Sabtu, 01 April 2006

CAKRAWALA

Tidak sengaja aku menonton ANTV sore ini pukul lima. Entah siapa yang mengganti saluran tv yang ada di depanku, sehingga yang terpampang di layar tv 29 inchi itu adalah ANTV. Tayangan berita bertajuk 'Cakrawala' sedang mengudara di stasiun tv yang beberapa waktu lalu, 20% sahamnya dibeli oleh raksana media dunia, Star TV.

Aku mengenal pembaca beritanya. Bagaimana tidak, ia pernah sekantor denganku. Bahkan, selama setahun aku satu tim dengannya. Sayangnya, sejak sebulan lalu, ia telah pindah ke stasiun tv yang kini sedang mengudara pada tv yang ada di depanku. Mengejar sebuah pengalaman baru adalah alasan bagi perempuan manis ini memutuskan untuk pindah kantor. Bagaimana tidak, posisi pembawa acara merangkap assiten produser dipegangnya di kantor barunya itu. Hari ini adalah pertama kali aku melihatnya tampil di stasiun tv itu. Tidak ada yang berubah pada dirinya. Balutan baju berwarna-warna abu tampak serasi pada wanita ini.

Berkali-kali aku pernah melakukan kerja sama peliputan dengan dara berdarah Minang ini. Suatu hari kami pernah melakukan peliputan di daerah Malang, Jawa Timur. Aku membawanya begadang hingga pukul tiga subuh demi mengejar sebuah momen, yang ternyata tidak ada alias momen itu tidak terjadi. Padahal, pukul tujuh pagi kami harus kembali bekerja. Aku harus memaksakan diri bangun pagi, tapi tidak baginya. Aku lumayan terkejut saat mendapati wanita ini sudah hampir selesai sarapan di restoran hotel dengan kondisi siap 'tempur'.

Pada kesempatan yang lain, kami pergi ke Aceh. Dari Medan, kami berangkat sore hari menuju Loksemawe lewat jalan darat, dan sampai di sana pukul dua pagi. Setelah istirahat selama lima jam, dan menjelang siang, kami menuju Takengkon, Aceh Tengah. Kami menyusuri markas GAM di tengah hutan dengan berjalan kaki selama empat jam. Kami harus naik turun bukit dan berjalan dibawah terik matahari yang luar biasa panasnya. Si perempuan ini terlihat begitu menikmati perjalanan yang cukup membahayakan tersebut. Bagaimana tidak, kami berjalan bersama sekitar sepuluh anggota GAM dengan membawa empat pucuk senjata api laras panjang. Entah apa yang terjadi bila pasukan TNI/Polri mengetahui perjalanan kami. "Untuk gw biasa treadmill," kata wanita ini sesampainya di lokasi tujuan ditengah hutan ketika semua orang mengomentarinya .

Kami bermalam di hutan beratapkan langit. Udara dingin menusuk tulang. Suara jangkrik dan binatang malam menemani kami di tengah hutan. Namun, si perempuan ini tidak terlihat berkeluh kesah. Ia sangat menikmati suasana, termasuk makan malam dengan nasi dengan sarden. Tawa dan canda menghiasai suasana 'kamping' itu. Ia tidak tersinggung walau sering kali ia menjadi objek obrolan. Bahkan, seringkali ia ikut memberi obrolan yang mengundang tawa. Kami akhirnya tidur berimpitan sekitar lima orang dengan hanya beralaskan selembar plastik. Untung saja tidak ada ular atau binantang buas lainnya, mendatangi kami ketika sedang terlelap tidur. Gangguan hanya terjadi sekitar pukul tiga subuh, saat dinginnya udara tidak bisa lagi terlawan. Api unggun terpaksa dibuat lagi untuk menghadapi udara dingin.

Terakhir, kami bekerja dalam satu tim di Riau. Selama seminggu, kami memantau operasi Illegal Logging di ranah Melayu itu. Melewati perjalanan selama tujuh jam di atas kendaraan 4x4 terlewati bersama wanita ini. Aku duduk disampinginya selama perjalanan. Lumayan menghibur. Apalagi, wangi farpumnya selalu tercium. Padahal kami tidak mandi selama dua hari. Hehehe..... Lagi-lagi, tidak ada keluhan dari mulut wanita yang sering mengucapkan kata 'ciye' ini. Yang justru keluar adalah keingintahuannya pada setiap momen yang dijumpai. Kalau dipikir-pikir, apa yang kami cari di Riau adalah sebuh pekerjaan yang sangat menantang bahaya. Sangat banyak orang yang tidak suka melihat kegiatan kami. Namun, tidak ada rasa takut pada wanita ini. Ia melaksanakan tugas dengan baik.

Si wanita ini sangat bagus kerja sama timnya. Ia mau berdiskusi tentang apapun. Dan, yang pasti, ia jarang mengeluh walau sedang dalam keadaan yang kurang baik. Melihat ia adalah seorang finalis Putri Indonesia 2005, tentu yang ada dibayangan orang adalah, rasa manja dan tidak mau susah. Namun, sifat ini tidak ada padanya. Aku bukan memuji, tapi ini yang aku rasakan sendiri.

Kini, ia tidak ada lagi dalam tim. Padahal, segudang rencana sudah disusun. Rupanya, semua rencana itu harus berjalan tanpa kehadirannya lagi.

Ah,... sudah lah. Aku mau minum Jack Daniel dulu....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar