Jumat, 17 Oktober 2008

IHSG, AYO BANGKITLAH!

Hari ini IHSG mencatat rekor baru untuk tahun 2008. Sayangnya, ini bukan rekor bagus. Malah sebaliknya. IHSG untuk hari ini ditutup pada level 1.399,424. Bahkan, situs Detikfinance menulis, ini adalah IHSG terendah sejak Agustus 2006. Wah..wah..wah...

Kalau index melorot, berarti disebabkan oleh tekanan jual yang tinggi sepanjang perdagangan di BEI hari ini. Lagi-lagi, kondisi pasar saham yang masih labil dituduh sebagai biak kerok mengapa Investor memilih mencairkan investasinya di saham.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat (17/10/2008) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 63,827 poin (4,36%) menjadi 1.399,424. Indeks LQ-45 turun 17,316 poin (6,04%) menjadi 269,403 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 11,447 poin (5,02%) menjadi 216,728.

IHSG hari ini berarti telah melampaui IHSG pada tanggal 8 Oktober 2008 lalu. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah republik ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) kena suspend alias ditutup. Otoritas BEI memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%. Ketika perdagangan saham ditutup, IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669.

Perdagangan saham hari Jumat ini mencatat transaksi sebanyak 40.429 kali, dengan volume 7,964 miliar unit saham, senilai Rp 3,724 triliun. Sebanyak 31 saham naik, 134 saham turun dan 4 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya adalah, Telkom (TLKM) turun Rp 500 menjadi Rp 6.200, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 400 menjadi Rp 3.750, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 200 menjadi Rp 1.875, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 150 menjadi Rp 1.600 dan Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 150 menjadi Rp 2.600 dan Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 100 menjadi Rp 1.160.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya adalah Bank Internasional Indonesia (BNII) naik Rp 40 menjadi Rp 480, Indika Energy (INDY) naik Rp 70 menjadi Rp 1.630 dan Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) naik Rp 50 menjadi Rp 1.160.

Sedangkan nasib tiga saham grup Bakrie yang baru saja diperdagangkan hari ini setelah disuspensi sejak 7 Oktober 2008 mengalami penurunan harga. Saham Bakrieland Development (ELTY) turun Rp 15 menjadi Rp 145, Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) turun Rp 45 menjadi Rp 415 dan Bakrie Telecom (BTEL) turun Rp 18 menjadi Rp 167.


(Sumber: Detikcom)
Selengkapnya...

PEDE DENGAN NOKIA 6120 CLASSIC

Punya HP jadul emang ga enak banget. Tapi, beginilah kalo punya sifat sangat konservatif yang hanya menganggap HP hanya sebagai alat bertelepon ria en ber-SMS-an. Padahal, sekarang ini, HP sudah punya banyak sekali fungsi selayaknya sebuah laptop.

Nah, karena HP yang lama pun sudah sering membuat repot karena mulai ‘batuk-batuk’, maka terpaksa deh cari HP baru. Pencarian pun dilakukan. Hampir tiap hari browsing cari model yang oke. Tapi, entah mengapa, pilihan cuma jatuh pada merek Nokia en Sony Ericcson. Ada sih merek lain, kayak Blackberry atau HTC, atau O2. Tapi kan, itu semua lebih PDA atau Smartphone. Jadi, jelas-jelas harganya juga bakal menguras kantong.

Dengan modal yang pas-pasan, akhirnya gw nemu dua type HP yang canggih, namun harga yang lumayan-lah. Keduanya adalah Nokia 6120 Classic en Sony Ericcson G502. Keduanya sudah canggih karena sudah 3,5G. Gw tertarik ma HP 3,5G karena bisa jadi modem berinternet ria. Apalagi, ada orang yang menawari gw paket langganan internet dengan Indosat yang cuma Rp 90.000/bulan. Daripada beli modem Indosat yang Rp 1,2 juta, mending cari HP yang bisa rangkap jabatan sebagai modem. Nah, dari semua HP yang sudah 3,5G, kedua HP tadi lah yang termurah en tercanggih.
Pilihan pun jatuh ke Nokia 6120 Classsic karena bentuknya lumayan asyik buat dipandang. Hehehe... Maklum, gw orang visual yang lebih mementingkan penampilan. Pas browsing, hargnya sekitar Rp 2 jutaan. Sialnya, pas dicari, tuh HP udah abis di beberapa tempat. Bahkan, di Roxy pun gada lagi yang baru. Gile..... giliran niat mau ganti HP, eh barangnya kosong. Kalo di Roxy aja yang dikenal sebagai pusatnya HP, Nokia 6120 Classic gada, gimna di tempat lain ya.

Minggu lalu, pas lagi jalan-jalan di Plangi, iseng-iseng nanya Nokia 6120 Classic pas lewat di depan konter Nokia. Eh, ternyata barangnya ada. Setelah liat-liat, akhirnya beli juga. Takutnya barangnya segera habis. Jadi deh punya HP baru. Padahal, gada niat beli HP pas ke Plangi.

Nokia 6120 Classic berbasis Symbian. Beratnya cuma 89 gram, 2 gram lebih ringan dari Nokia 6300 dan 2 gram lebih berat dari Nokia 3110 Classic (bandingkan dengan N73 yang 116 gram). Sedangkan ukuranya tinggi 105 mm, lebar 46 mm dan tebal 15 mm (N73 : 110×46x19). Yang menarik disini, HP ini merupakan HP 3G/HSPDA terkecil dan teringan yang di produksi Nokia sampai akhir 2007.





Selengkapnya...

Rabu, 08 Oktober 2008

IHSG KENA SUSPEND ALIAS DITUTUP

Untuk pertama kalinya dalam sejarah republik ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) kena suspend alias ditutup. Otoritas BEI memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%. Ketika perdagangan saham ditutup, IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Kabarnya, posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006.


"Penutupan pasar ini untuk mencegah kejatuhan saham lebih lanjut dan menenangkan pelaku pasar," kata Direktur Perdagangan BEI MS Sembiring, seperti dikutip Detikcom.

Di grafik yang ada di situs BEI ini, tampak kalau index langsung melorot sejak mulai dibuka pada pukul 9 pagi. Menjelang jam 10, index mencoba naik, namun gagal dan akhirnya terus terjun bebas hingga ke bawah 1.500an. Saat itu, index pun telah anjlok sekitar 10%

Pada pukul 11.08 WIB, grafik tampak datar. Awalnya, aku berpikir, kondisi pasar mulai berbalik arah. Namun, setelah menunggu beberapa menit, grafik tetap datar seperti tidak ada transaksi. Tunggu punya tunggu, rupanya BEI ditutup.

IHSG juga mencatat penurunan terburuk dibanding bursa-bursa dunia lain yang hanya turun 4-5%.Indeks Hang Seng turun 5,44%, Seoul turun 3,54%, KOSPI turun 3,42%, Nikkei turun 4,54%, STI Singapura turun 3,84% dan Taiwan turun 4,34%. Saham di Australia turun 4,04% dan dibelahan Eropa FTSE pada 7 Oktober malah rebound 0,35%, Xetra Dax turun 1,12%. Sementara saham-saham di Eropa masih belum buka ketika bursa-bursa Asia berguguran. Penurunan index ini mengikuti index Dow Jones yang pada penutupan 7 Oktober 2008 turun 5,11%.

Kabarnya, pelaku pasar mendukung penutupan sementara transaksi saham di Bursa Efek Indonesia. Keputusan itu dinilai sangat tepat karena ada indikasi investor asing merusak pasar saham dalam negeri demi mendapatkan likuiditas. Para pemain di BEI mengatakan, suspensi itu merupakan tindakan yang paling baik, karena bursa saham kita telah dijadikan ajang for sell besar-besaran oleh asing, yang buat mereka tidak apa-apa tapi buat kita bisa sangat merusak. Dampak penjualan oleh investor asing itu sudah sangat merontokkan pasar modal Indonesia. Investor asing terus melakukan penjualan investasinya di saham, surat utang, asuransi dan reksa dana.
Selengkapnya...

Selasa, 07 Oktober 2008

KRISIS 1930

Krisis keuangan yang tengah mengguncang Amerika Serikat, telah membuat panik seluruh dunia. Bayangan resesi global pun menjadi ketakutan seluruh dunia. Orang pun kembali ingat akan tahun 1930, ketika krisis ekonomi melanda dunia. Apa sebenarnya yang terjadi pada 1930?


Nah, tadi gw nemu sebuah artikel yang lumayan komplit tentang cerita pada 1930 silam. Artikel ini pernah dimuat di majalah Tempo no 35/XVII 31 Oktober 1987.

Gw dah copy artikel tersebut dan silahkan baca di bawah ini. Selamat membaca!


Krisis 1930, krisis 1987?

Bursa Wall Street, New York, pada 29 oktober 1929 mengalami kelumpuhan yang serius. Banyak perusahaan yang kehilangan kekayaannya. Menimbulkan masa depresi besar yang terasa dampaknya ke seluruh dunia.

ORANG kemudian menamakannya Kamis Hitam. Hari itu 24 Oktober 1929, di New York yang mulai dingin oleh musim gugur. Di Wall Street, sudut kecil yang jadi pusat keuangan Amerika Serikat, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Orang ramai-ramai jual saham, hampir serempak. Suara gaduh di gedung bursa yang berumur sekitar 100 tahun itu memekakkan telinga. Harga saham jatuh deras, semuanya. Orang cemas. Kapitalisme runtuh? Polisi dipanggil, orang takut kalau para pialang dan para bankir mengamuk. Pada suatu saat, tampak seseorang naik ke sebuah jendela di tingkat tinggi. Orang ramai menunggu ia meloncat bunuh diri. Ternyata, dia orang yang mau membetulkan jendela.

Yang tampaknya tak bisa dibetulkan ialah guncangnya keyakinan kepada keadaan ekonomi. Terutama ketika beberapa hari kemudian, 29 Oktober, satu gelombang lebih hebat terjadi lagi: saham amblas ramai-ramai dilepas. Pada pukul 4 sore Selasa itu, 16.410 ribu saham dilempar. Goldman Sachs, sebuah lembaga investasi yang sahamnya semula banyak dibeli orang, sore itu kehilangan hampir 50% kekayaannya. Beberapa pekan kemudian, diketahui: 80 juta dolar kekayaan punah seperti kena angin musim rontok.

Tak ada yang menyangka itu bisa terjadi. Tahun-tahun sebelumnya, yang tersiar adalah berita gembira. Menjelang 1929, ekonomi Amerika maju pesat -- seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dari 76 juta pada 1900 menjadi 121 juta. Kota-kota besar dibangun, perumahan didirikan, juga industri. Lapangan kerja terbuka. Tingkat pengangguran cuma 3%, sementara upah riil meningkat sampai 20%. Presiden Herbert Hoover, dalam pidato November 1928, menepuk dada dengan suara cerah seperti Presiden Reagan kini: "Kita, di Amerika hari ini, sedang mendekati ke saat kemenangan terakhir melawan kemiskinan, yang belum pernah dialami dalam sejarah oleh negeri mana pun.

Gelembung busa optimisme itu memabukkan para pembeli dan pialang di bursa saham. Semangat di perdagangan saham, yang ditandai psikologi keroyokan dan hura-hura, sekaligus spekulasi, berkibar. Menjelang 1929, sekitar 10 juta orang ikut masuk dalam pasar surat berharga itu. Menurut sejarawan ekonomi terkemuka, Robert Heilbroner, demam spekulasi untuk segera menjadi kaya -- memang waktu itu tengah menjalar ke seluruh Amerika.

Bahkan, bank-bank menyodorkan surat obligasi luar negeri, kendati bisa saja tanpa jaminan yang meyakinkan. Antara lain dari pemerintah Peru, yang dikeluarkan oleh cabang National City Bank dan kemudian terbukti hanya kertas kosong tanpa nilai. Tapi optimisme masih terjaga, terutama di bursa saham. Pada 1929 itu, selama tiga bulan di musim panas, seseorang yang membeli saham Westinghouse akan menjadi kaya dua kali lipat.

Dan, tiba-tiba, terjadilah Kamis Hitam itu. Harapan cepat kaya pun ambyar. Peristiwa yang kemudian menyusul adalah Masa Depresi Besar -- dan dunia terserang malaise.Periode paling pedih dalam sejarah ekonomi dunia itu tak bisa dihindari. Sebenarnya, sebagian gejala menjelang keruntuhan akhir Oktober itu sudah bisa diraba. Bidang industri diam-diam merosot. Bahkan selama tiga bulan, sampai September, turunnya dengan tingkat kecepatan tahunan 15%. Mungkin melihat ini, penjualan saham mulai terjadi. Makin hari makin cepat. Dan ketika harga saham jatuh, para pemegang saham tak bisa membayar pinjaman mereka ke bank. Dan bank, yang sempat terlibat dalam obligasi kosong, tak bisa berkutik. Tak ada lagi likuiditas. Sejumlah besar bank tutup, investasi macet, terjadi pengangguran.

Masa kemiskinan yang kemudian dikenal sebagai Depresi Besar itu tentu tak terjadi hanya karena jatuhnya pasar modal. Banyak analis mengatakan bahwa AS sebenarnya juga rapuh di satu sektor: pertanian. Sektor ini, sepanjang tahun 20-an, adalah "si sakit" dalam perekonomian Amerika -- ketika di kota-kota, orang ramai berlomba jual beli saham. Ketimpangan sosial juga, secara keseluruhan, mencolok: pendapatan 15 ribu keluarga atau perorangan di tingkat atas, sama besarnya dengan pendapatan 6 juta orang di tingkat terbawah.

Tak mengherankan, ketika Depresi memukul, yang paling lantak adalah yang hidup di bawah itu. Dan itu berarti jumlah orang yang terbesar. Penderitaan berkecamuk di seluruh AS. Dan karena posisi ekonomi AS masa itu, kelumpuhan ekonomi juga melanda hampir seluruh dunia di Indonesia, harga karet, misalnya, jatuh, dan dari sinilah dikenal kata "zaman meleset".

Protes sosial, di tengah kontras kaya dan melarat itu, meletup. Gerakan sosialisme, juga komunisme, bangkit. Saksi paling menyentuh dari masa itu ialah sejumlah karya sastra tentang si terinjak, terutama novel besar John Steinbeck, The Grapes of Wrath.Mungkinkah, setelah jatuhnya harga saham Oktober 1987, krisis ekonomi dunia akan berulang? Ada yang bilang, tidak. Kini, setidaknya menurut majalah The Economist, bidang-industri tak merosot, bahkan selama triwulan terakhir, naik dengan kecepatan tahunan 9%.

Perbedaan penting lainnya dengan 1929 adalah kini orang sudah mengenal John Maynard Keynes. Berbeda dengan banyak pemikiran zaman itu, ahli ekonomi Inggris itu punya resep: pemerintah harus meminjam dana. Lalu membelanjakan dana itu. Dengan begitu, ekonomi digerakkan. Buruh serta orang lain akan kecipratan, dan pada gilirannya daya beli mereka yang meningkat akan menimbulkan permintaan akan barang produksi dan jasa, dan kecepatan beredar uang akan terjaga. Tak usah takut inflasi.

Keadaan memang akan mengkhawatirkan bila sisi permintaan tak meningkat cepat. Di masa tahun 20-an, itulah justru yang cupet, dan pemerintah hanya defensif: memotong ini itu. Hanya pemerintahan AS di bawah Presiden Roosevelt yang berani bergerak, dengan sedikit resep Keynes. Contoh itu sukses, dan kini jadi teladan. Pemerintah akan lebih aktif.

"Pemerintahan mana pun merasa memiliki tanggung jawab semacam itu," kata John Kenneth Galbraith, bekas guru besar di Harvard yang pernah menulis tentang krisis 1929 dalam The Great Crash. Kini lembaga asuransi federal punya dana untuk melindungi simpanan masyarakat di bank -- suatu hal yang tak ada di tahun 30-an.Dewasa ini, lumpuhnya beberapa bank (karena dana yang cair macet, akibat utang yang tak terbayar) tak akan langsung menyebabkan ekonomi ambruk. Ada bank sentral yang tak akan membiarkan masyarakat kekurangan dana. Pekan lalu, misalnya, Ketua Federal Reserve, bank sentral AS, Alan Greenspan, sudah menjanjikan akan menyuplai pasar dengan dana cair yang dibutuhkan.

Tapi itu cuma obat sementara. Tak berarti semua cerah. Kerja sama antarnegara ekonomi kuat tak efektif. Defisit perdagangan AS tak kunjung ciut, dan semangat proteksionistis di lembaga legislatif Washington kian galak. Defisit anggaran AS begitu besar, hingga untuk menambalnya, dolar disedot dari mana saja. Maka, nilai mata uang ini pun membingungkan, dan suku bunga tinggi. Bagaimana, dalam suasana itu, meningkatkan sisi permintaan? Maukah Jerman Barat, maukah Jepang, jadi lokomotif baru dunia, ketika AS tak mampu lagi? Mohamad Cholid (Jakarta)
Selengkapnya...

IHSG YANG MEMBUAT DAG DIG DUG

Kemarin malam, sekitar pukul setengah sebelas malam, seorang kawan tiba-tiba menelepon. Dengan mata yang masih mengantuk, aku pun mengangkat telepon. Aku tidak ingat apa kata-katanya, tapi yang paling aku ingat adalah, "Ting, indeks turun sepuluh persen ya?" Dan sebentar kemudian, kami pun sudah larut dalam diskusi tentang turunnya index di Bursa Efek Indonesia (BEJ) yang kemarin turun mencapai 183,768 poin atau 10,03% ke level 1.648,739. IHSG mencatat penurunan paling parah di Asia.

Kami berdua menjadi lebih akrab setelah sama-sama ikut dalam investasi Reksa Dana Saham (RDS). Bahkan, tanpa disengaja, kami mengkoleksi RDS yang hampir sama. Tidak salah kalau kami pun begitu sering larut dalam diskusi mengenai kondisi reksa dana di negeri ini.

Apalagi ketika IHSG terus amblas sepanjang tahun 2008 ini. Dari yang mencapai 2.800-an pada awal tahun, kini sudah nyungsep pada level 1.600an. atau turun mencapai 40an%. IHSG menjadi sangat penting bagi pemain RDS karena RDS berbanding lurus dengan IHSG. Artinya, RDS pun kini telah melorot. Rata-rata RDS kini melorot 30-50%. Kondisi ini tentu sangat membuat dag dig dug. Bisa jadi malah ada yang sudah terserang sakit jantung di luar sana. Bagaimana tidak, kalau saja ada 10 juta yang diinves di sebuah RDS, maka kini uang tersebut tinggal 5 jt bila dicairkan hari ini. Mau untung malah buntung, begitulah kondisinya.

Tapi, malam tadi, kami sama-sama sepakat, bahwa kami ikut RDS adalah untuk jangka panjang. Kami yakin, krisis keuangan yang tengah melanda Amerika Serikat dan berimbas ke semua negara, termasuk Indonesia, pasti akan berlalu seperti sebuah badai. Memang, kata orang, dampak krisis ini mungkin baru lewat 2-3 tahun lagi. Semoga saja!
Selengkapnya...

SMS Lebaran 1429 H

Tenang...Tenang... SMS ini bebas dari sadapan KPK kok. Selamat Lebaran 1429 H. Mohon maaf lahir & bathin.
(EdiGinting)

(Mohon maaf bagi yang tidak mendapatkan kiriman SMS ini ya. Hehehe)
Selengkapnya...