Kamis, 29 Januari 2009

PAK KUMIS, TURUNKAN TARIF ANGKUTAN DONG!

Dia memiliki kumis tebal, berkaca mata, dan sudah cukup berumur. Caranya bicaranya juga santai namun tegas. Senyumnya juga enak untuk dinikmati, yang mungkin saja akibat pengaruh kumis yang ada di atas bibirnya. Entah lah. Yang pasti, gara-gara kumisnya yang khas dan bisa jadi menggemeskan sebagian orang itu, akhirnya ada saja orang yang berteriak, “coblos kumisnya.” Dan, pada tahun 2007 lalu, ia sering sekali mengucapkan, “serahkan saja pada ahlinya!”.

Ya, itulah pria yang sedang diikuti oleh seorang wartawan. Tampaknya si wartawan ini kurang beruntung karena pria tersebut terus saja berjalan tanpa menjawab satupun pertanyaan si wartawan. Namun, sebagai wartawan yang sudah tahan banting, si wartawan tetap saja mengekor dari belakang sambil terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritisnya.

Wartawan: “Mengapa tarif angkutan di ibukota ini belum juga turun, Pak. Sudah ada SK Gubernur yang berlaku sejak tanggal 26 Januari 2009. Tapi, mana buktinya? Tarif angkutan tidak juga turun?”

Wartawan: “Tampaknya wibawa pemda tidak ada ya, Pak. Aturan tidak dipatuhi gitu.”

Wartawan: “Kalau sopir tidak mau menurunkan tarif, kan bisa ditekan lewat Organda atau perusahaan angkutannya. Pemda bisa mencabut izin trayeknya kan, Pak?

Wartawan: “Di Bogor, petugas dari pemda menangkap sopir angkutan yang tidak mau menurunkan tarif. Mengapa tidak ditiru di Jakarta biar awak angkutan kapok untuk tidak lagi membandel?

Wartawan: “ Dulu, saat Sutiyoso jadi Gubernur, sering sekali ia sidak. Bahkan, ia menyamar untuk masuk ke tempat-tempat hiburan malam. Hasilnya bagus lho. Tempat hiburan malam jadi lebih tertib. Kenapa cara serupa tidak dilakukan saja sekarang ini ya?”

Wartawan: “Bapak tidak gemas melihat aturan yang tidak dipatuhi itu? Bapak tidak melihat, mendengar, atau merasakan keluhan masyarakat yang selalu menggunakan angkutan umum?

Wartawan: “Kalau tarif angkutan tidak bisa turun, lalu apa dampak penurunan harga BBM yang bisa dirasakan oleh masyarakat kebanyakan di Jakarta ini?

Wartawan: “Sebenarnya Bapak ini ahli di bidang apa sih?”

Tiba-tiba saja.

“Bos….bos…. Bangun! Ente mau turun dimana? Metro TV sudah lewat tuh. Ente juga belum bayar ongkos. Tadi, ane kagak mau ganggu tidur ente.”

Dengan penglihatan yang masih belum pas, si wartawan cukup lama berusaha menatap orang yang membangunkannya itu. Orangnya berkumis, berkaca mata, sudah berumur, dan tampaknya dia ahli dalam bidangnya ini.

(Edi Ginting, saat gemas melihat berita belum turunya tarif angkutan di Jakarta)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar