Kamis, 06 Juli 2006

SEMBAHE YANG MENYEGARKAN

Baru sekali ini aku ke Sembahe. Kalau lewat sih sering. Bagaimana tidak, untuk menuju ke Tanah Karo dari Medan, pasti melewati kawasan Sembahe. Namun, aku tidak pernah mampir ke tempat tersebut. Aku hanya tahu, kalau Sembahe adalah sebuah kawasan di kaki Gunung Sibayak yang masih penuh dengan pepohonan. Untuk menandai Sembahe sangat gampang. Bila kita sudah memasuki kawasan hutan dari Medan, dan kita menjumpai sebuah jembatan yang cukup panjang dan berwarna kuning, nah…. itulah Sembahe. Mudah, bukan?

Selama ini, yang aku tahu, orang datang ke Sembahe karena ingin mendapatkan suasana segar namun tidak jauh dari Medan. Sebab, kawasan ini memang masih berbentuk hutan. Yah… mirip-mirip dengan kawasan Cipanas Puncak lah. Namun, bisa ditempuh hanya sekitar setengah jam dari Medan.

Ada sebuah sungai yang mengalir di Sembahe. Jadi, yang kupikir selama ini, orang datang ke sana untuk bermain-main dengan sungai yang kalau dilihat dari atas jembatan, tidaklah terlalu besar. Mungkin sama dengan Sungai Ciliwung yang mengalir di dalam Kebun Raya Bogor.

Karena itu, ketika aku diajak ke Sembahe, aku langsung ikut. Aku penasaran mengapa orang Medan banyak yang pergi ke sana. Apalagi, orang Medan sering menyebut sungai di Sembahe dengan sebutan pantai. Bah, kok pantai di gunung, pikirku selama ini.

Jumat, 30 Juni 2006, sekitar pukul 14.00 WIB akupun ikut bepergian ke Sembahe. Saat itu, udara kota Medan memang sedang panas-panasnya. Lebih panas daripada suasana di Jakarta yang selama ini aku rasakan. Tidak lupa aku membawa pakaian salin dan peralatan mandi. Bayanganku, aku akan bisa berendam di dalam sungai dan terasa sangat sejuk di badan. Mmm... membayangkannya saja aku sudah merasa sejuk.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Medan, kami berbelok ke kiri di Sembahe. Sebenarnya banyak tempat untuk berhenti di sepanjang sungai di Sembahe ini. Yang teramai adalah di sekitar jembatan jalan Medan-Berastagi. Namun, kami pergi agak ke hilir karena katanya, tempatnya lebih asyik. Aku sih ikut saja karena aku sama sekali tidak tahu tempat apa ini.

Kami melewati jalan yang agak kecil dan berlubang-lubang. Sekitar 10 menit kemudian, kami masuk ke sebuah taman. Kalau tidak salah, namanya Tirta apa gitu. Begitu turun dari mobil, aku segera menuju ke pinggir sungai. Ternyata saat itu lumayan ramai dengan remaja-remaja. Dan, yang membuatku terkejut, tempatnya ternyata sangat mengasyikkan.

Aku segera masuk ke dalam air tanpa membuka baju. Ternyata tempatnya memang sangat mengasyikkan. Air sungai begitu beningnya. Mungkin lebih bening daripada air sungai di Cipanas. Atau sama bening dengan air Aqua. Sangat menyegarkan air sungai ini. Tidak terlalu dingin, namun pas untuk menyegarkan badanku yang sudah tiga hari dibakar oleh panasnya kota Medan.

Apalagi di tempat kami ini, ada bagian sungai yang tidak berbatu sehingga bisa dipakai untuk berenang. Sungguh menyegarkan berenang di sini. Jangan tanya berapa kedalaman sungai, sebab, ketika aku melompat dari atas batu sekitar dua meter dari permukaan air, sama sekali aku tidak menyentuh dasar sungai. Aku juga mencoba menatap ke bawah. Namun, aku juga tidak menemukan dasar sungai walau air sangat bening. Karena itu, bila tidak jago berenang, jangan coba-coba berenang ke bagian ini. Anda cukup di pinggir saja atau di bagian sungai yang berbatu. Di sana juga puas kok walau hanya berendam di air yang mengalir.

Sekitar 2 jam aku berenang dan berendam di Sungai Sembahe ini. Sekali lagi, sangat menyegarkanku. Aku telentang di atas batu dengan air yang mengalir sambil menatap rindangnya pepohonan. Wah, sungguh mengasyikkan dan menyegarkan. Aku baru dapat memahami mengapa orang Medan begitu membanggakan Sembahe sebagai tempat beristirahat dikala penat dengan panasnya udara Kota Medan.

Puas berendam, jangan lupa untuk mencicipi durian asli Medan yang banyak dijual di pinggir jalan menuju Medan. Rasanya jangan diragukan lagi. Kalau Anda pengagum durian, sudah pasti lihai mencari durian yang memuaskan. Atau, percayakan saja pada si penjual dan makanlah di tempat itu. Bila durian itu busuk, tentu Anda akan segera mendapatkan gantinya. Aku hanya membutuhkan Rp 50.000 untuk membuat aku dan lima orang lainnya kenyang. Mungkin ada sepuluh durian yang kami makan, dan semuanya tidak ada yang busuk. Rasanya juga pahit, seperti yang kugemari.

Lain waktu, aku masih ingin kembali ke sini lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar