Kamis, 03 Agustus 2006

FLU BURUNG DI TANAH KARO

Ada yang mengusik perhatianku hari ini. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengumumkan, kalau enam penduduk Tanah Karo yang sebelumnya diduga terkena flu burung, ternyata hasil tes menunjukkan mereka negatif flu burung. Artinya, isu mereka sakit karena terkena flu burung terbantahkan sudah.

Lihat selengkapnya di:
http://www.detik.com/indexberita/indexfr.php

Ah, sebuah kabar yang cukup menggembirakan. Bagaimana tidak, belakangan ini Tanah Karo bertambah ngetop gara-gara flu burung. Tentu saja, ini dalam arti negatif. Flu burung adalah penyakit yang menular. Kemarin saja, ada beberapa menteri yang berkunjung ke RS Adam Malik Medan, untuk melihat beberapa pasien yang diduga terkena flu burung. Dan, semua pasien adalah penduduk Tanah Karo.

Banyak yang mencibir kalau sudah tidak aman berkunjung ke Tanah Karo. Bahkan, memakan segala sesuatu yang berasal dari Tanah Karo juga dianggap tidak sehat lagi. Padahal, Tanah Karo adalah sebuah tempat wisata di Sumatera Utara. Tanah Karo adalah Bogor-nya Medan. Udaranya sejuk dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Belum lagi, selama ini Tanah Karo di kenal sebagai produsen buah-buahan dan sayur mayur.

Kini, semuanya merasa terpukul dengan isu flu burung tersebut. Flu burung telah merugikan penduduk Tanah Karo. Dan, orang Karo membantah keras daerah mereka telah dicemari flu burung. Beberapa waktu lalu, sejumlah orang Karo melakukan demo di kantor Gubernur Sumatera Utara. Mereka berdemo untuk menolak Tanah Karo disebut sebagai wilayah penyebaran flu burung. Bahkan, dalam aksi itu, mereka memakan daging ayam, untuk menunjukkan kalau unggas di Tanah Karo aman untuk dikonsumsi.

Pada bulan Mei 2006 lalu, memang sudah ada tujuh penduduk Tanah Karo yang tewas yang diduga akibat flu burung. Ketujuh korban masih satu keluarga besar, masing-masing Fuji br Ginting (40 tahun), Roy Karo-karo (19), Anita br Ginting (29), Boni Karo-karo (20), Rafael Ginting (8),, Benata Ginting (2), dan Dones Ginting (23).

Pemerintah pusat telah memberi cap ke Tanah Karo sebagai kawasan rawan penyebaran flu burung. Bahkan, unggas dilarang dibawa masuk atau keluar dari Tanah Karo. Padahal, memelihara unggas dilakukan oleh hampir seluruh penduduk Tanah Karo. Di kebun-kebun, mereka selalu memelihara ayam kampung. Ayam-ayam tersebut biasanya untuk dijual kembali. Orang Karo juga terbiasa memelihara babi. Di beberapa desa kabarnya masih boleh melepas bebas babi. Namun, di kebanyakan desa, kini babi tidak boleh lagi dilepas alias harus dikandangkan.

Lantas, apa kepentinganku dengan Tanah Karo? Karena aku lahir di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar