Rabu, 21 Januari 2009

TONGGING YANG BUTUH SENTUHAN

Mata sungguh dimanjakan ketika berada di Penatapen Air Terjun Sipiso-piso, Tongging, Tanah Karo. Sungguh besar anugrah Tuhan Dibata yang Ia berikan di sini. Tidak henti-hentinya rasa kagum terucap atas pemandangan mahakarya yang ada di depan mata ini. Belum lagi udara dingin yang terasa sejuk menerpa kulit. Suara air terjun dan burung yang sayup-sayup terdengar, ikut menambah rasa kagum. Oh Tuhan, terima kasih atas anugerah-Mu ini.

Dari lokasi penatapen, terhampar pemandangan Danau Toba yang dikelilingi bukit-bukit batu. Pemandangan yang luar biasa indah ini, seakan memberi kesan kalau saya sedang tidak berada di Indonesia. Saya merasa sedang ada di sebuah negara di Eropa sana, seperti yang sering saya liat di TV atau film. Dalam hati, saya bergumam, ternyata negeri saya punya juga pemandangan alam yang super indah seperti ini.

Pemandangan Desa Tongging yang berada di tepi danau, terlihat menambah indah panorama alam Danau Toba dari penatapen ini. Hati saya terus berkata-kata, sungguh nyaman tinggal di sana. Tinggal di sebuah surga dunia yang indah, nyaman, asri, dan berpagarkan danau dan bukit-bukit batu yang hijau. Sebagai orang Karo, saya pun sangat bangga memiliki daerah yang diberi nikmat yang tak tekira ini.

Saya pun tidak sabar untuk segera turun ke bawah untuk melihat lebih dekat semua keindahan tadi. Sejuknya mandi di tepian Danau Toba sudah terasa di kulit. Niat untuk menginap di Tongging pun tidak tertahan lagi. Kendaraan pun segera dipacu menuruni bukit lewat jalan yang berliku-liku, curam, dan...agak menyeramkan, karena jurang menganga-nganga di sebelah kanan mobil.

Namun, rasa kagum ini berubah menjadi kesedihan ketika sampai di pinggiran Danau Toba. Keinginan yang tadi menggebu-gebu untuk bisa merasakan sejuknya mandi di danau, tiba-tiba saja hilang tanpa bekas. Tidak mungkin badan ini harus direndam di dekat tumpukan keramba jaring apung yang memenuhi permukaan danau. Tidak sudi juga tubuh ini harus berbagi tempat dengan eceng gondok yang tumbuh di permukaan danau. Acara mandi pun dibatalkan.

Timbul rasa kecewa dan sedih dalam diri. Rasa kagum yang tadi membara dalam hati, perlahan-lahan sirna. Ironis memang. Kawasan Tongging yang selalu didegung-dengungkan sebagai salah satu kawasan wisata di Tanah Karo, ternyata nasibnya harus begini. Sama sekali tidak ada jejak apapun yang menunjukkan kalau kawasan Tongging memang dijadikan tempat wisata, kecuali beberapa hotel yang lebih sering sepi.

Saya bukan menolak ada keramba jaring apung di Danau Toba. Silahkan saja masyarakat memelihara ikan di sana. Tapi, pemerintah perlu membuat zona-zona, mana kawasan perikanan dan mana kawasan wisata. Beragam penelitian sudah menunjukkan kalau pakan ikan memiliki pengaruh terhadap kualitas air danau. Bahkan, isu pencemaran Danau Toba sudah lama mengemuka. Tentu lebih baik kalau kawasan keramba diatur agar tidak berdampingan dengan kawasan wisata. Orang pun bisa santai mandi tanpa melihat berton-ton pakan dihambur-hamburkan di dekat mereka.

Saya sempat bertemu dengan Samson Tarigan, seorang penggila memancing, di Tongging. Sejak dulu, Samson sangat menikmati acara memancing di Danau Toba. Namun, kini acara memancing Samson tidak lagi senyaman dulu. Ia mengeluhkan badannya yang sering merasa gatal-gatal setiap kali memancing. Maklum saja, cara memancing pria ini ’agak berbeda’ dengan yang lain. Ia lebih suka memancing sambil berendam di pinggir danau yang memiliki kedalaman sekitar setengah meter. Seperti yang ia lakukan ketika dijumpai awal Desember 2008 lalu, ketika sedang memancing di belakang Sibayak Guest House, di pinggiran Desa Tongging.

”Sekarang memancing di sini, badanku ini sering gatal-gatal. Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Padahal, dulunya tidak begini. Mungkin karena air danau sudah tidak sebersih dulu. Eceng Gondok kini sangat banyak memenuhi danau. Belum lagi keramba yang ada di Tongging ini, yang mungkin berpengaruh dari pakan ikan mereka,” kata pria ini dengan logat Karo yang kental.

Dari banyak kawasan wisata di negeri ini yang saya telah kunjungi, alam Tongging tidak ada yang mengalahkan. Yang kalah hanya dari sisi pengelolaannya saja. Tongging sebenarnya sangat punya potensi besar untuk dijadikan tempat wisata dalam skala besar. Di bandingkan Parapat yang lebih ramai, alam di Tongging jauh lebih indah. Jarak dari Medan juga lebih dekat ke Tongging daripada ke Parapat.

Namun apa daya. Tongging masih dipandang sebelah mata oleh Pemerintah, termasuk Pemda Tanah Karo. Infrastuktur salah satunya. Jalan utama di Tongging tidak beda dengan jalan-jalan lain di banyak perkampungan Tanah Karo, yang berlubang dan hancur. Apalagi jalan setelah melewati desa Tongging menuju Silalahi. Kondisinya luar biasa parah. Belum lagi ditambah dengan ilalang yang ada di pingir jalan. Padahal, hotel-hotel ada di jalur tersebut.

Menata infrastuktur saja pemerintah gagal, apalagi diberi tugas untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk bisa lebih mendukung pariwisata di kawasan ini. Padahal, peran serta masyarakat setempat punya andil yang sangat besar untuk memajukan pariwisata Tongging.

Sempat terpikir oleh saya, mengapa pemerintah daerah tidak membawa sejumlah penduduk Tanah Karo untuk berkunjung ke Bali atau Jogjakarta. Di sana, mereka belajar mengenai betapa hebatnya pariwisata di sana karena didukung oleh keramahtamahan masyarakatnya. Saya bukan bermaksud untuk merendahkan keramahtamahan penduduk Tongging atau masyarakat Tanah Karo pada umumnya. Soal ini saya tidak meragukan lagi, karena saya pun bangga sebagai seorang putra asli Tanah Karo.

Hanya saja, kalau bicara tentang pariwisata, ada banyak hal lain yang harus dipelajari dalam konteks ’keramahtamahan’ tadi. Dan, saya pikir Bali dan Jogjakarta adalah dua daerah di Ibu Pertiwi ini yang bisa dicontoh.

Saya jadi teringat sebuah email yang masuk ke milis Tanah Karo, beberapa waktu lalu. Rekan di perantauan tersebut mengeluhkan pengalamannya saat berekreasi ke Tongging dan Pemandian Air Panas Lau Debok-Debok, saat menikmati sebuah liburan ke Tanah Karo.

Saat memasuki kawasan air panas, sekelompok pemuda yang menjaga akses jalan ke lokasi tersebut, meminta uang masuk sebesar Rp 6.000 per orang di luar kendaraan, termasuk anaknya yang masih berumur satu tahun 10 bulan. Yang ia sangat sesalkan, tidak ada karcis sama sekali. Padahal, mereka meminta uang masuk atas nama retribusi yang ditetapkan Pemda Tanah Karo. Perdebatan sempat terjadi. Namun, karena merasa tidak ada gunanya berdebat, ia pun terpaksa membayar.

Hal yang sama ia rasakan saat melanjutkan acara rekreasi ke Air Terjun Sipiso-piso dan Tongging. Di pintu gerbang, ia sudah harus membayar sejumlah uang untuk bisa melanjutkan perjalanan. Yang menyebalkannya, sejumlah uang parkir kembali harus dibayar saat berada di pelataran parkir Air Terjun Sipiso-piso.

Seorang rekan lain sempat mengomentari email tersebut dengan mengatakan, sebaiknya mengiklaskan saja semua uang yang dikeluarkan. Anggap saja memberi uang kepada fakir miskin, begitu kata rekan yang memberi komentar tersebut. Saya sendiri pun mungkin akan mengobati hati dengan menganggapnya demikian. Namun, ada bagian lain hati ini yang membisikkan untuk tidak pernah datang ke tempat itu lagi, agar tidak lagi merasakan pengalaman yang sama. Dan, rekan yang tadi mengirim email pun ternyata sepaham dengan saya. Ia pun menyatakan telah malas untuk berkunjung kedua kalinya ke sana. Sungguh menyedihkan!

Kalau sudah begini, siapa yang harus mempromosikan Pariwisata Tanah Karo? Walau Pemda Tanah Karo mengeluarkan banyak anggaran untuk berpromosi, banyak orang yang lebih percaya pada promosi dari mulut ke mulut. Kalau ada yang bertanya kepada saya misalnya, tentu saja, saya akan menceritakan sisi buruk yang saya alami, disamping betapa indahnya Tanah Karo, tentunya.

Padahal, para pelaku pariwisata tampaknya sudah melihat potensi besar di Tongging. Buktinya, sekitar tiga hotel sudah berdiri di Tongging. Fasilitasnya juga lumayan bagus, dengan harga yang relatif murah. Mereka pun sangat berharap dukungan semua pihak. Dickson Pelawi, pengelola Sibayak Guest House di Tongging, mengharapkan pemerintah segera memperbaiki infrastruktur di Tongging, sebagai modal utama agar wisata di sana bisa lebih menggiat lagi.

”Potensi sangat besar. Saya sering membawa turis-turis yang datang ke Berastagi, untuk melanjutkan wisata mereka ke Tongging. Dan, mereka kagum dengan alam di Tongging ini. Namun, kami tidak bisa bergerak sendiri tanpa didukung semua pihak. Infrastruktur yang paling utama, disamping adanya aturan-aturan yang sangat pro pariwisata,” ujar Dickson dalam sebuah percakapan di Tongging, awal Desember 2008 lalu.

Ayo, kita benahi Tongging agar semakin hebat sebagai kawasan wisata!

(Edi Ginting, anak Perbesi yang bangga sebagai orang Karo)

2 komentar:

  1. @Awani: setuju sekali.... :-) Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

    BalasHapus