Rabu, 01 Februari 2006

PEKAN BARU-MEDAN


Sekitar pukul 19.00, aku tiba di stasiun bus Medan Jaya di Jalan Nangka, Pekanbaru, Riau. Kupikir bis akan telat berangkat seperti jadwal bis luarkota pada umumnya. Namun, rupanya, bis yang mau aku naiki sudah mau berangkat. Bis tinggal menunggu aku yang sudah telat tiba. Ah, pesawat terbang aja tidak ada yang on time. Ini bis gitu loh. Hebat... hebat....

Aku duduk di bangku pertama di sebelah kiri bis. Kuperhatikan si sopir. Orangnya kurus dan sepertinya sudah cukup berumur. Mudah-mudahan pandangan matanya masih bagus dalam mengemudikan bis hingga sampai di Medan. Kalau tidak ada hambatan, biasanya dalam waktu 12 jam, aku sudah tiba di Medan.

Ini adalah perjalanan pertamaku naik bis dari Pekanbaru ke Medan. Dulu aku memang beberapa kali ke Medan lewat darat. Tapi, kini aku sudah lupa bagaimana kondisi jalan.


Setelah berhenti di sebuah rumah makan sekitar pukul 20.30 WIB, bis kembali melanjutkan perjalanan ke Medan. Aku sedikit gemetaran duduk di depan. Bagaimana tidak, si sopir membawa kendaraan begitu cepat. Tidak ada kendaraan yang mendahului bis Medan Jaya yang aku naiki ini. Justru sebaliknya. Setiap kendaraan pasti disalib.

Kalau lebar jalan seperti jalan tol mungkin tidak ada masalah. Tapi, lebar jalan Pekanbaru-Medan, hanya pas untuk dua kendaraan besar. Karena itu, mungkin hanya orang gila yang berani menyalip di jalan seperti ini. Sebab, yang disalip adalah truk atau bis juga. Jarak badan bus dengan kendaraan yang disalip, menurut aku, tidak lebih dari 10 cm. Rapat sekali. Sudah begitu, badan jalan tidak mulus alias berlobang di sana sini. Tak jarang ban bus harus turun ke tanah untuk menyalip.

"Wah, kalau begini, tinggal nunggu kapan bersenggolan saja." kataku dalam hati. Rupanya, apa yang aku takutkan ini, hampir menjadi kenyataan. Suatu saat, bus mau menyalip sebuah truk. Sedangkan jalan tidak mulus. Namun, si sopir tetap nekat. Akibatnya, kaca spion bus menyenggol bagian kepala truk. Kedua badan kendaraan juga hanya berselisih 5 cm. Si sopir sempat membuang bis sedikit ke kanan. Kalau tidak, mungkin keduanya sudah saling menyenggol. Aku hanya bisa menahan napas melihat peristiwa ini. Tak lama bersalang, aku melihat si sopir hanya tertawa-tawa dengan si kernetnya.

Kalau sudah begini, mana mungkin aku bisa menikmati perjalanan ini. Sebab, si sopir tetap menjalankan bis begitu cepat. Tidak peduli jalan berlobang atau tidak. Namun, mungkin karena bis masih baru, sehingga tetap nyaman di atasnya.

Aku berusaha tidur, tapi tetap tidak bisa. Mataku selalu menatap ke depan sambil membayangkan ngerinya naik bis ini. Aku akhirnya mengambil selimut yang memang disedikana pada setiap bangku. Aku menutupi badan dari kepala hingga ke paha dengan selimut. Akkhirnya, aku pun tertidur pulas.

Tanpa terasa, sudah pukul enam pagi. Aku terbangun. Rupanya, bis sudah tiba di Lubuk Pakam. Artinya, sejam lagi aku sudah memasuki kota Medan. Cepat sekali. Padahal, bis masih sempat terhenti 40 menit di jalan karena pecah ban.

Akhirnya, pukul 08.00, bis tiba di stasiun Medan Jaya di jalan Jamin Ginting, Medan. Aku segera turun.

Ah, aku kembali berada di Kota Medan. Terakhir aku ke Medan pada bulan September 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar