Kamis, 18 September 2008

KETIKA PENIKMATI SEPEDA DIMANJAKAN DI BOGOTA

Toto Sugito tak henti-hentinya tersenyum sambil memacu sepeda gunung yang ia naiki. Ia sama sekali tidak merasa lelah walau sudah bersepeda sekitar empat jam menyusuri sudut-sudut kota Bogota. Sambil terus memacu sepedanya, Toto berkali-kali mengungkapkan rasa kagumnya atas pemerintah kota Bogota yang sangat memanjakan para penikmat sepeda.

“Ini baru namanya jalur sepeda. Kalau di Jakarta ada jalur sepeda seperti ini, mudah-mudahan macet berkurang, polusi berkurang, dan kita akan lebih sehat. Memang udara Jakarta lebih panas daripada di Bogota ini. Tapi, kalau kita tetap cuek saja, Jakarta pastinya akan semakin panas dan berpolusi,” kata Toto, dari atas sepedanya di tengah kota Bogota, Kolombia, Minggu, akhir Agustus 2008 lalu.


Pada hari minggu tersebut rombongan dari Indonesia berkesempatan untuk larut dalam Ciclovia, semacam pesta sepeda yang dilaksanakan setiap hari minggu. Pada hari itu, sebagian besar jalan raya di Bogota tertutup untuk kendaraan bermotor. Jalan hanya boleh digunakan oleh orang-orang untuk beragam kegiatan seperti berjalan kaki, olah raga lari, bersepatu roda, dan tentu saja bersepeda. Penutupan jalan bagi kendaraan bermotor pada hari minggu ini, mirip dengan penutupan Jalan MH Thamrin-Sudirman di Jakarta. Bedanya adalah, penutupan jalan di Bogota berlaku di hampir semua jalan utama.

Kegiatan Ciclovia ini sudah berlangsung sejak 2000 dan kabarnya, melibatkan sekitar 2 juta orang setiap minggunya. Acara ini menjadi salah satu cara Pemerintah Bogota untuk lebih mempopulerkan sepeda kepada warganya, selain untuk mengurangi polusi di kota yang berpenduduk sekitar 7 juta jiwa tersebut. Maklum saja, dengan jumlah kendaraan yang mencapai jutaan unit, Bogota dulunya masuk dalam daftar kota dengan polusi tertinggi di dunia.
Cara lain Pemerintah Kota Bogota untuk mempopulerkan sepeda yang paling mencengangkan, adalah dengan membuat jalur khusus sepeda di hampir seluruh kota terbesar di Kolombia ini.
Hingga kini saja, sudah dibangun jalur khusus sepeda sepanjang 400 km, dan kabarnya akan terus ditambah. Jalur sepeda di Bogota diklaim sebagai jalur sepeda terpanjang di dunia.

Karena itu, tidak heran kalau Toto Sugito, yang menjadi Ketua Bike To Work, sebuah komunitas bersepeda di Indonesia yang terus gencar mengkampanyekan bersepeda ke tempat kerja itu, terkagum-kagum melihat apa yang dilakukan pemerintah Kota Bogota bagi para penikmati sepeda. Saat bersepeda di Bogota, ia tidak perlu bersepeda di jalan raya berbagi tempat dengan mobil atau sepeda motor seperti di Jakarta.

Pemerintah Bogota memang memasukkan sepeda sebagai salah satu sarana transportasi dalam sistem transportasi yang mereka kembangkan. Jangan heran kalau ada sekitar 2.000 tempat parkir sepeda di seluruh Bogota. Bahkan, tempat parkir sepeda juga dibuat menyatu dengan halte utama Trans Milenio. Hebatnya lagi, tarif parkir sepeda sudah termasuk ongkos naik Trans Milenio. Tidak mengherankan kalau sepeda semakin banyak penggemarnya di ibukota Kolombia ini.

Pemerintah Kota Bogota membangun jalur khusus sepeda sebagian besar berdampingan dengan jalan raya dan trotoar. Lebarnya sekitar dua meter untuk dua arah dan dibuat tak ubahnya seperti jalan raya. Pengendara sepeda tidak perlu khawatir jalur mereka diserobot pejalan kaki atau pihak lain karena jalur sepeda dibatasi dengan garis putih. Sedangkan garis putih putus-putus menjadi tanda pemisah kedua jalur sepeda.

Bila jalur sepeda tidak memungkinkan dibuat di antara jalan raya dan trotoar, maka Pemerintah Bogota membangun jalur sepeda di tengah median jalan. Bersepeda di lintasan ini terasa menyenangkan karena jalur sepeda berada di antara pohon-pohon besar yang banyak tumbuh di median jalan.

Bersepeda di Bogota semakin termanjakan karena begitu banyak rambu-rambu maupun marka jalan yang membuat bersepeda semakin nyaman dan aman. Tidak cukup hanya memasang rambu-rambu bergambar sepeda yang berarti jalur khusus sepeda, Pemerintah Bogota juga mencetak gambar sepeda ukuran besar di badan jalan jalur sepeda tersebut. Rambu larangan sepeda motor atau berjalan kaki sambil membawa hewan melintas, juga banyak dipasang di jalur khusus sepeda ini.

Yang lebih mengundang rasa kagum lagi, ada lampu lalu lintas khusus sepeda. Bila ada jalur sepeda yang memotong persimpangan jalan, maka pengendara sepeda tidak perlu khawatir menyeberang. Mereka tinggal melihat lampu lalu lintas yang ada di depan jalur sepeda. Saat lampu merah bergambar sepeda masih menyala, maka harap bersabar sebentar. Nah, saat lampu hijau bergambar sepeda telah menyala, maka silahkan menyeberangi jalan raya karena mobil-mobil lain sedang terkena lampu merah.

“Orang di Bogota tertib juga ya. Coba kalau di jakarta, jalur-jalur sepeda ini pasti sudah dipakai oleh pedang kali lima atau oleh pengendara sepeda motor. Dan kalau jalur sepeda yang ada di sepanjang taman-taman, pasti telah dipakai sebagai jalan alternatif untuk sepeda motor. Hebat juga rasa displin orang Bogota ini. Patut ditiru oleh orang Indonesia,” kata seorang rekan wartawan dari Indonesia yang ikut menikmati Ciclovia.

Awalnya, rombongan dari Indonesia diajak mengikuti acara Ciclovia dengan melalui beberapa jalan raya yang sudah ditutup untuk kendaraan bermotor. Begitu banyak masyarakat yang ikut dalam kegiatan ini. Jalan-jalan penuh dengan orang yang asyik berjalan kaki, bersepatu roda, berolahraga lari, dan tentu saja bersepeda dengan beranekaragam model sepeda. Mereka semua terlihat sangat menikmati kegiatan ini.

Kegiatan yang sangat langka dialami bila di Indonesia ini, tentu sangat menyenangkan walau ditemani oleh guyuran gerimis hujan. Selain disuguhi oleh pemandangan wanita-wanita cantik Kolombia dengan muka khas Amerika Latin, udara Bogota yang selalu sejuk karena berada di ketinggian sekitar 2.640 meter di atas permukaan laut, membuat acara bersepeda tidak terasa melelahkan. Ditambah lagi pemandangan indah dari bukit-bukit yang ada di pinggiran Bogota, semakin membuat acara bersepeda ini terasa tidak membosankan.

Jalan-jalan untuk acara Ciclovia ini mulai ditutup sekitar pukul tujuh pagi oleh sejumlah sukarelawan penggiat olahraga bersepeda di Bogota. Mereka memasang penutup jalan dan juga sejumlah rambu-rambu lainnya. Baru sekitar pukul delapan, mulai ramai warga Bogota yang keluar rumah sambil menggoes sepeda mereka melaju melalui jalan-jalan raya yang sudah ditutup. Bersama polisi yang disebar di sepanjang jalan, para sukarelawan ini juga berjaga-jaga di setiap persimpangan jalan. Mereka yang mengarahkan jalan dan menyetop kendaaraan bermotor untuk mengutamakan para pejalan kaki atau pesepeda bisa melintas.

Di sejumlah pinggir jalan lokasi Ciclovia tampak sejumlah kegiatan dadakan yang ada karena acara berlangsungnua Ciclovi. Misalnya saja para pedagang minuman. Yang paling nikmat adalah meminum segelas jus yang langsung dibuat ketika kita memesan. Harganya pun relatif murah. Untuk segelas jus jeruk atau mangga, kita cukup membayar 1.000 peso atau sekitar Rp 5.000,-. Sejumlah bengkel dadakan juga siap membantu para pesepeda bila sepeda mereka mengalami kerusakan.

Puas bersepeda di jalan raya yang telah ditutup, rombongan asal Indonesia dibawa menyusuri jalur khusus sepeda yang sejajar dengan jalan raya. Setelah bersepeda sekitar dua blok, sepeda kemudian menyusuri jalur sepeda yang ada di tengah median jalan. Tampak semua badan jalan jalur sepeda sangat mulus, termasuk garis pembatasnya. Beberapa kali rombongan harus berhenti di persimpangan karena lampu lalulintas untuk sepeda berwarna merah.

Setelah melewati persimpangan ketiga, rombongan dibawa menyusuri jalur sepeda yang ada di taman-taman kota. Jalur sepeda di sini dibuat berbelok-belok seakan-akan para pesepeda dipaksa untuk menikmati keasrian taman yang lengkap dengan sungai kecil di sisi kanan jalur sepeda. Bila merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar di taman-taman tersebut, maka telah tersedia areal parkir sepeda, lengkap dengan sandara berdiri untuk sepeda. Lokasi istirahat ini berdampingan dengan sarana olahraga yang ada di taman.

“Di Bogota, keamanan pejalan kaki dan yang bersepeda dijamin oleh pemerintah. Ini yang membuat Bogota begitu menarik dan nyaman. Saya kira Jakarta perlu belajar banyak dari pengalaman bogota ini,” kata Harya Setyaka, aktivias ITDP Indonesia yang juga anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, ketika sedang beristirahat di sebuah taman.

Pengalaman bersepeda di Bogota sungguh sangat mengesankan. Terbayang dalam lamunan bila pengalaman serupa bisa dirasakan juga di Jakarta. Tentu sangat menyenangkan bersepeda di jalur khusus sepeda di Jalan MH Thamrin, Jl Sudirman, atau seputar Monas, hanya sekadar berolahraga atau pergi ke kantor seperti yang sering dikampanyekan Toto Sugito dan komunitasnya. Masyarakat sehat dengan olahraga dan pemerintah pun tidak pusing lagi memikirkan polusi, kemacetan, atau besarnya subsidi BBM karena jumlah kendaraan bermotor terus membengkak. Entah kapan mimpi ini bisa terwujud di Jakarta.

“Kalau jalur sepeda dibuat di Jakarta, kita yakin pengendara sepeda akan semakin banyak. Fasilitas memang diperlukan bagi pengendara sepeda. Orang tidak bersepeda karena tidak adanya jalur khusus sepeda, serta regulasi sama sekali tidak mendukung orang bersepeda,’’ kata Toto, memecah lamunan tentang Jakarta tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar