Rabu, 17 September 2008

BELAJARLAH TERUS DARI BUSWAY DI BOGOTA

“Sudah empat kali rombongan dari Indonesia datang ke Bogota untuk mempelajari Trans Milenio. Apa memang tidak selesai-selesai belajarnya?”

Ucapan yang dilontarkan Slamat Tambunan, Penasihat di KBRI Kolombia tersebut, sempat membuat rombongan dari Indonesia yang baru tiba di Bogota, ibukota Kolombia, akhir Agustus 2008 lalu, berpikir sejenak. Tidak jelas maksud dari diplomat Indonesia yang bertugas di KBRI Kolombia tersebut, apa bermaksud menyindir atau memang mengungkapkan keheranannya atas kedatangan rombongan dari Indonesia (lagi) ini.


Yang jelas, sekarang datang lagi rombongan asal Indonesia untuk melihat kehebatan Bogota dalam menata sistem transportasi di kota ini. Kali ini, rombongan yang disponsori oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia ini, terbang puluhan jam dari Jakarta menuju Bogota, dengan membawa delegasi dari Departemen Perhubungan, Departemen Keuangan, Pemda DKI Jakarta, Dewan Transportasi Kota Jakarta, aktivis Bike to Work Indonesia, dan sejumlah wartawan.

Walau begitu jauh dari Indonesia, Bogota menjadi penting bagi Indonesia. Dari salah satu kota terpadat di Amerika Latin inilah, Sutiyoso, saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, meniru sistem transportasi massal berbasis bis di Bogota yang bernama Trans Milenio. Tak lama setelah Sutiyoso terbang ke Bogota, meluncurlah Busway di Jakarta yang diberi nama Transjakarta pada Januari 2004.

Sudah hampir lima tahun Busway menjadi bagian dari Jakarta. Nyatanya, seperti yang dilontarkan oleh Selamat Tambunan, Indonesia masih harus belajar dari Bogota. Lalu, apa sebenarnya yang hebat dari Bogota, ibukota negara yang lebih terkenal sebagai produsen narkoba ini?

Kehebatan tersebut satu demi satu mulai terungkap ketika rombongan diajak untuk melihat langsung pengoperasian Trans Milenio. Dari tempat menginap di hotel Cosmos 100, rombongan berjalan kaki menuju halte Trans Milenio terdekat, yakni Calle 100 station. Udara yang sejuk dan lebarnya trotoar, membuat acara jalan kaki ini tidak terasa melelahkan. Tidak sampai 10 menit, halte Trans Milenio sudah di depan mata.

Bentuk Halte Trans Milenio sangat mirip dengan halte Busway di Jakarta. Lokasinya juga ada di median jalan dan harus menaiki jembatan penyeberangan untuk mencapainya. Yang membedakan adalah, jembatan penyeberangan di Bogota tidak memiliki kanopi (penutup atap) seperti di Jakarta. Tentu ini mengganggu kenyamanan bila hujan atau saat panas yang sangat terik. Tapi, Bogota juga kelebihan lain, yakni lantai jembatan tersebuat terbuat dari plat besi yang lebih tebal sehingga tidak berisik saat diinjak. Berbeda dengan lantai jembatan Busway di Jakarta yang sangat tipis sehingga sangat berisik saat diinjak. Lebih jeleknya lagi lantai jembatan Busway di Jakarta, baut sering terlepas sehingga membuat lubang yang sangat membahayakan orang-orang yang melewatinya.

Trans Milenio sudah menerapkan sistem e-ticket dengan harga 1.400 peso atau sekitar Rp 7.000,00. Sama dengan di Jakarta, tiket Trans Milenio juga berlaku untuk lebih dari satu kali naik bis selama tidak keluar dari halte. Kelebihan tiket Trans Milenio adalah, para calon penumpang bisa membeli di loket hanya untuk sekali jalan atau lebih. Bila hanya sekali jalan, maka tiket yang berbentuk kartu ini, harus dimasukkan ke dalam kotak saat melewati pintu masuk. Bila membeli tiket untuk beberapa kali perjalanan, maka tiket tinggal dihadapkan pada sensor. Bila sensor belum berbunyi, jangan harap pintu terbuka. Seorang petugas yang selalu ada di dekat pintu masuk ini, juga siap membantu bila mengalami kesulitan di pintu masuk ini.

“Ini yang harus ditiru oleh Jakarta. Sudah bukan jamannya lagi memakai tiket mirip karcis bioskop tahun 80an yang harus disobek di pintu masuk. Sistem tiket dengan cara sangat manual yang sekarang ini dipakai di Busway Jakarta, sangat memungkinkan adanya potensi kebocoran. Ini sudah jaman teknologi canggih. Kita bisa pakai jasa bank dalam urusan tiket ini. Dengan e-ticketing, jumlah penumpang juga bisa terpantau dengan lebih mudah,’’ kata Milatia Kusuma, Direktur ITDP Indonesia, di dalam halte Trans Milenio.

Berada di dalam halte Trans Milenio seperti sedang berada di ruang tunggu bandara. Semua papan petunjuk disusun sangat rapi dan sangat informatif. Misalnya saja, peta jalur Trans Milenio berikut lokasi setiap yang halte terpampang sangat rapi di dinding halte. Sangat berbeda dengan halte Busway di Jakarta yang banyak tidak memiliki peta jalur Busway. Kalaupun ada, banyak warna dan tulisannya telah pudar sehingga hanya menjadi pajangan tanpa makna di dinding halte.

Selesai melihat peta, maka tinggal mencari pintu mana bis yang ditunggu akan berhenti. Para calon penumpang tidak perlu takut salah pintu karena semua papan petunjuk pintu dan petunjuk-petunjuk lain yang terdapat di dalam halte, sudah terpasang di langit-langit halte dengan bentuk sangat bagus dan warna-warni yang sangat cerah. Ada juga layar monitor yang menunjukkan bis nomor sekian berapa menit lagi tiba di halte tersebut.

Ini semua sangat berbeda dengan halte Busway di Jakarta. Di halte besar Harmoni misalnya. Petunjuk jurusan bis di setiap pintu hanya dibuat ala kadarnya pada selembar kertas putih. Tidak jarang, tulisan pun hanya ditulis dengan tangan dan ditempel di kaca halte dengan menggunakan solatip. Sungguh sangat tradisional. Belum lagi petunjuk-petunjuk lainnya yang menuntun calon penumpang, tidak ada di halte-halte Busway di Jakarta. Tidak heran kalao para calon penumpang pun akhirnya kebingungan dan banyak yang salah naik bis.

Saat rombongan dari Indonesia sedang menunggu bis bernomor D10, muncul pengumuman di layar monitor kalau bis nomor D10 akan tiba sekitar dua menit lagi. Segera muncul pertanyaan tentang bagaimana calon penumpang bisa diberikan info tentang waktu kedatangan bis tersebut. Rupanya, Trans Milenio memiliki pusat ruang kontrol yang terintegrasi dengan semua halte. Dari sini-lah, seluruh halte, posisi bis, pengaturan jumlah bis yang beroperasi setiap jam, dan juga soal keamanan Trans Milenio, dikendalikan dengan sangat ketat.

Pusat ruang kontrol Trans Milenio yang ada di kantor Walikota Bogota, begitu megah dan mirip seperti ruangan agen rahasia yang ada di film-film holywood. Di dinding paling depan ruangan terdapat sebuah layar raksasa berisi kondisi di setiap halte Trans Milenio, grafik penumpang, pergerakan bis, dan layar CCTV. Di depan layar besar tadi, berjejer meja-meja lengkap dengan komputer. Di depan setiap meja duduk petugas yang tak henti-hentinya mengklik mouse komputer. Para petugas ini-lah yang mengirim segala macam informasi kepada semua petugas yang ada di lapangan, seperti kondisi lalu lintas, kepadatan penumpang di setiap halte yang diperlukan untuk mengatur jumlah bis yang beroperasi, dan informasi penting lainnya.

Sedangkan di sisi kanan ruangan terdapat empat layar monitor untuk memantau seluruh CCTV yang ada di jalur Trans Milenio. Kondisi di setiap halte bisa terpantau dari sini. Kalau ada masalah keamanan atau memerlukan bantuan pihak kepolisian, maka tinggal menyampaikannya kepada perwakilan dari Kepolisian Bogota yang memiliki ruangan di sampingnya. Sebagai angkutan massal dan menyangkut jalan raya, peran polisi memang dibutuhkan. Dan, Trans Milenio telah menyadarinya dengan cara mengajak polisi duduk bersama dalam mengoperasikan Trans Milenio. Bahkan, polisi ditempatkan di setiap halte Trans Milenio mininal satu orang.

Semua sistem di pusat ruang kontrol Trans Milenio ini bisa berjalan mulus karena Trans Milenio telah memanfaatkan teknologi satelit dan GPS (Global Positioning System). Karena alat GPS telah dipasang di setiap bis, maka petugas di ruang kontrol dapat memantau posisi seluruh bis. Sedangkan kondisi halte dapat terpantau lewat kamera CCTV di setiap halte yang terintegrasi ke ruang kontrol ini. Rupanya, ini jawaban yang tadi membuat heran rombongan dari Indonesia mengapa bisa muncul informasi di layar monitor di halte mengenai berapa lama lagi bis nomor D10 akan datang. Lewat sistem yang sudah canggih ini, tentunya Trans Milenio tidak lagi perlu khawatir dua bus dengan rute yang sama akan datang berdekatan atau jaraknya sangat jauh seperti yang acapkali terjadi di Busway Jakarta.

“Polda Metro Jaya sebenarnya sudah memiliki Traffic Management Center atau TMC yang dapat memantau seluruh lalulintas di Jakarta. Kalau tidak salah, Pemda DKI juga memiliknya di Balaikota. Di setiap halte Busway di Jakarta juga sudah dipasang CCTV. Ini sebenarnya bisa dipakai untuk membuat sistem control room di Busway Jakarta seperti di Bogota ini. Sekarang bagaimana kemauan semua pihak saja untuk segera mungkin membenahi manajemen Transjakarta,” ujar Harya Setyaka, anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, usai mengunjungi Ruang Kontrol Trans Milenio.

Sejak mulai operasi pada tahun 2000, Trans Milenio baru memiliki tiga fase dengan total panjang jalur mencapai 107 km. Rencananya, fase berikutnya akan segera dibangun hingga pada akhirnya menjangkau seluruh wilayah Bogota. Istilah fase di sini tidak sama dengan istilah koridor yang dipakai di Busway Jakarta. Walau Trans Milenio baru terdiri dari tiga fase, bukan berarti di sana hanya ada tiga rute bis. Sebab, hanya dengan tiga fase, rute yang dilayani telah mencapai puluhan.

Banyaknya rute yang dilayani Trans Milenio walau baru memiliki tiga fase ini, dapat terwujud karena dalam satu fase, bisa dilayani oleh banyak jalur bis. Contohnya, di fase I yang memiliki panjang 42 km. Bisa jadi, ada 10 rute bis yang melayani jalur ini. Semua dibagi berdasarkan kepadatang penumpang di setiap halte yang disinggahi, waktunya siang atau malam, hari biasa atau libur, dan faktor lainnya.

Dari sini saja sudah sangat berbeda dengan Busway di Jakarta yang telah memiliki tujuh rute bis dari tujuh koridor yang sudah beroperasi. Padahal, berkaca dari Trans Milenio, koridor Blok M-Kota koridor ini bisa saja dipecah-pecah menjadi banyak rute sesuai kebutuhan dan karakteristik penumpang. Misalnya, dibuat busway rute Kota-Harmoni karena penumpang dari Kota sebagian besar selalu turun di Harmoni. Atau Blok M-Bunderan HI karena tujuan penumpang dari Blok M lebih besar ke Bunderan HI daripada yang turun di Kota.

Total bis yang telah dioperasikan oleh Trans Milenio sekitar 1059 unit yang mampu menangkut 1,42 juta penumpang setiap hari. Dalam mengoperasikan bis-bis ini, Bogota juga membagi bentuk pelayanan menjadi tiga macam. Yakni, local service (bis berhenti disetiap halte), express service (bis berhenti di sebagian besar halte penting), super-express service (bis hanya berhenti di sedikit halte yang dianggap penting). Agar tidak membingungkan penumpang, semua informasi ini terpampang sangat jelas di peta Trans Milenio yang ada di setiap halte dan dengan mudah bisa dimengerti oleh siapa saja.

“Awalnya memang membingungkan karena kita bisa salah naik bis atau nyasar ke tempat lain. Tapi, dengan dua kali naik Trans Milenio ini saja, kita sudah mengerti bagaimana menggunakan Trans Milenio ini. Pengaturannya sudah hebat sekali. Bahkan hari biasa dan hari libur saja, rute bis berbeda-beda dalam jalur yang sama. Jakarta harus belajar dari Bogota agar Busway kita bisa maksimal beroperasi,” kata Bahwani, rekan wartawan dari Indonesia.

Bis-bis Trans Milenio yang seluruhnya berbentuk bis gandeng, tidak mengalami hambatan saat melaju di jalan raya, karena hampir seluruh jalur di sana terdiri dari dua lajur. Kalaupun masih ada jalur yang terdiri dari satu lajur, jalur tersebut pasti melebar menjadi dua lajur di setiap halte yang dilewati. Tidak heran kalau tiga sistem pelayanan tadi bisa dengan mudah dipraktekkan karena bis tidak perlu menunggu bis di depannya untuk berangkat di setiap halte. Selain itu, tidak ada kendaraan lain yang berani memasuki jalur Trans Milenio seperti yang terjadi di Jakarta.

Bogota sama sekali tidak kesulitan menerapkan sistem ini karena infrastruktur dan manajemen pengelolaan benar-benar disiapkan dengan sangat baik. Misalnya saja untuk jalur bis Trans Milenio yang tidak menggunakan badan jalan yang sudah ada, melainkan benar-benar membuat jalan baru. Jangan heran kalau di beberapa titik, lebar jalur Trans Milenio sama dengan jalan untuk umum. Trans Milenio juga tidak menerapkan perpindahan halte dengan sistem jembatan seperti yang ada Busway di Dukuh Atas, Matraman, atau Senen. Mereka lebih memilih membangun persimpangan bawah tanah. Suasana di dalam terowongan juga dibuat sangat bagus dengan papan iklan yang memenuhi kiri-kanan terowongan. Ini tentu menjadi pemasukan lain bagi Trans Milenio.

Kondisi ini semua sangat berbeda dengan di Jakarta yang lebih suka mengejar target jumlah koridor daripada membenahi dulu koridor yang sudah ada dengan baik. Akibatnya, begitu banyak masalah yang terus membelit Busway di Jakarta yang akhirnya mengganggu kenyamanan para pengguna jasa Transjakarta atau pengguna jalan lainnya. Bahkan, pembangunan koridor VIII-X yang dulunya sangat membuat macet Jakarta karena pengerjaannya dipaksakan berbarengan, kini belum juga beroperasi karena Transjakarta belum memiliki bis tambahan.

“Perencanaan yg dilakukan dalam mempersiapkan Trans Milenio jauh lebih matang daripada persiapan Transjakarta yang terburu-buru dan mengejar target. Target konstruksi jumlah koridor pada saat itu menjadi prioritas, ketimbang meningkatkan dulu tingkat pelayanan dan menyempurnakan operasi koridor yang sudah berjalan,” kata Milatia Kusuma.

Pengoperasian Trans Milenio yang sudah begitu canggih ini membuat Pemerintah Bogota tidak perlu repot mengurusinya. Sejak beroperasi, Trans Milenio tidak pernah mendapatkan subsidi. Pendapatan dari tiket plus pemasukan lain seperti iklan, mampu membuat Trans Milenio mandiri menghidupi dirinya. Mereka tidak perlu repot-repot ‘mengemis’ kepada pemerintah setiap tahun untuk mendapatkan subsidi seperti yang dialami oleh Busway di Jakarta.

“Ini jelas bisnis yang menguntungkan. Trans Milenio saja tidak mendapatkan subsidi sejak awal. Transjakarta harus belajar soal ini kepada Trans Milenio mengapa mereka bisa survive tanpa subsidi. Pakai segera sistem tiket elektronik untuk memastikan berapa sebenarnya jumlah penumpang Transjakarta setiap hari. Jangan cuma bisa meminta kenaikan tarif dan menunggu subsidi dari Pemda DKI yang mencapai ratusan miliar rupiah pertahun. Belajar dong dari kasus PPD yang akhirnya kolaps karena menggantungkan hidup dari subsidi ,” ujar Milatia Kusuma.

Rombongan dari Indonesia semakin dibuat takjub ketika dibawa menuju Suba Terminal Station, yakni sebuah halte besar Trans Milenio yang menjadi ujung salah satu fase-nya. Di sini, Trans Milenio terlihat benar-benar telah diintegrasikan dengan sistem transportasi lain berikut sarana penunjangnya. Dari sini-lah para penumpang berpindah dari bis feeder ke bis Trans Milenio. Begitu juga sebaliknya. Di lokasi ini juga ada tempat parkir bis-bis Trans Milenio, tempat parkir bis-bis feeder, SPBU, lahan parkir kendaraan pribadi, dan bahkan bahkan tempat parkir sepeda.

Ada 410 unit bis yang dioperasikan sebagai feeder bus di Bogota. Semuanya melayani 73 rute yang telah menjangkau 477 km di pinggiran Bogota. Kalau bis Trans Milenio seluruhnya berwarna merah, maka untuk feeder bus berwarna hijau. Kalau bis Trans Milenio bertipe bis gandeng, maka bis feeder bertipe bis biasa. Tapi, kalau soal tiket, keduanya tidak berbeda. Tiket feeder juga berlaku untuk tiket bis Trans Milenio. Bahkan, tarif parkir sepeda di terminal ini juga telah termasuk tiket untuk naik bis Trans Milenio.

Dengan alasan mampu membawa banyak penumpang, semua bis yang dipakai Trans Milenio adalah jenis bis gandeng seperti yang telah dioperasikan oleh Transjakarta untuk koridor Ancol-Kampung Melayu. Kursi penumpang di setiap bis Trans Milenio menghadap ke depan dengan menyisakan ruang untuk berdiri yang cukup lebar.

Tapi, Anda harus memperhatikan apa warna kursi yang Anda duduki, warna merah atau biru. Sebab, ada beberapa kursi persis di depan pintu masuk bis yang berwarna biru dengan jarak yang lumayan jauh dengan bangku di depannya. Kalau anda bukan wanita hamil, orang cacat, atau bukan orang yang sudah lanjut usia, maka jangan coba-coba duduk di bangku berwarna biru tersebut. Bisa-bisa Anda akan dipermalukan di dalam bis. Lalu untuk apa ruang yang begitu lebar di depan bangku? Aha… itu bukan untuk tempat menyimpan barang bawaan, melainkan ruang untuk penumpang berkursi roda atau untuk kereta bayi.

“Terlepas saya bekerja di Trans Milenio atau tidak, saya sangat kagum pada sistem yang telah dipakai di Trans Milenio. Sistem transportasi ini benar-benar telah mengubah pola pikir orang-orang Bogota dan juga tingkah laku mereka dalam menggunakan transportasi umum. Sistem ini telah mengenalkan satu cara baru bagi masyarakat, dan mereka mematuhinya. Contohnya adalah larangan berbicara dengan supir saat berada di dalam bis,” kata Liliana Duran, salah seorang pejabat di Trans Milenio yang ikut memberi penjelasan kepada rombongan asal Indonesia.

Terbayang pengalaman naik busway di Jakarta, saat sering melihat supir bis Transjakarta asyik ngobrol dengan penumpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar