Selasa, 21 Februari 2006

INI MEDAN, BUNG!

Baru tanggal 2 Februari 2006 lalu aku pergi ke Medan, Sumatera Utara. Memang sih, gak lama. Cuma dua hari. Tapi, lumayan mengobati rasa kangen untuk melihat-lihat kondisi kota terbesar di Sumatera itu.

Rupanya, aku bernasib baik. Aku kembali mendapatkan kesempatan pergi ke Medan. Bahkan, kali ini cukup lama, sepuluh hari. Memang sih, gak selama ini aku di Medan. Aku juga akan berkeliling ke sejumlah daerah di Sumatera Utara.

Bahkan, aku juga mungkin akan pergi ke Aceh Tenggara. Aha... inilah pertama kalinya aku akan pergi ke salah satu kabupaten di Aceh tersebut. Sudah lama Kutacane, ibukota Kabupaten Aceh Tenggara, akrab di telingaku. Mungkin sejak aku kecil. Namun, baru kali ini aku akan pergi ke sana. Penasaran juga ingin segera tiba di sana. Daerah Aceh Tenggara selama ini dikenal sebagai sumber utama Ganja di Aceh. Untung aku bukan penggemar daun yang memabukkan itu. Jadi, yah... tidak perlu khawatirlah akan mencicipinya. Hehehe...

Yang mengasyikkan, untuk menuju Aceh Tenggara, jalan yang harus aku lalui adalah lewat Tanah Karo. Nah... ini juga yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, Tanah Karo adalah kampung halamanku.

Mejuah-juah kita kerina..... Selengkapnya...

Senin, 20 Februari 2006

BANTEN LAMA

Hari jumat, 17 Februari 2006, aku berangkat menuju Banten. Aku terlelap tidur sepanjang jalan. Aku baru bangun ketika mobil mengisi BBM di tempat peristirahatan di KM 70an Jl Tol Jakarta-Merak. Setelah sekitar satu setengah jam berjalan, akhirnya aku tiba di Serang, ibukota Banten.

Sekitar pukul 16.00 WIB aku tiba di kawasan Banten Lama. Sampai hari ini aku tidak paham, mengapa kawasan ini disebut Banten Lama. Apakah itu nama desa? sepertinya bukan. Nama kecamatan? Ah, bukan juga. Lalu mengapa?

"Di sini dulunya bekas ibukota kerajaan Banten yang kemudian dihancurkan penjajah." kata orang yang menemani aku. Aku hanya bisa menerima informasi itu. Untuk menyanggahnya aku tidak punya argumen apa-apa tentang Banten Lama. Akhirnya, aku berusaha melihat apa saja yang bisa membenarkan ucapan kawan itu.

Di kiri-kanan jalan aku melihat banyak bangunan yang sepertinya peninggalan jaman dulu. Hampir semuanya sudah hancur. Yang tersisa hanya dinding-dinding yang hampir tidak berbentuk lagi.

Menjelang pukul lima sore, aku tiba di sebuah kelenteng di Banten Lama. Dari sini, aku berjalan menuju ke perkampungan yang ada di belakang kelenteng. Tampaknya masyarakatnya hidup sangat sederhana. Paling tidak, kondisi rumah mereka membuktikan hal ini. Perkampungan ini tidak begitu jauh lagi dari laut. Bahkan, air laut sudah masuk ke dalam tanah di daerah ini.

Yang membuat terkenal perkampungan ini adalah, banyaknya barang-barang keramik cina ditemukan di dalam tanah di sana. Pecahan keramik-keramik Cina yang berumur ratusan tahun bisa ditemukan di mana-mana. Baik di sekitar perkampungan, kebun, ataupun di sekitar kolam-kolam ikan. Untuk mendapatkan pecahan berkilo-kilo sepertinya hanya butuh waktu sejam.

Bertahun-tahun warga di sini menggali tanah untuk mencari keramik-keramik yang masih utuh. Tapi, mereka selalu sial. Menurut pengakuan warga, hanya satu banding seribu keramik yang masih utuh ditemukan. Namun, warga di sini tidak putus asa. Mereka terus menggali dan menggali. Namun, lagi-lagi keberuntungan belum datang. Selalu keramik pecah yang mereka temukan, yang satu kilonya hanya laku 300 perak. Namun, mereka terbuai oleh janji para kolektor benda purbakala yang mengaku akan membeli setiap keramik utuh 2 juta perbuah yang ditemukan warga. Selengkapnya...

Minggu, 12 Februari 2006

AKU PUAS!


PEMBALAKAN LIAR DI HUTAN RAMAH MELAYU Metro TV, Selasa, 7 Februari 2006 Pukul 22.30 WIB
Respons: luar biasa Selengkapnya...

Jumat, 10 Februari 2006

RIAU YANG MERANA

Jumat, 27 Januari 2005, sekitar pukul 20.00 WIB, Ford Ranger yang aku sewa, melesat meninggalkan kota Pekanbaru. Sungguh tidak nyaman duduk di bangku belakang. Bagaimana tidak, sandaran tidak bisa dimiringkan. Karena itu, badanku terpaksa selalu tegap. Di sampingku duduk seorang perempuan cantik. Bagaimana tidak cantik, dia adalah seorang finalis Putri Indonesia 2005. Paling tidak, ketidaknyamananku duduk di bangku belakang, bisa sedikit terobati dengan acara ngobrol bersama si perempuan ini.

sambungannya nanti dulu ya...
lg gak mood nih Selengkapnya...

Rabu, 01 Februari 2006

PEKAN BARU-MEDAN


Sekitar pukul 19.00, aku tiba di stasiun bus Medan Jaya di Jalan Nangka, Pekanbaru, Riau. Kupikir bis akan telat berangkat seperti jadwal bis luarkota pada umumnya. Namun, rupanya, bis yang mau aku naiki sudah mau berangkat. Bis tinggal menunggu aku yang sudah telat tiba. Ah, pesawat terbang aja tidak ada yang on time. Ini bis gitu loh. Hebat... hebat....

Aku duduk di bangku pertama di sebelah kiri bis. Kuperhatikan si sopir. Orangnya kurus dan sepertinya sudah cukup berumur. Mudah-mudahan pandangan matanya masih bagus dalam mengemudikan bis hingga sampai di Medan. Kalau tidak ada hambatan, biasanya dalam waktu 12 jam, aku sudah tiba di Medan.

Ini adalah perjalanan pertamaku naik bis dari Pekanbaru ke Medan. Dulu aku memang beberapa kali ke Medan lewat darat. Tapi, kini aku sudah lupa bagaimana kondisi jalan.


Setelah berhenti di sebuah rumah makan sekitar pukul 20.30 WIB, bis kembali melanjutkan perjalanan ke Medan. Aku sedikit gemetaran duduk di depan. Bagaimana tidak, si sopir membawa kendaraan begitu cepat. Tidak ada kendaraan yang mendahului bis Medan Jaya yang aku naiki ini. Justru sebaliknya. Setiap kendaraan pasti disalib.

Kalau lebar jalan seperti jalan tol mungkin tidak ada masalah. Tapi, lebar jalan Pekanbaru-Medan, hanya pas untuk dua kendaraan besar. Karena itu, mungkin hanya orang gila yang berani menyalip di jalan seperti ini. Sebab, yang disalip adalah truk atau bis juga. Jarak badan bus dengan kendaraan yang disalip, menurut aku, tidak lebih dari 10 cm. Rapat sekali. Sudah begitu, badan jalan tidak mulus alias berlobang di sana sini. Tak jarang ban bus harus turun ke tanah untuk menyalip.

"Wah, kalau begini, tinggal nunggu kapan bersenggolan saja." kataku dalam hati. Rupanya, apa yang aku takutkan ini, hampir menjadi kenyataan. Suatu saat, bus mau menyalip sebuah truk. Sedangkan jalan tidak mulus. Namun, si sopir tetap nekat. Akibatnya, kaca spion bus menyenggol bagian kepala truk. Kedua badan kendaraan juga hanya berselisih 5 cm. Si sopir sempat membuang bis sedikit ke kanan. Kalau tidak, mungkin keduanya sudah saling menyenggol. Aku hanya bisa menahan napas melihat peristiwa ini. Tak lama bersalang, aku melihat si sopir hanya tertawa-tawa dengan si kernetnya.

Kalau sudah begini, mana mungkin aku bisa menikmati perjalanan ini. Sebab, si sopir tetap menjalankan bis begitu cepat. Tidak peduli jalan berlobang atau tidak. Namun, mungkin karena bis masih baru, sehingga tetap nyaman di atasnya.

Aku berusaha tidur, tapi tetap tidak bisa. Mataku selalu menatap ke depan sambil membayangkan ngerinya naik bis ini. Aku akhirnya mengambil selimut yang memang disedikana pada setiap bangku. Aku menutupi badan dari kepala hingga ke paha dengan selimut. Akkhirnya, aku pun tertidur pulas.

Tanpa terasa, sudah pukul enam pagi. Aku terbangun. Rupanya, bis sudah tiba di Lubuk Pakam. Artinya, sejam lagi aku sudah memasuki kota Medan. Cepat sekali. Padahal, bis masih sempat terhenti 40 menit di jalan karena pecah ban.

Akhirnya, pukul 08.00, bis tiba di stasiun Medan Jaya di jalan Jamin Ginting, Medan. Aku segera turun.

Ah, aku kembali berada di Kota Medan. Terakhir aku ke Medan pada bulan September 2005. Selengkapnya...