Jumat, 07 April 2006

LARIS MANIS DI EDISI PERDANA


Hari ini, Jumat, 7 April 2006, boleh dikatakan hari bersejarah di Indonesia. Pada hari ini, edisi perdana Playboy rasa Indonesia, mulai beredar di tanah air. Orang-orang membicarakannya dimana-mana. Bagaimana tidak, rencana kehadiran Playboy Indonesia sudah menjadi gosip hangat sekitar empat bulan terakhir ini. Bahkan, unjuk rasa terjadi dari Sabang sampai Merauke. Padahal, saat itu Playboy Indonesia belum terbit. Orang-orang menentang terbitnya Playboy Indonesia. Menurut, mereka, Playboy tidak sesuai dengan cita rasa bangsa ini. Maklum saja, Playboy sebagai majalah telanjang, sudah menjadi cap yang begitu kuat pada majalah berlogo kelinci berdasi itu.

Aku termasuk orang yang sangat penasaran dengan Playboy rasa Indonesia tersebut. Jauh-jauh hari aku sudah memesan dua biji kepada tukang majalah yang ada di kantor. Bahkan, sejak dua hari lalu aku langsung membayar cash padanya. Rp 38.500 kali 2. Mengapa aku harus membeli dua majalah? Seperti yang tadi aku katakan, edisi perdana majalah yang ditentang habis-habisan ini, adalah sebuah sejarah di negeri ini. Satu majalah akan menjadi bacaan, sedangkan satu lagi akan ku simpan rapi. Harapanku, 20 tahun lagi majalah Playboy Indonesia edisi perdana ini akan menjadi barang langka. Siapa tahu laku satu miliar. Hehehe.... Majalah playboy edisi perdana di Amerika saja, menurut kabar, laku sekitar 5000 dolar di tangan kolektor. Itu kan sekitar 50 juta rupiah. Wah!

Hari ini, majalah Playboy Indonesia menjadi bahan omongan di seluruh ruangan kantor ini. Tukang majalah di sini mengaku membawa 200 biji hari ini. Dan, sampai siang tadi, sudah laku sekitar 140 majalah. Pantastis bukan Kabarnya, si penerbit mengaku mencetak sekitar 200 ribu majalah untuk edisi perdana ini. Aku yakin, semuanya akan ludes. Buat edisi kedua? Emang terbit? Hahaha.....

Lalu gimana dengan isinya? Hampir semuanya kecewa berat. Bagaimana tidak, isi Playboy Indonesia tidak ada bedanya dengan majalah-majalah sejenis di negeri ini. Bahkan, isinya kalah berani dengan majalah Popular atau FHM. Model depannya saja Andara, yang sebenarnya tidak seksi-seksi amat. Ternyata orang sudah keburu penasaran dengan kehadiran majalah ini. Dan, rasa penasaran tadi sudah terjawab. Kecewa...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar