Sabtu, 27 September 2008

NAIK BUSWAY YANG MENJENGKELKAN

Jam baru menunjukkan pukul 5 sore, ketika gw terjebak macet di depan JCC Jakarta. Bis yang gw naiki sama sekali ga bisa jalan. Bis baru lancar kembali menuju Jalan Sudirman sekitar 15 menit kemudian. Jam setengah 6 kurang, gw dah tiba di halte Busway Dukuh Atas. Gw menyaksikan begitu banyak manusia yang antre di dalam halte, baik ke arah Kota maupun Blok M. Gw, bersyukur bukan berada di sana. Sambil menyaksikan orang-orang yang sedang antre, gw pun berjalan menuju jembatan penyeberangan menuju Halte Busway juruan Pulo Gadung dan Ragunan. Gw berjalan agak cepat supaya cepat sampai.


Sesampainya di halte, kondisinya rupanya sama saja, karena begitu panjang yang antre. Terutama penumpang tujuan Pulo Gadung. Antrean ke Ragunan mungkin saja cuma 20-an orang termasuk gw. Celakanya, bis sangat lama sekali datang. Beberapa kali gw melihat jam tangan karena sudah terlalu lama bis belum datang juga. Bebeberapa penumpang juga sudah mengeluh. Bis baru datang sekitar 15 menit kemudian ketika azan magrib sudah lewat 5 menit dan gw belum buka puasa juga.

Perjalanan bis awalnya normal-normal saja. Kondisi ini berubah ketika hendak menuju Halte GOR Sumantri, tempat gw turun. Bis tiba-tiba berbelok dan masuk ke jalur non-busway yang sedang padat merayap. Begitu sampai di depan halte, baru ketahuan penyebabnya. Rupanya ada mobil pribadi yang masuk jalur busway dan mogok di depan halte. Tampak mobil sedang didorong keluar dari jalur busway. Di kaca belakang mobil, tampak gambar seorang tokoh nasional yang masih giat berkampanye untuk menjadi calon presiden. Ah, sangat memalukan sekali.

Gw pun tidak bisa turun di halte GOR Sumatri dan akhirnya baru turun di halte berikutnya di Halte Depkes. Dari sana, gw naik busway lagi untuk kembali ke halte GOR Sumantri. Sialnya, bis Busway baru datang sekitar 15 menit kemudian. Jam pun sudah menunjukkan pukul 6.30 dan gw tetap belum buka puasa.

Pengalaman sore kemarin sungguh sangat menjengkelkan...
Selengkapnya...

Kamis, 25 September 2008

ALKOHOL MAUT DI INDRAMAYU


Korban tewas akibat keracunan minuman keras di Indramayu, Jawa Barat, terus bertambah hingga 20 orang. Diduga mereka tewas setelah menenggak minuman keras bermerek vodka big boss . F enomena ini tentu menjadi tanda tanya bagi publik. Sebab, bukankah selama ini Indramayu telah memiliki peraturan daerah yang melarang peredaran minuman keras? Lalu mengapa minuman keras bisa diperoleh dengan mudah kampung-kampung? Benarkah perda miras hanya sebatas wacana hitam di atas putih?

Tangis bocah ini kembali meledak. Ia meratapi jenazah ayahnya, Siregar, yang terbujur kaku di kamar jenasah Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu. Lelaki paruh baya ini meninggal dunia usai menenggak minuman keras jenis vodka. Menurut sanak keluarga Siregar, awalnya pria ini mengeluh pening dan sesak nafas. Tak disangka, rupanya itu adalah awal kematiannya.

Siregar bukanlah satu-satunya korban yang meregang nyawa karena minuman keras di Indramayu. Pekan sebelumnya, sedikitnya nyawa 16 orang pemuda sekampungnya juga melayang setelah menggelar pesta minum miras. Sebagian besar korban lainnya dapat selamat walau sempat dilarikan ke rumah sakit//

Sayangnya, banyak dari mereka dibawa dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi diujung maut. Menurut petugas rumah sakit, korban tewas karena terlambat dapat pertolongan. Mereka mengkonsumsi miras dalam jumlah terlalu banyak sekali. ”Kita belum bisa pastikan miras yang diminun itu jenis etanol atau methanol. Tapi, secara umum terjadi gangguan nafas, pencernaan depresi akut dan dan berujung kematian,” kata petugas.

Nasib baik menyapa Riyadi. Sejak Jumat pekan lalu, pemuda ini kembali sehat setelah dirawat di rumah sakit. Ia pum sempat tumbang akibat pesta miras. “Kita minum-minum mulai jam 9 malam sampai jam 9 pagi, ketiduran...tapi waktu bangun, dua teman saya sudah pulang,” kata Riyadi.

Berdasarkan penyelidikan polisi, para korban meninggal setelah menenggak vodka merek big boss/. Di TKP ditemukan vodka campur Kratingdaeng dan Autan…itu adalah hasil sementara penyelidikan petugas. Polisi juga menduga, minuman yang beredar itu telah dipalsukan. Untuk menjawab teka-teki penyebab kematian massal tersebut, Rabu pekan lalu, Kepolisian Resort Indramayu membongkar kuburan para korban.

Kisah ini telah diulas tuntas di Metro Realitas di Metro TV edisi Senin, 22 September 2008 pukul 22.30 WIB

Selengkapnya...

BAMBANG HENDARSO DANURI

Sidang Paripurna DPR RI, Rabu (24/09) mengesahkan Komjen Polisi Bambang Hendarso Danuri menjadi Kapolri menggantikan Jendral Polisi Sutanto yang memasuki pensiun. Lengkap sudah karir sang Pak Polisi ini menjadi polisi. Bintang di pundaknya sebentar lagi akan bertambah satu menjadi empat. Ia pun akan menjadi bos dari semua polisi di negeri ini.

Selamat Jenderal!

Aku punya banyak kisah tentang Pak Polisi ini, dan akan kubagi ceritanya di postingan lain. Selengkapnya...

Kamis, 18 September 2008

BEGINI SEHARUSNYA MEMBANGUN KOTA

Sebelum berangkat dari Jakarta menuju Bogota, seorang teman memberikan gambaran tentang ibukota negara Kolombia tersebut. Kata teman tersebut, Bogota adalah salah satu kota yang dulunya memiliki tingkat kriminalitas yang tertinggi di dunia. Pembunuhan dan penculikan begitu sering terjadi di sana. Karena itu, teman tersebut menyarankan agar selalu berhati-hati ketika berada di Bogota.


Ucapan dari teman di Indonesia tersebut terekam sangat baik dalam ingatan. Saat tiba di Bandara Internasional El Dorado di pinggiran Bogota, yang langsung teringat pun kata-kata teman tadi. Sikap selalu waspada dan hati-hati mewarnai setiap langkah saat meninggalkan bandara menuju hotel pada malam hari itu. Beberapa kali, yang tergambar tentang Bogota dalam lamunan selama perjalanan menuju hotel, adalah sebuah kota sarang narkoba yang sangat menyeramkan, seperti yang ada di film-film.

Namun, gambaran suram tadi langsung berubah menjadi kekaguman saat melihat Bogota pada pagi hari keesokan harinya. Rupanya, Bogota tidak seseram yang dikisahkan teman di Indonesia tadi. Mungkin ceritanya itu adalah sisa-sisa wajah Bogota 15 tahun lalu. Sebab, Bogota yang sekarang ada di depan mata adalah sebuah kota yang terlihat sangat ramah, indah, dan lebih manusiawi.

Selain menjadi ibu kota Kolombia, Bogota juga menjadi kota terbesar di salah satu negara Amerika Latin itu. Kota yang dibangun oleh Gonzalo Jimenes de Quesada pada tahun 1536 ini, berada di ketinggian sekitar 2.640 meter di atas permukaan laut. Udaranya sejuk seperti di Puncak Bogor, Malang, atau Berastagi. Cuaca di sini tidak menentu. Kadang-kadang panas, namun sebentar kemudian turun hujan.

Sekilas, suasana Bogota tidak beda jauh dengan Jakarta karena sama-sama ada di negara berkembang. Penduduknya sekitar 7 juta jiwa, dengan jumlah kendaraan mencapai 1,2 juta unit. Hampir seluruhnya adalah mobil karena sepeda motor sangat jarang ada di Bogota. Namun, begitu kita berjalan menyusuri sudut-sudut kota, terlihat sekali keunggulan Bogota dibandingkan Jakarta atau kota lain di Indonesia. Bogota terasa lebih bersahabat, baik bagi warganya maupun bagi lingkungan. Tidak terasa keangkeran yang selama ini sering melekat pada Kolombia.

Sistem angkutan massal berbasis bis yang diberi nama Trans Milenio, hanyalah salah satu contoh keberhasilan yang patut ditiru oleh Indonesia dalam membangun kota yang lebih bersahabat bagi manusia dan lingkungan. Masih banyak keberhasilan lain yang bisa ditiru dari kota yang dulunya bernama Santa Fe de Bacata ini. Bogota hanya memerlukan waktu beberapa tahun untuk mengubah wajah dari penuh aksi kriminalitas menjadi sebuah kota yang ramah, dan nyaman untuk ditinggali.

“Dulunya, Bogota juga sama dengan Jakarta yang banyak kawasan yang semrawut, becek, dan kumuh. Sebelum tahun 2000, Bogota diperintah oleh Walikota Antanas Mockus Civicas. Dialah yang menanamkan ketertiban dan keamanan di Bogota. Dulunya, angka pembunuhan di Bogota mencapai 500 orang per tahun. Dengan sikap tangan besi, ia berhasil membuat Bogota Aman. Gebrakan Antanan Mockus diteruskan oleh Enrique Penalosa, sehingga Bogota berubah menjadi seperti sekarang ini,” kata Johan J. Mulyadi, Sekretaris I KBRI di Kolombia, yang beberapa kali menemani rombongan dari Indonesia selama di Kolombia.

Tangan besi yang dimaksud Johan adalah dengan meminta semua pemilik lahan dan bangunan untuk mundur 100 meter. Bagi yang tidak mau memenuhinya, Enrique Penalosa mengancam mereka dengan hukuman yang sangat berat. Awalnya, upaya tadi mendatangkan pmogokan dan penolakan. Bahkan, Enrique Penalosa bukan hanya menghadapi pemogokan, tapi juga ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Menurut Johan, Penalosa menerima lebih dari 100 kali ancaman pembunuhan saat awal-awal menerapkan tangan besinya untuk mengubah wajah Bogota.

Namun, kini masyarakat sudah merasa senang karena melihat kota mereka lebih nyaman, manusiawi, dan bersahabat. Kini tidak ada lagi aksi penentangan. Yang ada justru rasa bangga terhadap kota mereka. Sebab, lahan yang diserahkan para pemilik lahan dan gedung di pinggir jalan tadi, digunakan untuk melebarkan jalan, membuat jalur Trans Milenio, dan untuk membangun pedestrian, jalur khusus sepeda, serta taman-taman.

Yang patut dicatat adalah, Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa, dua Wali Kota Bogota yang amat gigih merencanakan dan mengubah wajah Bogota, berlatar belakang akademis dan hampir tak punya pengalaman politik. Antanas Mockus Civicas dikenal sebagai profesor matematika dan filsafat sebelum tampil sebagai wali kota. Sedangkan Enrique Penalosa, penerus Antanas Mockus Civicas, dikenal sebagai seorang akademisi ekonomi.

Hasil pembangunan kedua wali kota tersebut begitu terasa ketika berjalan kaki menyusuri beberapa sudut Bogota. Pedestrian dibuat sangat lebar di kiri-kanan jalan raya. Setidaknya lebar minimal pedestrian di sana sekitar dua meter. Bahkan, banyak lokasi yang memiliki pedestrian selebar enam meter. Kondisinya juga sangat mulus dan tidak ada pedagang kaki lima yang memenuhi pedestrian tersebut. Siapa saja leluasa berjalan kaki tanpa perlu khawatir ada sepeda motor yang tiba-tiba lewat seperti yang sering terjadi di Jakarta.

Di beberapa lokasi, pedestrian berdampingan dengan jalan raya dan jalur khusus sepeda. Timbul rasa kagum ketika melihat kendaraan bermotor, para pejalan kaki, dan pengendara sepeda, bisa beriringan di jalur masing-masing. Mereka memiliki hak yang sama di kota ini. Mereka pun displin dalam berlalulintas. Walau jalur khusus sepeda sedang kosong, hampir tidak ada orang yang berjalan kaki di jalur sepeda tersebut. Mereka tetap berjalan di jalur pedestrian walau sedang cukup padat.

Entah kapan pemandangan seperti ini bisa dinikmati di Jakarta atau kota lain di Indonesia. Boleh dikatan, pejalan kaki maupun pesepeda masih belum dianggap ada di Indonesia. Buktinya, keberadaan pedestrian atau trotoar hanya dianggap sebelah mata di Indonesia. Kalaupun dibuat, hanya ala kadarnya saja. Yang lebih banyak justru jalan raya yang tidak memiliki pedestrian. Pelebaran pedestrian di sepanjang Jalan MH Thamrin-Sudirman saja, awalnya penuh dengan pro-kontra. Beginilah kalau hidup di negara yang lebih menganakemaskan pemilik kendaraan bermotor.

“Pelayanan di Bogota sangat sederhana. Pemerintahnya membuat pedestrian, dan warganya disuruh jalan kaki. Kini, jalan kaki sudah menjadi bagian dari hidup orang Bogota. Orang berdasi maupun orang biasa menyatu di pedestrian, sama seperti mereka menyatu di dalam bis Trans Milenio. Kultur di sini benar-benar berubah dalam beberapa tahun terakhir,” kata Michael Menufandu, Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, ketika menjamu makan malam rombongan dari Indonesia.

Saat berkeliling kota Bogota, terlihat begitu banyak taman dijumpai di sepanjang jalan. Dari taman yang hanya seluas lapangan bulu tangkis, sampai yang berhektar-hektar. Tidak heran kalau Bogota juga mendapat julukan sebagai kota 1.001 taman. Di setiap taman, tumbuh pohon-pohon besar dan aneka jenis tanaman hias dengan bunga yang beraneka warna. Sebagian besar taman juga dilengkapi dengan bangku, tempat sampah, tempat olah raga, dan arena bermain anak-anak. Semuanya bisa dinikmati siapa saja secara gratis.

Rupanya, cara Bogota yang berhasil mengubah wajah kota dengan membuat banyak taman, menjadi inspirasi bagi kota lain di Kolombia. Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Michael Menufandu, punya kisah lain tentang kota Medelin, sebuah kota besar lain di Kolombia. Kota ini dulunya memiliki tingkat pembunuhan sangat tinggi di Kolombia karena penduduknya punya sifat saling benci.

“Namun semuanya yang buruk itu kini tinggal kenangan setelah Pemerintah Kota Medelin membuat begitu banyak taman di sana. Tujuannya adalah agar banyak tempat untuk warganya saling berinteraksi guna menjalin keakraban. Tujuan tersebut sudah berhasil. Tingkat pembunuhan di sana sudah turun drastis,” kata Michael Menufandu yang baru menjadi duta besar di Kolombia sejak April 2008 lalu.

Pemerintahan tangan besi Wali Kota Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa, juga dilakukan dalam menghilangkan kawasan kumuh di seluruh Bogota, dan menyulapnya menjadi taman-taman yang asri. Awalnya, Pemerintah Kota Bogota membangun banyak apartemen lengkap dengan fasilitasnya di sejumlah kawasan. Penghuni kawasan kumuh tersebut lalu diperintahkan untuk pindah ke apartemen tadi. Kalau tidak mau pindah, maka mereka harus pulang ke kampung halaman. Proses penggusuran ini sama sekali tidak menggunakan ganti rugi dalam bentuk uang.

Sistem transportasi juga ditata dengan sangat baik. Pemerintah Kota Bogota mengenalkan cara baru dalam bertransportasi lewat Trans Milenio. Kultur warga di sana benar-benar diubah setelah Trans Milenio hadir di jalan-jalan Bogota. Bagi bis-bis lama yang berjumlah 21 ribu unit, diberi pilihan untuk berubah menjadi angkutan sekolah setelah jalur mereka dilewati Trans Milenio.

Kalau Jakarta masih berwacana untuk membatasi jumlah kendaraan guna mengatasi kemacetan, maka Bogota telah jauh meninggalkan Jakarta. Untuk mengatur 1,2 juta unit kendaraan pribadi yang ada di Bogota, Pemerintah di sana telah membatasi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya berdasarkan nomor plat mobil. Untuk hari senin, rabu, dan jumat, kendaraan yang boleh berlalu di jalan raya hanyalah kendaraan dengan nomor berawalan genap. Sedangkan pada hari selasa, kamis, yang boleh berkeliaran hanya kendaraan yang bernomor awalan ganjil. Sedangkan pada hari sabtu, minggu, dan hari libur, ketentuan tersebut tidak berlaku. Tapi, yang patut dicatat, pada hari minggu berlaku car free day, dimana sebagian besar ruas jalan raya di Bogota tertutup untuk seluruh kendaraan bermotor.

Pemerintah Kota Bogota juga mengharamkan parkir di pinggir jalan. Semua kendaraan wajib parkir di tempat parkir. Karena itu, kata Johan, bisnis tempat parkir pun tumbuh subur di Bogota. Banyak pemilik lahan atau bangunan yang tidak berguna, akhirnya mengubah peruntukan lahan mereka menjadi tempat parkir. Hasilnya lumayan karena rata-rata tarif parkir di Bogota mencapai 1.300 peso atau sekitar Rp 6.500,- untuk 15 menit pertama.

Penataan kota yang dirintis Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa benar-benar telah dirasakan hasilnya. Bogota yang dulunya mendapatkan predikat sebagai kandang kriminalitas, polusi udara, dan kemacetan lalu lintas, kini menjadi kota yang sangat humanistis. Sebuah data menyebutkan, dalam kurun 1995 hingga 2002, angka kriminalitas di kota ini menurun drastis, dari 84 kasus per 1.000 orang menjadi 30 kasus per 1.000 orang. Angka kecelakaan lalu lintas pun mengecil. Pada 1995 tercatat 1.387 kasus, tapi pada 2002 telah menciut menjadi 697 kasus saja.

Kalau Bogota saja bisa, mengapa Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia tidak mau belajar kepada Bogota.

Selengkapnya...

KETIKA PENIKMATI SEPEDA DIMANJAKAN DI BOGOTA

Toto Sugito tak henti-hentinya tersenyum sambil memacu sepeda gunung yang ia naiki. Ia sama sekali tidak merasa lelah walau sudah bersepeda sekitar empat jam menyusuri sudut-sudut kota Bogota. Sambil terus memacu sepedanya, Toto berkali-kali mengungkapkan rasa kagumnya atas pemerintah kota Bogota yang sangat memanjakan para penikmat sepeda.

“Ini baru namanya jalur sepeda. Kalau di Jakarta ada jalur sepeda seperti ini, mudah-mudahan macet berkurang, polusi berkurang, dan kita akan lebih sehat. Memang udara Jakarta lebih panas daripada di Bogota ini. Tapi, kalau kita tetap cuek saja, Jakarta pastinya akan semakin panas dan berpolusi,” kata Toto, dari atas sepedanya di tengah kota Bogota, Kolombia, Minggu, akhir Agustus 2008 lalu.


Pada hari minggu tersebut rombongan dari Indonesia berkesempatan untuk larut dalam Ciclovia, semacam pesta sepeda yang dilaksanakan setiap hari minggu. Pada hari itu, sebagian besar jalan raya di Bogota tertutup untuk kendaraan bermotor. Jalan hanya boleh digunakan oleh orang-orang untuk beragam kegiatan seperti berjalan kaki, olah raga lari, bersepatu roda, dan tentu saja bersepeda. Penutupan jalan bagi kendaraan bermotor pada hari minggu ini, mirip dengan penutupan Jalan MH Thamrin-Sudirman di Jakarta. Bedanya adalah, penutupan jalan di Bogota berlaku di hampir semua jalan utama.

Kegiatan Ciclovia ini sudah berlangsung sejak 2000 dan kabarnya, melibatkan sekitar 2 juta orang setiap minggunya. Acara ini menjadi salah satu cara Pemerintah Bogota untuk lebih mempopulerkan sepeda kepada warganya, selain untuk mengurangi polusi di kota yang berpenduduk sekitar 7 juta jiwa tersebut. Maklum saja, dengan jumlah kendaraan yang mencapai jutaan unit, Bogota dulunya masuk dalam daftar kota dengan polusi tertinggi di dunia.
Cara lain Pemerintah Kota Bogota untuk mempopulerkan sepeda yang paling mencengangkan, adalah dengan membuat jalur khusus sepeda di hampir seluruh kota terbesar di Kolombia ini.
Hingga kini saja, sudah dibangun jalur khusus sepeda sepanjang 400 km, dan kabarnya akan terus ditambah. Jalur sepeda di Bogota diklaim sebagai jalur sepeda terpanjang di dunia.

Karena itu, tidak heran kalau Toto Sugito, yang menjadi Ketua Bike To Work, sebuah komunitas bersepeda di Indonesia yang terus gencar mengkampanyekan bersepeda ke tempat kerja itu, terkagum-kagum melihat apa yang dilakukan pemerintah Kota Bogota bagi para penikmati sepeda. Saat bersepeda di Bogota, ia tidak perlu bersepeda di jalan raya berbagi tempat dengan mobil atau sepeda motor seperti di Jakarta.

Pemerintah Bogota memang memasukkan sepeda sebagai salah satu sarana transportasi dalam sistem transportasi yang mereka kembangkan. Jangan heran kalau ada sekitar 2.000 tempat parkir sepeda di seluruh Bogota. Bahkan, tempat parkir sepeda juga dibuat menyatu dengan halte utama Trans Milenio. Hebatnya lagi, tarif parkir sepeda sudah termasuk ongkos naik Trans Milenio. Tidak mengherankan kalau sepeda semakin banyak penggemarnya di ibukota Kolombia ini.

Pemerintah Kota Bogota membangun jalur khusus sepeda sebagian besar berdampingan dengan jalan raya dan trotoar. Lebarnya sekitar dua meter untuk dua arah dan dibuat tak ubahnya seperti jalan raya. Pengendara sepeda tidak perlu khawatir jalur mereka diserobot pejalan kaki atau pihak lain karena jalur sepeda dibatasi dengan garis putih. Sedangkan garis putih putus-putus menjadi tanda pemisah kedua jalur sepeda.

Bila jalur sepeda tidak memungkinkan dibuat di antara jalan raya dan trotoar, maka Pemerintah Bogota membangun jalur sepeda di tengah median jalan. Bersepeda di lintasan ini terasa menyenangkan karena jalur sepeda berada di antara pohon-pohon besar yang banyak tumbuh di median jalan.

Bersepeda di Bogota semakin termanjakan karena begitu banyak rambu-rambu maupun marka jalan yang membuat bersepeda semakin nyaman dan aman. Tidak cukup hanya memasang rambu-rambu bergambar sepeda yang berarti jalur khusus sepeda, Pemerintah Bogota juga mencetak gambar sepeda ukuran besar di badan jalan jalur sepeda tersebut. Rambu larangan sepeda motor atau berjalan kaki sambil membawa hewan melintas, juga banyak dipasang di jalur khusus sepeda ini.

Yang lebih mengundang rasa kagum lagi, ada lampu lalu lintas khusus sepeda. Bila ada jalur sepeda yang memotong persimpangan jalan, maka pengendara sepeda tidak perlu khawatir menyeberang. Mereka tinggal melihat lampu lalu lintas yang ada di depan jalur sepeda. Saat lampu merah bergambar sepeda masih menyala, maka harap bersabar sebentar. Nah, saat lampu hijau bergambar sepeda telah menyala, maka silahkan menyeberangi jalan raya karena mobil-mobil lain sedang terkena lampu merah.

“Orang di Bogota tertib juga ya. Coba kalau di jakarta, jalur-jalur sepeda ini pasti sudah dipakai oleh pedang kali lima atau oleh pengendara sepeda motor. Dan kalau jalur sepeda yang ada di sepanjang taman-taman, pasti telah dipakai sebagai jalan alternatif untuk sepeda motor. Hebat juga rasa displin orang Bogota ini. Patut ditiru oleh orang Indonesia,” kata seorang rekan wartawan dari Indonesia yang ikut menikmati Ciclovia.

Awalnya, rombongan dari Indonesia diajak mengikuti acara Ciclovia dengan melalui beberapa jalan raya yang sudah ditutup untuk kendaraan bermotor. Begitu banyak masyarakat yang ikut dalam kegiatan ini. Jalan-jalan penuh dengan orang yang asyik berjalan kaki, bersepatu roda, berolahraga lari, dan tentu saja bersepeda dengan beranekaragam model sepeda. Mereka semua terlihat sangat menikmati kegiatan ini.

Kegiatan yang sangat langka dialami bila di Indonesia ini, tentu sangat menyenangkan walau ditemani oleh guyuran gerimis hujan. Selain disuguhi oleh pemandangan wanita-wanita cantik Kolombia dengan muka khas Amerika Latin, udara Bogota yang selalu sejuk karena berada di ketinggian sekitar 2.640 meter di atas permukaan laut, membuat acara bersepeda tidak terasa melelahkan. Ditambah lagi pemandangan indah dari bukit-bukit yang ada di pinggiran Bogota, semakin membuat acara bersepeda ini terasa tidak membosankan.

Jalan-jalan untuk acara Ciclovia ini mulai ditutup sekitar pukul tujuh pagi oleh sejumlah sukarelawan penggiat olahraga bersepeda di Bogota. Mereka memasang penutup jalan dan juga sejumlah rambu-rambu lainnya. Baru sekitar pukul delapan, mulai ramai warga Bogota yang keluar rumah sambil menggoes sepeda mereka melaju melalui jalan-jalan raya yang sudah ditutup. Bersama polisi yang disebar di sepanjang jalan, para sukarelawan ini juga berjaga-jaga di setiap persimpangan jalan. Mereka yang mengarahkan jalan dan menyetop kendaaraan bermotor untuk mengutamakan para pejalan kaki atau pesepeda bisa melintas.

Di sejumlah pinggir jalan lokasi Ciclovia tampak sejumlah kegiatan dadakan yang ada karena acara berlangsungnua Ciclovi. Misalnya saja para pedagang minuman. Yang paling nikmat adalah meminum segelas jus yang langsung dibuat ketika kita memesan. Harganya pun relatif murah. Untuk segelas jus jeruk atau mangga, kita cukup membayar 1.000 peso atau sekitar Rp 5.000,-. Sejumlah bengkel dadakan juga siap membantu para pesepeda bila sepeda mereka mengalami kerusakan.

Puas bersepeda di jalan raya yang telah ditutup, rombongan asal Indonesia dibawa menyusuri jalur khusus sepeda yang sejajar dengan jalan raya. Setelah bersepeda sekitar dua blok, sepeda kemudian menyusuri jalur sepeda yang ada di tengah median jalan. Tampak semua badan jalan jalur sepeda sangat mulus, termasuk garis pembatasnya. Beberapa kali rombongan harus berhenti di persimpangan karena lampu lalulintas untuk sepeda berwarna merah.

Setelah melewati persimpangan ketiga, rombongan dibawa menyusuri jalur sepeda yang ada di taman-taman kota. Jalur sepeda di sini dibuat berbelok-belok seakan-akan para pesepeda dipaksa untuk menikmati keasrian taman yang lengkap dengan sungai kecil di sisi kanan jalur sepeda. Bila merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar di taman-taman tersebut, maka telah tersedia areal parkir sepeda, lengkap dengan sandara berdiri untuk sepeda. Lokasi istirahat ini berdampingan dengan sarana olahraga yang ada di taman.

“Di Bogota, keamanan pejalan kaki dan yang bersepeda dijamin oleh pemerintah. Ini yang membuat Bogota begitu menarik dan nyaman. Saya kira Jakarta perlu belajar banyak dari pengalaman bogota ini,” kata Harya Setyaka, aktivias ITDP Indonesia yang juga anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, ketika sedang beristirahat di sebuah taman.

Pengalaman bersepeda di Bogota sungguh sangat mengesankan. Terbayang dalam lamunan bila pengalaman serupa bisa dirasakan juga di Jakarta. Tentu sangat menyenangkan bersepeda di jalur khusus sepeda di Jalan MH Thamrin, Jl Sudirman, atau seputar Monas, hanya sekadar berolahraga atau pergi ke kantor seperti yang sering dikampanyekan Toto Sugito dan komunitasnya. Masyarakat sehat dengan olahraga dan pemerintah pun tidak pusing lagi memikirkan polusi, kemacetan, atau besarnya subsidi BBM karena jumlah kendaraan bermotor terus membengkak. Entah kapan mimpi ini bisa terwujud di Jakarta.

“Kalau jalur sepeda dibuat di Jakarta, kita yakin pengendara sepeda akan semakin banyak. Fasilitas memang diperlukan bagi pengendara sepeda. Orang tidak bersepeda karena tidak adanya jalur khusus sepeda, serta regulasi sama sekali tidak mendukung orang bersepeda,’’ kata Toto, memecah lamunan tentang Jakarta tadi.
Selengkapnya...

Rabu, 17 September 2008

SI MERAH YANG MERAJAI JALANAN BOGOTA

Ini adalah beberapa foto hari kunjungan ke Bogota, Kolombia. Keberadaan Trans Milenio benar-benar telah mengubah pola transportasi di Bogota. Setelah melihat kondisi Trans Milenio, Busway di Jakarta seperti tidak ada apa-apanya. Kita masih jauh ketinggalan dari Bogota dalam soal menata sistem transportasi perkotaan.



Selengkapnya...

BELAJARLAH TERUS DARI BUSWAY DI BOGOTA

“Sudah empat kali rombongan dari Indonesia datang ke Bogota untuk mempelajari Trans Milenio. Apa memang tidak selesai-selesai belajarnya?”

Ucapan yang dilontarkan Slamat Tambunan, Penasihat di KBRI Kolombia tersebut, sempat membuat rombongan dari Indonesia yang baru tiba di Bogota, ibukota Kolombia, akhir Agustus 2008 lalu, berpikir sejenak. Tidak jelas maksud dari diplomat Indonesia yang bertugas di KBRI Kolombia tersebut, apa bermaksud menyindir atau memang mengungkapkan keheranannya atas kedatangan rombongan dari Indonesia (lagi) ini.


Yang jelas, sekarang datang lagi rombongan asal Indonesia untuk melihat kehebatan Bogota dalam menata sistem transportasi di kota ini. Kali ini, rombongan yang disponsori oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia ini, terbang puluhan jam dari Jakarta menuju Bogota, dengan membawa delegasi dari Departemen Perhubungan, Departemen Keuangan, Pemda DKI Jakarta, Dewan Transportasi Kota Jakarta, aktivis Bike to Work Indonesia, dan sejumlah wartawan.

Walau begitu jauh dari Indonesia, Bogota menjadi penting bagi Indonesia. Dari salah satu kota terpadat di Amerika Latin inilah, Sutiyoso, saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, meniru sistem transportasi massal berbasis bis di Bogota yang bernama Trans Milenio. Tak lama setelah Sutiyoso terbang ke Bogota, meluncurlah Busway di Jakarta yang diberi nama Transjakarta pada Januari 2004.

Sudah hampir lima tahun Busway menjadi bagian dari Jakarta. Nyatanya, seperti yang dilontarkan oleh Selamat Tambunan, Indonesia masih harus belajar dari Bogota. Lalu, apa sebenarnya yang hebat dari Bogota, ibukota negara yang lebih terkenal sebagai produsen narkoba ini?

Kehebatan tersebut satu demi satu mulai terungkap ketika rombongan diajak untuk melihat langsung pengoperasian Trans Milenio. Dari tempat menginap di hotel Cosmos 100, rombongan berjalan kaki menuju halte Trans Milenio terdekat, yakni Calle 100 station. Udara yang sejuk dan lebarnya trotoar, membuat acara jalan kaki ini tidak terasa melelahkan. Tidak sampai 10 menit, halte Trans Milenio sudah di depan mata.

Bentuk Halte Trans Milenio sangat mirip dengan halte Busway di Jakarta. Lokasinya juga ada di median jalan dan harus menaiki jembatan penyeberangan untuk mencapainya. Yang membedakan adalah, jembatan penyeberangan di Bogota tidak memiliki kanopi (penutup atap) seperti di Jakarta. Tentu ini mengganggu kenyamanan bila hujan atau saat panas yang sangat terik. Tapi, Bogota juga kelebihan lain, yakni lantai jembatan tersebuat terbuat dari plat besi yang lebih tebal sehingga tidak berisik saat diinjak. Berbeda dengan lantai jembatan Busway di Jakarta yang sangat tipis sehingga sangat berisik saat diinjak. Lebih jeleknya lagi lantai jembatan Busway di Jakarta, baut sering terlepas sehingga membuat lubang yang sangat membahayakan orang-orang yang melewatinya.

Trans Milenio sudah menerapkan sistem e-ticket dengan harga 1.400 peso atau sekitar Rp 7.000,00. Sama dengan di Jakarta, tiket Trans Milenio juga berlaku untuk lebih dari satu kali naik bis selama tidak keluar dari halte. Kelebihan tiket Trans Milenio adalah, para calon penumpang bisa membeli di loket hanya untuk sekali jalan atau lebih. Bila hanya sekali jalan, maka tiket yang berbentuk kartu ini, harus dimasukkan ke dalam kotak saat melewati pintu masuk. Bila membeli tiket untuk beberapa kali perjalanan, maka tiket tinggal dihadapkan pada sensor. Bila sensor belum berbunyi, jangan harap pintu terbuka. Seorang petugas yang selalu ada di dekat pintu masuk ini, juga siap membantu bila mengalami kesulitan di pintu masuk ini.

“Ini yang harus ditiru oleh Jakarta. Sudah bukan jamannya lagi memakai tiket mirip karcis bioskop tahun 80an yang harus disobek di pintu masuk. Sistem tiket dengan cara sangat manual yang sekarang ini dipakai di Busway Jakarta, sangat memungkinkan adanya potensi kebocoran. Ini sudah jaman teknologi canggih. Kita bisa pakai jasa bank dalam urusan tiket ini. Dengan e-ticketing, jumlah penumpang juga bisa terpantau dengan lebih mudah,’’ kata Milatia Kusuma, Direktur ITDP Indonesia, di dalam halte Trans Milenio.

Berada di dalam halte Trans Milenio seperti sedang berada di ruang tunggu bandara. Semua papan petunjuk disusun sangat rapi dan sangat informatif. Misalnya saja, peta jalur Trans Milenio berikut lokasi setiap yang halte terpampang sangat rapi di dinding halte. Sangat berbeda dengan halte Busway di Jakarta yang banyak tidak memiliki peta jalur Busway. Kalaupun ada, banyak warna dan tulisannya telah pudar sehingga hanya menjadi pajangan tanpa makna di dinding halte.

Selesai melihat peta, maka tinggal mencari pintu mana bis yang ditunggu akan berhenti. Para calon penumpang tidak perlu takut salah pintu karena semua papan petunjuk pintu dan petunjuk-petunjuk lain yang terdapat di dalam halte, sudah terpasang di langit-langit halte dengan bentuk sangat bagus dan warna-warni yang sangat cerah. Ada juga layar monitor yang menunjukkan bis nomor sekian berapa menit lagi tiba di halte tersebut.

Ini semua sangat berbeda dengan halte Busway di Jakarta. Di halte besar Harmoni misalnya. Petunjuk jurusan bis di setiap pintu hanya dibuat ala kadarnya pada selembar kertas putih. Tidak jarang, tulisan pun hanya ditulis dengan tangan dan ditempel di kaca halte dengan menggunakan solatip. Sungguh sangat tradisional. Belum lagi petunjuk-petunjuk lainnya yang menuntun calon penumpang, tidak ada di halte-halte Busway di Jakarta. Tidak heran kalao para calon penumpang pun akhirnya kebingungan dan banyak yang salah naik bis.

Saat rombongan dari Indonesia sedang menunggu bis bernomor D10, muncul pengumuman di layar monitor kalau bis nomor D10 akan tiba sekitar dua menit lagi. Segera muncul pertanyaan tentang bagaimana calon penumpang bisa diberikan info tentang waktu kedatangan bis tersebut. Rupanya, Trans Milenio memiliki pusat ruang kontrol yang terintegrasi dengan semua halte. Dari sini-lah, seluruh halte, posisi bis, pengaturan jumlah bis yang beroperasi setiap jam, dan juga soal keamanan Trans Milenio, dikendalikan dengan sangat ketat.

Pusat ruang kontrol Trans Milenio yang ada di kantor Walikota Bogota, begitu megah dan mirip seperti ruangan agen rahasia yang ada di film-film holywood. Di dinding paling depan ruangan terdapat sebuah layar raksasa berisi kondisi di setiap halte Trans Milenio, grafik penumpang, pergerakan bis, dan layar CCTV. Di depan layar besar tadi, berjejer meja-meja lengkap dengan komputer. Di depan setiap meja duduk petugas yang tak henti-hentinya mengklik mouse komputer. Para petugas ini-lah yang mengirim segala macam informasi kepada semua petugas yang ada di lapangan, seperti kondisi lalu lintas, kepadatan penumpang di setiap halte yang diperlukan untuk mengatur jumlah bis yang beroperasi, dan informasi penting lainnya.

Sedangkan di sisi kanan ruangan terdapat empat layar monitor untuk memantau seluruh CCTV yang ada di jalur Trans Milenio. Kondisi di setiap halte bisa terpantau dari sini. Kalau ada masalah keamanan atau memerlukan bantuan pihak kepolisian, maka tinggal menyampaikannya kepada perwakilan dari Kepolisian Bogota yang memiliki ruangan di sampingnya. Sebagai angkutan massal dan menyangkut jalan raya, peran polisi memang dibutuhkan. Dan, Trans Milenio telah menyadarinya dengan cara mengajak polisi duduk bersama dalam mengoperasikan Trans Milenio. Bahkan, polisi ditempatkan di setiap halte Trans Milenio mininal satu orang.

Semua sistem di pusat ruang kontrol Trans Milenio ini bisa berjalan mulus karena Trans Milenio telah memanfaatkan teknologi satelit dan GPS (Global Positioning System). Karena alat GPS telah dipasang di setiap bis, maka petugas di ruang kontrol dapat memantau posisi seluruh bis. Sedangkan kondisi halte dapat terpantau lewat kamera CCTV di setiap halte yang terintegrasi ke ruang kontrol ini. Rupanya, ini jawaban yang tadi membuat heran rombongan dari Indonesia mengapa bisa muncul informasi di layar monitor di halte mengenai berapa lama lagi bis nomor D10 akan datang. Lewat sistem yang sudah canggih ini, tentunya Trans Milenio tidak lagi perlu khawatir dua bus dengan rute yang sama akan datang berdekatan atau jaraknya sangat jauh seperti yang acapkali terjadi di Busway Jakarta.

“Polda Metro Jaya sebenarnya sudah memiliki Traffic Management Center atau TMC yang dapat memantau seluruh lalulintas di Jakarta. Kalau tidak salah, Pemda DKI juga memiliknya di Balaikota. Di setiap halte Busway di Jakarta juga sudah dipasang CCTV. Ini sebenarnya bisa dipakai untuk membuat sistem control room di Busway Jakarta seperti di Bogota ini. Sekarang bagaimana kemauan semua pihak saja untuk segera mungkin membenahi manajemen Transjakarta,” ujar Harya Setyaka, anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, usai mengunjungi Ruang Kontrol Trans Milenio.

Sejak mulai operasi pada tahun 2000, Trans Milenio baru memiliki tiga fase dengan total panjang jalur mencapai 107 km. Rencananya, fase berikutnya akan segera dibangun hingga pada akhirnya menjangkau seluruh wilayah Bogota. Istilah fase di sini tidak sama dengan istilah koridor yang dipakai di Busway Jakarta. Walau Trans Milenio baru terdiri dari tiga fase, bukan berarti di sana hanya ada tiga rute bis. Sebab, hanya dengan tiga fase, rute yang dilayani telah mencapai puluhan.

Banyaknya rute yang dilayani Trans Milenio walau baru memiliki tiga fase ini, dapat terwujud karena dalam satu fase, bisa dilayani oleh banyak jalur bis. Contohnya, di fase I yang memiliki panjang 42 km. Bisa jadi, ada 10 rute bis yang melayani jalur ini. Semua dibagi berdasarkan kepadatang penumpang di setiap halte yang disinggahi, waktunya siang atau malam, hari biasa atau libur, dan faktor lainnya.

Dari sini saja sudah sangat berbeda dengan Busway di Jakarta yang telah memiliki tujuh rute bis dari tujuh koridor yang sudah beroperasi. Padahal, berkaca dari Trans Milenio, koridor Blok M-Kota koridor ini bisa saja dipecah-pecah menjadi banyak rute sesuai kebutuhan dan karakteristik penumpang. Misalnya, dibuat busway rute Kota-Harmoni karena penumpang dari Kota sebagian besar selalu turun di Harmoni. Atau Blok M-Bunderan HI karena tujuan penumpang dari Blok M lebih besar ke Bunderan HI daripada yang turun di Kota.

Total bis yang telah dioperasikan oleh Trans Milenio sekitar 1059 unit yang mampu menangkut 1,42 juta penumpang setiap hari. Dalam mengoperasikan bis-bis ini, Bogota juga membagi bentuk pelayanan menjadi tiga macam. Yakni, local service (bis berhenti disetiap halte), express service (bis berhenti di sebagian besar halte penting), super-express service (bis hanya berhenti di sedikit halte yang dianggap penting). Agar tidak membingungkan penumpang, semua informasi ini terpampang sangat jelas di peta Trans Milenio yang ada di setiap halte dan dengan mudah bisa dimengerti oleh siapa saja.

“Awalnya memang membingungkan karena kita bisa salah naik bis atau nyasar ke tempat lain. Tapi, dengan dua kali naik Trans Milenio ini saja, kita sudah mengerti bagaimana menggunakan Trans Milenio ini. Pengaturannya sudah hebat sekali. Bahkan hari biasa dan hari libur saja, rute bis berbeda-beda dalam jalur yang sama. Jakarta harus belajar dari Bogota agar Busway kita bisa maksimal beroperasi,” kata Bahwani, rekan wartawan dari Indonesia.

Bis-bis Trans Milenio yang seluruhnya berbentuk bis gandeng, tidak mengalami hambatan saat melaju di jalan raya, karena hampir seluruh jalur di sana terdiri dari dua lajur. Kalaupun masih ada jalur yang terdiri dari satu lajur, jalur tersebut pasti melebar menjadi dua lajur di setiap halte yang dilewati. Tidak heran kalau tiga sistem pelayanan tadi bisa dengan mudah dipraktekkan karena bis tidak perlu menunggu bis di depannya untuk berangkat di setiap halte. Selain itu, tidak ada kendaraan lain yang berani memasuki jalur Trans Milenio seperti yang terjadi di Jakarta.

Bogota sama sekali tidak kesulitan menerapkan sistem ini karena infrastruktur dan manajemen pengelolaan benar-benar disiapkan dengan sangat baik. Misalnya saja untuk jalur bis Trans Milenio yang tidak menggunakan badan jalan yang sudah ada, melainkan benar-benar membuat jalan baru. Jangan heran kalau di beberapa titik, lebar jalur Trans Milenio sama dengan jalan untuk umum. Trans Milenio juga tidak menerapkan perpindahan halte dengan sistem jembatan seperti yang ada Busway di Dukuh Atas, Matraman, atau Senen. Mereka lebih memilih membangun persimpangan bawah tanah. Suasana di dalam terowongan juga dibuat sangat bagus dengan papan iklan yang memenuhi kiri-kanan terowongan. Ini tentu menjadi pemasukan lain bagi Trans Milenio.

Kondisi ini semua sangat berbeda dengan di Jakarta yang lebih suka mengejar target jumlah koridor daripada membenahi dulu koridor yang sudah ada dengan baik. Akibatnya, begitu banyak masalah yang terus membelit Busway di Jakarta yang akhirnya mengganggu kenyamanan para pengguna jasa Transjakarta atau pengguna jalan lainnya. Bahkan, pembangunan koridor VIII-X yang dulunya sangat membuat macet Jakarta karena pengerjaannya dipaksakan berbarengan, kini belum juga beroperasi karena Transjakarta belum memiliki bis tambahan.

“Perencanaan yg dilakukan dalam mempersiapkan Trans Milenio jauh lebih matang daripada persiapan Transjakarta yang terburu-buru dan mengejar target. Target konstruksi jumlah koridor pada saat itu menjadi prioritas, ketimbang meningkatkan dulu tingkat pelayanan dan menyempurnakan operasi koridor yang sudah berjalan,” kata Milatia Kusuma.

Pengoperasian Trans Milenio yang sudah begitu canggih ini membuat Pemerintah Bogota tidak perlu repot mengurusinya. Sejak beroperasi, Trans Milenio tidak pernah mendapatkan subsidi. Pendapatan dari tiket plus pemasukan lain seperti iklan, mampu membuat Trans Milenio mandiri menghidupi dirinya. Mereka tidak perlu repot-repot ‘mengemis’ kepada pemerintah setiap tahun untuk mendapatkan subsidi seperti yang dialami oleh Busway di Jakarta.

“Ini jelas bisnis yang menguntungkan. Trans Milenio saja tidak mendapatkan subsidi sejak awal. Transjakarta harus belajar soal ini kepada Trans Milenio mengapa mereka bisa survive tanpa subsidi. Pakai segera sistem tiket elektronik untuk memastikan berapa sebenarnya jumlah penumpang Transjakarta setiap hari. Jangan cuma bisa meminta kenaikan tarif dan menunggu subsidi dari Pemda DKI yang mencapai ratusan miliar rupiah pertahun. Belajar dong dari kasus PPD yang akhirnya kolaps karena menggantungkan hidup dari subsidi ,” ujar Milatia Kusuma.

Rombongan dari Indonesia semakin dibuat takjub ketika dibawa menuju Suba Terminal Station, yakni sebuah halte besar Trans Milenio yang menjadi ujung salah satu fase-nya. Di sini, Trans Milenio terlihat benar-benar telah diintegrasikan dengan sistem transportasi lain berikut sarana penunjangnya. Dari sini-lah para penumpang berpindah dari bis feeder ke bis Trans Milenio. Begitu juga sebaliknya. Di lokasi ini juga ada tempat parkir bis-bis Trans Milenio, tempat parkir bis-bis feeder, SPBU, lahan parkir kendaraan pribadi, dan bahkan bahkan tempat parkir sepeda.

Ada 410 unit bis yang dioperasikan sebagai feeder bus di Bogota. Semuanya melayani 73 rute yang telah menjangkau 477 km di pinggiran Bogota. Kalau bis Trans Milenio seluruhnya berwarna merah, maka untuk feeder bus berwarna hijau. Kalau bis Trans Milenio bertipe bis gandeng, maka bis feeder bertipe bis biasa. Tapi, kalau soal tiket, keduanya tidak berbeda. Tiket feeder juga berlaku untuk tiket bis Trans Milenio. Bahkan, tarif parkir sepeda di terminal ini juga telah termasuk tiket untuk naik bis Trans Milenio.

Dengan alasan mampu membawa banyak penumpang, semua bis yang dipakai Trans Milenio adalah jenis bis gandeng seperti yang telah dioperasikan oleh Transjakarta untuk koridor Ancol-Kampung Melayu. Kursi penumpang di setiap bis Trans Milenio menghadap ke depan dengan menyisakan ruang untuk berdiri yang cukup lebar.

Tapi, Anda harus memperhatikan apa warna kursi yang Anda duduki, warna merah atau biru. Sebab, ada beberapa kursi persis di depan pintu masuk bis yang berwarna biru dengan jarak yang lumayan jauh dengan bangku di depannya. Kalau anda bukan wanita hamil, orang cacat, atau bukan orang yang sudah lanjut usia, maka jangan coba-coba duduk di bangku berwarna biru tersebut. Bisa-bisa Anda akan dipermalukan di dalam bis. Lalu untuk apa ruang yang begitu lebar di depan bangku? Aha… itu bukan untuk tempat menyimpan barang bawaan, melainkan ruang untuk penumpang berkursi roda atau untuk kereta bayi.

“Terlepas saya bekerja di Trans Milenio atau tidak, saya sangat kagum pada sistem yang telah dipakai di Trans Milenio. Sistem transportasi ini benar-benar telah mengubah pola pikir orang-orang Bogota dan juga tingkah laku mereka dalam menggunakan transportasi umum. Sistem ini telah mengenalkan satu cara baru bagi masyarakat, dan mereka mematuhinya. Contohnya adalah larangan berbicara dengan supir saat berada di dalam bis,” kata Liliana Duran, salah seorang pejabat di Trans Milenio yang ikut memberi penjelasan kepada rombongan asal Indonesia.

Terbayang pengalaman naik busway di Jakarta, saat sering melihat supir bis Transjakarta asyik ngobrol dengan penumpang.
Selengkapnya...