Minggu, 14 Desember 2008

PENCEMARAN DI DANAU TOBA

Kondisi Danau Toba kini sangat memprihatinkan. Air sudah tercemar. Bahkan, di beberapa lokasi, air sudah tidak layak dikonsumsi lagi. Parahnya lagi, banyak warga yang mulai terkena penyakit gatal-gatal. Iindustri budidaya ikan dituding sebagai sumber pencemaran terbesar di sana. Pasalnya, belasan ribu ton pakan ikan dibuang ke danau setiap tahunnya.

Hanya indah dipandang dari jauh. Begitulah sebuah ungkapan yang sering muncul bila berbicara tentang danau toba. Danau toba, yang merupakan danau terbesar di indonesia dan terletak di sumatera utara ini, memang menyuguhkan pemandangan alam yang sangat mempesona siapa saja. Bukit-bukit batu yang mengelingi danau ini, membuat siapa saja seakan-akan merasa tidak sedang di indonesia.

Hanya saja, keindahan danau toba seakan sirna setelah melihat dari dekat. Beragam aktivitas manusia telah membuat pencemaran di danau yang timbul akibat letusan gunung berapi ini. Hasil penelitian dari bapedalda sumatera utara menunjukkan, kualitas air untuk kelas I di 22 titik, menunjukkan kalau Danau Toba sudah tercemar sedang. Sangat tragis bila diingat kembali kenangan lama saat air Danau Toba masih bisa langsung diminum.

Bahkan, ada tiga lokasi di pinggiran Danau Toba yang air-nya sangat tidak direkomendasi untuk diminum tanpa pengolahan akibat tingginya pencemaran di sana. Ketiganya adalah Ajibata, Tomok, dan Pangururan.

Ada empat sumber pencemaran di Danau Toba. Keeempatnya adalah limbah domestik, pertanian, peternakan, dan keramba jaring apung. Semuanya telah mempengaruhi kualitas air Danau Toba. Kenangan indah saat air danau masih sangat bersih, bahkan bisa langsung diminum pun, kembali teringat.

Menjamurnya keramba jaring apung dituding sebagai penyebab terbesar pencemaran air Danau Toba. Berton-ton pakan ikan setiap hari disebar ke keramba ikan. Siapa yang bisa menjamin pakan ikan buatan pabrik ini, seluruhnya termakan oleh ikan?

Data di kantor Bapedalda Sumatera Utara menunjukkan, ada sekitar 5600 unit keramba jaring apung milik masyarakat yang tersebar di 51 lokasi di pinggiran Danau Toba. Semuanya semakin menutupi permukaan danau. Tidak jarang, lokasinya sangat dekat dengan kawasan wisata atau perkampungan penduduk.

Selain keramba milik masyarakat, sebuah perusahaan asing juga memiliki keramba jaring apung di Danau Toba. Namanya PT Aquafarm Nusantara. Perusahaan itu menghabiskan sekitar 15.000 ton pakan ikan setiap tahun. Perusahaan PMA asal Swiss tersebut adalah satu-satunya perusahaan ikan yang beroperasi di Danau Toba.

PT Aquafarm Nusantara sudah sekitar 10 tahun beroperasi di Danau Toba. Kini, perusahaan ini menghasilkan 30 ribu ton ikan nila setiap tahun. Semuanya diekspor ke Eropa dan Amerika. Tidak salah kalau PT Aquafarm Nusantara menjadi salah satu pemain ikan nila yang disegani di dunia//

Dengan 10 tahun beroperasi dan belasan ribu ton pakan ikan yang dibutuhkan setiap tahun, akhirnya membuat PT Aquafarm Nusantara selalu disudutkan sebagai pihak yang mencemari air Danau Toba.

Namun, Pihak PT Auafarm Nusantara berdalih kalau mereka memiliki laboratorium berstandar internasional yang berlokasi di Danau Toba. Mereka secara ketat mengontrol kualitas air. Pakan ikan jenis apung yang mereka gunakan juga tidak akan tenggelam bila memang tidak habis dimakan ikan. Sedangkan, pemberian pakan juga telah mereka kontrol jumlahnya agar selalu habis dimakan ikan. Intinya, mereka menolak dituduh sebagai penyebab pencemaran di air Danau Toba.

Udara pagi hari sangat indah untuk dinikmati di pinggiran Danau Toba. Belum lagi ditambah dengan pemandangan alam sekitar yang sangat memanjakan mata. Sejumlah wisatawan di kawasan wisata Tuk-tuk, Pulau Samosir pun tidak mau melewatkan suasana pagi untuk berendam di dalam air yang cukup dingin ini. Isu pencemaran air danau toba sama sekali tidak mengganggu mereka untuk berendam di dalam air.

Tidak jauh dari lokasi para wisatawan ini berenang, sejumlah warga sekitar mengeluh karena timbul bintik-bintik pada kulit mereka dengan rasa yang sangat gatal. Seperti yang dialami oleh Anggiat Sidabutar yang mengalami gatal-gatal pada seluruh tubuhnya. Kondisi serupa juga dirasakan oleh keenam anaknya, termasuk anak bungsu-nya yang masih bayi.

Anggiat mengaku memang menggunakan air Danau Toba untuk segala kebutuhan mulai dari mencuci, mandi, hingga untuk air minum. Tragisnya, air untuk minum pun diambil dari air permukaan danau.

Kondisi serupa juga dialami oleh Berliana Sihombing dan keluarganya. Keterbatasan ekonomi membuat keluarganya tidak mampu membeli air bersih atau membeli mesin pompa air. Air permukaan danau pun dipakai untuk segala kebutuhan, termasuk untuk memasak. Siksaan gatal pada seluruh tubuh pun menghantuinya kapan saja. Tidak ada yang bisa diperbuat selain menggaruk-garuk badan yang terasa gatal.

Hal yang sama dirasakan oleh Samson Tarigan, warga sekitar yang sering memancing di danau toba. Kini, ia merasakan gatal-gatal setiap kali memancing.

Bagi yang memiliki modal, mereka menggunakan mesin pompa untuk mengambil air danau pada kedalaman puluhan meter. Tujuannya, tentu saja berharap air di kedalaman puluhan meter lebih baik daripada air permukaan.

Isu pencemaran memang telah berpengaruh pada sektor wisata di Danau Toba. Padahal, Danau Toba selalu digembor-gemborkan sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia. Nnyatanya, pariwisata di Danau Toba seperti berjalan di tempat, bila tidak mau disebut mati pelan-pelan.
Para pengelola hotel di sekitar Danau Toba juga menolak disebut ikut mencemari Danau Toba dengan limbah yang mereka buang. Pasalnya, mereka adalah pihak yang sangat berkepentingan terhadap kondisi Danau Toba demi menggaet wisatawan. Mereka kini berharap ada kejelasan dari pemerintah tentang nasib Danau Toba. Sektor mana yang diutamakan? lingkungan? wisata? atau industri perikanan kah?

Memang, sungguh sayang, anugerah sang pencipta yang sangat indah di Danau Toba ini, akhirnya hancur oleh tangan-tangan manusia. Siapa yang harus disalahkan?
Foto-foto: Edi Ginting

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar