Rabu, 25 Februari 2009

Slumdog Millionaire dari Glodok

Berhasilnya film Slumdog Millionaire menyabet delapan Oscar, membuat diri ini penasaran juga, apa sih hebatnya film ini. Karena itu, saat hari Selasa kemarin, ketika diri ini lepas dari rutinitas pekerjaan kantor, kaki pun melangkah menuju Glodok, Jakarta Barat. Sudah lama juga tidak pergi ke sana untuk memborong DVD-DVD bajakan yang murah meriah.

Sekitar pukul lima sore, tiba lah aku di Glodok. Sejumlah pedagang DVD maupun VCD bajakan yang ada di di pinggir jalan raya, segera menyapaku sok akrab. “Bos.... bos.....bos....” kata mereka sambil telunjuk mereka mengarah ke film-film yang dipajang di triplek. Aku hanya sekali menoleh dan tangan kananku memberi kode yang berarti ’tidak’. Aku memang tidak sedang berhasrat untuk membeli film-film ’orang miskin’ yang mereka tawarkan. Film ’orang miskin’ adalah istilah yang diberikan oleh kawanku untuk menyebut film porno, karena minimnya pakaian yang dikenakan para pemain film porno.


Saat beberapa menit kemudian ketika aku bergabung dengan seorang gadis cantik dan manis yang tadi siang sudah berjanjian untuk pergi ke Glodok, tidak ada lagi para penjual film porno yang berusaha menawarkan film ’orang miskin’ tadi ke aku. Mungkin mereka sudah sungkan karena ada wanita di sampingku. Padahal, kami berdua berjalan di gang-gang sempat yang penuh dengan penjual film porno, untuk menuju sebuah plaza di belakang sana.

Saat tiba di plaza, kami segera masuk ke dalam sebuah toko yang penuh dengan rak-rak DVD. Tidak ada DVD asli di sini. Semua DVD yang dijual adalah bajakan. Mmmm... glodok memang selama ini menjadi surga DVD bajakan. Harga di sini juga murah, hanya 5000 perak per satu DVD. Jauh lebih murah daripada di mall-mall Jakarta yang mencapai 7.000 sampai 8.000 perak.

Slumdog Millionaire adalah film pertama yang aku pilih dari rak-rak yang penuh dengan DVD bajakan ini. Namun, rugi rasanya hanya membeli satu film ke Glodok. Akupun segera memilih-milih film lain, dan akhirnya memborong 12 film yang rata-rata adalah film baru. Satu lembar uang lima puluh ribuan akhirnya berpindah dari dalam dompetku, ke laci penjual. Uh......

Sekitar pukul setengah sebelas malam, aku pun tiba di rumah. Setelah bersih-bersih badan, akhirnya aku pun memutar film Slumdog Millionaire. Aku duduk seorang diri di depan TV. Aku sedikit tersenyum karena senang melihat kondisi gambar di film yang sudah sangat jernih. Walau di Glodok kita tidak bisa mengetes film yang akan dibeli, namun selama ini aku belum pernah ditipu oleh si penjual. Mereka akan berkata jujur tentang kualias gambar di film, apakah sudah bagus, lumayan bagus, atau masih jelek karena direkam dari bioskop.

Selama dua jam, ngantukku sama sekali tidak datang. Aku larut dalam alur film hasil besutan sutradara Danny Boyle ini. Jalan ceritanya asik, ringan, dan tidak membuat kening mengkerut. Sekali lagi, kisah cinta menjadi benang merah film ini. Jamal, tokoh utama film ini, yang akhirnya memenangkan 20 juta rupee dari kuis ” Who Wants to Be a Millionaire”, mengaku ikut kuis ini untuk mencari Latika, perempuan yang ia cintai. Ia kehilangan kontak dengan sang pujaan hati. Ia hanya tahu kalau Latika penyuka acara kuis tersebut. Tak disangka, ia pun bisa melaju ke pertanyaan dengan hadian paling tinggi. Hampir semua pertanyaan memang pernah bersinggungan dengan hidup Jamal. Karena itu, wajar saja orang miskin dari kawasan kumuh seperti dia, bisa menjawab semua pertanyaan.

Film ini berakhir manis. Dan, bertambah manis dengan adanya nyanyian khas film India, yakni kedua bintang filmnya bernyanyi dengan sekampung penari di belakangnya. Sang sutradara memasukkan adegan nyanyi ini di akhir film ketika Jamal dan Latika bertemu di stasiun kereta.
Rasanya, memang tidak ada yang perlu diperdebatkan atas delapan piala Oscar yang dimenangkan fim Slumdog Millionaire pada malam penghargaan Academy Awards ke-81 di Kodak Theatre, Hollywood, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (22/2) waktu setempat.

Dari sepuluh nominasi, film ini menang di delapan kategori. Yakni, film terbaik, sutradara terbaik, sinematografi terbaik, dan skenario (adaptasi) terbaik, editing terbaik, mixing suara terbaik, musik film (original score) terbaik, dan lagu film terbaik (original song). Oscar dalam dua kategori terakhir diberikan kepada AR Rahman, penggubah lagu dan musisi populer asli India.

Kayaknya ide cerita film "Slumdog Millionaire" sangat dekat dengan Indonesia. Kapan ya film Indonesia atau film bertema Indonesia bisa beken seperti fim Slumdog Millionaire?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar