Selasa, 08 Agustus 2006

LUMPUR PANAS LAPINDO BERANTAS

ADA yang menarik dari perkembangan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur. Mulai hari ini, Jalan tol Surabaya-Gempol akhirnya ditutup total. Tepatnya sejak Selasa (9/8) dini hari. Bagaimana tidak ditutup, saat ini perbedaan tinggi lumpur dengan permukaan jalan tol sudah mencapai empat meter. Lumpur hanya dibendung dengan gundukan tanah dari jalan tol. Di beberapa tempat, juga dipasang kontainer untuk menahan tekanan lumpur terhadap gundukan tanah. Tapi, dengan konstruksi yang darurat tersebut, siapa yang bisa menjamin gundukan tanah tidak akan ’ambrol’. Wah, bisa-bisa tsunami kecil akan terjadi di jalan tol. Kendaraan yang sedang melintas akan terseret ombak lumpur panas. Kalau ini terjadi, mmm.... berita menarik neh.


’’Akibat penutupan tol tersebut, kemacetan panjang mengular hingga 8 kolometer. Kemacetan lalu lintas di sekitar Pasar Porong, misalnya, kendaraan berhenti total. Untuk jalur Surabaya arah Malang kemacetan mulai terasa sebelum Pasar Tanggullangin yang berjarak sekitar delapan kilometer dari Pasar Porong. Kemacetan juga melanda jalur-jalur alternatif sekitar Porong.’’ Demikian isi dari Tempointeraktif.com.

Aku sendiri sempat menyaksikan dahsyatnya lumpur panas dari PT Lapindo Brantas pada hari Kamis, 27 Juli 2005 lalu. Sepulang dari Madura dan hendak menuju Bandar Juanda, aku meminta sopir untuk mampir ke lokasi lumpur panas. Mumpung ada di Surabaya, aku sangat ingin melihat langsung lumpur yang telah membuat geger Indonesia itu. Apalagi, kata kawan di Surabaya, waktu tempuh dari tengah kota Surabaya hanya sekitar setengah jam lewat jalan tol. Bagaimanapun, kasus lumpur panas Lapindo Berantas telah akan tercatat dalam sejarah republik ini. Dan, sekali lagi, aku ingin menjadi saksi sejarah ini.

Informasi itu ternyata benar adanya. Dalam waktu setengah jam aku sudah sampai di lokasi lumpur. Pemandangan yang aku lihat memang sungguh dahsyat. Sebelah kiri jalan tol dari arah Surabaya adalah lokasi tumpahan lumpur yang telah merendam perkampungan. Rumah-rumah hanya tinggal kelihatan atapnya saja. Pohon-pohon telah kering kerontang. Bau menyengat juga tercium dari genangan lumpur yang berwarna abu-abu tersebut. ”Emang gila tuh Lapondo,’’ kata kawan yang pergi bersama aku ketika melihat lumpur.

Mobil pun berputar di pintu keluar berikutnya. Kali ini, yang ada di sebelah kiri tol adalah lokasi pabrik Lapindo Berantas. Dari jalan tol, lumpur tidak kelihatan karena ada tanggul setinggi dua meter yang memisahkan lumpur dengan badan jalan tol. Aku pun turun dari mobil dan menaiki tanggul dari tanah itu. Pemandangan yang luar biasa terlihat di sana. Aku akhirnya bisa melihat lubang sumber lumpur. Asap putih tak henti-hentinya keluar dari semburan lumpur. Sesekali luapan lumpur panas terlihat jelas dan mengalir menuju gorong-gorong yang bermuara ke sisi seberang jalan tol. Aku membayangkan, apa yang akan terjadi pada diriku seandainya gundukan tanah yang aku injak, runtuh dan akhirnya terperosok ke dalam lumpur panas sedalam dua meter itu. Mmm..... sebuah imajinasi yang sangat menakutkan sekali.

Kini, genangan lumpur telah setinggi empat meter. Entah apa akhir dari kisah lumpur panas Lapindo Berantas ini nantinya. Kita tunggu aja deh. Namun, banyak yang mengatakan, kawasan sidoarjo akan runtuh karena bawah tanahnya sekarang sudah ’kopong’. Sebuah danau akan terbentuk di sana. Apa betul? ”Kayaknya gak juga. Kan kalo runtuh, tinggi tanah akan tetap sama. Lumpur akan mengeras dan menutup lubang.’’ Kata seorang teman. Betul juga apa katanya, secara logika sih. Teman lain berceletuk, ”biarin deh jadi danau. Kan bisa dipakai untuk mengatasi banjir di Surabaya.” Hehehe...

Semburan lumpur panas dari PT Lapindo Berantas telah berlangsung sejak Juni 2005. Berapa kerugian yang telah diakibatkannya? Menurut Kompas edisi hari ini, mencapai Rp 33,27 triliun. Jumlah kerugian akan bertambah besar jika semburan gagal dihentikan.

Rinciannya, mencakup pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi Rp 5,79 triliun, dampak pada pertumbuhan ekonomi Rp 4,63 triliun, dampak ekologi Rp 4,63 triliun, pembersihan lumpur Rp 4,37 triliun, restorasi lahan Rp 3,97 triliun, ketidakpastian ekonomi akibat eskalasi dampak Rp 3,70 triliun, penanganan sosial Rp 3,59 triliun, dan biaya kehilangan kesempatan bagi banyak pihak Rp 2,88 triliun.

Wah wah wah... besar sekali ya? Gimana ya rasanya punya uang sebanyak itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar