Sabtu, 18 Maret 2006

THE UNFORGIVEN


Perhatianku sejenak berhenti dari pekerjaan. Dari layar Global TV, terdengar lagu The Unforgiven yang dinyanyikan oleh Metallica. Sudah lama sekali aku tidak mendengar lagu ini. Apalagi melihat videoklipnya yang serba hitam putih itu. Aku pun segera mengeraskan volume suara tv. Aku menikmati videoklip yang sangat lawas itu hingga habis.

Saat menikmati, alam pikiranku melayang jauh ke tahun 1995. Aku masih ingat harinya, hari Jumat. Saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMA. Hari itu, grup Metallica datang ke Jakarta untuk melakukan konser di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada hari Sabtunya.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sepulang sekolah, aku segera menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk melihat kedatangan Metallica. Aku pergi bersama Desmond Siahaan, sobat yang punya satu rasa dan satu ide denganku. Aku sudah mendapatkan jam kedatangan Metallica di Jakarta dari Majalah HAI. Saat itu, majalah itu memang selalu kuandalkan dalam hal musik.

Aku menunggu kedatangan Metallica di terminal kedatangan. Aku juga sudah melihat sejumlah kru penjemput. Berarti aku belum terlambat. Apalagi, beberapa wartawan juga ada di sini. Aku pun menempel pada mereka agar tidak terlewat melihat kedatangan Metallica. Oya, aku juga sudah membawa poster Metallica yang dimuat Majalah HAI.

Lama-kelamaan, terminal kedatangan penuh sesak oleh para penggemar Metallica. Rata-rata anak muda dan memakai baju hitam. Aku sendiri tidak. Areal bandara pun jadi hiruk pikuk.

Tiba-tiba saja suasana menjadi kacau. Orang-orang berteriak-teriak. "Mereka lewat atas. Mereka lewat atas." teriak seseorang yang sepertinya adalah penggemar Metallica juga. Semua orang yang memang menunggu kedatangan Metallica, langsung naik tangga menuju lantai dua, yang merupakan terminal keberangkatan. Rupanya, panitia mengalihkan para personil Metallica setelah melihat banyaknya penggemar yang menunggu di terminal kedatangan.

Aku hanya melihat sekilas para personil Metallica. Jangankan meminta tanda tangan pada poster yang aku bawa, mendekat saja tidak bisa lagi karena sudah keburu mereka masuk ke dalam mobil. Sang kawan, desmond siahaan, juga kecewa berat. Bagaimana tidak, ia sudah membawa kamera Canonnya yang telah diisi film hasil patungan kami.

Tapi, bagaimanapun ini adalah sebuah pengalaman berharga untukku. Lain kali, aku sudah lebih pintar dalam menghadapi momen seperti ini.

Hidup Metal.....
NB: Mond, apa kabarmu di Ausii?


The Unforgiven

and quickly he's subdued
through constant pain disgrace
with time the child draws in
this whipping boy done wrong
the young man struggles on and on he's known
a vow unto his own
his will they'll take away
what I've felt

never shined through in what I've shown
never be
won't see what might have been
what I've felt
never shined through in what I've shown
never free
so I dub thee unforgiven
they dedicate their lives

he tries to please them all
this bitter man he is
he's battled constantly
this fight he cannot win
the old man then prepares
to die regretfully
what I've felt
what I've known

never be
never see
what I've felt
what I've known
never free
never me
you labeled me
I'll label you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar