Selasa, 18 April 2006

SETO MENCARI BAPAK


Pria itu datang dan berdiri di tengah panggung. Ia lalu mengambil lembaran kertas yang tersusun dari di atas papan. Dibukanya klip penjempit kertas dan membuangnya ke lantai. Ia pun mulai maju agak ke depan. Sebentar kemudian, mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata. Baris demi baris puisi pun mengalir indah dari mulutnya. Suasananya segera sunyi senyap. Tidak ada yang bersuara. Semuanya berusaha mendengarkan kata-kata yang seperti mau membelah ruangan itu.

WS Rendra. Ia sedang mendendangkan puisi-pusinya malam ini di Taman Ismail Merzuki. Sekitar tujuhpuisi ia bacakan selama dua jam pas. Ratusan penonton begitu menikmati pertunjukkan dengan aktor satu orang ini. Riuhan tepuk tangan membahana setiap kali Rendra selesai membacakan puisinya. Mereke tertegun. Mereka terkesima.

Aku duduk persisi di bangku tengah. Posisiku persis di hadapan sang bintang. Baru kali ini aku menyaksikan pertunjukan sang pujangga ini. Aku tidak menyia-nyiakan ketika seorang teman mengajak pergi ke TIM untuk melihat sang bintang. Aku penasaran karena belum pernah melihat langsung WS Rendra membaca puisi dalam pertunjukan puisi. Kalau dalam acara biasa, dimana Rendra membacakan sepenggal puisi, sudah beberapa kali aku saksikan. Namun, ketika ia membacakan puisi-puisinya dalam waktu dua jam nonstop, aku belum pernah.

Aku berusaha konsentrasi mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut sang bintang. Mataku terpaku padanya. WS Rendra tidak hanya membaca puisi. Ia juga lihai bergerak untuk lebih mendiskripsikan isi pusinya. Beberapa kali penonton tertawa saat gerakan Rendra memang agak konyol dan lucu.

Puas bisa melihat si Burung Merak beraksi di depanku....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar