Selasa, 07 Oktober 2008

IHSG YANG MEMBUAT DAG DIG DUG

Kemarin malam, sekitar pukul setengah sebelas malam, seorang kawan tiba-tiba menelepon. Dengan mata yang masih mengantuk, aku pun mengangkat telepon. Aku tidak ingat apa kata-katanya, tapi yang paling aku ingat adalah, "Ting, indeks turun sepuluh persen ya?" Dan sebentar kemudian, kami pun sudah larut dalam diskusi tentang turunnya index di Bursa Efek Indonesia (BEJ) yang kemarin turun mencapai 183,768 poin atau 10,03% ke level 1.648,739. IHSG mencatat penurunan paling parah di Asia.

Kami berdua menjadi lebih akrab setelah sama-sama ikut dalam investasi Reksa Dana Saham (RDS). Bahkan, tanpa disengaja, kami mengkoleksi RDS yang hampir sama. Tidak salah kalau kami pun begitu sering larut dalam diskusi mengenai kondisi reksa dana di negeri ini.

Apalagi ketika IHSG terus amblas sepanjang tahun 2008 ini. Dari yang mencapai 2.800-an pada awal tahun, kini sudah nyungsep pada level 1.600an. atau turun mencapai 40an%. IHSG menjadi sangat penting bagi pemain RDS karena RDS berbanding lurus dengan IHSG. Artinya, RDS pun kini telah melorot. Rata-rata RDS kini melorot 30-50%. Kondisi ini tentu sangat membuat dag dig dug. Bisa jadi malah ada yang sudah terserang sakit jantung di luar sana. Bagaimana tidak, kalau saja ada 10 juta yang diinves di sebuah RDS, maka kini uang tersebut tinggal 5 jt bila dicairkan hari ini. Mau untung malah buntung, begitulah kondisinya.

Tapi, malam tadi, kami sama-sama sepakat, bahwa kami ikut RDS adalah untuk jangka panjang. Kami yakin, krisis keuangan yang tengah melanda Amerika Serikat dan berimbas ke semua negara, termasuk Indonesia, pasti akan berlalu seperti sebuah badai. Memang, kata orang, dampak krisis ini mungkin baru lewat 2-3 tahun lagi. Semoga saja!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar