Senin, 05 Juni 2006

ADAM AIR MASIH TIDAK ADEM

Aku kembali mengalami pengalaman tidak enak dengan Adam Air, saat pergi dari Jogjakarta menuju Jakarta. Dan, ini adalah pengalaman ketiga bagiku.

Begini ceritanya, kawan-kawan...

Dengan terpaksa, aku membeli tiket Adam Air. Memang, hanya maskapai itu yang masih menyediakan seat untukku dan kedua kawanku. Maskapai lain menyatakan sudah tidak ada bangku kosong lagi untuk keberangkatan hari Sabtu, 2 Juni 2006 pagi. Saat si pegawai travel menyebutkan hanya ada Adam Air, aku segera teringat pengalaman tidak enak menggunakan jasa Adam Air (baca kisah sebelumnya: Adam yang tidak adem). Ditambah lagi cerita kawan-kawan lain yang juga pernah naik pesawat Adam Air. Jangan-jangan nyasar lagi nih...
Namun, tiada pilihan lain bagi kami. Kamipun memesat tiket untuk keberangkatan pukul 11.30 WIB.

Karena urusan belum kelar, kami harus mengubah jadwal kepulangan menjadi sore hari. Pihak Adam Air pun menggeser keberangkatan menjadi pukul 17.15 WIB. Syaratnya, kami harus menambah biaya 20% dari harga tiket. Tidak ada masalah, daripada kami tidak jadi pulang. Begitu pikir kami. Apalagi, kondisi ini memang juga berlaku pada maskapai lain. Walau, banyak orang yang mengatakan bahwa perlu dilihat dulu kelas tiket kita. Ada beberapa kelas yang membebaskan penumpang dari biaya mengganti jadwal keberangkatan. Tapi, siapa yang memahami hal ini. Tidak pernah ada informasinya kok. Who Knows?

Karena takut ada masalah, sekitar pukul 15.00 WIB, kami sudah sampai di bandara Adisucipto, Jogjakarta. Padahal, keberangkatan masih sekitar 2 jam lagi. Kami segera check in. Mungkin kami yang pertama check in. Tapi mungkin tidak juga. Sebab, kami diberikan bangku nomor 9 DEF. Lumayan di depan sih. Yah... kalau tidak salah, baris ke lima dari depan.

Usai check in, kami segera masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Ini adalah ruang keberangkatan darurat. Tempatnya sempit, panas, dan bau dari kamar mandi tercium jelas. Ruang tunggu keberangkatan bandara Adisucipto yang sebenarnya, telah hancur akibat gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006.

Sampai pukul 17.00 WIB, belum ada pesawat Adam Air yang mendarat di bandara Adisucipto. Padahal, keberangkatan tinggal 15 menit lagi. Bayang-bayang akan delay segera kami rasakan. Apalagi, ketika para penumpang Adam Air dipindahkan ke sebuah ruangan yang lebih terpencil di samping ruangan yang pertama kami duduki. Menuju ruangan itu harus melewati pintu. Jumlah bangkunya saja tidak cukup untuk seluruh penumpang, sehingga banyak yang harus berdiri atau duduk di lantai keramik. Aku segera teringat celetukan seorang petugas kepada petugas lain ketika meminta kami pindah. "Memang bangkunya cukup di sana?" kata petugas wanita itu.

Sampai pukul 18.00 WIB, belum ada tanda-tanda keberangkatan. Bagaimana mau berangkat, pesawat Adam Air saja tidak ada yang landing di bandara. Yang menyedihkan, tidak ada pemberitahuan dari pihak Adam Air kalau keberangkatan tertunda. Kami pun mulai berpikir, jangan-jangan kami dipindahkan ke ruangan yang terpisah dari penumpang maskapai lain, karena sudah tahu pesawat akan delay. Dengan begitu, penumpang maskapai lain tidak akan tahu kelakukan Adam Air ini. Huh...

Lambat laun kecemasan mulai timbul. Bahkan, beberapa penumpang mulai menumpahkan kekesalannya. Mereka mencaci maki pihak Adam Air yang sangat tidak profesional. Bagaimana tidak, sudah lewat sejam, namun belum ada tanda-tanda kami akan berangkat. Bila penumpang yang terlambar check in, mereka harus membayar sekitar 25% dari harga tiket untuk naik penerbangan berikutnya. Namun, bila pihak Adam Air yang terlambat, tiada kompensasi. Kata maaf saja tidak ada. Apa ini adil?

Pukul 19.00 WIB, pihak Adam Air berusaha mengobati kekecewaan para penumpang dengan membagikan satu potong donat dan segelas air meneral. Kalau diuangkan, harganya mungkin hanya 5000 perak. Sangat tidak adil bila dibandingkan harga yang dibayar penumpang yang telat check in yang mencapai ratusan ribu rupiah. Aku sendiri pernah terlambat 4 menit check in ketika pernah ke Surabaya, dan harus membayar sekitar Rp 160 ribu.

Pukul 19.20, baru pesawat Adam air mendarat. Kami sedikit lega. Kamipun akhirnya berangkat sekitar pukul 19.30 WIB. Dan, lagi-lagi tiada kata maaf dari awak pesawat atas keterlambatan ini. Jangankan kata maaf, senyuman selamat datang dari para pramugari saat naik ke pesawat saja, boro-boro ada.

Adam oh Adam...Kasian deh loh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar