Sabtu, 29 September 2007

Kamis, 02 Agustus 2007

Berlayar Tanpa Alat Navigasi

Tepat jam 2 siang, speedboat yang gw naiki segera berlayar dari dermaga Tarakan menuju Pulau Sebatik. Ada sekitar 15 penumpang di dalamnya. Belum termasuk barang-barang yang ditumpuk di tengah kursi. Gw liat sebuah WC ada di belakang bagian kiri kapal. Tp, begitu pintu dibuka, ternyata isinya cuma tumpukan tabung-tabung elpiji. Gile juga nih kapal. Kalo meledak gimama?

Kalo penumpang lain asik tidur, maka gw sibuk menikmati perjalanan yang lumayan asik ini. Di kiri-kanan kapal tampak pulau-pulau di sekitar Pulau Tarakan. Ada juga beberapa kapal tongkang yang sedang bersandar. Gw yakin pasti itu kapal tongkang pengangkut kayu. Apalagi ada sedikit tumpukan kayu di daratan. Gw berusaha ‘ngintip’ kondisi pulau lewat celah lebatnya pohon bakau. Sekilas terlihat kalo bakau hanya lebat di pinggir pulau. Kalo di dalamnya sih udah dibabat abis. Emang kurang ajar tuh cukong-cukong kayu ama pejabat yang membiarkan penggundulan hutan mangrove di sini. Huh….

Ombak cukup besar sehingga terasa sekali goyangan di dalam speedboot. Mungkin orang yang gak biasa, sudah muntah akibat goyangan speedboat ini. Gw cukup bersyukur tahan dalam perjalanan apapun, baik di darat, laut, maupun udara.

Gw gak banget nyangka nih speedboat bisa melaju sangat kencang. Ada 3 motor merek Yamaha yang dipasang dibelakang speedboat. Ukurannya gede-gede. Gw gak tau berapa keceatannya. Tp, kenceng banget. Mirip sama speedboat yang ada di Batam menuju pulau-pulau sekitarnya, termasuk ke Singapura. Tapi, bedanya di sini gada AC. Kata orang-orang sih, orang Sebatik gak tahan sama dinginnya AC. Makanya AC di speedboat ini dibongkar. Ah, masa sih? Gw gak percaya tuh.

Lucunya, speedboat ini gak punya sarana navigasi. Pokoknya, di depan kemudi gada apa-apa. Padahal kan pelayaran lumayan jauh. Jadi gimana caranya tuh sopir eh… juru mudi kapal gak nyasar sampe tujuan. Kabarnya sih, mereka pake filing aja karena sudah biasa melewati rute ini. Gile bener….

Jangan harap bisa menemukan indahnya laut di sepanjang perjalanan. Kayaknya laut di sini adalah bekas muara sungai. Airnya berwarna coklat dan kehijau-hijauan. Gak ada bagusnya deh. Emang sih, sampe hari ini gw gak pernah denger ada kawasan pantai en laut yang bagus di sepanjang pantai Pulau Kalimantan. Yang pernah kedengaran Cuma di kawasan Derawan. Tapi kan itu sudah di tengah pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Setelah 2,5 jam pas berlayar, akhirnya sampe juga di Dermaga Sei Nyamuk, Pulau Sebatik.

Cerita berikutnya nanti ya…. Selengkapnya...

Rabu, 01 Agustus 2007

Aneh, kok Kota Tarakan rame!

Sekitar jam 11 siang, pesawat Mandala yang gw naiki mendarat di Bandara Juwata, Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Gw sempat mikir pas pramugari ngumumin nama bandara ini. Pertama denger, kok sama dengan bandara Juanda Surabaya ya. Eh,.... pas turun dari pesawat, rupanya Juwata, bukan Juanda.

Bandaranya lumayan gede. Lumayan rame juga. Tapi, yang membuat berkesan ama nih bandara adalah permukaan landasan mendarat pesawat gak rata. Pas pesawat roda pesawat sudah menyentuk landasan, sangat terasa permukaan landasan naik turun. Agak deg-degan juga berada di dalam pesawat. Apalagi gw naik Mandala. Kasus Mandala di Medan tentu masih kebayang jelas.

Dari bandara, bersama 2 orang kawan, gw naik taksi ke tengah Kota Tarakan. Gile, kotanya lumayan rame. Pantesan banyak maskapai yang buka rute ke Tarakan. Selain Mandala, ada Sriwijaya dan Batavia. Mobil juga memenuhi kota ini. Gw sama sekali gak nyangka Tarakan bakal serame ini.

Apalagi kalo diliat di peta, Tarakan cuma sebuah kota di pulau sebelah utara Kaltim. Gak kebayang banget kota segede ini. Apalagi pas diliat dari pesawat. Sebelum mendarat, gw cuma liat tambak-tambak ikan di pinggir laut. Karena itu, pas pesawat mulau turun, gw pikir nih pesawat mau mendarat di tengah tambak-tambak itu. Gak taunya ada bandara lumayan gede di Tarakan. :-)

Kata sopir taksi yang gw naiki, Tarakan emang dibuat gede sebagai kota besar di sebelah Utara kaltim. Kl di Selatan ada Balikpapan. Ini sebuah strategi dalam pembangunan di provinsi kaya minyak itu. Ada pusat ekonomi di Selatan en ada di Utara. Adilkan? Ooo... gitu toh.

Lalu kok bisa rame tuh kota? Rupanya, Kota Tarakan bisa segede itu karena di sana juga ada minyak. Lalu perekonomian juga ditopang ama sektor perikanan yang buayak di sana. Udah gitu, dekatnya Tarakan ama Sabah, Malaysia, ikut menunjang perekonomian di sana. Jangan heran kalo banyak barang-barang Malaysia yang di jual di toko-toko di seputaran Tarakan.

Gitu aja dulu cerita gw tentang Tarakan. Gw harus segera menuju pelabuhan Tarakan untuk menuju Pulau Sebatik. Selengkapnya...

Rabu, 30 Mei 2007

Penderitaan di ruas Kabanjahe-Kutacane

Suatu pagi pada pertengahan Mei 2007

Mobil Sebayang yang aku naiki perlahan-lahan meninggalkan Kabanjahe menuju Tigabinanga. Aku duduk di bangku depan, persis di samping sang sopir. Ia cukup ramah. Ia selalu tidak lupa mengucapkan ‘bujur’ kepada para penumpang yang membayar ongkos.

Tapi, aku tidak akan mengulas panjang lebar keramahan sang sopir itu. Aku ingin menceritakan suasana perjalanan sampai aku turun di simpang Perbesi, sekitar setengah jam kemudian.

Harus aku akui, perjalanan ini sangat jauh dari menyenangkan. Jalan Raya Kabanjahe-Kotacane sudah sangat memprihatinkan. Lubang menganga dimana-mana. Kubangan lumpur memaksa mobil harus berjalan jigjag bila tidak mau terperangkap dalam lubang yang dalam. Belum lagi lubang-lubang kecil akibat aspal yang sudah mengelupas. Sempitnya jalan di beberapa tempat semakin memaksa sang sopir bermanuver cepat bak Tommy Soeharto yang sedang rally di perkebunan sawit di Deli Serdang.


Kondisi sangat menjengkelkan ini mulai terasa sejak beberapa ratus meter keluar dari kota Kabanjahe. Lubang kecil sampai besar mulai terlihat menjelang jembatan Lau Biang. Mobil Sebayang (uh, kenapa namanya harus sebayang, bukan Ginting) yang aku naiki harus lama menunggu sebuah truk Fuso yang datang dari depan. Truk yang dugaanku penuh dengan Jeruk itu, oleng kiri dan ke kanan saat melewati kubangan lumpur.

Aku berpikir dalam hati, bagaimana kondisi ini bisa terjadi di Tanah Karo. Bagaimana mungkin jalan raya Kabanjahe-Kutacane ini seperti tidak pernah tersentuh pembangunan. Tahun 2004, saat aku melewatinya, jalan ini masih lumayan mulus. Tahun 2005, semakin memprihatinkan. Tahun 2006, aku sempat terjebak macet ketika ada truk terperangkap dalam sebuah lubang di jalan antara Singgamanik-Simpang Perbesi. Kini, di lokasi yang sama, kondisinya semakin parah. Sangat menyedihkan. Artinya, aku tidak melihat pembangunan menyentuh ruas jalan yang aku lewati setiap tahun ini.

Apa Bupati Karo tidak pernah lewat jalan ini? Apa kepala dinas PU Tanah Karo tidak pernah melintasinya? Ah, rasa-rasanya pasti pernah. Lalu kenapa dibiarkan? Kalo Jalan Kabanjahe-Kutacane adalah jalan provinsi, apa usaha sang bupati meminta dana ke sang gubernur. Kalau memang jalan nasional, apa juga usaha sang bupati ‘menodong’ sang menteri?

Kasian orang-orang Karo yang memiliki mobil sedan. Mereka tidak bisa membawa sedan mereka untuk mudik pada musim liburan sekolah ini. Atau sekadar bersilaturahmi ke sanak keluarga saat pesta Kerja Tahun berlangsung. Yang pasti, KERJA TAHUN di Perbesi akan berlangsung pada 23-24 Juni 2007. :-)
Selengkapnya...

Rabu, 21 Maret 2007

LUPA PASSWORD

Sudah lama aku tidak membuka blog ini. Itu terjadi setelah situs blogspot tidak bisa lagi diakses di kantor. Entah mengapa, blogspot dianggap situs yang harus diblok di kantor. Padahal, blogspot bukan sebuah situs porno atau situs yang membahayakan keamanan negara. Bahkan, blogspot adalah sebuah tempat untuk mengasah keterampilan menulis. Sungguh aneh. Padahal, banyak sekali cerita yang sudah terjadi dan menambah panjang jejak seorang EdiGinting.

Karena itu, saking lamanya udah gak membuka, aku pun akhirnya lupa apa nama password yg kupakai. Lucu juga. Segala password sudah dicoba, namun selalu gagal. Tapi, setelah mau menyerah, ah... akhirnya masuk juga. Syukur deh. Thanks God.

Itulah kabar terbaru dari seorang EdiGinting. Mudah-mudahan mulai hari ini JeJAK EdiGinting bisa diupdate setiap saat. Selengkapnya...