Jumat, 25 Agustus 2006

PINGPONG BERWARNA COKLAT

Aku menelepon sang wakil. Panggilan pertama tidak diangkat. Begitu juga dengan panggilan kedua. Aku memutuskan untuk mengirim pesan pendek kepadanya. Lima menit kemudian, sang wakil akhirnya meneleponku. Aku menduga, ia penasaran dengan istilah 'machoisme' yang aku pakai dalam pesan pendek yang tadi aku kirim padanya.

"Gini aja. Ginting ke kadiv dulu. Saya kan cuma wakil saja. Nanti kalau pak kadiv mendelegasikan ke saya, baru saya bicara."
Aku pun bergegas menuju ruang kerja pimpinan sang wakil. Jaraknya dari posisiku berada sekitar seratur meter, dan harus menyeberang jalan raya. Dengan semangat 45, akupun tiba dalam waktu lima menitan saja. Sesampainya di sana, aku cuma bertemu dengan staf-staf sang pimpinan sang wakil. Sang pimpinan tidak berhasil aku temui, dan aku malah disuruh menghadap ke seorang pejabat yang ada di bawah sang wakil.

Dengan hati jengkel, akupun ke ruang yang dimaksud. Kali ini aku bisa langsung bertemu dengan sang pejabat. Aku utarakan maksud keperluanku secara baik-baik. Sekitar sepuluh menit aku berada di sana, dan aku sama sekali tidak mendapatkan apa yang aku cari. Aku hanya memperoleh 'petunjuk-petunjuk', yang malah semakin memperjauh aku dengan tujuanku semula.

Aku pun akhirnya memilih pulang. Aku sedikit jengkel. Tidak tahu jengkel pada siapa, pada diriku atau pada mereka. Percuma saja aku minta baik-baik kepada mereka. Sudah dua hari ini aku mendapatkan pengalaman begini. Lebih baik aku mencegat mereka di luar ruangan. Kalau ini yang aku lakukan, pasti deh segera kuperoleh apa yang kucari. Mereka pasti tidak akan bisa menolaknya. Aku sangat yakin.

1 komentar:

  1. Apa kabar Ed,
    aku di TPI.
    Semoga baik2 saja ya..

    BalasHapus