Kamis, 18 September 2008

BEGINI SEHARUSNYA MEMBANGUN KOTA

Sebelum berangkat dari Jakarta menuju Bogota, seorang teman memberikan gambaran tentang ibukota negara Kolombia tersebut. Kata teman tersebut, Bogota adalah salah satu kota yang dulunya memiliki tingkat kriminalitas yang tertinggi di dunia. Pembunuhan dan penculikan begitu sering terjadi di sana. Karena itu, teman tersebut menyarankan agar selalu berhati-hati ketika berada di Bogota.


Ucapan dari teman di Indonesia tersebut terekam sangat baik dalam ingatan. Saat tiba di Bandara Internasional El Dorado di pinggiran Bogota, yang langsung teringat pun kata-kata teman tadi. Sikap selalu waspada dan hati-hati mewarnai setiap langkah saat meninggalkan bandara menuju hotel pada malam hari itu. Beberapa kali, yang tergambar tentang Bogota dalam lamunan selama perjalanan menuju hotel, adalah sebuah kota sarang narkoba yang sangat menyeramkan, seperti yang ada di film-film.

Namun, gambaran suram tadi langsung berubah menjadi kekaguman saat melihat Bogota pada pagi hari keesokan harinya. Rupanya, Bogota tidak seseram yang dikisahkan teman di Indonesia tadi. Mungkin ceritanya itu adalah sisa-sisa wajah Bogota 15 tahun lalu. Sebab, Bogota yang sekarang ada di depan mata adalah sebuah kota yang terlihat sangat ramah, indah, dan lebih manusiawi.

Selain menjadi ibu kota Kolombia, Bogota juga menjadi kota terbesar di salah satu negara Amerika Latin itu. Kota yang dibangun oleh Gonzalo Jimenes de Quesada pada tahun 1536 ini, berada di ketinggian sekitar 2.640 meter di atas permukaan laut. Udaranya sejuk seperti di Puncak Bogor, Malang, atau Berastagi. Cuaca di sini tidak menentu. Kadang-kadang panas, namun sebentar kemudian turun hujan.

Sekilas, suasana Bogota tidak beda jauh dengan Jakarta karena sama-sama ada di negara berkembang. Penduduknya sekitar 7 juta jiwa, dengan jumlah kendaraan mencapai 1,2 juta unit. Hampir seluruhnya adalah mobil karena sepeda motor sangat jarang ada di Bogota. Namun, begitu kita berjalan menyusuri sudut-sudut kota, terlihat sekali keunggulan Bogota dibandingkan Jakarta atau kota lain di Indonesia. Bogota terasa lebih bersahabat, baik bagi warganya maupun bagi lingkungan. Tidak terasa keangkeran yang selama ini sering melekat pada Kolombia.

Sistem angkutan massal berbasis bis yang diberi nama Trans Milenio, hanyalah salah satu contoh keberhasilan yang patut ditiru oleh Indonesia dalam membangun kota yang lebih bersahabat bagi manusia dan lingkungan. Masih banyak keberhasilan lain yang bisa ditiru dari kota yang dulunya bernama Santa Fe de Bacata ini. Bogota hanya memerlukan waktu beberapa tahun untuk mengubah wajah dari penuh aksi kriminalitas menjadi sebuah kota yang ramah, dan nyaman untuk ditinggali.

“Dulunya, Bogota juga sama dengan Jakarta yang banyak kawasan yang semrawut, becek, dan kumuh. Sebelum tahun 2000, Bogota diperintah oleh Walikota Antanas Mockus Civicas. Dialah yang menanamkan ketertiban dan keamanan di Bogota. Dulunya, angka pembunuhan di Bogota mencapai 500 orang per tahun. Dengan sikap tangan besi, ia berhasil membuat Bogota Aman. Gebrakan Antanan Mockus diteruskan oleh Enrique Penalosa, sehingga Bogota berubah menjadi seperti sekarang ini,” kata Johan J. Mulyadi, Sekretaris I KBRI di Kolombia, yang beberapa kali menemani rombongan dari Indonesia selama di Kolombia.

Tangan besi yang dimaksud Johan adalah dengan meminta semua pemilik lahan dan bangunan untuk mundur 100 meter. Bagi yang tidak mau memenuhinya, Enrique Penalosa mengancam mereka dengan hukuman yang sangat berat. Awalnya, upaya tadi mendatangkan pmogokan dan penolakan. Bahkan, Enrique Penalosa bukan hanya menghadapi pemogokan, tapi juga ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Menurut Johan, Penalosa menerima lebih dari 100 kali ancaman pembunuhan saat awal-awal menerapkan tangan besinya untuk mengubah wajah Bogota.

Namun, kini masyarakat sudah merasa senang karena melihat kota mereka lebih nyaman, manusiawi, dan bersahabat. Kini tidak ada lagi aksi penentangan. Yang ada justru rasa bangga terhadap kota mereka. Sebab, lahan yang diserahkan para pemilik lahan dan gedung di pinggir jalan tadi, digunakan untuk melebarkan jalan, membuat jalur Trans Milenio, dan untuk membangun pedestrian, jalur khusus sepeda, serta taman-taman.

Yang patut dicatat adalah, Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa, dua Wali Kota Bogota yang amat gigih merencanakan dan mengubah wajah Bogota, berlatar belakang akademis dan hampir tak punya pengalaman politik. Antanas Mockus Civicas dikenal sebagai profesor matematika dan filsafat sebelum tampil sebagai wali kota. Sedangkan Enrique Penalosa, penerus Antanas Mockus Civicas, dikenal sebagai seorang akademisi ekonomi.

Hasil pembangunan kedua wali kota tersebut begitu terasa ketika berjalan kaki menyusuri beberapa sudut Bogota. Pedestrian dibuat sangat lebar di kiri-kanan jalan raya. Setidaknya lebar minimal pedestrian di sana sekitar dua meter. Bahkan, banyak lokasi yang memiliki pedestrian selebar enam meter. Kondisinya juga sangat mulus dan tidak ada pedagang kaki lima yang memenuhi pedestrian tersebut. Siapa saja leluasa berjalan kaki tanpa perlu khawatir ada sepeda motor yang tiba-tiba lewat seperti yang sering terjadi di Jakarta.

Di beberapa lokasi, pedestrian berdampingan dengan jalan raya dan jalur khusus sepeda. Timbul rasa kagum ketika melihat kendaraan bermotor, para pejalan kaki, dan pengendara sepeda, bisa beriringan di jalur masing-masing. Mereka memiliki hak yang sama di kota ini. Mereka pun displin dalam berlalulintas. Walau jalur khusus sepeda sedang kosong, hampir tidak ada orang yang berjalan kaki di jalur sepeda tersebut. Mereka tetap berjalan di jalur pedestrian walau sedang cukup padat.

Entah kapan pemandangan seperti ini bisa dinikmati di Jakarta atau kota lain di Indonesia. Boleh dikatan, pejalan kaki maupun pesepeda masih belum dianggap ada di Indonesia. Buktinya, keberadaan pedestrian atau trotoar hanya dianggap sebelah mata di Indonesia. Kalaupun dibuat, hanya ala kadarnya saja. Yang lebih banyak justru jalan raya yang tidak memiliki pedestrian. Pelebaran pedestrian di sepanjang Jalan MH Thamrin-Sudirman saja, awalnya penuh dengan pro-kontra. Beginilah kalau hidup di negara yang lebih menganakemaskan pemilik kendaraan bermotor.

“Pelayanan di Bogota sangat sederhana. Pemerintahnya membuat pedestrian, dan warganya disuruh jalan kaki. Kini, jalan kaki sudah menjadi bagian dari hidup orang Bogota. Orang berdasi maupun orang biasa menyatu di pedestrian, sama seperti mereka menyatu di dalam bis Trans Milenio. Kultur di sini benar-benar berubah dalam beberapa tahun terakhir,” kata Michael Menufandu, Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, ketika menjamu makan malam rombongan dari Indonesia.

Saat berkeliling kota Bogota, terlihat begitu banyak taman dijumpai di sepanjang jalan. Dari taman yang hanya seluas lapangan bulu tangkis, sampai yang berhektar-hektar. Tidak heran kalau Bogota juga mendapat julukan sebagai kota 1.001 taman. Di setiap taman, tumbuh pohon-pohon besar dan aneka jenis tanaman hias dengan bunga yang beraneka warna. Sebagian besar taman juga dilengkapi dengan bangku, tempat sampah, tempat olah raga, dan arena bermain anak-anak. Semuanya bisa dinikmati siapa saja secara gratis.

Rupanya, cara Bogota yang berhasil mengubah wajah kota dengan membuat banyak taman, menjadi inspirasi bagi kota lain di Kolombia. Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Michael Menufandu, punya kisah lain tentang kota Medelin, sebuah kota besar lain di Kolombia. Kota ini dulunya memiliki tingkat pembunuhan sangat tinggi di Kolombia karena penduduknya punya sifat saling benci.

“Namun semuanya yang buruk itu kini tinggal kenangan setelah Pemerintah Kota Medelin membuat begitu banyak taman di sana. Tujuannya adalah agar banyak tempat untuk warganya saling berinteraksi guna menjalin keakraban. Tujuan tersebut sudah berhasil. Tingkat pembunuhan di sana sudah turun drastis,” kata Michael Menufandu yang baru menjadi duta besar di Kolombia sejak April 2008 lalu.

Pemerintahan tangan besi Wali Kota Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa, juga dilakukan dalam menghilangkan kawasan kumuh di seluruh Bogota, dan menyulapnya menjadi taman-taman yang asri. Awalnya, Pemerintah Kota Bogota membangun banyak apartemen lengkap dengan fasilitasnya di sejumlah kawasan. Penghuni kawasan kumuh tersebut lalu diperintahkan untuk pindah ke apartemen tadi. Kalau tidak mau pindah, maka mereka harus pulang ke kampung halaman. Proses penggusuran ini sama sekali tidak menggunakan ganti rugi dalam bentuk uang.

Sistem transportasi juga ditata dengan sangat baik. Pemerintah Kota Bogota mengenalkan cara baru dalam bertransportasi lewat Trans Milenio. Kultur warga di sana benar-benar diubah setelah Trans Milenio hadir di jalan-jalan Bogota. Bagi bis-bis lama yang berjumlah 21 ribu unit, diberi pilihan untuk berubah menjadi angkutan sekolah setelah jalur mereka dilewati Trans Milenio.

Kalau Jakarta masih berwacana untuk membatasi jumlah kendaraan guna mengatasi kemacetan, maka Bogota telah jauh meninggalkan Jakarta. Untuk mengatur 1,2 juta unit kendaraan pribadi yang ada di Bogota, Pemerintah di sana telah membatasi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya berdasarkan nomor plat mobil. Untuk hari senin, rabu, dan jumat, kendaraan yang boleh berlalu di jalan raya hanyalah kendaraan dengan nomor berawalan genap. Sedangkan pada hari selasa, kamis, yang boleh berkeliaran hanya kendaraan yang bernomor awalan ganjil. Sedangkan pada hari sabtu, minggu, dan hari libur, ketentuan tersebut tidak berlaku. Tapi, yang patut dicatat, pada hari minggu berlaku car free day, dimana sebagian besar ruas jalan raya di Bogota tertutup untuk seluruh kendaraan bermotor.

Pemerintah Kota Bogota juga mengharamkan parkir di pinggir jalan. Semua kendaraan wajib parkir di tempat parkir. Karena itu, kata Johan, bisnis tempat parkir pun tumbuh subur di Bogota. Banyak pemilik lahan atau bangunan yang tidak berguna, akhirnya mengubah peruntukan lahan mereka menjadi tempat parkir. Hasilnya lumayan karena rata-rata tarif parkir di Bogota mencapai 1.300 peso atau sekitar Rp 6.500,- untuk 15 menit pertama.

Penataan kota yang dirintis Antanas Mockus Civicas dan Enrique Penalosa benar-benar telah dirasakan hasilnya. Bogota yang dulunya mendapatkan predikat sebagai kandang kriminalitas, polusi udara, dan kemacetan lalu lintas, kini menjadi kota yang sangat humanistis. Sebuah data menyebutkan, dalam kurun 1995 hingga 2002, angka kriminalitas di kota ini menurun drastis, dari 84 kasus per 1.000 orang menjadi 30 kasus per 1.000 orang. Angka kecelakaan lalu lintas pun mengecil. Pada 1995 tercatat 1.387 kasus, tapi pada 2002 telah menciut menjadi 697 kasus saja.

Kalau Bogota saja bisa, mengapa Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia tidak mau belajar kepada Bogota.

2 komentar:

  1. Wah ...! Top Bang Ginting. Jadi pengen ke Bogota lagi nih ... (he he he)

    BalasHapus
  2. Hehehe.... Ajak-ajak kita ya mas Maman kalo ke Bogota lagi. Biar kita tuntaskan mencari si Bonita-bonita itu. Hahaha...

    BalasHapus