Senin, 03 April 2006

CAP GARPU DARI PALEMBANG


Mendengar kata Palembang, yang terlintas di benak ini adalah preman-preman di kawasan Roxy, Jakarta Barat. Beberapa orang naik ke buskota dan mengaku baru saja keluar dari dalam penjara. Tampang mereka sangar-sangar dengan badan banyak tato-tato tidak jelas bentuknya. Mereka lantas meminta sejumlah uang kepada para penumpang. Daripada merampok dan menodong, mereka mengaku lebih baik hidup dengan cara 'mengemis' seperti itu. Daripada berususan dengan orang-orang seperti itu, tidak rugi 'membuang' uang seribu perak kepada orang-orang itu.

Dalam banyak kasus kriminal yang diungkap kepolisian di Jakarta, pelakunya banyak yang mengaku berasal dari Palembang. Karena itu, cap sebagai penghasil preman, melekat pada kota Palembang. Benarkah demikian?

Selama seminggu, aku berada di Palembang. Kesangaran yang telah terbangun di dalam otak, membuat aku sangat berhati-hati berada di kota itu. Apalagi, kawan yang menamani di Palembang juga banyak menceritakan kisah-kisah kriminal di kota itu. Yang paling terkenal adalah sebutan 'tuja', yang berarti menusuk. Tusukan ini sangat mematikan. Ada satu senjata yang populer di Palembang. Yaitu, semacam pisau yang sangat tajam. Merek yang paling terkenal adalah pisau cap Garpu.

Kata orang, Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera. Aku tidak tahu benar tidaknya rumor ini. Hanya saja, Palembang memang sebuah kota yang besar. Kota ini memiliki banyak jalan besar. Lampu merah juga banyak. Di beberapa lampu merah juga sering macet. Tapi, walau besar, jangan dulu berpikir Palembang hanya sedikit lebih kecil daripada Jakarta. Berada dua minggu di kota yang dibelah oleh sungai Musi ini, barangkali sudah cukup untuk menghapal seluruh jalan-jalan di Palembang.

Kalau sering memperhatikan bangunan-bangunan di pinggiran jalan kota Palembang, ada yang mengusik perhatian. Banyak sekali rumah makan padang di sana. Yang menggelitik, hampir seluruhnya memakai kata 'palapa'. Ada rumah makan Palapa Jaya, Palapa Indah, Palapa Raya, dan lain-lain. Hampir di setiap sisi jalan besar adanya saja rumah makan 'palapa' ini. Seorang pelayan rumah makan 'Palapa' di persimpangan Kertapati mengatakan, seluruh pemilik rumah makan yang memakai kata 'palapa' memang masih memiliki hubungan kekeluargaan. Tadinya aku berpikir, ini adalah sebuah bisnis waralaba.

Saat berangkat ke Palembang, aku membayangkan buah duku akan berlimpah di Palembang. Buah berwarna kulit kuning ke coklat-coklatan itu memang sedang musim di Jakarta. Kalau di supermarket dijual Rp10.000 perkilogram, aku berharap bisa membeli sekitar Rp4.000 di Palembang. Aku sudah membayangkan akan memakan buah duku setiap hari. Rupanya aku hanya bermimpi. Seminggu di Palembang, aku sama sekali tidak mendapati satu orang penjual dukupun di pinggiran jalan kota Palembang.

Lalu kenapa di Jakarta masih musim duku yang katanya, asli palembang. Kawan pun menjawab, orang mengenal duku palembang, nenas palembang, atau durian palembang. Tapi, sama sekali buah-buahan itu tidak ada di Palembang sendiri. Semuanya berasal dari beberapa daerah di Sumatera Selatan. Aku pun tidak jadi mencicipi duku Palembang. Buah yang mengandung banyak gula itu, baru bisa aku nikmati dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Aku membeli tiga kilogram ketika melintas di Lintas Timur arah Lampung. Satu kilogram dijual Rp7.000,-.

Teman mengajak makan pempek. Katanya, pempek ini paling enak se-Palembang. Tidak punya cabang di tempat lain. Aku sebenarnya malas mengikuti ajakannya itu. Yang aku harapkan, adalah makan nasi karena aku belum makan siang. Lagi pula, aku tidak begitu menyukai makanan khas Palembang itu. Hanya saja, aku sadar. Belum sampai ke Palembang kalau tidak makan pempek. Aku akhirnya mengamini ajakan kawan itu. Mobil pun segera bergerak menuju kawasan Plaju.

Mobil kemudian berbelok ke sebuah ruko. Rupanya inilah penjual pempek yang disebut-sebut kawan itu, terenak di Palembang. Namanya Fico. Aku pun duduk di bangku sebelah kanan ruangan. Seorang wanita cantik duduk di meja sebelah. Ia duduk bersama seorang cowok, yang menurut aku mungkin pacarnya. Aku tidak peduli. Sesekali aku mencuri-curi pandang ke wanita itu sebagai selingan menyegarkan pikiran.

Pelayan lalu membawa dua piring pempek. Aku mencoba satu, dan terasa enak. Aku coba lagi satu, masih enak. Tidak terasa, aku sudah menghabiskan empat pempek. Akhirnya aku mengikuti ajakan kawan itu, untuk memesan pempek model. Rupanya, pempek ini tidak beda jauh dengan pempek yang dijual para pedagang keliling pempek di Jakarta. Pempek dipotong-potong dan dicampur potongan tibun kecil-kecil. Pempek kemudian disajikan di dalam piring dengan kuah yang banyak. Aku menikmati pempek itu hingga habis. Terasa enak atau aku memamg sedang lapar. Aku tidak tahu jawabannya. Enak dan lapar memang sangat tipis perbedaannya. Ah... aku tidak peduli. Yang penting mengenyangkan bagi perutku.

4 komentar:

  1. Info tentang pisau cap garpu dapat ditemukan juga di: http://produkbeda.com

    BalasHapus
  2. pisau cap garpu itu aslinya made in Germany.. sangat tajam dan berkualitas..sudah susah cari yg original.. di pisaunya itu ada lambang kayak trisula/garpu.. yg di Palembang saat ini adalah tiruan cap garpu yg asli buatan Jerman. tapi kualitasnya juga lumayan bagus, karena dulunya banyak dibuat dari bahan material yg berasal dari bahan per bekas mobil Jeep Willys yg banyak terdapat di Palembang

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Anonim2:13 PM

    skrng solingen alias cap garpu yg beredar di Indonesia sdh buatan lokal kawan... bukan lg impor dr Jerman hehehehe

    BalasHapus