Kamis, 29 Januari 2009

PAK KUMIS, TURUNKAN TARIF ANGKUTAN DONG!

Dia memiliki kumis tebal, berkaca mata, dan sudah cukup berumur. Caranya bicaranya juga santai namun tegas. Senyumnya juga enak untuk dinikmati, yang mungkin saja akibat pengaruh kumis yang ada di atas bibirnya. Entah lah. Yang pasti, gara-gara kumisnya yang khas dan bisa jadi menggemeskan sebagian orang itu, akhirnya ada saja orang yang berteriak, “coblos kumisnya.” Dan, pada tahun 2007 lalu, ia sering sekali mengucapkan, “serahkan saja pada ahlinya!”.

Ya, itulah pria yang sedang diikuti oleh seorang wartawan. Tampaknya si wartawan ini kurang beruntung karena pria tersebut terus saja berjalan tanpa menjawab satupun pertanyaan si wartawan. Namun, sebagai wartawan yang sudah tahan banting, si wartawan tetap saja mengekor dari belakang sambil terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritisnya.

Wartawan: “Mengapa tarif angkutan di ibukota ini belum juga turun, Pak. Sudah ada SK Gubernur yang berlaku sejak tanggal 26 Januari 2009. Tapi, mana buktinya? Tarif angkutan tidak juga turun?”

Wartawan: “Tampaknya wibawa pemda tidak ada ya, Pak. Aturan tidak dipatuhi gitu.”

Wartawan: “Kalau sopir tidak mau menurunkan tarif, kan bisa ditekan lewat Organda atau perusahaan angkutannya. Pemda bisa mencabut izin trayeknya kan, Pak?

Wartawan: “Di Bogor, petugas dari pemda menangkap sopir angkutan yang tidak mau menurunkan tarif. Mengapa tidak ditiru di Jakarta biar awak angkutan kapok untuk tidak lagi membandel?

Wartawan: “ Dulu, saat Sutiyoso jadi Gubernur, sering sekali ia sidak. Bahkan, ia menyamar untuk masuk ke tempat-tempat hiburan malam. Hasilnya bagus lho. Tempat hiburan malam jadi lebih tertib. Kenapa cara serupa tidak dilakukan saja sekarang ini ya?”

Wartawan: “Bapak tidak gemas melihat aturan yang tidak dipatuhi itu? Bapak tidak melihat, mendengar, atau merasakan keluhan masyarakat yang selalu menggunakan angkutan umum?

Wartawan: “Kalau tarif angkutan tidak bisa turun, lalu apa dampak penurunan harga BBM yang bisa dirasakan oleh masyarakat kebanyakan di Jakarta ini?

Wartawan: “Sebenarnya Bapak ini ahli di bidang apa sih?”

Tiba-tiba saja.

“Bos….bos…. Bangun! Ente mau turun dimana? Metro TV sudah lewat tuh. Ente juga belum bayar ongkos. Tadi, ane kagak mau ganggu tidur ente.”

Dengan penglihatan yang masih belum pas, si wartawan cukup lama berusaha menatap orang yang membangunkannya itu. Orangnya berkumis, berkaca mata, sudah berumur, dan tampaknya dia ahli dalam bidangnya ini.

(Edi Ginting, saat gemas melihat berita belum turunya tarif angkutan di Jakarta)
Selengkapnya...

Minggu, 25 Januari 2009

ORANG GINTING DI STARBUCKS COFFEE

Sabtu sore, 25 Januari 2009. Starbucks Coffee di Lantai 1 FX tampak sangat ramai. Pria-wanita, tua-muda, semuanya duduk memenuhi kursi-kursi yang ada di dalam maupun di halaman luar Starbucks yang menghadap langsung Jalan Sudirman Jakarta. Gelak tawa tak henti-hentinya terdengar. Beragam pembicaraan terus mengalir, dan tidak menghiraukan alunan musik yang diputar pengelola Starbucks. Para anggota The Ginting Fam Club ikut meramaikan suasana di sana.

Memang tidak disangka. Hanya berawal dari perkenalan lewat dunia maya, tali persaudaraan semakin erat. Padahal, tadinya semuanya tidak saling kenal, walau nama mereka sama-sama berakhiran Ginting. Facebook telah mempertemukan banyak Ginting. Lewat sebuah group bernama The Ginting Fam Club, hingga Januari 2009 ini, sudah berkumpul 248 orang yang memiliki Ginting di belakang nama mereka. Dan, hari Sabtu tanggal 25 Januari 2009, dibuat sebuah acara santai untuk berkumpul di FX Jakarta, guna saling lebih mengenal para anggota yang kebetulan sedang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Sekitar enam jam ‘orang-orang Ginting’ berkumpul di tempat nongkrong baru di Jakarta itu. Selama itu juga beragam obrolan mengalir tidak henti. Obrolan berawal dari cerita Nefo Ginting yang mengawali kisah pembuatan Group The Ginting Fam Club. Dari cerita pria yang sudah melanglang buana ke banyak benua ini, terungkap kalau ternyata ‘orang-orang Ginting’ yang bergabung di group ini, banyak yang datang dari luar negeri.

Bahkan, ada anggota yang memiliki nama Ginting di belakangnya, namun baru tahu kalau Ginting adalah sebuah nama marga di Indonesia. Dari group inilah kawan tadi baru tahu, ia adalah orang Karo. Maklum, sejak umur dua tahun, ia sudah tinggal di Eropa. Bisa jadi, masih banyak Ginting ataupun orang Karo lain di seluruh dunia yang sama kondisinya dengan teman tadi. Jejaring sosial semacam Facebook, bisa mengambil peran untuk kembali menyatukan seluruh orang Karo, dimanapun berada.

Dari obrolan tentang group The Ginting Fam Club, pembicaraan melebar ke masalah Tanah Karo. Mulai soal budaya, soal kondisi Tanah Karo sekarang, rencana pembentukan Kota Berastagi, pariwisata Tanah Karo yang tidak pernah berkembang pesat, sampai pembahasan tentang orang-orang Karo yang telah menjadi orang sukses di negeri ini. Semuanya dibahas dengan sangat santai dan penuh canda tawa.

Bukan itu saja. Gara-gara tempat kumpul adalah kedai kopi hasil impor dari Amerika, muncul diskusi tentang mengapa kedai kopi lokal kalah pamor di Indonedia. Yang menarik, sempat muncul ide untuk membuat Kedai Kopi khas Karo di Jakarta. Ini bukan ide mengada-ngada, tentunya. Sebab, orang Karo sudah sejak lama punya pengalaman mengelola kedai kopi. Bahkan, di Tanah Karo sana, ada semacam kewajiban untuk singgah ke kedai kopi pada pagi dan malam hari bagi kaum lelaki. Nah, mengapa kondisi ini tidak dibuat go international saja?

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Padahal, Starbucks Coffee di FX masih ramai pengunjung pada malam minggu tersebut. Tapi, anggota The Ginting Fam Club yang berkumpul, harus meninggalkan para pengunjung lain, dengan saling bersalaman.

Dalam perjalanan pulang, masih terbayang betapa serunya obrolan sesama anggota The Ginting Fam Club di FX tadi. Padahal, cuma tiga orang yang datang dari 248 anggota group yang sudah terdaftar. Ya, memang hanya tiga anggota The Ginting Fam Club yang berkumpul. Ketiganya adalah Nefo Ginting, Edi Ginting, dan Tuah Ersada Ginting.

Sudah pasti, acara Sabtu ini adalah sebuah awal yang sangat baik. Dan obrolan-obrolan yang seru lainnya pasti akan bermunculan di pertemuan lain dengan peserta yang lebih banyak. Semoga.

(Edi Ginting, orang Perbesi yang bangga menjadi orang Karo dan orang Indonesia)

Selengkapnya...

Kamis, 22 Januari 2009

BOGOTA YANG BERSOLEK

Saat berselancar di dunia maya, tanpa sengaja, aku menemukan PDF tulisanku tentang perjalanan ke Bogota, Kolombia, yang pernah dimuat di harian Media Indonesia. Dua tulisanku tersebut dimuat pada edisi Minggu, 30 November 2008. Aku ingat, tulisan tersebut dimuat pada saat aku berada di Medan, Sumatera Utara. Bahkan, saat itu, aku membawa pulang 3 eksemplar koran Media Indonesia edisi Minggu tersebut, dari kantor Biro Media Indonesia di Medan, sebagai bahan koleksiku

Kalau Anda ingin melihat PDF tulisanku itu, COBA KLIK DI SINI. Selengkapnya...

Rabu, 21 Januari 2009

TONGGING YANG BUTUH SENTUHAN

Mata sungguh dimanjakan ketika berada di Penatapen Air Terjun Sipiso-piso, Tongging, Tanah Karo. Sungguh besar anugrah Tuhan Dibata yang Ia berikan di sini. Tidak henti-hentinya rasa kagum terucap atas pemandangan mahakarya yang ada di depan mata ini. Belum lagi udara dingin yang terasa sejuk menerpa kulit. Suara air terjun dan burung yang sayup-sayup terdengar, ikut menambah rasa kagum. Oh Tuhan, terima kasih atas anugerah-Mu ini.

Dari lokasi penatapen, terhampar pemandangan Danau Toba yang dikelilingi bukit-bukit batu. Pemandangan yang luar biasa indah ini, seakan memberi kesan kalau saya sedang tidak berada di Indonesia. Saya merasa sedang ada di sebuah negara di Eropa sana, seperti yang sering saya liat di TV atau film. Dalam hati, saya bergumam, ternyata negeri saya punya juga pemandangan alam yang super indah seperti ini.

Pemandangan Desa Tongging yang berada di tepi danau, terlihat menambah indah panorama alam Danau Toba dari penatapen ini. Hati saya terus berkata-kata, sungguh nyaman tinggal di sana. Tinggal di sebuah surga dunia yang indah, nyaman, asri, dan berpagarkan danau dan bukit-bukit batu yang hijau. Sebagai orang Karo, saya pun sangat bangga memiliki daerah yang diberi nikmat yang tak tekira ini.

Saya pun tidak sabar untuk segera turun ke bawah untuk melihat lebih dekat semua keindahan tadi. Sejuknya mandi di tepian Danau Toba sudah terasa di kulit. Niat untuk menginap di Tongging pun tidak tertahan lagi. Kendaraan pun segera dipacu menuruni bukit lewat jalan yang berliku-liku, curam, dan...agak menyeramkan, karena jurang menganga-nganga di sebelah kanan mobil.

Namun, rasa kagum ini berubah menjadi kesedihan ketika sampai di pinggiran Danau Toba. Keinginan yang tadi menggebu-gebu untuk bisa merasakan sejuknya mandi di danau, tiba-tiba saja hilang tanpa bekas. Tidak mungkin badan ini harus direndam di dekat tumpukan keramba jaring apung yang memenuhi permukaan danau. Tidak sudi juga tubuh ini harus berbagi tempat dengan eceng gondok yang tumbuh di permukaan danau. Acara mandi pun dibatalkan.

Timbul rasa kecewa dan sedih dalam diri. Rasa kagum yang tadi membara dalam hati, perlahan-lahan sirna. Ironis memang. Kawasan Tongging yang selalu didegung-dengungkan sebagai salah satu kawasan wisata di Tanah Karo, ternyata nasibnya harus begini. Sama sekali tidak ada jejak apapun yang menunjukkan kalau kawasan Tongging memang dijadikan tempat wisata, kecuali beberapa hotel yang lebih sering sepi.

Saya bukan menolak ada keramba jaring apung di Danau Toba. Silahkan saja masyarakat memelihara ikan di sana. Tapi, pemerintah perlu membuat zona-zona, mana kawasan perikanan dan mana kawasan wisata. Beragam penelitian sudah menunjukkan kalau pakan ikan memiliki pengaruh terhadap kualitas air danau. Bahkan, isu pencemaran Danau Toba sudah lama mengemuka. Tentu lebih baik kalau kawasan keramba diatur agar tidak berdampingan dengan kawasan wisata. Orang pun bisa santai mandi tanpa melihat berton-ton pakan dihambur-hamburkan di dekat mereka.

Saya sempat bertemu dengan Samson Tarigan, seorang penggila memancing, di Tongging. Sejak dulu, Samson sangat menikmati acara memancing di Danau Toba. Namun, kini acara memancing Samson tidak lagi senyaman dulu. Ia mengeluhkan badannya yang sering merasa gatal-gatal setiap kali memancing. Maklum saja, cara memancing pria ini ’agak berbeda’ dengan yang lain. Ia lebih suka memancing sambil berendam di pinggir danau yang memiliki kedalaman sekitar setengah meter. Seperti yang ia lakukan ketika dijumpai awal Desember 2008 lalu, ketika sedang memancing di belakang Sibayak Guest House, di pinggiran Desa Tongging.

”Sekarang memancing di sini, badanku ini sering gatal-gatal. Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Padahal, dulunya tidak begini. Mungkin karena air danau sudah tidak sebersih dulu. Eceng Gondok kini sangat banyak memenuhi danau. Belum lagi keramba yang ada di Tongging ini, yang mungkin berpengaruh dari pakan ikan mereka,” kata pria ini dengan logat Karo yang kental.

Dari banyak kawasan wisata di negeri ini yang saya telah kunjungi, alam Tongging tidak ada yang mengalahkan. Yang kalah hanya dari sisi pengelolaannya saja. Tongging sebenarnya sangat punya potensi besar untuk dijadikan tempat wisata dalam skala besar. Di bandingkan Parapat yang lebih ramai, alam di Tongging jauh lebih indah. Jarak dari Medan juga lebih dekat ke Tongging daripada ke Parapat.

Namun apa daya. Tongging masih dipandang sebelah mata oleh Pemerintah, termasuk Pemda Tanah Karo. Infrastuktur salah satunya. Jalan utama di Tongging tidak beda dengan jalan-jalan lain di banyak perkampungan Tanah Karo, yang berlubang dan hancur. Apalagi jalan setelah melewati desa Tongging menuju Silalahi. Kondisinya luar biasa parah. Belum lagi ditambah dengan ilalang yang ada di pingir jalan. Padahal, hotel-hotel ada di jalur tersebut.

Menata infrastuktur saja pemerintah gagal, apalagi diberi tugas untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk bisa lebih mendukung pariwisata di kawasan ini. Padahal, peran serta masyarakat setempat punya andil yang sangat besar untuk memajukan pariwisata Tongging.

Sempat terpikir oleh saya, mengapa pemerintah daerah tidak membawa sejumlah penduduk Tanah Karo untuk berkunjung ke Bali atau Jogjakarta. Di sana, mereka belajar mengenai betapa hebatnya pariwisata di sana karena didukung oleh keramahtamahan masyarakatnya. Saya bukan bermaksud untuk merendahkan keramahtamahan penduduk Tongging atau masyarakat Tanah Karo pada umumnya. Soal ini saya tidak meragukan lagi, karena saya pun bangga sebagai seorang putra asli Tanah Karo.

Hanya saja, kalau bicara tentang pariwisata, ada banyak hal lain yang harus dipelajari dalam konteks ’keramahtamahan’ tadi. Dan, saya pikir Bali dan Jogjakarta adalah dua daerah di Ibu Pertiwi ini yang bisa dicontoh.

Saya jadi teringat sebuah email yang masuk ke milis Tanah Karo, beberapa waktu lalu. Rekan di perantauan tersebut mengeluhkan pengalamannya saat berekreasi ke Tongging dan Pemandian Air Panas Lau Debok-Debok, saat menikmati sebuah liburan ke Tanah Karo.

Saat memasuki kawasan air panas, sekelompok pemuda yang menjaga akses jalan ke lokasi tersebut, meminta uang masuk sebesar Rp 6.000 per orang di luar kendaraan, termasuk anaknya yang masih berumur satu tahun 10 bulan. Yang ia sangat sesalkan, tidak ada karcis sama sekali. Padahal, mereka meminta uang masuk atas nama retribusi yang ditetapkan Pemda Tanah Karo. Perdebatan sempat terjadi. Namun, karena merasa tidak ada gunanya berdebat, ia pun terpaksa membayar.

Hal yang sama ia rasakan saat melanjutkan acara rekreasi ke Air Terjun Sipiso-piso dan Tongging. Di pintu gerbang, ia sudah harus membayar sejumlah uang untuk bisa melanjutkan perjalanan. Yang menyebalkannya, sejumlah uang parkir kembali harus dibayar saat berada di pelataran parkir Air Terjun Sipiso-piso.

Seorang rekan lain sempat mengomentari email tersebut dengan mengatakan, sebaiknya mengiklaskan saja semua uang yang dikeluarkan. Anggap saja memberi uang kepada fakir miskin, begitu kata rekan yang memberi komentar tersebut. Saya sendiri pun mungkin akan mengobati hati dengan menganggapnya demikian. Namun, ada bagian lain hati ini yang membisikkan untuk tidak pernah datang ke tempat itu lagi, agar tidak lagi merasakan pengalaman yang sama. Dan, rekan yang tadi mengirim email pun ternyata sepaham dengan saya. Ia pun menyatakan telah malas untuk berkunjung kedua kalinya ke sana. Sungguh menyedihkan!

Kalau sudah begini, siapa yang harus mempromosikan Pariwisata Tanah Karo? Walau Pemda Tanah Karo mengeluarkan banyak anggaran untuk berpromosi, banyak orang yang lebih percaya pada promosi dari mulut ke mulut. Kalau ada yang bertanya kepada saya misalnya, tentu saja, saya akan menceritakan sisi buruk yang saya alami, disamping betapa indahnya Tanah Karo, tentunya.

Padahal, para pelaku pariwisata tampaknya sudah melihat potensi besar di Tongging. Buktinya, sekitar tiga hotel sudah berdiri di Tongging. Fasilitasnya juga lumayan bagus, dengan harga yang relatif murah. Mereka pun sangat berharap dukungan semua pihak. Dickson Pelawi, pengelola Sibayak Guest House di Tongging, mengharapkan pemerintah segera memperbaiki infrastruktur di Tongging, sebagai modal utama agar wisata di sana bisa lebih menggiat lagi.

”Potensi sangat besar. Saya sering membawa turis-turis yang datang ke Berastagi, untuk melanjutkan wisata mereka ke Tongging. Dan, mereka kagum dengan alam di Tongging ini. Namun, kami tidak bisa bergerak sendiri tanpa didukung semua pihak. Infrastruktur yang paling utama, disamping adanya aturan-aturan yang sangat pro pariwisata,” ujar Dickson dalam sebuah percakapan di Tongging, awal Desember 2008 lalu.

Ayo, kita benahi Tongging agar semakin hebat sebagai kawasan wisata!

(Edi Ginting, anak Perbesi yang bangga sebagai orang Karo)
Selengkapnya...

Minggu, 18 Januari 2009

A1 BATAL DI LIPPO KARAWACI

Kabar tidak sedap datang dari Lippo Karawaci. Lomba balapan mobil A1 yang seharusnya digelar di jalanan Lippo Karawaci, gagal digelar pada tanggal 6-8 Februari 2009. Pasalnya, juragan A1 tidak membatalkan penyelenggaraan itu karena menganggap Lippo Karawaci tidak siap. Bagaimana mau siap, kalau sampai hari ini sirkuit belum kelar juga dibangun.


Begitu mendengar kabar ini hari Sabtu siang, segera kukontak salah satu pejabat Lippo yang kukenal. Balasan SMS baru aku dapat Sabtu sore. "DITUNDA." hanya satu kata itu yang dikirim kawan itu. Malam harinya, kabar jelas mulai muncul di berita-berita TV tentang dibatalkannya putaran balapan A1 di Lippo Karawaci.

Penundaan ini memang telah diduga-duga sebelumnya. Aku sendiri hampir mengikuti perkembangan di lapangan. Bagaimana tidak, hampir setiap hari melintas di Lippo Karawaci. Aku pun tahu fasilitas apa saja yang sudah dibuat, termasuk yang belum kelar. Memang, pengerjaan sirkuit dikerjakan siang-malam. Namun, nyatanya tidak terkejar penyelesaiannya. Padahal, rencana awal, A1 di Lippo Karawaci ini akan digelar 6-8 Februari 2009.

Ada komentar-komentar menarik ketika soal gagalnya A1 di Lippo Karawaci ini, aku bahas di halaman Facebook-ku. Banyak kawan-kawan yang memberi komentar. Ini beberapa diantaranya.

Edit
Edi is terkejut A1 BATAL digelar di LIPPO KARAWACI. 2:21pm - Comment
Latief Siregar at 2:31pm January 17
Nanam saham kau Ting
Edi Ginting at 2:34pm January 17
udah planing mau cuti buat nonton dari pinggir jalan, batal deh bang... hiks.
Barkah Widyantoro at 2:48pm January 17 via Facebook Mobile
mbangun sirkuitnya pake ilmunya sangkuriang atau bandung bondowoso, pasti gak jadi batal
Edi Ginting at 2:51pm January 17
dasar orang Indonesia ya, bark...
Barkah Widyantoro at 2:54pm January 17 via Facebook Mobile
eh, jangan bawa-bawa indonesia dong! itu kan hanya oknum
Edi Ginting at 2:56pm January 17
oknum yang membawa nama Indonesia, kan?
Barkah Widyantoro at 3:00pm January 17 via Facebook Mobile
itu orang kampung lippo aja kok
Edi Ginting at 3:01pm January 17
Seharunya bikin A1-nya di Serpong aja ya. :-)
Dewi Setiani at 3:30pm January 17
lo kok bisa
Neni Indriyani at 4:24pm January 17
lagian aneh....negara ini sdh pny sirkuit sentul tp kenapa hrs pake kebut2an di jalan sih?, kl singapura mah wajar aja kali kebut2an dijalan wong negaranya sempit gmn mau buat sirkuit....tul ga ting?
Edi Ginting at 4:50pm January 17
@Dewi: Kayak legenda sangkuriang, Lippo gagal memenuhi permintaan A1. :-)
@Neni: setuju aja deh nen. Hehehe...






Selengkapnya...

Jumat, 16 Januari 2009

JALUR GAZA

Ada seorang kawan di kantor yang sedang membaca berita perang di Jalur Gaza di Majalah Tempo. Di dalam berita itu, terdapat sebuah artikel yang menceritakan tentang sejumlah kelompok massa Indonesia yang akan mengirimkan relawan ke Jalur Gaza untuk membantu penduduk Palentina dalam berperang dengan pasukan Israeil. Lantas, si kawan ini bertanya, kenapa bukan TNI saja yang dikirim ke Jalur Gaza untuk membantu Palestina



Aku agak tertawa geli mengamati jalan pikiran kawan ini. Bagaimana mungkin ia bisa bertanya kenapa bukan pasukan TNI saja yang dikirim. Kenapa hanya dikirim orang-orang biasa yang notabene tidak memiliki keahlian berperang. Apalagi, dalam artikel itu, hanya disebutkan kalo orang-orang yang mau dikirim itu, cuma bermodalkan kuat dihantam letusan mercon.

Aku mencoba mengajaknya berdiskusi dengan mengikuti pola pikir kawan ini. Kira-kira begini dialog yang terjadi antara kami.

Kawan: "Kenapa bukan TNI aja yang dikirim ke Palestina ya?"
Aku: "Maksudnya untuk membantu pejuang-pejuang Palestina?"
Kawan: "Iya lah."
Aku: "Kita tidak boleh mencampuri urusan negara lain. TNI adalah pasukan Indonesia. Kalo TNI dikirim ke sana, maka sama saja kita membantu Palestina. Berarti kita berperang dengan Israel."
Kawan: "Tapi, TNI kok dikirim ke Libanon?" (rupanya kawan ini mengikuti berita internasional juga rupanya)
Aku: "TNI dikirim ke Libanon karena PBB yg minta. Jadi yang berangkat ke Libanon adalah pasukan PBB, bukan TNI."
Kawan: "o, begitu ya."
Aku: "Iya, begitu. Coba misalnya, saat TNI berperang dengan GAM, lalu Amerika kirim pasukan buat bantuin GAM, marah ga?"
Kawan: "Ya, marah lah."
Aku: "Nah, sama lah dengan sekarang yang terjadi di Palestina. Karena yang perang bukan Israel dengan Palestina. Tapi, Israel yang ingin menumpas Hamas, kelompok di Palestina yang dianggap teroris oleh Israel."






Selengkapnya...

Minggu, 11 Januari 2009

Terbang Bersama Lion Air


Saya lupa kapan persisnya foto ini saya ambil, dan dalam perjalanan ke mana. Awalnya, saya tertarik dengan sang pramugari ini. Soal cantik dan manis, tidak perlu dibahas, karena bisa dikatakan, seluruh pramugari Lion Air memang demikian. Tapi, yang membuat saya tertarik memotret Pramugari ini adalah karena ia sangat ramah saat melayani para penumpang di kabin pesawat. Senyumnya selalu tampak. Bahkan, saat seorang ibu muda sedang kerepotan dengan bayinya, pramugari ini segera membantu dengan sangat ikhlas. Biasanya, sangat mudah melihat apakah orang membantu karena terpaksa atau karena keiklasan hanya dari wajahnya.

Tapi, kali ini saya tidak hanya ingin menjelaskan alasan saya memotret sang pramugari saat membagikan kotak berisi makanan ringan serta segelas air meneral kepada para penumpang.

Ini yang ingin saya utarakan. Kalau dulunya Lion Air masih memberikan makanan ringan kepada penumpang secara gratis, maka kini tidak lagi. Lihatlah foto di bawah ini!


Foto ini saya ambil dalam perjalanan dari Gorontalo ke Jakarta. Sudah lama saya tidak bepergian dengan maskapai ini. Karena itu, ketika pramugari menjajakan beragam makanan ringan dan minuman di atas kabin, saya agak terkejut. Saya sempat bertanya-tanya, saya sedang naik Lion Air atau Air Asia ya?
Selengkapnya...