Kamis, 08 Juni 2006

MENATAP LETUSAN GUNUNG MERAPI

Hari ini, Gunung Merapi mengeluarkan asap panas terbesar selama letusannya tahun ini. Orang di sekitar Gunung Merapi menyebutnya Wedhus Gembel. Mmm.... nama yang unik. Semua TV memberitakan fenomena alam ini berulang-ulang. Bahkan, Metro TV merasa perlu untuk melakukan Breaking News. Kepanikan masyarakat yang tinggal di kaki gunung terrekam dengan jelas di layar kaca.

Minggu lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 2 Juni 2006, aku sempat melihat letusan gunung Merapi. Aku tiba di kaki gunung ini, tepatnya di sebuah desa di Kecamatan Cangkringan, Sleman, Jogjakarta, sekitar pukul 01.00 WIB. Menurut kawan yang membawaku ke sana, lokasi kami hanya sekitar 10 km dari Merapi. Sebenarnya, kata kawan itu lagi, ada tempat yang lebih dekat yang bisa untuk melihat Merapi dengan jelas. Namun, perlu sejam lagi menuju ke sana dengan kendaraan bermotor. Kami tidak tertarik dengan ajakan sanga kawan, dan memutuskan untuk mengamati Gunung Merapi dari Cangkringan saja.

Ketika kami sampai, tidak ada yang bisa dilihat. Di sekeliling kami gelap gulita. Rupanya, kabut sedang menyelimuti Gunung Merapi. Kami pun hanya bisa menunggu sambil menikmati malam di kawasan Kaliurang. Sesekali aku membayangkan gunung Merapi di balik bukit. Padahal, aku sendiri belum tahu dimana sebenarnya posisi Gunung Merapi dari tempat kami bersantai-santai. Lucu juga.

Sekitar pukul 03.00 WIB, sesuatu terjadi. Aku mulai bisa melihat guguran lava dari puncak Gunung Merapi. Aku pun segera keluar dari mobil dan menatap ke atas. Ternyata benar juga. Posisi Merapi yang tadi aku bayangkan meleset dari posisi sebenarnya. Warna lava Merapi merah menyala. Sangat menakjubkan. Inilah pertama kali aku melihat lava dengan mata telanjang. Selama ini, aku hanya tahu lava dari buku atau televisi. Namun, kali ini ada langsung di depan mataku. Karena Gunung Merapi masih ditutupi kabut, maka guguran lava bagai cat warna merah yang menetes di kanvas warna hitam. Oh.... sungguh indah sekali.

Kata kawan yang bersama kami, Gunung Merapi biasanya terlihat jelas mulai pukul setengah enam pagi sampai pukul sembilan. Setelah itu biasanya kembali ditutupi kabut. Informasi ini semakin memacuku untuk tetap bertahan di Kaliurang sampai pagi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin hanya sekali ini saja kesempatanku untuk melihat Gunung Merapi meletus. Apalagi, besok paginya aku harus kembali ke Jakarta. Biarlah malam ini aku begadang saja sambil menikmati keindahan letusan Gunung Merapi.

Rupanya, informasi kawan tadi sangat tepat. Menjelang pukul enam pagi, kabut mulai minggir dari Merapi. Akupun mulai bisa melihat wujud gunung yang memiliki tinggi 2.914 meter ini secara utuh. Pemandangan pagi hari tidak kalah bagusnya dengan malam. Lava memang tidak terlihat lagi, namun kali ini terlihat jelas asap yang keluar dari puncak Merapi, terbang ke arah kiri dari kami menatap.

Aku pun tidak lupa untuk mengabadikan momen bersejarah ini. Dan, ketika sampai di hotel, aku memperlihatkan foto-fotoku tadi ke kawan yang tidak melihat keindahan Merapi di pagi hari. Ia pun marah karena melewatkan saat-saat terindah di kaki Merapi. Apalagi ketika melihat foto diriku dengan latarbelakang Gunung Merapi. Ia semakin marah kan jengkel. Aku hanya menyindirnya mengapa memilih kembali ke hotel menjelang pagi tadi. Selengkapnya...

Rabu, 07 Juni 2006

JURU KUNCI PARANG TRITIS

Namanya RP Suraksotarwono. Dia adalah juru kunci Pantai Parang Tritis, Jogjakarta. Memang, Suraksotarwono tidak sebeken Mbah Marijan. Padahal, tugas mereka adalah sama. Kalo Mbah Marijan menjadi penjaga Gunung Merapi, maka Suraksotarwono adalah penjaga Laut Selatan. Dan, kata orang, kalau ditarik garis dari Gunung Merapi ke Pantai Parang Tritis, maka Keraton Jogjakarta ada di tengah. Ini sih katanya. Dan, ketika aku bertemu dengan Mbah Surakso ini, ia memang membenarkan posisi tiga kekuatan di Jogjakarta itu.

Tidak sulit menemui Mbah Surakso. Ia memiliki sebuah penginapan di dekat pantai Parang Tritis. Nama hotelnya sama dengan nama toko, wartel, dan beberapa tempat usaha lainnya di sekitar pantai laut selatan itu. Ketika aku bertanya apakah semua tempat usaha itu miliknya karena memiliki nama yang sama, Mbah Surakso mengatakan, semua pemiliknya masih memiliki hubungan saudara. Apakah ia sedang merendah atau memang demikian, aku hanya bisa menduga-duga. Sama dengan Mbah Marijan, Mbah Surakso juga disegani di Parang Tritis. Ini terbukti ketika aku mengikutinya menuju ke pinggir pantai. Semua orang pasti menyapanya. Selengkapnya...

Senin, 05 Juni 2006

ADAM AIR MASIH TIDAK ADEM

Aku kembali mengalami pengalaman tidak enak dengan Adam Air, saat pergi dari Jogjakarta menuju Jakarta. Dan, ini adalah pengalaman ketiga bagiku.

Begini ceritanya, kawan-kawan...

Dengan terpaksa, aku membeli tiket Adam Air. Memang, hanya maskapai itu yang masih menyediakan seat untukku dan kedua kawanku. Maskapai lain menyatakan sudah tidak ada bangku kosong lagi untuk keberangkatan hari Sabtu, 2 Juni 2006 pagi. Saat si pegawai travel menyebutkan hanya ada Adam Air, aku segera teringat pengalaman tidak enak menggunakan jasa Adam Air (baca kisah sebelumnya: Adam yang tidak adem). Ditambah lagi cerita kawan-kawan lain yang juga pernah naik pesawat Adam Air. Jangan-jangan nyasar lagi nih...
Namun, tiada pilihan lain bagi kami. Kamipun memesat tiket untuk keberangkatan pukul 11.30 WIB.

Karena urusan belum kelar, kami harus mengubah jadwal kepulangan menjadi sore hari. Pihak Adam Air pun menggeser keberangkatan menjadi pukul 17.15 WIB. Syaratnya, kami harus menambah biaya 20% dari harga tiket. Tidak ada masalah, daripada kami tidak jadi pulang. Begitu pikir kami. Apalagi, kondisi ini memang juga berlaku pada maskapai lain. Walau, banyak orang yang mengatakan bahwa perlu dilihat dulu kelas tiket kita. Ada beberapa kelas yang membebaskan penumpang dari biaya mengganti jadwal keberangkatan. Tapi, siapa yang memahami hal ini. Tidak pernah ada informasinya kok. Who Knows?

Karena takut ada masalah, sekitar pukul 15.00 WIB, kami sudah sampai di bandara Adisucipto, Jogjakarta. Padahal, keberangkatan masih sekitar 2 jam lagi. Kami segera check in. Mungkin kami yang pertama check in. Tapi mungkin tidak juga. Sebab, kami diberikan bangku nomor 9 DEF. Lumayan di depan sih. Yah... kalau tidak salah, baris ke lima dari depan.

Usai check in, kami segera masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Ini adalah ruang keberangkatan darurat. Tempatnya sempit, panas, dan bau dari kamar mandi tercium jelas. Ruang tunggu keberangkatan bandara Adisucipto yang sebenarnya, telah hancur akibat gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006.

Sampai pukul 17.00 WIB, belum ada pesawat Adam Air yang mendarat di bandara Adisucipto. Padahal, keberangkatan tinggal 15 menit lagi. Bayang-bayang akan delay segera kami rasakan. Apalagi, ketika para penumpang Adam Air dipindahkan ke sebuah ruangan yang lebih terpencil di samping ruangan yang pertama kami duduki. Menuju ruangan itu harus melewati pintu. Jumlah bangkunya saja tidak cukup untuk seluruh penumpang, sehingga banyak yang harus berdiri atau duduk di lantai keramik. Aku segera teringat celetukan seorang petugas kepada petugas lain ketika meminta kami pindah. "Memang bangkunya cukup di sana?" kata petugas wanita itu.

Sampai pukul 18.00 WIB, belum ada tanda-tanda keberangkatan. Bagaimana mau berangkat, pesawat Adam Air saja tidak ada yang landing di bandara. Yang menyedihkan, tidak ada pemberitahuan dari pihak Adam Air kalau keberangkatan tertunda. Kami pun mulai berpikir, jangan-jangan kami dipindahkan ke ruangan yang terpisah dari penumpang maskapai lain, karena sudah tahu pesawat akan delay. Dengan begitu, penumpang maskapai lain tidak akan tahu kelakukan Adam Air ini. Huh...

Lambat laun kecemasan mulai timbul. Bahkan, beberapa penumpang mulai menumpahkan kekesalannya. Mereka mencaci maki pihak Adam Air yang sangat tidak profesional. Bagaimana tidak, sudah lewat sejam, namun belum ada tanda-tanda kami akan berangkat. Bila penumpang yang terlambar check in, mereka harus membayar sekitar 25% dari harga tiket untuk naik penerbangan berikutnya. Namun, bila pihak Adam Air yang terlambat, tiada kompensasi. Kata maaf saja tidak ada. Apa ini adil?

Pukul 19.00 WIB, pihak Adam Air berusaha mengobati kekecewaan para penumpang dengan membagikan satu potong donat dan segelas air meneral. Kalau diuangkan, harganya mungkin hanya 5000 perak. Sangat tidak adil bila dibandingkan harga yang dibayar penumpang yang telat check in yang mencapai ratusan ribu rupiah. Aku sendiri pernah terlambat 4 menit check in ketika pernah ke Surabaya, dan harus membayar sekitar Rp 160 ribu.

Pukul 19.20, baru pesawat Adam air mendarat. Kami sedikit lega. Kamipun akhirnya berangkat sekitar pukul 19.30 WIB. Dan, lagi-lagi tiada kata maaf dari awak pesawat atas keterlambatan ini. Jangankan kata maaf, senyuman selamat datang dari para pramugari saat naik ke pesawat saja, boro-boro ada.

Adam oh Adam...Kasian deh loh Selengkapnya...