Minggu, 30 April 2006

SELAMAT JALAN, PRAM!

Pramoedya Ananta Toer akhirnya meninggal dunia. Ia memang sudah lama sakit. Ia sempat dirawat di rumah sakit sejak hari Kamis lalu. Namun, pihak keluarga kembali membawa lelaki kelahiran 6 Februari 1925 itu, ke rumah pada hari Sabtu karena permintaan Pram sendiri. Akhirnya, iapun meninggal dunia di rumah pada hari Minggu ini, pukul 09.00 WIB. Barangkali, Pram memang sudah tahu apa kehendak sang Pencipta padanya. Karena itu, ia ingin meninggalkan dunia yang kejam ini, ketika berada di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Aku terakhir kali melihat artikel tentang sang pujangga, di majalah Playboy Indonesia, awal April lalu. Aku banyak tahu mengenai Pram dalam wawancaranya itu. Yang paling aku ingat adalah tentang keluarnya yang hampir semuanya meninggal dunia karena sakir TBC. Aku juga tahu kalau ia hanya mengisi hari-hari tuanya dengan menyapu halaman sambil merokok. Sebuah kebiasaan yang sangat unik.

Selamat jalan, Pram….. Selengkapnya...

Selasa, 25 April 2006

MEREKA MASIH SEPERTI DULU


Orang-orang itu masih ada di sana. Tiada yang berubah. Masih sama saja. Mungkin hanya satu yang berubah pada mereka, yakni jabatan yang kini mereka sandang. Mereka juga masih mengenali aku. Mungkin mereka hanya lupa dengan namaku, seperti aku juga sudah lupa beberapa nama mereka.
Aku memang sudah lama tidak berkunjung ke sana. Aku sendiri sudah lupa kapan terakhir datang. Kalau tidak salah, terakhir aku kesana, sekitar satu setengah tahun lalu. Itu juga hanya singgah sebentar, sehingga hanya sedikit orang saja yang aku jumpai di sana. Namun, hari ini, aku berjumpa banyak orang. Orang-orang lama yang dulu sudah kukenal.
Aku mengenal mereka sejak tahun 1998. Dan, aku hampir setiap hari bertemu mereka, sampai aku harus tidak ke sana lagi pada tahun 2001. Cukup banyak kenangan yang aku rasakan selama kurun waktu tiga tahun itu. Dari kenangin manis, pahit, hambar, asam, pedas, sampai yang tidak berasa. Semua masih terekam baik di memori ini. Tidak ada yang terhapus. Karena, aku memang tidak ingin menghapusnya. Aku ingin tetap mengenangnya. Aku tetap ingin mengenang setiap jejak kakiku yang ada di sana.
Aku bertemu lagi dengan dia. Akupun tahu kalau dia sudah punya anak. Bentuk tubuhnya memang menunjukkan hal itu. Dia sedikit agak gemuk, seperti wanita lain yang sudah melahirkan anak. Aku berusaha ramah padanya, dan dia pun membalas keramahanku. Sekitar sepuluh menit kami berbicara. Aku masih melihat senyuman manis yang dulu sering aku lihat setiap aku jumpa dengannya.
Aku juga kembali bertemu dengan dia yang lain. Dia tidak berubah, kecuali rambutnya sudang panjang. Yang lainnya sama saja. Dia pun masih cantik, seperti yang dulu.
Dan, seminggu ini, mungkin aku akan setiap hari pergi ke tempat itu....
Selengkapnya...

Minggu, 23 April 2006

PEREMPUAN MANIS BERTANDUK


TIESTO
Live in Concert
Pantai Ancol-Jakarta

Sabtu, 22 April 2006
Selengkapnya...

Jumat, 21 April 2006

APA ITU KARTINI?


Hari ini, Jumat, 21 April, adalah hari bersejarah di negeri ini. Hari ini diperingati sebagai hari kartini. Kartini adalah nama seorang perempuan yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Nama lengkapnya Raden Ajeng Kartini. Perempuan berdarah Jawa itu memang lahir pada tanggal 21 April. Ia disebut-sebut sebagai pelopor emansipasi wanita di negeri ini. Perempuan harus sama kedudukannya dengan pria. Begitulah arti dari emansipasi itu. Ada bukunya yang sangat terkenal, berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Itulah sejarah yang aku dapat sejak SD tentang Kartini. Aku juga masih ingat, dulu, setiap tanggal 21 harus ikut pawai keliling satu kelurahan setiap tanggal 21 April. Pihak sekolah mengharuskan kami untuk memakai baju daerah. Namun, aku gak tidak pernah menurutinya. Karena itu, aku selalu berbaris di belakang saat pawai. Yang berjalan di depan khusus bagi teman-temanku yang memakai baju daerah. Orang-orang berdiri di pinggir jalan untuk menonton kami berjalan di terik matahari yang sangat panas.

Sampai sekarang, masih banyak orang memperingati hari kartini dengan apa yang aku alami sekitar 20 tahun lalu. Tadi pagi, beberapa sopir busway memakai kebaya saat mensopiri bus Transjakarta. Hampir semua penyiar di teve juga memakai baju kebaya. Untung aja para wanita penghibur yg biasa mangkal di sepanjang jalan Hayam Wuruk jakarta, tidak ikut-ikutan memakai baju kebaya.

Rupanya, cara orang memperingati hari Kartini tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Selamat Hari Kartini, untukmu, wahai para Perempuan Indonesia.... Selengkapnya...

Selasa, 18 April 2006

SETO MENCARI BAPAK


Pria itu datang dan berdiri di tengah panggung. Ia lalu mengambil lembaran kertas yang tersusun dari di atas papan. Dibukanya klip penjempit kertas dan membuangnya ke lantai. Ia pun mulai maju agak ke depan. Sebentar kemudian, mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata. Baris demi baris puisi pun mengalir indah dari mulutnya. Suasananya segera sunyi senyap. Tidak ada yang bersuara. Semuanya berusaha mendengarkan kata-kata yang seperti mau membelah ruangan itu.

WS Rendra. Ia sedang mendendangkan puisi-pusinya malam ini di Taman Ismail Merzuki. Sekitar tujuhpuisi ia bacakan selama dua jam pas. Ratusan penonton begitu menikmati pertunjukkan dengan aktor satu orang ini. Riuhan tepuk tangan membahana setiap kali Rendra selesai membacakan puisinya. Mereke tertegun. Mereka terkesima.

Aku duduk persisi di bangku tengah. Posisiku persis di hadapan sang bintang. Baru kali ini aku menyaksikan pertunjukan sang pujangga ini. Aku tidak menyia-nyiakan ketika seorang teman mengajak pergi ke TIM untuk melihat sang bintang. Aku penasaran karena belum pernah melihat langsung WS Rendra membaca puisi dalam pertunjukan puisi. Kalau dalam acara biasa, dimana Rendra membacakan sepenggal puisi, sudah beberapa kali aku saksikan. Namun, ketika ia membacakan puisi-puisinya dalam waktu dua jam nonstop, aku belum pernah.

Aku berusaha konsentrasi mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut sang bintang. Mataku terpaku padanya. WS Rendra tidak hanya membaca puisi. Ia juga lihai bergerak untuk lebih mendiskripsikan isi pusinya. Beberapa kali penonton tertawa saat gerakan Rendra memang agak konyol dan lucu.

Puas bisa melihat si Burung Merak beraksi di depanku.... Selengkapnya...

TIARA LESTARI


Ia berdiri tak sampai semeter di depanku. Sekitar sepuluh menit ia ada di sana. Aku dapat memandangnya begitu leluasa. Rambut panjangnya tertata sangat rapi. Wajahnya begitu menarik untuk ditatap. Tak salah kalau ia menjadi model dunia. Aku tak dapat menentukan apakah ia memang cantik, manis, atau apa. Yang pasti, ada semacam aura yang dipancarkan wajahnya sehingga aku begitu ingin selalu menatapnya.

Setiap ada lensa kamera yang diarahnya padanya, wanita ini langsung bergaya. Sangat spontan. Mungkin ini sudah kebiasaan baginya, sehingga tidak bisa melihat ada kamera di depannya. Bahkan, walau hanya kamera handphone pun, ia segera bergaya. Gayanya sangat khas. Sangat sensual. Ada satu kesamaan dari setiap gayanya. Ia jarang sekali tersenyum atau memperlihatkan gigi ketika bergaya. Padahal, aku perhatikan, giginya tidak jelek-jelek amat kok.

Aku teus menatapnya. Oh... sungguh indah wanita yang ada di depanku ini. Ia indah walau tidak sedang berpose tanpa busana, seperti yang ia lakukan pada majalah Playboy edisi Spanyol, tahun 2005 lalu.

Ia pun berlalu dari hadapanku, meninggalkan sedikit impian nakal di otakku... Selengkapnya...

Senin, 10 April 2006

SMOGA ENGKAU CEPAT SEMBUH, SAHABAT


Ia terbaring di tempat tidur. Selang infus menancap di tangan kirinya. Selimut berwarna putih menutupi badannya. Mukanya tampak pucat. Badannya kurus. Berkali-kali ia batuk yang berkepanjangan. Terkadang ia hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika sedang batuk. Namun, ia juga sering menggunakan selembar kertas tisu. Ia tampak begitu tersiksa dengan apa yang sedang menderinya itu. Sahabat ini beberapa kali menangis. Ia bertanya, cobaan apa lagi yang Tuhan berikan padanya? Sebab, baru dua bulan lalu ia sembuh dari penyakit lain yang sekitar setahun lamanya harus ia lawan. Ia kembali menangis...

Aku kembali teringat dengan seorang kawan yang pernah menderita sakit yang sama dengan sahabat yang sedang dirawat itu. Ia juga seorang perempuan. Ia menderita penyakit 'itu' sekitar dua tahun lalu. Awalnya, ia tidak menyadari apa penyakitnya. Namun, karena tidak kunjung sembuh, ia mencari jawaban ke seorang dokter spesialis. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Ia divonis menderita penyakit 'itu'. Ia terpukul. Ia menjadi rendah diri. Ia takut dikucilkan keluarganya, teman-temannya, sahabat-sahabatnya, dan sang pacar.

Walau sebenarnya pengobatannya cukup mudah. Ia harus berobat selama enam bulan. Tidak boleh lupa minum obat satu kalipun. Sebab, kalo lupa, maka harus mengulang dari awal. Ia harus makan banyak. Ia juga tidak boleh terlalu dekat dengan siapapun. Ini yang membuatnya menjadi sangat rendah diri.

Ia tidak bisa berdekatan dengan sang pacar. Ia tidak bisa lagi menikmati ciuman sang pacar yang dulu sering ia dapatkan dikala mereka bertemu. Ia tidak bisa lagi berpandang-pandangan begitu dekat dengan sang pacar. Karena ia bisa menularkan bakteri kepada siapa saja yang dekat padanya. Ia tidak bisa lagi berbagi makanan dan minuman kepada sang pacar. Ia semakin jauh dari sang pacar.

Suatu hari, ia dan sang pacar pergi berdua untuk menikmati liburan. Namun, liburan akhirnya harus dibatalkan. Ia mengaku lupa membawa obat. Ia harus segera pulang. Kalau tidak, ia akan terlambat meminum obat untuk siang hari. Sang pacar menanyakan, apakah tidak bisa membeli di apotik terdekat saja. Ia pun menjawab tidak bisa. Mereka akhirnya terpaksa kembali pulang. Sang pacar kecewa saat itu. Sang pacar hanya diam sepanjang jalan. Diam, memendam rasa kecewanya.

Kini, ia sudah sembuh.

Namun, kini, seorang sahabat kembali menderita penyakit 'itu'.

Sahabat, smoga engkau cepat sembuh.... Selengkapnya...

Jumat, 07 April 2006

LARIS MANIS DI EDISI PERDANA


Hari ini, Jumat, 7 April 2006, boleh dikatakan hari bersejarah di Indonesia. Pada hari ini, edisi perdana Playboy rasa Indonesia, mulai beredar di tanah air. Orang-orang membicarakannya dimana-mana. Bagaimana tidak, rencana kehadiran Playboy Indonesia sudah menjadi gosip hangat sekitar empat bulan terakhir ini. Bahkan, unjuk rasa terjadi dari Sabang sampai Merauke. Padahal, saat itu Playboy Indonesia belum terbit. Orang-orang menentang terbitnya Playboy Indonesia. Menurut, mereka, Playboy tidak sesuai dengan cita rasa bangsa ini. Maklum saja, Playboy sebagai majalah telanjang, sudah menjadi cap yang begitu kuat pada majalah berlogo kelinci berdasi itu.

Aku termasuk orang yang sangat penasaran dengan Playboy rasa Indonesia tersebut. Jauh-jauh hari aku sudah memesan dua biji kepada tukang majalah yang ada di kantor. Bahkan, sejak dua hari lalu aku langsung membayar cash padanya. Rp 38.500 kali 2. Mengapa aku harus membeli dua majalah? Seperti yang tadi aku katakan, edisi perdana majalah yang ditentang habis-habisan ini, adalah sebuah sejarah di negeri ini. Satu majalah akan menjadi bacaan, sedangkan satu lagi akan ku simpan rapi. Harapanku, 20 tahun lagi majalah Playboy Indonesia edisi perdana ini akan menjadi barang langka. Siapa tahu laku satu miliar. Hehehe.... Majalah playboy edisi perdana di Amerika saja, menurut kabar, laku sekitar 5000 dolar di tangan kolektor. Itu kan sekitar 50 juta rupiah. Wah!

Hari ini, majalah Playboy Indonesia menjadi bahan omongan di seluruh ruangan kantor ini. Tukang majalah di sini mengaku membawa 200 biji hari ini. Dan, sampai siang tadi, sudah laku sekitar 140 majalah. Pantastis bukan Kabarnya, si penerbit mengaku mencetak sekitar 200 ribu majalah untuk edisi perdana ini. Aku yakin, semuanya akan ludes. Buat edisi kedua? Emang terbit? Hahaha.....

Lalu gimana dengan isinya? Hampir semuanya kecewa berat. Bagaimana tidak, isi Playboy Indonesia tidak ada bedanya dengan majalah-majalah sejenis di negeri ini. Bahkan, isinya kalah berani dengan majalah Popular atau FHM. Model depannya saja Andara, yang sebenarnya tidak seksi-seksi amat. Ternyata orang sudah keburu penasaran dengan kehadiran majalah ini. Dan, rasa penasaran tadi sudah terjawab. Kecewa... Selengkapnya...

Senin, 03 April 2006

CAP GARPU DARI PALEMBANG


Mendengar kata Palembang, yang terlintas di benak ini adalah preman-preman di kawasan Roxy, Jakarta Barat. Beberapa orang naik ke buskota dan mengaku baru saja keluar dari dalam penjara. Tampang mereka sangar-sangar dengan badan banyak tato-tato tidak jelas bentuknya. Mereka lantas meminta sejumlah uang kepada para penumpang. Daripada merampok dan menodong, mereka mengaku lebih baik hidup dengan cara 'mengemis' seperti itu. Daripada berususan dengan orang-orang seperti itu, tidak rugi 'membuang' uang seribu perak kepada orang-orang itu.

Dalam banyak kasus kriminal yang diungkap kepolisian di Jakarta, pelakunya banyak yang mengaku berasal dari Palembang. Karena itu, cap sebagai penghasil preman, melekat pada kota Palembang. Benarkah demikian?

Selama seminggu, aku berada di Palembang. Kesangaran yang telah terbangun di dalam otak, membuat aku sangat berhati-hati berada di kota itu. Apalagi, kawan yang menamani di Palembang juga banyak menceritakan kisah-kisah kriminal di kota itu. Yang paling terkenal adalah sebutan 'tuja', yang berarti menusuk. Tusukan ini sangat mematikan. Ada satu senjata yang populer di Palembang. Yaitu, semacam pisau yang sangat tajam. Merek yang paling terkenal adalah pisau cap Garpu.

Kata orang, Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera. Aku tidak tahu benar tidaknya rumor ini. Hanya saja, Palembang memang sebuah kota yang besar. Kota ini memiliki banyak jalan besar. Lampu merah juga banyak. Di beberapa lampu merah juga sering macet. Tapi, walau besar, jangan dulu berpikir Palembang hanya sedikit lebih kecil daripada Jakarta. Berada dua minggu di kota yang dibelah oleh sungai Musi ini, barangkali sudah cukup untuk menghapal seluruh jalan-jalan di Palembang.

Kalau sering memperhatikan bangunan-bangunan di pinggiran jalan kota Palembang, ada yang mengusik perhatian. Banyak sekali rumah makan padang di sana. Yang menggelitik, hampir seluruhnya memakai kata 'palapa'. Ada rumah makan Palapa Jaya, Palapa Indah, Palapa Raya, dan lain-lain. Hampir di setiap sisi jalan besar adanya saja rumah makan 'palapa' ini. Seorang pelayan rumah makan 'Palapa' di persimpangan Kertapati mengatakan, seluruh pemilik rumah makan yang memakai kata 'palapa' memang masih memiliki hubungan kekeluargaan. Tadinya aku berpikir, ini adalah sebuah bisnis waralaba.

Saat berangkat ke Palembang, aku membayangkan buah duku akan berlimpah di Palembang. Buah berwarna kulit kuning ke coklat-coklatan itu memang sedang musim di Jakarta. Kalau di supermarket dijual Rp10.000 perkilogram, aku berharap bisa membeli sekitar Rp4.000 di Palembang. Aku sudah membayangkan akan memakan buah duku setiap hari. Rupanya aku hanya bermimpi. Seminggu di Palembang, aku sama sekali tidak mendapati satu orang penjual dukupun di pinggiran jalan kota Palembang.

Lalu kenapa di Jakarta masih musim duku yang katanya, asli palembang. Kawan pun menjawab, orang mengenal duku palembang, nenas palembang, atau durian palembang. Tapi, sama sekali buah-buahan itu tidak ada di Palembang sendiri. Semuanya berasal dari beberapa daerah di Sumatera Selatan. Aku pun tidak jadi mencicipi duku Palembang. Buah yang mengandung banyak gula itu, baru bisa aku nikmati dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Aku membeli tiga kilogram ketika melintas di Lintas Timur arah Lampung. Satu kilogram dijual Rp7.000,-.

Teman mengajak makan pempek. Katanya, pempek ini paling enak se-Palembang. Tidak punya cabang di tempat lain. Aku sebenarnya malas mengikuti ajakannya itu. Yang aku harapkan, adalah makan nasi karena aku belum makan siang. Lagi pula, aku tidak begitu menyukai makanan khas Palembang itu. Hanya saja, aku sadar. Belum sampai ke Palembang kalau tidak makan pempek. Aku akhirnya mengamini ajakan kawan itu. Mobil pun segera bergerak menuju kawasan Plaju.

Mobil kemudian berbelok ke sebuah ruko. Rupanya inilah penjual pempek yang disebut-sebut kawan itu, terenak di Palembang. Namanya Fico. Aku pun duduk di bangku sebelah kanan ruangan. Seorang wanita cantik duduk di meja sebelah. Ia duduk bersama seorang cowok, yang menurut aku mungkin pacarnya. Aku tidak peduli. Sesekali aku mencuri-curi pandang ke wanita itu sebagai selingan menyegarkan pikiran.

Pelayan lalu membawa dua piring pempek. Aku mencoba satu, dan terasa enak. Aku coba lagi satu, masih enak. Tidak terasa, aku sudah menghabiskan empat pempek. Akhirnya aku mengikuti ajakan kawan itu, untuk memesan pempek model. Rupanya, pempek ini tidak beda jauh dengan pempek yang dijual para pedagang keliling pempek di Jakarta. Pempek dipotong-potong dan dicampur potongan tibun kecil-kecil. Pempek kemudian disajikan di dalam piring dengan kuah yang banyak. Aku menikmati pempek itu hingga habis. Terasa enak atau aku memamg sedang lapar. Aku tidak tahu jawabannya. Enak dan lapar memang sangat tipis perbedaannya. Ah... aku tidak peduli. Yang penting mengenyangkan bagi perutku. Selengkapnya...

Sabtu, 01 April 2006

CAKRAWALA

Tidak sengaja aku menonton ANTV sore ini pukul lima. Entah siapa yang mengganti saluran tv yang ada di depanku, sehingga yang terpampang di layar tv 29 inchi itu adalah ANTV. Tayangan berita bertajuk 'Cakrawala' sedang mengudara di stasiun tv yang beberapa waktu lalu, 20% sahamnya dibeli oleh raksana media dunia, Star TV.

Aku mengenal pembaca beritanya. Bagaimana tidak, ia pernah sekantor denganku. Bahkan, selama setahun aku satu tim dengannya. Sayangnya, sejak sebulan lalu, ia telah pindah ke stasiun tv yang kini sedang mengudara pada tv yang ada di depanku. Mengejar sebuah pengalaman baru adalah alasan bagi perempuan manis ini memutuskan untuk pindah kantor. Bagaimana tidak, posisi pembawa acara merangkap assiten produser dipegangnya di kantor barunya itu. Hari ini adalah pertama kali aku melihatnya tampil di stasiun tv itu. Tidak ada yang berubah pada dirinya. Balutan baju berwarna-warna abu tampak serasi pada wanita ini.

Berkali-kali aku pernah melakukan kerja sama peliputan dengan dara berdarah Minang ini. Suatu hari kami pernah melakukan peliputan di daerah Malang, Jawa Timur. Aku membawanya begadang hingga pukul tiga subuh demi mengejar sebuah momen, yang ternyata tidak ada alias momen itu tidak terjadi. Padahal, pukul tujuh pagi kami harus kembali bekerja. Aku harus memaksakan diri bangun pagi, tapi tidak baginya. Aku lumayan terkejut saat mendapati wanita ini sudah hampir selesai sarapan di restoran hotel dengan kondisi siap 'tempur'.

Pada kesempatan yang lain, kami pergi ke Aceh. Dari Medan, kami berangkat sore hari menuju Loksemawe lewat jalan darat, dan sampai di sana pukul dua pagi. Setelah istirahat selama lima jam, dan menjelang siang, kami menuju Takengkon, Aceh Tengah. Kami menyusuri markas GAM di tengah hutan dengan berjalan kaki selama empat jam. Kami harus naik turun bukit dan berjalan dibawah terik matahari yang luar biasa panasnya. Si perempuan ini terlihat begitu menikmati perjalanan yang cukup membahayakan tersebut. Bagaimana tidak, kami berjalan bersama sekitar sepuluh anggota GAM dengan membawa empat pucuk senjata api laras panjang. Entah apa yang terjadi bila pasukan TNI/Polri mengetahui perjalanan kami. "Untuk gw biasa treadmill," kata wanita ini sesampainya di lokasi tujuan ditengah hutan ketika semua orang mengomentarinya .

Kami bermalam di hutan beratapkan langit. Udara dingin menusuk tulang. Suara jangkrik dan binatang malam menemani kami di tengah hutan. Namun, si perempuan ini tidak terlihat berkeluh kesah. Ia sangat menikmati suasana, termasuk makan malam dengan nasi dengan sarden. Tawa dan canda menghiasai suasana 'kamping' itu. Ia tidak tersinggung walau sering kali ia menjadi objek obrolan. Bahkan, seringkali ia ikut memberi obrolan yang mengundang tawa. Kami akhirnya tidur berimpitan sekitar lima orang dengan hanya beralaskan selembar plastik. Untung saja tidak ada ular atau binantang buas lainnya, mendatangi kami ketika sedang terlelap tidur. Gangguan hanya terjadi sekitar pukul tiga subuh, saat dinginnya udara tidak bisa lagi terlawan. Api unggun terpaksa dibuat lagi untuk menghadapi udara dingin.

Terakhir, kami bekerja dalam satu tim di Riau. Selama seminggu, kami memantau operasi Illegal Logging di ranah Melayu itu. Melewati perjalanan selama tujuh jam di atas kendaraan 4x4 terlewati bersama wanita ini. Aku duduk disampinginya selama perjalanan. Lumayan menghibur. Apalagi, wangi farpumnya selalu tercium. Padahal kami tidak mandi selama dua hari. Hehehe..... Lagi-lagi, tidak ada keluhan dari mulut wanita yang sering mengucapkan kata 'ciye' ini. Yang justru keluar adalah keingintahuannya pada setiap momen yang dijumpai. Kalau dipikir-pikir, apa yang kami cari di Riau adalah sebuh pekerjaan yang sangat menantang bahaya. Sangat banyak orang yang tidak suka melihat kegiatan kami. Namun, tidak ada rasa takut pada wanita ini. Ia melaksanakan tugas dengan baik.

Si wanita ini sangat bagus kerja sama timnya. Ia mau berdiskusi tentang apapun. Dan, yang pasti, ia jarang mengeluh walau sedang dalam keadaan yang kurang baik. Melihat ia adalah seorang finalis Putri Indonesia 2005, tentu yang ada dibayangan orang adalah, rasa manja dan tidak mau susah. Namun, sifat ini tidak ada padanya. Aku bukan memuji, tapi ini yang aku rasakan sendiri.

Kini, ia tidak ada lagi dalam tim. Padahal, segudang rencana sudah disusun. Rupanya, semua rencana itu harus berjalan tanpa kehadirannya lagi.

Ah,... sudah lah. Aku mau minum Jack Daniel dulu.... Selengkapnya...