Jumat, 16 Januari 2009

JALUR GAZA

Ada seorang kawan di kantor yang sedang membaca berita perang di Jalur Gaza di Majalah Tempo. Di dalam berita itu, terdapat sebuah artikel yang menceritakan tentang sejumlah kelompok massa Indonesia yang akan mengirimkan relawan ke Jalur Gaza untuk membantu penduduk Palentina dalam berperang dengan pasukan Israeil. Lantas, si kawan ini bertanya, kenapa bukan TNI saja yang dikirim ke Jalur Gaza untuk membantu Palestina



Aku agak tertawa geli mengamati jalan pikiran kawan ini. Bagaimana mungkin ia bisa bertanya kenapa bukan pasukan TNI saja yang dikirim. Kenapa hanya dikirim orang-orang biasa yang notabene tidak memiliki keahlian berperang. Apalagi, dalam artikel itu, hanya disebutkan kalo orang-orang yang mau dikirim itu, cuma bermodalkan kuat dihantam letusan mercon.

Aku mencoba mengajaknya berdiskusi dengan mengikuti pola pikir kawan ini. Kira-kira begini dialog yang terjadi antara kami.

Kawan: "Kenapa bukan TNI aja yang dikirim ke Palestina ya?"
Aku: "Maksudnya untuk membantu pejuang-pejuang Palestina?"
Kawan: "Iya lah."
Aku: "Kita tidak boleh mencampuri urusan negara lain. TNI adalah pasukan Indonesia. Kalo TNI dikirim ke sana, maka sama saja kita membantu Palestina. Berarti kita berperang dengan Israel."
Kawan: "Tapi, TNI kok dikirim ke Libanon?" (rupanya kawan ini mengikuti berita internasional juga rupanya)
Aku: "TNI dikirim ke Libanon karena PBB yg minta. Jadi yang berangkat ke Libanon adalah pasukan PBB, bukan TNI."
Kawan: "o, begitu ya."
Aku: "Iya, begitu. Coba misalnya, saat TNI berperang dengan GAM, lalu Amerika kirim pasukan buat bantuin GAM, marah ga?"
Kawan: "Ya, marah lah."
Aku: "Nah, sama lah dengan sekarang yang terjadi di Palestina. Karena yang perang bukan Israel dengan Palestina. Tapi, Israel yang ingin menumpas Hamas, kelompok di Palestina yang dianggap teroris oleh Israel."






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar