Senin, 10 April 2006

SMOGA ENGKAU CEPAT SEMBUH, SAHABAT


Ia terbaring di tempat tidur. Selang infus menancap di tangan kirinya. Selimut berwarna putih menutupi badannya. Mukanya tampak pucat. Badannya kurus. Berkali-kali ia batuk yang berkepanjangan. Terkadang ia hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika sedang batuk. Namun, ia juga sering menggunakan selembar kertas tisu. Ia tampak begitu tersiksa dengan apa yang sedang menderinya itu. Sahabat ini beberapa kali menangis. Ia bertanya, cobaan apa lagi yang Tuhan berikan padanya? Sebab, baru dua bulan lalu ia sembuh dari penyakit lain yang sekitar setahun lamanya harus ia lawan. Ia kembali menangis...

Aku kembali teringat dengan seorang kawan yang pernah menderita sakit yang sama dengan sahabat yang sedang dirawat itu. Ia juga seorang perempuan. Ia menderita penyakit 'itu' sekitar dua tahun lalu. Awalnya, ia tidak menyadari apa penyakitnya. Namun, karena tidak kunjung sembuh, ia mencari jawaban ke seorang dokter spesialis. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Ia divonis menderita penyakit 'itu'. Ia terpukul. Ia menjadi rendah diri. Ia takut dikucilkan keluarganya, teman-temannya, sahabat-sahabatnya, dan sang pacar.

Walau sebenarnya pengobatannya cukup mudah. Ia harus berobat selama enam bulan. Tidak boleh lupa minum obat satu kalipun. Sebab, kalo lupa, maka harus mengulang dari awal. Ia harus makan banyak. Ia juga tidak boleh terlalu dekat dengan siapapun. Ini yang membuatnya menjadi sangat rendah diri.

Ia tidak bisa berdekatan dengan sang pacar. Ia tidak bisa lagi menikmati ciuman sang pacar yang dulu sering ia dapatkan dikala mereka bertemu. Ia tidak bisa lagi berpandang-pandangan begitu dekat dengan sang pacar. Karena ia bisa menularkan bakteri kepada siapa saja yang dekat padanya. Ia tidak bisa lagi berbagi makanan dan minuman kepada sang pacar. Ia semakin jauh dari sang pacar.

Suatu hari, ia dan sang pacar pergi berdua untuk menikmati liburan. Namun, liburan akhirnya harus dibatalkan. Ia mengaku lupa membawa obat. Ia harus segera pulang. Kalau tidak, ia akan terlambat meminum obat untuk siang hari. Sang pacar menanyakan, apakah tidak bisa membeli di apotik terdekat saja. Ia pun menjawab tidak bisa. Mereka akhirnya terpaksa kembali pulang. Sang pacar kecewa saat itu. Sang pacar hanya diam sepanjang jalan. Diam, memendam rasa kecewanya.

Kini, ia sudah sembuh.

Namun, kini, seorang sahabat kembali menderita penyakit 'itu'.

Sahabat, smoga engkau cepat sembuh....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar