sangat tidak adil bila dibandingkan harga yang dibayar penumpang yang telat check in yang mencapai ratusan ribu rupiah. Aku sendiri pernah terlambat 4 menit check in ketika pernah ke Surabaya, dan harus membayar sekitar Rp 160 ribu.

Pukul 19.20, baru pesawat Adam air mendarat. Kami sedikit lega. Kamipun akhirnya berangkat sekitar pukul 19.30 WIB. Dan, lagi-lagi tiada kata maaf dari awak pesawat atas keterlambatan ini. Jangankan kata maaf, senyuman selamat datang dari para pramugari saat naik ke pesawat saja, boro-boro ada.

Adam oh Adam...Kasian deh loh Selengkapnya...

Kamis, 18 Mei 2006

TiDAK ADA KEADILAN DI SINI

Gedung itu tampak begitu sepi. Kalau kita berjalan di antara lorong-lorongnya, maka jarang sekali kita bertemu dengan orang. Kalaupun ada karyawan gedung ini yang kita temui, jarang sekali saling bertegur sapa. Itulah suasana gedung Mahkamah Agung di Jalan Mereka Utara, Jakarta Pusat.

Inilah gedung yang menjadi tempat harapan terakhir seluruh penduduk negeri ini mencari keadilan. Karena itu, tak jarang, keadilan pun dicari di gedung ini lewat cara-cara yang kotor. Sudah banyak yang terungkap, seperti suap-menyuap, sogok-mensogok, dan kawan-kawannya yang sejenis. Memang sungguh memalukan kalau semua itu terbukti. Entah apa nanti ganjaran yang mereka peroleh di akherat kelak. Mereka itu siapa ya? :-)

Aku naik lift menuju lantai 5, lantai tertinggi di gedung utama MA. Hanya sedikit ruangan yang ada di lantai ini. Salah satunya adalah ruangan Subdirektorat Kasasi dan PK Pidana. Inilah ruangan tempat menyimpan segala berkas perkara kasasi dan yang mengajukan PK Pidana. Anehnya, tidak ada ruangan khusus tempat menyimpan semua berkas itu. Hanya ada beberapa lemari besi di sudut-sudut ruangan yang juga diisi oleh sekitar 25 staf di bagian ini.

Karena itu, jangan heran kalau tanggal 30 Maret 2006, pihak MA menyadari kalau sebuah berkas perkara hilang di rungan bernomor D501 itu. Berkar perkara seberat 15 kg dengan tebal 30 cm itu, dicuri dari dalam lemari. Sampai hari ini, baik polisi maupun MA, belum bisa mengungkap siapa pelakunya. Rupanya, si pencuri tahu betul kondisi gedung MA. Dia (kalau pencurinya cuma satu orang) juga tahu betul, kalau semua CCTV yang ada di gedung MA, hanya menjadi pajangan di sudut-sudut plafon tanpa ada satupun yang berfungsi.

Di lantai dua dan tiga, menjadi ruangan para hakim agung yang bertugas MA. Merekalah yang menjadi penentu rasa keadilan yang banyak dicari-cari orang. Entah dimana para hakim agung itu menyimpan rasa keadilan itu. Sebab, aku tidak menemukan apa yang disebut 'keadilan' selama tiga hari menyusuri sudut-sudut hampir seluruh ruangan di gedung MA. Seperti apa sih bentuk 'keadilan' yang banyak dicari orang di gedung ini? Oh.... mudah-mudahan aku saja yang terlewat mendapatinya ketika menyusuri lorong-lorong gedung MA. Atau... jangan-jangan sudah ikut dicuri maling-maling yang banyak berkeliaran di mana-mana? Ah... mana mungkin itu. Selengkapnya...

Senin, 15 Mei 2006

URINE ITU MENGHANTUIKU


Botol itu pun kuserahkan ke polisi yang duduk di depan toilet. Botol telah berisi urineku. Isinya sekitar sepertiga dari botol. Sebuah tes urine sedang dilakukan pada semua karyawan di kantor ini. Tujuannya, kalau tidak salah, mungkin untuk mengecek mana saja karyawan yang menjadi pemakai narkoba. Nah lho....
Trus, bagaimana ya hasil tes urineku? Mmm.... mudah-mudahan negatif. Smoga..... Selengkapnya...

Selasa, 09 Mei 2006

MASALAH TIADA PERNAH BERAKHIR

Masalah...

Mengapa engkau selalu datang?
Mengapa engkau tidak pernah punah?
Mengapa engkau menghantui siapa saja?
Mengapa engkau tak pernah menghilang selamanya?

Engkau membuatku sakit kepala
Engkau membawaku pada ketidaktenangan
Engkau menjadikanku sakit

Masalah...

Apa yang harus kulakukan
agar engkau tidak ada di dekatku
Aku tidak mengharapkanmu
Tapi engkau selalu datang tanpa diundang
Datang ketika aku sedang mencoba bangkit
Aku terganggu olehmu
Engkau telah menyita energiku
Bahkan seluru energiku habis untukmu
Atau, memang ini yang kau harapkan?

Masalah...

Jangan lagi engkau datang padaku
Pergilah engkau menjauh
Jauh ke tempat yang bisa membahagiakanmu
Biarkan aku berjalan di sini
Meraih cita-cita dan harapanku

Ku mohon padamu hai masalah...

(KebonJeruk, 10 Mei 2006 pukul 00.00, saat mobil itu masih menjadi masalah di sana) Selengkapnya...

Minggu, 07 Mei 2006

PENJARA UNTUK ORANG MISKIN DAN BODOH

Hotma Sitompoel datang menghampiriku. Ia datang bersama istri, mertua, dan tiga orang lainnya yang kuduga pasti anaknya. Satu orang aku kenal, yakni Bams, anak Hotma yang menjadi vokalis grup Samsons. Bagaimana aku tidak kenal, aku juga sangat menyukai tembang "Kenangan Terindah", lagu andalan Samsons yang kini banyak diputar radio-radio.

Kepada Hotma, aku tidak berbicara mengenai gosip yang kini sedang ramai diberitakan infotainment mengenai Bams dan pacarnya yang juga artis, Nia Ramadani. Aku memang sempat menyinggungnya pada sang pengacara top itu, terutama masalah 'monyet' yang dibawa-bawa saat ia mengomentari anaknya berpacaran dengan Nia.

Siang tadi, aku menemui sang pengacara itu berkaitan dengan kaburnya Gunawan Santoso, pembunuh Direktur Utama PT Asaba. Hotma terkait karena ia adalah tamu terakhir si napi dalam catatan buku tamu LP Narkotika Cipinang, Jakarta Timur.

Ada satu ucapan Hotma dalam pertemuan kami, yang begitu membekas dalam ingatanku. "Penjara hanya untuk orang bodoh dan miskin. Penjara bukan tempat untuk orang Kaya dan pintar."

Kalimat yang terucap dari mulut sang pengacara itu, sangat dalam maknanya. Memang, orang kaya dan pintar akan selalu menggunakan kekayaannya dan kepintarannya untuk menghindari apa yang namanya penjara. Gunawan Santoso sudah membuktikannya. Ia kabur dari penjara terketat di negeri ini!!!!!!

Sungguh kasian para abdi negara ini. Wajahmu kembali tercoreng arang yang paling hitam di jagat ini.... Selengkapnya...

Jumat, 05 Mei 2006

APA YANG SUDAH KULAKUKAN HARI INI?

Malam semakin larut. Hari ini berangsur-angsur akan tinggal kenangan. Sebuah hari baru akan tiba sebentar lagi. Umurku kembali berkurang satu hari. Berbagai pertanyaan sempat terlintas dalam pikiranku,
"Apa yang sudah kulakukan hari ini?"
"Apa yang sudah kuperoleh hari ini?"
"Apa harus selalu begini hidupku?"

Ah.... aku akan semakin tertekan bila memikirkannya. Tapi, pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang, datang, dan datang. "Apa yang sudah kulakukan hari ini?"

Aku terus bertanya, sedangkan jarum jam tanganku terus berputar... Selengkapnya...

REPUBLIK BBM

Sebuah buku berjudul 'Plesetan Republik Indonesia Tahun 2004-2009' aku sodorkan kepadanya. Pria itu kemudian menanda tangani buku tersebut. Di bawah tanda tangan dituliskannya 'Ucup Keliek'. Itu memang namanya. Akupun berlalu dari pria itu, ketika masih banyak orang lain melakukan hal yang seperti yang baru saja aku lakukan.

Ucup Keliek akhir-akhir ini begitu ngetop di negeri ini. Ia ngetop setelah memerankan tokoh Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam acara Republik BBM di Indosiar, setiap Senin malam jam 10. Gayanya memang dibuat mirip dengan sang Wakil Presiden. Termasuk kumis dan senyumnya. Tapi, bukan itu saja yang orang kagumi padanya. Ia juga begitu pandai melontarkan banyolan-banyolan yang mengundang tawa siapa saja. Ia sangat piawai dalam hal kata-kata plesetan. Karena itu, ada yang memberinya julutan 'raja plesetan'.

Malam tadi, Ucup Keliek alias Jusuf Kalla, hadir di Metro TV. Ia hadir bersama seluruh pendukung acara Republik BBM, termasuk sang Presiden Susilo Bambang Yudoyono alias Taufik Savalas. Dua jam menyaksikan mereka, cukup menghibur. Bahkan, tidak terasa waktu dua jam yang digunakan untuk shooting acara tersebut. Namanya pelawak, Ucup dan Taufik Savalas, tidak pernah bisa diam. Bahkan, saat break pun, mereka masih sempat melawak.

Apalagi, aku mendapatkan sebuah buku berisi plesetan, karangan sang Wakil Presiden.
''Sebenarnya setelah menghadap Pak Jusuf Kalla, saya dipanggil Susilo Bambang Yudoyono. Tapi, saya menolak,'' kata Keliek mengomentari pertemuannya dengan sang Wakil Presiden yang asli, sekitar seminggu lalu.
"Lho, kenapa?" kata hadirin.
"Karena saya Ucup Keliek, bukan Susilo Bambang Yudoyono." Selengkapnya...

Rabu, 03 Mei 2006

NASIBMU HAI PARA BURUH!


Hari ini Jakarta begitu panas. Aku bermalas-malasan berangkat dari rumah menuju kantor. Panas matahari begitu menyengatku. Aku terpaksa berteduh di sebuah warung ketika menunggu bus. Rupanya, tidak banyak bus yang lewat. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan sehingga bus yang lewat tidak sebanyak hari-hari biasanya. Aku hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mendapatkan jawabannya. Oh... rupanya ribuan buruh tengah berdemo di depan gedung DPR/MPR. Akibatnya, Jakarta macet total.

Aksi buruh hari ini memang jauh lebih ramai daripada tanggal 1 Mei kemarin. Rupanya, sebagian buruh yang tidak ikut turun ke jalan pada hari buruh internasioanl itu, memilih berdemo pada hari ini. Dan, aksi hari ini jauh lebih hebat. Beberapa tv bahkan melakukan Breaking News untuk menyiarkan aksi demo buruh ini. Ada ada gerangan? Ternyata aksi demo berakhir dengan kerusuhan. Para buruh terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Dari tanyang tv, tampak begitu seru bentrokan tersebut. Para buruh berhasil merubuhkan pagar gedung DPR/MPR. Mereka juga membakar ban dan apa saja. Bahkan, pagar pembatas jalan tol juga dirubuhkan.

Aku tak melewatkan tayangan kerusuhan tersebut di TV. Namun, hanya sebentar. Tak lama berselang, aku kembali melanjutkan permainan di komputer yang sudah menyita waktunya selama tiga jam ini..... Selengkapnya...

Minggu, 30 April 2006

SELAMAT JALAN, PRAM!

Pramoedya Ananta Toer akhirnya meninggal dunia. Ia memang sudah lama sakit. Ia sempat dirawat di rumah sakit sejak hari Kamis lalu. Namun, pihak keluarga kembali membawa lelaki kelahiran 6 Februari 1925 itu, ke rumah pada hari Sabtu karena permintaan Pram sendiri. Akhirnya, iapun meninggal dunia di rumah pada hari Minggu ini, pukul 09.00 WIB. Barangkali, Pram memang sudah tahu apa kehendak sang Pencipta padanya. Karena itu, ia ingin meninggalkan dunia yang kejam ini, ketika berada di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Aku terakhir kali melihat artikel tentang sang pujangga, di majalah Playboy Indonesia, awal April lalu. Aku banyak tahu mengenai Pram dalam wawancaranya itu. Yang paling aku ingat adalah tentang keluarnya yang hampir semuanya meninggal dunia karena sakir TBC. Aku juga tahu kalau ia hanya mengisi hari-hari tuanya dengan menyapu halaman sambil merokok. Sebuah kebiasaan yang sangat unik.

Selamat jalan, Pram….. Selengkapnya...

Selasa, 25 April 2006

MEREKA MASIH SEPERTI DULU


Orang-orang itu masih ada di sana. Tiada yang berubah. Masih sama saja. Mungkin hanya satu yang berubah pada mereka, yakni jabatan yang kini mereka sandang. Mereka juga masih mengenali aku. Mungkin mereka hanya lupa dengan namaku, seperti aku juga sudah lupa beberapa nama mereka.
Aku memang sudah lama tidak berkunjung ke sana. Aku sendiri sudah lupa kapan terakhir datang. Kalau tidak salah, terakhir aku kesana, sekitar satu setengah tahun lalu. Itu juga hanya singgah sebentar, sehingga hanya sedikit orang saja yang aku jumpai di sana. Namun, hari ini, aku berjumpa banyak orang. Orang-orang lama yang dulu sudah kukenal.
Aku mengenal mereka sejak tahun 1998. Dan, aku hampir setiap hari bertemu mereka, sampai aku harus tidak ke sana lagi pada tahun 2001. Cukup banyak kenangan yang aku rasakan selama kurun waktu tiga tahun itu. Dari kenangin manis, pahit, hambar, asam, pedas, sampai yang tidak berasa. Semua masih terekam baik di memori ini. Tidak ada yang terhapus. Karena, aku memang tidak ingin menghapusnya. Aku ingin tetap mengenangnya. Aku tetap ingin mengenang setiap jejak kakiku yang ada di sana.
Aku bertemu lagi dengan dia. Akupun tahu kalau dia sudah punya anak. Bentuk tubuhnya memang menunjukkan hal itu. Dia sedikit agak gemuk, seperti wanita lain yang sudah melahirkan anak. Aku berusaha ramah padanya, dan dia pun membalas keramahanku. Sekitar sepuluh menit kami berbicara. Aku masih melihat senyuman manis yang dulu sering aku lihat setiap aku jumpa dengannya.
Aku juga kembali bertemu dengan dia yang lain. Dia tidak berubah, kecuali rambutnya sudang panjang. Yang lainnya sama saja. Dia pun masih cantik, seperti yang dulu.
Dan, seminggu ini, mungkin aku akan setiap hari pergi ke tempat itu....
Selengkapnya...

Minggu, 23 April 2006

PEREMPUAN MANIS BERTANDUK


TIESTO
Live in Concert
Pantai Ancol-Jakarta

Sabtu, 22 April 2006
Selengkapnya...

Jumat, 21 April 2006

APA ITU KARTINI?


Hari ini, Jumat, 21 April, adalah hari bersejarah di negeri ini. Hari ini diperingati sebagai hari kartini. Kartini adalah nama seorang perempuan yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Nama lengkapnya Raden Ajeng Kartini. Perempuan berdarah Jawa itu memang lahir pada tanggal 21 April. Ia disebut-sebut sebagai pelopor emansipasi wanita di negeri ini. Perempuan harus sama kedudukannya dengan pria. Begitulah arti dari emansipasi itu. Ada bukunya yang sangat terkenal, berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Itulah sejarah yang aku dapat sejak SD tentang Kartini. Aku juga masih ingat, dulu, setiap tanggal 21 harus ikut pawai keliling satu kelurahan setiap tanggal 21 April. Pihak sekolah mengharuskan kami untuk memakai baju daerah. Namun, aku gak tidak pernah menurutinya. Karena itu, aku selalu berbaris di belakang saat pawai. Yang berjalan di depan khusus bagi teman-temanku yang memakai baju daerah. Orang-orang berdiri di pinggir jalan untuk menonton kami berjalan di terik matahari yang sangat panas.

Sampai sekarang, masih banyak orang memperingati hari kartini dengan apa yang aku alami sekitar 20 tahun lalu. Tadi pagi, beberapa sopir busway memakai kebaya saat mensopiri bus Transjakarta. Hampir semua penyiar di teve juga memakai baju kebaya. Untung aja para wanita penghibur yg biasa mangkal di sepanjang jalan Hayam Wuruk jakarta, tidak ikut-ikutan memakai baju kebaya.

Rupanya, cara orang memperingati hari Kartini tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Selamat Hari Kartini, untukmu, wahai para Perempuan Indonesia.... Selengkapnya...

Selasa, 18 April 2006

SETO MENCARI BAPAK


Pria itu datang dan berdiri di tengah panggung. Ia lalu mengambil lembaran kertas yang tersusun dari di atas papan. Dibukanya klip penjempit kertas dan membuangnya ke lantai. Ia pun mulai maju agak ke depan. Sebentar kemudian, mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata. Baris demi baris puisi pun mengalir indah dari mulutnya. Suasananya segera sunyi senyap. Tidak ada yang bersuara. Semuanya berusaha mendengarkan kata-kata yang seperti mau membelah ruangan itu.

WS Rendra. Ia sedang mendendangkan puisi-pusinya malam ini di Taman Ismail Merzuki. Sekitar tujuhpuisi ia bacakan selama dua jam pas. Ratusan penonton begitu menikmati pertunjukkan dengan aktor satu orang ini. Riuhan tepuk tangan membahana setiap kali Rendra selesai membacakan puisinya. Mereke tertegun. Mereka terkesima.

Aku duduk persisi di bangku tengah. Posisiku persis di hadapan sang bintang. Baru kali ini aku menyaksikan pertunjukan sang pujangga ini. Aku tidak menyia-nyiakan ketika seorang teman mengajak pergi ke TIM untuk melihat sang bintang. Aku penasaran karena belum pernah melihat langsung WS Rendra membaca puisi dalam pertunjukan puisi. Kalau dalam acara biasa, dimana Rendra membacakan sepenggal puisi, sudah beberapa kali aku saksikan. Namun, ketika ia membacakan puisi-puisinya dalam waktu dua jam nonstop, aku belum pernah.

Aku berusaha konsentrasi mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut sang bintang. Mataku terpaku padanya. WS Rendra tidak hanya membaca puisi. Ia juga lihai bergerak untuk lebih mendiskripsikan isi pusinya. Beberapa kali penonton tertawa saat gerakan Rendra memang agak konyol dan lucu.

Puas bisa melihat si Burung Merak beraksi di depanku.... Selengkapnya...

TIARA LESTARI


Ia berdiri tak sampai semeter di depanku. Sekitar sepuluh menit ia ada di sana. Aku dapat memandangnya begitu leluasa. Rambut panjangnya tertata sangat rapi. Wajahnya begitu menarik untuk ditatap. Tak salah kalau ia menjadi model dunia. Aku tak dapat menentukan apakah ia memang cantik, manis, atau apa. Yang pasti, ada semacam aura yang dipancarkan wajahnya sehingga aku begitu ingin selalu menatapnya.

Setiap ada lensa kamera yang diarahnya padanya, wanita ini langsung bergaya. Sangat spontan. Mungkin ini sudah kebiasaan baginya, sehingga tidak bisa melihat ada kamera di depannya. Bahkan, walau hanya kamera handphone pun, ia segera bergaya. Gayanya sangat khas. Sangat sensual. Ada satu kesamaan dari setiap gayanya. Ia jarang sekali tersenyum atau memperlihatkan gigi ketika bergaya. Padahal, aku perhatikan, giginya tidak jelek-jelek amat kok.

Aku teus menatapnya. Oh... sungguh indah wanita yang ada di depanku ini. Ia indah walau tidak sedang berpose tanpa busana, seperti yang ia lakukan pada majalah Playboy edisi Spanyol, tahun 2005 lalu.

Ia pun berlalu dari hadapanku, meninggalkan sedikit impian nakal di otakku... Selengkapnya...

Senin, 10 April 2006

SMOGA ENGKAU CEPAT SEMBUH, SAHABAT


Ia terbaring di tempat tidur. Selang infus menancap di tangan kirinya. Selimut berwarna putih menutupi badannya. Mukanya tampak pucat. Badannya kurus. Berkali-kali ia batuk yang berkepanjangan. Terkadang ia hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika sedang batuk. Namun, ia juga sering menggunakan selembar kertas tisu. Ia tampak begitu tersiksa dengan apa yang sedang menderinya itu. Sahabat ini beberapa kali menangis. Ia bertanya, cobaan apa lagi yang Tuhan berikan padanya? Sebab, baru dua bulan lalu ia sembuh dari penyakit lain yang sekitar setahun lamanya harus ia lawan. Ia kembali menangis...

Aku kembali teringat dengan seorang kawan yang pernah menderita sakit yang sama dengan sahabat yang sedang dirawat itu. Ia juga seorang perempuan. Ia menderita penyakit 'itu' sekitar dua tahun lalu. Awalnya, ia tidak menyadari apa penyakitnya. Namun, karena tidak kunjung sembuh, ia mencari jawaban ke seorang dokter spesialis. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Ia divonis menderita penyakit 'itu'. Ia terpukul. Ia menjadi rendah diri. Ia takut dikucilkan keluarganya, teman-temannya, sahabat-sahabatnya, dan sang pacar.

Walau sebenarnya pengobatannya cukup mudah. Ia harus berobat selama enam bulan. Tidak boleh lupa minum obat satu kalipun. Sebab, kalo lupa, maka harus mengulang dari awal. Ia harus makan banyak. Ia juga tidak boleh terlalu dekat dengan siapapun. Ini yang membuatnya menjadi sangat rendah diri.

Ia tidak bisa berdekatan dengan sang pacar. Ia tidak bisa lagi menikmati ciuman sang pacar yang dulu sering ia dapatkan dikala mereka bertemu. Ia tidak bisa lagi berpandang-pandangan begitu dekat dengan sang pacar. Karena ia bisa menularkan bakteri kepada siapa saja yang dekat padanya. Ia tidak bisa lagi berbagi makanan dan minuman kepada sang pacar. Ia semakin jauh dari sang pacar.

Suatu hari, ia dan sang pacar pergi berdua untuk menikmati liburan. Namun, liburan akhirnya harus dibatalkan. Ia mengaku lupa membawa obat. Ia harus segera pulang. Kalau tidak, ia akan terlambat meminum obat untuk siang hari. Sang pacar menanyakan, apakah tidak bisa membeli di apotik terdekat saja. Ia pun menjawab tidak bisa. Mereka akhirnya terpaksa kembali pulang. Sang pacar kecewa saat itu. Sang pacar hanya diam sepanjang jalan. Diam, memendam rasa kecewanya.

Kini, ia sudah sembuh.

Namun, kini, seorang sahabat kembali menderita penyakit 'itu'.

Sahabat, smoga engkau cepat sembuh.... Selengkapnya...

Jumat, 07 April 2006

LARIS MANIS DI EDISI PERDANA


Hari ini, Jumat, 7 April 2006, boleh dikatakan hari bersejarah di Indonesia. Pada hari ini, edisi perdana Playboy rasa Indonesia, mulai beredar di tanah air. Orang-orang membicarakannya dimana-mana. Bagaimana tidak, rencana kehadiran Playboy Indonesia sudah menjadi gosip hangat sekitar empat bulan terakhir ini. Bahkan, unjuk rasa terjadi dari Sabang sampai Merauke. Padahal, saat itu Playboy Indonesia belum terbit. Orang-orang menentang terbitnya Playboy Indonesia. Menurut, mereka, Playboy tidak sesuai dengan cita rasa bangsa ini. Maklum saja, Playboy sebagai majalah telanjang, sudah menjadi cap yang begitu kuat pada majalah berlogo kelinci berdasi itu.

Aku termasuk orang yang sangat penasaran dengan Playboy rasa Indonesia tersebut. Jauh-jauh hari aku sudah memesan dua biji kepada tukang majalah yang ada di kantor. Bahkan, sejak dua hari lalu aku langsung membayar cash padanya. Rp 38.500 kali 2. Mengapa aku harus membeli dua majalah? Seperti yang tadi aku katakan, edisi perdana majalah yang ditentang habis-habisan ini, adalah sebuah sejarah di negeri ini. Satu majalah akan menjadi bacaan, sedangkan satu lagi akan ku simpan rapi. Harapanku, 20 tahun lagi majalah Playboy Indonesia edisi perdana ini akan menjadi barang langka. Siapa tahu laku satu miliar. Hehehe.... Majalah playboy edisi perdana di Amerika saja, menurut kabar, laku sekitar 5000 dolar di tangan kolektor. Itu kan sekitar 50 juta rupiah. Wah!

Hari ini, majalah Playboy Indonesia menjadi bahan omongan di seluruh ruangan kantor ini. Tukang majalah di sini mengaku membawa 200 biji hari ini. Dan, sampai siang tadi, sudah laku sekitar 140 majalah. Pantastis bukan Kabarnya, si penerbit mengaku mencetak sekitar 200 ribu majalah untuk edisi perdana ini. Aku yakin, semuanya akan ludes. Buat edisi kedua? Emang terbit? Hahaha.....

Lalu gimana dengan isinya? Hampir semuanya kecewa berat. Bagaimana tidak, isi Playboy Indonesia tidak ada bedanya dengan majalah-majalah sejenis di negeri ini. Bahkan, isinya kalah berani dengan majalah Popular atau FHM. Model depannya saja Andara, yang sebenarnya tidak seksi-seksi amat. Ternyata orang sudah keburu penasaran dengan kehadiran majalah ini. Dan, rasa penasaran tadi sudah terjawab. Kecewa... Selengkapnya...

Senin, 03 April 2006

CAP GARPU DARI PALEMBANG


Mendengar kata Palembang, yang terlintas di benak ini adalah preman-preman di kawasan Roxy, Jakarta Barat. Beberapa orang naik ke buskota dan mengaku baru saja keluar dari dalam penjara. Tampang mereka sangar-sangar dengan badan banyak tato-tato tidak jelas bentuknya. Mereka lantas meminta sejumlah uang kepada para penumpang. Daripada merampok dan menodong, mereka mengaku lebih baik hidup dengan cara 'mengemis' seperti itu. Daripada berususan dengan orang-orang seperti itu, tidak rugi 'membuang' uang seribu perak kepada orang-orang itu.

Dalam banyak kasus kriminal yang diungkap kepolisian di Jakarta, pelakunya banyak yang mengaku berasal dari Palembang. Karena itu, cap sebagai penghasil preman, melekat pada kota Palembang. Benarkah demikian?

Selama seminggu, aku berada di Palembang. Kesangaran yang telah terbangun di dalam otak, membuat aku sangat berhati-hati berada di kota itu. Apalagi, kawan yang menamani di Palembang juga banyak menceritakan kisah-kisah kriminal di kota itu. Yang paling terkenal adalah sebutan 'tuja', yang berarti menusuk. Tusukan ini sangat mematikan. Ada satu senjata yang populer di Palembang. Yaitu, semacam pisau yang sangat tajam. Merek yang paling terkenal adalah pisau cap Garpu.

Kata orang, Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera. Aku tidak tahu benar tidaknya rumor ini. Hanya saja, Palembang memang sebuah kota yang besar. Kota ini memiliki banyak jalan besar. Lampu merah juga banyak. Di beberapa lampu merah juga sering macet. Tapi, walau besar, jangan dulu berpikir Palembang hanya sedikit lebih kecil daripada Jakarta. Berada dua minggu di kota yang dibelah oleh sungai Musi ini, barangkali sudah cukup untuk menghapal seluruh jalan-jalan di Palembang.

Kalau sering memperhatikan bangunan-bangunan di pinggiran jalan kota Palembang, ada yang mengusik perhatian. Banyak sekali rumah makan padang di sana. Yang menggelitik, hampir seluruhnya memakai kata 'palapa'. Ada rumah makan Palapa Jaya, Palapa Indah, Palapa Raya, dan lain-lain. Hampir di setiap sisi jalan besar adanya saja rumah makan 'palapa' ini. Seorang pelayan rumah makan 'Palapa' di persimpangan Kertapati mengatakan, seluruh pemilik rumah makan yang memakai kata 'palapa' memang masih memiliki hubungan kekeluargaan. Tadinya aku berpikir, ini adalah sebuah bisnis waralaba.

Saat berangkat ke Palembang, aku membayangkan buah duku akan berlimpah di Palembang. Buah berwarna kulit kuning ke coklat-coklatan itu memang sedang musim di Jakarta. Kalau di supermarket dijual Rp10.000 perkilogram, aku berharap bisa membeli sekitar Rp4.000 di Palembang. Aku sudah membayangkan akan memakan buah duku setiap hari. Rupanya aku hanya bermimpi. Seminggu di Palembang, aku sama sekali tidak mendapati satu orang penjual dukupun di pinggiran jalan kota Palembang.

Lalu kenapa di Jakarta masih musim duku yang katanya, asli palembang. Kawan pun menjawab, orang mengenal duku palembang, nenas palembang, atau durian palembang. Tapi, sama sekali buah-buahan itu tidak ada di Palembang sendiri. Semuanya berasal dari beberapa daerah di Sumatera Selatan. Aku pun tidak jadi mencicipi duku Palembang. Buah yang mengandung banyak gula itu, baru bisa aku nikmati dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Aku membeli tiga kilogram ketika melintas di Lintas Timur arah Lampung. Satu kilogram dijual Rp7.000,-.

Teman mengajak makan pempek. Katanya, pempek ini paling enak se-Palembang. Tidak punya cabang di tempat lain. Aku sebenarnya malas mengikuti ajakannya itu. Yang aku harapkan, adalah makan nasi karena aku belum makan siang. Lagi pula, aku tidak begitu menyukai makanan khas Palembang itu. Hanya saja, aku sadar. Belum sampai ke Palembang kalau tidak makan pempek. Aku akhirnya mengamini ajakan kawan itu. Mobil pun segera bergerak menuju kawasan Plaju.

Mobil kemudian berbelok ke sebuah ruko. Rupanya inilah penjual pempek yang disebut-sebut kawan itu, terenak di Palembang. Namanya Fico. Aku pun duduk di bangku sebelah kanan ruangan. Seorang wanita cantik duduk di meja sebelah. Ia duduk bersama seorang cowok, yang menurut aku mungkin pacarnya. Aku tidak peduli. Sesekali aku mencuri-curi pandang ke wanita itu sebagai selingan menyegarkan pikiran.

Pelayan lalu membawa dua piring pempek. Aku mencoba satu, dan terasa enak. Aku coba lagi satu, masih enak. Tidak terasa, aku sudah menghabiskan empat pempek. Akhirnya aku mengikuti ajakan kawan itu, untuk memesan pempek model. Rupanya, pempek ini tidak beda jauh dengan pempek yang dijual para pedagang keliling pempek di Jakarta. Pempek dipotong-potong dan dicampur potongan tibun kecil-kecil. Pempek kemudian disajikan di dalam piring dengan kuah yang banyak. Aku menikmati pempek itu hingga habis. Terasa enak atau aku memamg sedang lapar. Aku tidak tahu jawabannya. Enak dan lapar memang sangat tipis perbedaannya. Ah... aku tidak peduli. Yang penting mengenyangkan bagi perutku. Selengkapnya...

Sabtu, 01 April 2006

CAKRAWALA

Tidak sengaja aku menonton ANTV sore ini pukul lima. Entah siapa yang mengganti saluran tv yang ada di depanku, sehingga yang terpampang di layar tv 29 inchi itu adalah ANTV. Tayangan berita bertajuk 'Cakrawala' sedang mengudara di stasiun tv yang beberapa waktu lalu, 20% sahamnya dibeli oleh raksana media dunia, Star TV.

Aku mengenal pembaca beritanya. Bagaimana tidak, ia pernah sekantor denganku. Bahkan, selama setahun aku satu tim dengannya. Sayangnya, sejak sebulan lalu, ia telah pindah ke stasiun tv yang kini sedang mengudara pada tv yang ada di depanku. Mengejar sebuah pengalaman baru adalah alasan bagi perempuan manis ini memutuskan untuk pindah kantor. Bagaimana tidak, posisi pembawa acara merangkap assiten produser dipegangnya di kantor barunya itu. Hari ini adalah pertama kali aku melihatnya tampil di stasiun tv itu. Tidak ada yang berubah pada dirinya. Balutan baju berwarna-warna abu tampak serasi pada wanita ini.

Berkali-kali aku pernah melakukan kerja sama peliputan dengan dara berdarah Minang ini. Suatu hari kami pernah melakukan peliputan di daerah Malang, Jawa Timur. Aku membawanya begadang hingga pukul tiga subuh demi mengejar sebuah momen, yang ternyata tidak ada alias momen itu tidak terjadi. Padahal, pukul tujuh pagi kami harus kembali bekerja. Aku harus memaksakan diri bangun pagi, tapi tidak baginya. Aku lumayan terkejut saat mendapati wanita ini sudah hampir selesai sarapan di restoran hotel dengan kondisi siap 'tempur'.

Pada kesempatan yang lain, kami pergi ke Aceh. Dari Medan, kami berangkat sore hari menuju Loksemawe lewat jalan darat, dan sampai di sana pukul dua pagi. Setelah istirahat selama lima jam, dan menjelang siang, kami menuju Takengkon, Aceh Tengah. Kami menyusuri markas GAM di tengah hutan dengan berjalan kaki selama empat jam. Kami harus naik turun bukit dan berjalan dibawah terik matahari yang luar biasa panasnya. Si perempuan ini terlihat begitu menikmati perjalanan yang cukup membahayakan tersebut. Bagaimana tidak, kami berjalan bersama sekitar sepuluh anggota GAM dengan membawa empat pucuk senjata api laras panjang. Entah apa yang terjadi bila pasukan TNI/Polri mengetahui perjalanan kami. "Untuk gw biasa treadmill," kata wanita ini sesampainya di lokasi tujuan ditengah hutan ketika semua orang mengomentarinya .

Kami bermalam di hutan beratapkan langit. Udara dingin menusuk tulang. Suara jangkrik dan binatang malam menemani kami di tengah hutan. Namun, si perempuan ini tidak terlihat berkeluh kesah. Ia sangat menikmati suasana, termasuk makan malam dengan nasi dengan sarden. Tawa dan canda menghiasai suasana 'kamping' itu. Ia tidak tersinggung walau sering kali ia menjadi objek obrolan. Bahkan, seringkali ia ikut memberi obrolan yang mengundang tawa. Kami akhirnya tidur berimpitan sekitar lima orang dengan hanya beralaskan selembar plastik. Untung saja tidak ada ular atau binantang buas lainnya, mendatangi kami ketika sedang terlelap tidur. Gangguan hanya terjadi sekitar pukul tiga subuh, saat dinginnya udara tidak bisa lagi terlawan. Api unggun terpaksa dibuat lagi untuk menghadapi udara dingin.

Terakhir, kami bekerja dalam satu tim di Riau. Selama seminggu, kami memantau operasi Illegal Logging di ranah Melayu itu. Melewati perjalanan selama tujuh jam di atas kendaraan 4x4 terlewati bersama wanita ini. Aku duduk disampinginya selama perjalanan. Lumayan menghibur. Apalagi, wangi farpumnya selalu tercium. Padahal kami tidak mandi selama dua hari. Hehehe..... Lagi-lagi, tidak ada keluhan dari mulut wanita yang sering mengucapkan kata 'ciye' ini. Yang justru keluar adalah keingintahuannya pada setiap momen yang dijumpai. Kalau dipikir-pikir, apa yang kami cari di Riau adalah sebuh pekerjaan yang sangat menantang bahaya. Sangat banyak orang yang tidak suka melihat kegiatan kami. Namun, tidak ada rasa takut pada wanita ini. Ia melaksanakan tugas dengan baik.

Si wanita ini sangat bagus kerja sama timnya. Ia mau berdiskusi tentang apapun. Dan, yang pasti, ia jarang mengeluh walau sedang dalam keadaan yang kurang baik. Melihat ia adalah seorang finalis Putri Indonesia 2005, tentu yang ada dibayangan orang adalah, rasa manja dan tidak mau susah. Namun, sifat ini tidak ada padanya. Aku bukan memuji, tapi ini yang aku rasakan sendiri.

Kini, ia tidak ada lagi dalam tim. Padahal, segudang rencana sudah disusun. Rupanya, semua rencana itu harus berjalan tanpa kehadirannya lagi.

Ah,... sudah lah. Aku mau minum Jack Daniel dulu.... Selengkapnya...

Sabtu, 18 Maret 2006

THE UNFORGIVEN


Perhatianku sejenak berhenti dari pekerjaan. Dari layar Global TV, terdengar lagu The Unforgiven yang dinyanyikan oleh Metallica. Sudah lama sekali aku tidak mendengar lagu ini. Apalagi melihat videoklipnya yang serba hitam putih itu. Aku pun segera mengeraskan volume suara tv. Aku menikmati videoklip yang sangat lawas itu hingga habis.

Saat menikmati, alam pikiranku melayang jauh ke tahun 1995. Aku masih ingat harinya, hari Jumat. Saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMA. Hari itu, grup Metallica datang ke Jakarta untuk melakukan konser di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada hari Sabtunya.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sepulang sekolah, aku segera menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk melihat kedatangan Metallica. Aku pergi bersama Desmond Siahaan, sobat yang punya satu rasa dan satu ide denganku. Aku sudah mendapatkan jam kedatangan Metallica di Jakarta dari Majalah HAI. Saat itu, majalah itu memang selalu kuandalkan dalam hal musik.

Aku menunggu kedatangan Metallica di terminal kedatangan. Aku juga sudah melihat sejumlah kru penjemput. Berarti aku belum terlambat. Apalagi, beberapa wartawan juga ada di sini. Aku pun menempel pada mereka agar tidak terlewat melihat kedatangan Metallica. Oya, aku juga sudah membawa poster Metallica yang dimuat Majalah HAI.

Lama-kelamaan, terminal kedatangan penuh sesak oleh para penggemar Metallica. Rata-rata anak muda dan memakai baju hitam. Aku sendiri tidak. Areal bandara pun jadi hiruk pikuk.

Tiba-tiba saja suasana menjadi kacau. Orang-orang berteriak-teriak. "Mereka lewat atas. Mereka lewat atas." teriak seseorang yang sepertinya adalah penggemar Metallica juga. Semua orang yang memang menunggu kedatangan Metallica, langsung naik tangga menuju lantai dua, yang merupakan terminal keberangkatan. Rupanya, panitia mengalihkan para personil Metallica setelah melihat banyaknya penggemar yang menunggu di terminal kedatangan.

Aku hanya melihat sekilas para personil Metallica. Jangankan meminta tanda tangan pada poster yang aku bawa, mendekat saja tidak bisa lagi karena sudah keburu mereka masuk ke dalam mobil. Sang kawan, desmond siahaan, juga kecewa berat. Bagaimana tidak, ia sudah membawa kamera Canonnya yang telah diisi film hasil patungan kami.

Tapi, bagaimanapun ini adalah sebuah pengalaman berharga untukku. Lain kali, aku sudah lebih pintar dalam menghadapi momen seperti ini.

Hidup Metal.....
NB: Mond, apa kabarmu di Ausii?


The Unforgiven

and quickly he's subdued
through constant pain disgrace
with time the child draws in
this whipping boy done wrong
the young man struggles on and on he's known
a vow unto his own
his will they'll take away
what I've felt

never shined through in what I've shown
never be
won't see what might have been
what I've felt
never shined through in what I've shown
never free
so I dub thee unforgiven
they dedicate their lives

he tries to please them all
this bitter man he is
he's battled constantly
this fight he cannot win
the old man then prepares
to die regretfully
what I've felt
what I've known

never be
never see
what I've felt
what I've known
never free
never me
you labeled me
I'll label you
Selengkapnya...

Selasa, 14 Maret 2006

WANITA-WANITA DAUR ULANG

Lepas sudah beban untuk minggu ini. Setelah tiga hari bekerja keras sejak hari Minggu lalu, akhirnya beban itu telah lepas pada malam ini. Artinya, besok aku bisa menikmati saat-saat tanpa ketegangan beban kerja. Apa ya yang akan aku lakukan besok? Mmm....tidur aja kali ya di rumah. Hehehe...

Aku tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu lalu pukul 21.00 WIB. Hari Minggunya, aku harus segera berangkat ke kantor untuk menyelesaikan naskah. Aku tiba kembali di rumah pada pukul 01.00 hari Seninnya. Pada pukul 09.00, aku sudah harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan naskah. Lagi-lagi, aku harus pulang pukul o1.00 pada hari Selasa. Dan, pada pukul 10.00, aku sudah kembali berangkat ke kantor untuk menyelesaikan proses editing. Karena pukul 22.30, hasil karyaku itu akan tayang.

Entah mengapa, aku kurang puas dengan hasil tayangan tersebut. Menurut aku, banyak sekali kesalahan maupun kekurangan yang mestinya tidak boleh terjadi. Namun, rupanya tetap terjadi dan membuat tayangan itu menjadi tidak maksimal. Aku sendiri tidak mau menyalahkan siapapun. Aku hanya bertekat, minggu-minggu mendatang, kesalahan dan kekurangan itu tidak boleh terjadi lagi.

Narasi sepertinya terlalu panjang sehingga menyebabkan narasi dan gambar saling berlomba-lomba. Ini seharusnya bisa diakali kalau yang mendampingi proses editing jeli melihatnya. Janganlah menyalahkan naskah yang panjang. Sebab, yang panjang itu bisa dipotong kok.

Musik audio juga tidak mempercantik tayangan. Terlalu flat dan tidak menambah rasa drama dalam tayangan itu. Tidak ada kejutan yang diberikan musik audio itu. Ini seharusnya diketahui oleh si editor dan orang yang mendampinginya.

Terlepas dari semua kekurangan tadi, aku lega setelah melihatnya tayang di teve beberapa menit lalu. Lagi, sebuah karyaku muncul di teve. Sebuah karya hasil liputanku ke Medan, Sumatera Utara. Judulnya, WANITA-WANITA DAUR ULANG. Selengkapnya...

Senin, 13 Maret 2006

18 HARI KE SUMATERA UTARA (1)

Hari ini, aku kembali bisa membuka blog ini. Sudah 18 hari aku tidak membukanya. Selama 18 hari aku pergi ke Sumatera Utara dan Aceh Tenggara. Lumayan banyak yang bisa aku lihat di daerah-daerah itu. Aku baru kembali pada hari Sabtu malam lalu.

Dalam perjalananku itu, aku bisa melihat suasana Belawan dan Tanjung Balai, dua pelabuhan ternama di Sumatera Utara. Sungguh aneh melihat Belawan. Aku tidak menyangka suasananya akan sesepi itu. Yang aku bayangkan selama ini adalah suasananya tidak akan jauh berbeda dengan Pelabuhan Tanjung Priuk. Begitu juga dengan Tanjung Balai. Yang ada di kepalaku tentang Tanjung Balai adalah sebuah pelabuhan yang ramai dan modern. Rupanya, aku salah. Sama sekali tidak modern. Pelabuhannya saja berada di sungai Asahan.

Yang paling berkesan menyusuri Tanjung Balai adalah ketika kapal motor yang aku sewa, kehabisan bahan bakar di sungai. Selama 2 jam kapal terombang-ambing menuju laut. Malam juga secara perlahan-lahan datang. Sedangkan tidak satupun kapal lain yang mau menolong menarik kapalku. Aku sempat membayangkan kapal akan terbawa ke laut lepas. Bagaimana tidak, laut Selat Malaka sudah ada di depan mata. Si nahkoda kapal berusaha mendayung kapal dengan potongan papan dari lantai. Tapi, kapal bukan maju malah terus terbawa arus sungai menuju laut. Beruntung sebuah kapal patroli Polair datang menolong. Kapal pun ditarik menuju lokasi penjualan bahan bakar terdekat. Aku tidak akan melupakan kenangan buruk yang lucu ini.

Yang mengasyikkan, aku pergi ke Medan saat durian sedang musim di sana. Udah tau dong gimana enaknya makan durian Medan. Tinggal pilih rasa yang dimau. Manis atau pahit. Kalau aku sih, rasa yang pahit. Aku tidak melupakan untuk menikmati durian asli Medan. Harganya juga sangat murah. Paling mahal 8.000 perak perbiji. Tapi, rata-rata 5000 perak. Udah gitu, beberapa kali aku berkesempatan makan durian gratis dari para teman-teman di Medan. Asyik. Selengkapnya...

Selasa, 21 Februari 2006

INI MEDAN, BUNG!

Baru tanggal 2 Februari 2006 lalu aku pergi ke Medan, Sumatera Utara. Memang sih, gak lama. Cuma dua hari. Tapi, lumayan mengobati rasa kangen untuk melihat-lihat kondisi kota terbesar di Sumatera itu.

Rupanya, aku bernasib baik. Aku kembali mendapatkan kesempatan pergi ke Medan. Bahkan, kali ini cukup lama, sepuluh hari. Memang sih, gak selama ini aku di Medan. Aku juga akan berkeliling ke sejumlah daerah di Sumatera Utara.

Bahkan, aku juga mungkin akan pergi ke Aceh Tenggara. Aha... inilah pertama kalinya aku akan pergi ke salah satu kabupaten di Aceh tersebut. Sudah lama Kutacane, ibukota Kabupaten Aceh Tenggara, akrab di telingaku. Mungkin sejak aku kecil. Namun, baru kali ini aku akan pergi ke sana. Penasaran juga ingin segera tiba di sana. Daerah Aceh Tenggara selama ini dikenal sebagai sumber utama Ganja di Aceh. Untung aku bukan penggemar daun yang memabukkan itu. Jadi, yah... tidak perlu khawatirlah akan mencicipinya. Hehehe...

Yang mengasyikkan, untuk menuju Aceh Tenggara, jalan yang harus aku lalui adalah lewat Tanah Karo. Nah... ini juga yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, Tanah Karo adalah kampung halamanku.

Mejuah-juah kita kerina..... Selengkapnya...

Senin, 20 Februari 2006

BANTEN LAMA

Hari jumat, 17 Februari 2006, aku berangkat menuju Banten. Aku terlelap tidur sepanjang jalan. Aku baru bangun ketika mobil mengisi BBM di tempat peristirahatan di KM 70an Jl Tol Jakarta-Merak. Setelah sekitar satu setengah jam berjalan, akhirnya aku tiba di Serang, ibukota Banten.

Sekitar pukul 16.00 WIB aku tiba di kawasan Banten Lama. Sampai hari ini aku tidak paham, mengapa kawasan ini disebut Banten Lama. Apakah itu nama desa? sepertinya bukan. Nama kecamatan? Ah, bukan juga. Lalu mengapa?

"Di sini dulunya bekas ibukota kerajaan Banten yang kemudian dihancurkan penjajah." kata orang yang menemani aku. Aku hanya bisa menerima informasi itu. Untuk menyanggahnya aku tidak punya argumen apa-apa tentang Banten Lama. Akhirnya, aku berusaha melihat apa saja yang bisa membenarkan ucapan kawan itu.

Di kiri-kanan jalan aku melihat banyak bangunan yang sepertinya peninggalan jaman dulu. Hampir semuanya sudah hancur. Yang tersisa hanya dinding-dinding yang hampir tidak berbentuk lagi.

Menjelang pukul lima sore, aku tiba di sebuah kelenteng di Banten Lama. Dari sini, aku berjalan menuju ke perkampungan yang ada di belakang kelenteng. Tampaknya masyarakatnya hidup sangat sederhana. Paling tidak, kondisi rumah mereka membuktikan hal ini. Perkampungan ini tidak begitu jauh lagi dari laut. Bahkan, air laut sudah masuk ke dalam tanah di daerah ini.

Yang membuat terkenal perkampungan ini adalah, banyaknya barang-barang keramik cina ditemukan di dalam tanah di sana. Pecahan keramik-keramik Cina yang berumur ratusan tahun bisa ditemukan di mana-mana. Baik di sekitar perkampungan, kebun, ataupun di sekitar kolam-kolam ikan. Untuk mendapatkan pecahan berkilo-kilo sepertinya hanya butuh waktu sejam.

Bertahun-tahun warga di sini menggali tanah untuk mencari keramik-keramik yang masih utuh. Tapi, mereka selalu sial. Menurut pengakuan warga, hanya satu banding seribu keramik yang masih utuh ditemukan. Namun, warga di sini tidak putus asa. Mereka terus menggali dan menggali. Namun, lagi-lagi keberuntungan belum datang. Selalu keramik pecah yang mereka temukan, yang satu kilonya hanya laku 300 perak. Namun, mereka terbuai oleh janji para kolektor benda purbakala yang mengaku akan membeli setiap keramik utuh 2 juta perbuah yang ditemukan warga. Selengkapnya...

Minggu, 12 Februari 2006

AKU PUAS!


PEMBALAKAN LIAR DI HUTAN RAMAH MELAYU Metro TV, Selasa, 7 Februari 2006 Pukul 22.30 WIB
Respons: luar biasa Selengkapnya...

Jumat, 10 Februari 2006

RIAU YANG MERANA

Jumat, 27 Januari 2005, sekitar pukul 20.00 WIB, Ford Ranger yang aku sewa, melesat meninggalkan kota Pekanbaru. Sungguh tidak nyaman duduk di bangku belakang. Bagaimana tidak, sandaran tidak bisa dimiringkan. Karena itu, badanku terpaksa selalu tegap. Di sampingku duduk seorang perempuan cantik. Bagaimana tidak cantik, dia adalah seorang finalis Putri Indonesia 2005. Paling tidak, ketidaknyamananku duduk di bangku belakang, bisa sedikit terobati dengan acara ngobrol bersama si perempuan ini.

sambungannya nanti dulu ya...
lg gak mood nih Selengkapnya...

Rabu, 01 Februari 2006

PEKAN BARU-MEDAN


Sekitar pukul 19.00, aku tiba di stasiun bus Medan Jaya di Jalan Nangka, Pekanbaru, Riau. Kupikir bis akan telat berangkat seperti jadwal bis luarkota pada umumnya. Namun, rupanya, bis yang mau aku naiki sudah mau berangkat. Bis tinggal menunggu aku yang sudah telat tiba. Ah, pesawat terbang aja tidak ada yang on time. Ini bis gitu loh. Hebat... hebat....

Aku duduk di bangku pertama di sebelah kiri bis. Kuperhatikan si sopir. Orangnya kurus dan sepertinya sudah cukup berumur. Mudah-mudahan pandangan matanya masih bagus dalam mengemudikan bis hingga sampai di Medan. Kalau tidak ada hambatan, biasanya dalam waktu 12 jam, aku sudah tiba di Medan.

Ini adalah perjalanan pertamaku naik bis dari Pekanbaru ke Medan. Dulu aku memang beberapa kali ke Medan lewat darat. Tapi, kini aku sudah lupa bagaimana kondisi jalan.


Setelah berhenti di sebuah rumah makan sekitar pukul 20.30 WIB, bis kembali melanjutkan perjalanan ke Medan. Aku sedikit gemetaran duduk di depan. Bagaimana tidak, si sopir membawa kendaraan begitu cepat. Tidak ada kendaraan yang mendahului bis Medan Jaya yang aku naiki ini. Justru sebaliknya. Setiap kendaraan pasti disalib.

Kalau lebar jalan seperti jalan tol mungkin tidak ada masalah. Tapi, lebar jalan Pekanbaru-Medan, hanya pas untuk dua kendaraan besar. Karena itu, mungkin hanya orang gila yang berani menyalip di jalan seperti ini. Sebab, yang disalip adalah truk atau bis juga. Jarak badan bus dengan kendaraan yang disalip, menurut aku, tidak lebih dari 10 cm. Rapat sekali. Sudah begitu, badan jalan tidak mulus alias berlobang di sana sini. Tak jarang ban bus harus turun ke tanah untuk menyalip.

"Wah, kalau begini, tinggal nunggu kapan bersenggolan saja." kataku dalam hati. Rupanya, apa yang aku takutkan ini, hampir menjadi kenyataan. Suatu saat, bus mau menyalip sebuah truk. Sedangkan jalan tidak mulus. Namun, si sopir tetap nekat. Akibatnya, kaca spion bus menyenggol bagian kepala truk. Kedua badan kendaraan juga hanya berselisih 5 cm. Si sopir sempat membuang bis sedikit ke kanan. Kalau tidak, mungkin keduanya sudah saling menyenggol. Aku hanya bisa menahan napas melihat peristiwa ini. Tak lama bersalang, aku melihat si sopir hanya tertawa-tawa dengan si kernetnya.

Kalau sudah begini, mana mungkin aku bisa menikmati perjalanan ini. Sebab, si sopir tetap menjalankan bis begitu cepat. Tidak peduli jalan berlobang atau tidak. Namun, mungkin karena bis masih baru, sehingga tetap nyaman di atasnya.

Aku berusaha tidur, tapi tetap tidak bisa. Mataku selalu menatap ke depan sambil membayangkan ngerinya naik bis ini. Aku akhirnya mengambil selimut yang memang disedikana pada setiap bangku. Aku menutupi badan dari kepala hingga ke paha dengan selimut. Akkhirnya, aku pun tertidur pulas.

Tanpa terasa, sudah pukul enam pagi. Aku terbangun. Rupanya, bis sudah tiba di Lubuk Pakam. Artinya, sejam lagi aku sudah memasuki kota Medan. Cepat sekali. Padahal, bis masih sempat terhenti 40 menit di jalan karena pecah ban.

Akhirnya, pukul 08.00, bis tiba di stasiun Medan Jaya di jalan Jamin Ginting, Medan. Aku segera turun.

Ah, aku kembali berada di Kota Medan. Terakhir aku ke Medan pada bulan September 2005. Selengkapnya...

Selasa, 31 Januari 2006

SMS TAK TERDUGA

30 Januari 2006
Pukul 17.19 WIB

(+) Saya mohon pamit. Di metro cuma sampai senin depan. Mohon maaf segala kesalahan. Terima kasih atas kebersamaan.

(-) Mas, smsnya td sy terima saat mw wawancr dg wagub riau. sy langsg lemas mas. kok tiba2 sekali mas?

(+)Waaah. Kita akan tetap bersahabat. Sahabat selalu jadi sahabat, hingga akhir hayat.

(-) Wah, gak bener tuh mas. Sy sedih bgt gak bs satu tim lg dg mas uwo.

(+)Muantav. Semoga

(-) Baiklah mas. Dg rasa sedih yg sgt mendalam, sy berterima kasih bs satu tim dg mas selama ini. Suatu hr, kt hrs satu tim lg.

(+) Selengkapnya...

Jumat, 13 Januari 2006

ADAM YANG TIDAK ADEM

Hari Rabu, 4 Januari 2006, aku terbang ke Surabaya. Tiket yang kupegang adalah Adam Air penerbangan jam 09.30 WIB. Namun, karena terjebak macet di tol Kebon Jeruk, akhirnya akupun tiba di konter Adam Air pukul 09.04 WIB. Si petugas menolak melayani karena sudah telat. Aku berusaha memohon namun tidak ada respons. Akhirnya, seorang petugas datang menawarkan aku untuk naik pesawat Adam Air jam 11.00 WIB. Akupun dibawa ke bagian reservasi. Akhirnya, akupun naik Adam Air yang pukul 11.00 WIB dengan penambahan biaya 20% dari harga tiket.

Setelah oke, akupun langsung check in. Tiga barang-barang aku masukkan ke bagasi. Beres proses check in, aku pun segera menuju ruang tunggu keberangkatan di C6. Lumayan gak enak juga menunggu hampir 2 jam. Namun, aku mengakui inilah akibat kesalahan yang aku perbuat. Aku berusaha menerimanya.

Lewat pukul 11.00 WIB, aku pun berangkat ke Surabaya. Tidak ada yang aku lakukan selama penerbangan. Apalagi, jarak bangku yang aku duduki dengan bangku di depanku, sangat sempit. Aku berusaha tidur, namun tidak bisa. Akhirnya, aku hanya curi-curi pandang ke pramugari yang sering hilir mudik di dalam pesawat.

Sejam kemudian aku tiba di Bandara Juanda. Aku termasuk penumpang yang paling cepat turun sehingga paling pertama juga masuk ke ruang pengambilan bagasi. Ternyata begitu aku masuk ke ruang itu, tiga barang yang tadi aku masukkan ke dalam bagasi, sudah ada di sana. Rupanya, barang-barangku tetap naik pesawat jam 09.30 WIB!!!!!

Minggu, 8 Januari 2006,aku kembali ke jakarta. Aku kembali naik Adam Air, karena memang tiket yang aku beli PP adalah Adam Air. Aku naik pesawat pukul 17.15 WIB. Kali ini aku tiba di konter check in pukul pukul 16.30 WIB. Artinya, aku tiba 45 menit sebelum berangkat. Namun apa yang terjadi. Menurut petugas, kursi sudah penuh. Bagaimana ini? Bagaimana mungkin aku tidak dapat bangku kalau aku sudah pegang tiket. Aku akan dibantu untuk berangkat dengan pesawat pukul 19.00 WIB. Tidak bisa! Aku harus berangkat pukul lima! Akhirnya, aku dipindahkan ke pesawat Batavia Air pukul lima.

Oh,Adam yang tidak adem.... Selengkapnya...

Senin, 09 Januari 2006

SELAMAT DATANG BENCANA

Hari Minggu, 1 Januari 2006, seharusnya menjadi hari yang bahagia. Ini adalah hari pertama pada tahun 2006. Kalau kita memulai langkah dengan ceria, akan semakin menguatkan kita untuk terus melangkah pada 364 hari lainnya. Namun, kalau memulainya saja dengan kesedihan, maka kesedihan-kesedihan lain akan terus membayangi kita hingga hari terakhir pada tahun 2006 ini. Memang sih, tidak ada jaminan. Namun, ibarat pengobatan dukun yang tidak ada kajian keampuhannya, hal ini juga akan mendatangkan sugesti pada kita.

Ini juga yang terjadi Jember, Jawa Timur. Pada hari pertama di tahun 2006, tepatnya pukul 22.00 WIB, terjadi banjir bandang di Jember. Sekitar 120 orang tewas dengan kerugian mencapai miliaran rupiah.

Hari Rabu, 4 Januari 2006, akupun terbang ke Surabaya untuk kemudian menuju Jember. Selama lima hari aku mengamati apa yang telah terjadi di Jember. Selengkapnya...