Senin, 31 Juli 2006

POHON DURIAN DAN TEMAN KANTOR

Soal-soal itu sangat memusingkan kepala. Selama tiga jam aku harus menjawab banyak soal yang cukup menguras energi. Kebanyakan harus mikir yang dalam banget karena merupakan soal-soal hitungan matematika. Terkadang ada soal yang menjebak. Misalnya. kita disuruh milih mana yang paling mewakili dan tidak dari lima pilihan yang ada. Yang membingungkan, semua pilihan sepertinya sesuai dengan diri kita. Jadi milih yang mana dong? Ah... bingung. Di bagian lain ada soal yang pertanyaanya mencari persamaan kata yang bisa mewakili kata di depannya. Huh.... enteng tapi berat. Nah lo...

Hari ini, aku ada tugas dari kantor untuk mengikuti psikotest di sebuah lembaga di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Katanya sih, untuk menentukan posisi di kantor. Ada lima orang yang ikut. Tiga orang dari divisi sama en dua orang lagi dari divisi produksi. Jadi, walau memusingkan, paling tidak ada teman yang bisa diajak becanda. Aku sendiri penasaran dengan hasil psikotest ini. Bagaimana ya cara mereka bisa menentukan layak tidaknya seseorang menduduki posisi tertentu hanya dengan tes-tes macam itu? Mmm... penasaran juga aku.

Di bagian akhir, ada tes menggambar. Kami kemudian disuruh untuk membuat dua gambar, masing-masing gambar manusia dan pohon. Menggambar manusia adalah kegiatan yang sampai hari ini paling sulit aku lakukan. Entah mengapa, aku tidak bisa seperti teman SMA-ku, Andreas BP, yang begitu lihai menggambar manusia dalam berbagai ekspresi. Aku kemudian mencoba menggambar sesosok laki-laki yang entah mirip siapa. Celakanya, kami diminta untuk menjelaskan gambar siapa yang dibuat, berapa umurnya, apa kelebihannya, en apa kekurangannya. Nah lo? Siapa ya yang aku gambar itu? Mmm... dengan enaknya, aku sebut aja teman kantor. Paling tidak dari seragam yang dikenakan ada logo tempatku bekerja, aku bisa menyebut kalau itu adalah teman kantorku. Hehehe.... Kelebihannya? Ramah. Kekuranganya? Tidak bisa tepat waktu. Hahaha....

Untuk gambar kedua, kami disuruh menggambar pohon. Tapi, tidak boleh menggambar pohon yang bentuknya khas seperti kelapa, palem, pisang, atau rumput. Aku mikir sebentar. Tak lama kemudian aku mulai menggambar batang pohon dengan banyak cabang. Aku lalu memberi daun-daun yang lebat di hampir seluruh batang. Pohon apakah gerangan yang aku gambar? Pasti tidak ada yang tahu. Aku sendiri saja tidak tahu. Hehehe.... Agar jelas pohon apa yang buat, maka aku menggambar beberapa buah durian di batangnya. Nah, sekarang siapapun pasti mengatakan kalau pohon yang aku gambar adalah pohon durian. Yap, aku memang menulis judul gambarku adalah pohon durian. Aku sempat melirik kawan di sebelah kiri, en ternyata gambarnya tidak beda jauh dengan gambarku. Yang membedakan hanyalah buahnya. Si kawan memberi beberapa buah mangga di pohon. Jadilah pohon mangga. Aku tidak sempat melirik kawan yang di sebelah kanan. Mudah-mudahan ia tidak mengganti buah mangga atau durian tadi menjadi buah duku. Hehehe...

Usai menggambar, kami istirahat selama sejam. Waktu ini kami isi dengan makan siang di kantin. Jam setengah satu siang, kamu kembali ke ruangan untuk tes wawancara satu persatu. Aku mendapat giliran ke empat. Tema wawancara, hanya seputar pengalaman bekerja sebagai wartawan. Wah.... aku makin penasaran aja neh. Kok bisa pengalaman kayak gitu dipakai untuk mengetes seseorang sebagai panduan untuk menentukan posisi di kantor.

Yah... kita tunggu aja deh hasilnya.

1 komentar:

  1. he he he bung edy jadinya
    mau ada promosi jabatan nih....semoga tercapai deh keinginanmu, paling ngga jd as-prod deh....jgn lupa makan2nya...

    BalasHapus