Selasa, 15 Agustus 2006

SETAHUN ACEH DAMAI

HARI ini tepat setahun perdamaian di Aceh. Tidak terasa, memang. Sudah 365 pemerintah negeri ini menandatangani MoU perjanjian perdamaian dengan GAM, di Helsinki, Finlandia. Hasil MoU tersebut sungguh luar biasa. Kondisi Aceh ini kini jauh lebih baik. Tidak ada lagi terdengar suara tembakan anggota GAM. Tidak ada lagi pasukan TNI yang menguber-nguber anggota GAM yang lari ke hutan-hutan. Kedua kubu sudah berjabat tangan. Permusuhan tidak tampak lagi. Mudah-mudahan kondisi ini bukan seperti sebuah gencatan senjata, dimana perang sewaktu-waktu bisa meletus lagi. Perdamaian ini moga-moga bukan hanya di permukaan saja, sedangkan baik TNI maupun GAM tetap bersiaga untuk menghadapi perang berikutnya. Ah... smoga saja tidak. Smoga yang ada adalah sebuah perdamaian yang abadi. Sekali lagi, abadi.

Tanggal yang sama, setahun lalu, aku berada di Aceh Timur. Aku menyaksikan penandatangan MoU bersama ratusan orang di sebuah lapangan di Idi Rayek, sebuah kota kecil di Aceh Timur. Hari itu, sekitar empat TV berukuran besar dipasang di lapangan. Para pejabat Aceh Timur seperti bupati, dandim, kapolres, bergabung bersama ratusan warga di lapangan tersebut. Di bawah tenda-tenda, mereka menyaksikan acara penandatangan MoU RI-GAM yang disiarkan secara langsung oleh Metro TV. Mereka bertepuk tangan yang lumayan lama, ketika gambar MoU ditandatangani, tampak di layar kaca.

Aku tertarik untuk berada di Idi Rayek karena selama konflik Aceh, kota kecil ini terkenal sebagai salah satu kawasan hitam di Aceh. Kawasan ini disebut-sebut sebagai salah satu basis GAM. Jumlah anggota GAM di kawasan ini diperkirakan sangat banyak. Mereka terkenal gigih melawan pasukan TNI. Persenjataan mereka juga cukup besar. Mereka juga rajin melakukan sweping sehingga hampir tidak ada yang berani melewati kawasan ini pada malam hari. Padahal, jalan raya Medan-Banda Aceh melalui kawasan Idi Rayek. Salah satu tokoh GAM yang terkenal dari Idi Rayek adalah Isak Daud. Menurut kabar, GAM juga pernah menguasai Idi Rayek dengan memukul pasukan TNI ketika konflik Aceh berkecambuk.

Cerita kalau Idi Rayek adalah sebuah kawasan hitam cukup membuatku ciut ketika berada di Idi Rayek. Aku tidak berani bepergian cukup jauh dari pusat kota. Terutama masuk ke kawasan perkampungan. Aku merasa aman kalau dekat dengan pasukan TNI atau Polri. Aku juga berusaha ramah kepada siapapun, terutama penduduk lokal. Aku menghindari untuk banyak bicara dengan mereka, kecuali memberi salam atau memberi senyum. Bagaimanapun, yang berdamai hari itu baru pentolan GAM-GAM yang ada di luar negeri dengan pemerintah Indonesia. Karena itu, sedikit waspada tentu tidak salah.

Kini kondisi sudah berubah. Perdamaian sudah lahir di bumi 'serambi mekah'. Bahkan, umurnya sudah tepat setahun. Sebuah harapan telah lahir. Harapan untuk melihat Aceh yang jauh lebih baik dari hari ini. Tidak ada lagi saling permusuhan. Tidak ada lagi saling curiga. Tidak ada lagi penindasan terhadap siapapun dan oleh siapapun.

Dan, aku masih ingin mendatangi Aceh, suatu hari nanti...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar