Senin, 20 Februari 2006

BANTEN LAMA

Hari jumat, 17 Februari 2006, aku berangkat menuju Banten. Aku terlelap tidur sepanjang jalan. Aku baru bangun ketika mobil mengisi BBM di tempat peristirahatan di KM 70an Jl Tol Jakarta-Merak. Setelah sekitar satu setengah jam berjalan, akhirnya aku tiba di Serang, ibukota Banten.

Sekitar pukul 16.00 WIB aku tiba di kawasan Banten Lama. Sampai hari ini aku tidak paham, mengapa kawasan ini disebut Banten Lama. Apakah itu nama desa? sepertinya bukan. Nama kecamatan? Ah, bukan juga. Lalu mengapa?

"Di sini dulunya bekas ibukota kerajaan Banten yang kemudian dihancurkan penjajah." kata orang yang menemani aku. Aku hanya bisa menerima informasi itu. Untuk menyanggahnya aku tidak punya argumen apa-apa tentang Banten Lama. Akhirnya, aku berusaha melihat apa saja yang bisa membenarkan ucapan kawan itu.

Di kiri-kanan jalan aku melihat banyak bangunan yang sepertinya peninggalan jaman dulu. Hampir semuanya sudah hancur. Yang tersisa hanya dinding-dinding yang hampir tidak berbentuk lagi.

Menjelang pukul lima sore, aku tiba di sebuah kelenteng di Banten Lama. Dari sini, aku berjalan menuju ke perkampungan yang ada di belakang kelenteng. Tampaknya masyarakatnya hidup sangat sederhana. Paling tidak, kondisi rumah mereka membuktikan hal ini. Perkampungan ini tidak begitu jauh lagi dari laut. Bahkan, air laut sudah masuk ke dalam tanah di daerah ini.

Yang membuat terkenal perkampungan ini adalah, banyaknya barang-barang keramik cina ditemukan di dalam tanah di sana. Pecahan keramik-keramik Cina yang berumur ratusan tahun bisa ditemukan di mana-mana. Baik di sekitar perkampungan, kebun, ataupun di sekitar kolam-kolam ikan. Untuk mendapatkan pecahan berkilo-kilo sepertinya hanya butuh waktu sejam.

Bertahun-tahun warga di sini menggali tanah untuk mencari keramik-keramik yang masih utuh. Tapi, mereka selalu sial. Menurut pengakuan warga, hanya satu banding seribu keramik yang masih utuh ditemukan. Namun, warga di sini tidak putus asa. Mereka terus menggali dan menggali. Namun, lagi-lagi keberuntungan belum datang. Selalu keramik pecah yang mereka temukan, yang satu kilonya hanya laku 300 perak. Namun, mereka terbuai oleh janji para kolektor benda purbakala yang mengaku akan membeli setiap keramik utuh 2 juta perbuah yang ditemukan warga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar