Senin, 30 Maret 2009

Carut-Marut Pemilu 2009

Tidak sampai dua minggu lagi, pemilu akan digelar di seluruh indonesia untuk memilih angota legislatif. Berbeda dengan pemilu yang lalu-lalu, kali ini sistem pemungutan suara adalah dengan mencontreng surat suara, dan bukan lagi di-coblos.

Nah, soal contreng-mencontreng ini yang kemudian membuat geger kabupaten karang anyar, Jawa Tengah, yang kemudian sampai juga ke Jakarta. Pada sejumlah surat suara di Karanganyar, ditemukannya tanda-tanda mirip contrengan di surat suara. Celakanya, tanda-tanda mirip contrengan seperti ini ditemukan pada sekitar 290 ribu surat suara, dari sekitar 680 surat suara untuk pemilihan DPRD Kabupaten Karanganyar.

Kerusakan sekitar 290 ribu surat suara ini merupakan 100 persen surat suara pemilihan anggota DPRD Kabupaten Karanganyar, di dua daerah pemilihan, yakni daerah pemilihan satu dan lima.
Dengan demikian, saat pemilu tinggal dalam hitungan hari lagi, dua daerah pemilihan di Karang anyar justru belum memiliki surat suara yang sah untuk pemilihan anggota DPRD.


Walau persiapan logistik pemilu sudah berlangsung sejak awal Maret lalu, namun tanda-tanda mirip contrengan ini baru diketahui publik pertengahan Maret lalu. KPU Krang nyar terkesan menutup-nutupi kasus ini, walaupun dibantah dengan alasan KPUD setempat tidak mau mengekspos sebelum KPU pusat memberikan bertimbangan.

Adalah bupati Karang anyar, Rina Iriani SR, yang pertama kali membongkar kasus dugaan surat suara yang sudah dicontreng kepada publik. Tuduhan telah meng-intervensi KPU pun dialamatkan kepada sang Bupati, karena telah mengungkapkan rusaknya surat suara di Karang anyar.

Tanda-tanda mirip contrengan terdapat pada beberapa nama caleg, khususnya di daerah pemilihan satu dan lima. Selain tanda mirip contrengan, juga terdapat beberapa tanda yang hanya berupa titik-titik atau garis memanjang di kertas suara. Tanda mirip contrengan seperti ini bisa sangat membahayakan, karena sistem pemilu 2009 sangat beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Sistem mencoblos kini diganti dengan sistem mencontreng. Karena itu, tanda seperti ini sangat mungkin dianggap sebagai contrengan kalau si pemilih telah menentukan suara-nya.

Tanda mirip contrengan banyak dijumpai pada caleg atas nama Tri Haryadi, Hapsoro Eko Yuliartanto, Titi Sumardi, Toto Hananto, dan Munawar Sholeh. Para caleg yang nama-nama-nya dijumpai tanda mirip contrengan ini, serempak membantah kalau ini adalah kesengajaan untuk mememenangkan mereka.

Seperti yang disampaikan oleh Tri Haryadi, yang pada namanya ikut ditemukan tanda mirip contrengan. Tri Haryadi adalag caleg Partai Demokrat nomor urut satu dari daerah pemilihan satu, Kabupaten Karanganyar.

Tanda mirip contrengan juga ditemukan pada kolom atas nama Hapsoro Eko Yuliartanto, caleg PDIP nomor urut tiga dari daerah pemilihan lima Kabupaten Karanganyar.

Tanda mirip contrengan pada sejumlah nama caleg dari partai besar akhirnya memunculkan isu kalau pencontrengan memang sengaja dilakukan demi mendongkrak suara partai besar di karang anyar. Isu ini tentu dibantah mereka dengan alasan sama sekali tidak tahu proses cetak-mencetak suara, dan contrengan justru merugikan mereka.

SURAT RUSAK KOK DIBILANG BAIK

Hasil pemantauan Pantia Pengawas atau Pnwas Kabupaten Karanganyar menujukkan, tanda mirip contrengan ditemukan di semua surat suara untuk pemilihan anggota DPRD Karanganyar, khususnya daerah pemilihan satu dan lima. Sesuai dengan surat edaran KPU Pusat, tanda-tanda seperti ini sudah masuk dalam kategori surat suara rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Adanya ratusan ribu surat suara rusak ini juga telah dilaporkan KPU Karanganyar, kepada KPU Pusat pada tanggal 16 Maret 2009. Dalam surat ini, jelas-jelas KPU Karanganyar menyatakan bahwa surat suara untuk pemilihan anggota DPRD kabupaten dari daerah pemilihan satu dan lima seluruhnya rusak.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana KPU Karanganyar akan mengganti seluruh surat suara yang rusak ini, sementara hari pemungutan suara semakin dekat.

KPU Karanganyar pun meminta solusi kepada kpu pusat. KPU Pusat tampaknya tidak mau mengambil resiko dengan memerintahkan pencetakan surat suara baru untuk Karanganyar.
Daripada mencari solusi yang rumit-rumit, KPU lebih memilih bahwa masalah surat suara di Karanganyar, tidak ada masalah, alias menganggap cacat seperti ini bukan sebuah masalah.

KPU berdalih, tanda mirip contrengan bukan akibat kesengajaan, melainkan karena kesalahan pencetakan. Anehnya, kesalahan ini dianggap masih bisa diterima sehingga surat suara masih bisa dipakai. Celakanya, KPU sendiri tidak bisa membuktikan kalau tanda mirip contrengan ini, adalah kesalahan pencetakan. Pasalnya, sama sekali tidak ada surat dari perusahaan pencetak suara, kalau mereka telah lalai dalam mencetak suara sehingga cacat.

Berdasarkan dokumen yang diperoleh tim Metro Realitas, ada sekitar sepuluh perusahaan pemenang tender pencetakan surat suara untuk Jawa Tengah. Kesepuluh perusahaan tersebut bergabung dalam dua konsorsium. PT Nyata Grafika, sebuah perusahaan percetakan yang beralamat di Jalan Adi Sumarmo, Solo, menjadi salah satu pencetak surat suara untuk Kabupaten Karanganyar.

Pihak PT Nyata Grafika mengaku terkejut dengan adanya berita surat suara yang cacat adalah hasil produksi mereka. Apalagi, sampai akhir pekan lalu, perusahaan ini belum mendapatkan komplain apapun tentang kerusakan surat suara yang mereka cetak.

SURAT KPU MEMBINGUNGKAN

Kasus dugaan pencontrengan surat suara sebelum pemilu di Kabupaten Karanganyar seakan anti klimaks pada tanggal 19 Maret 2009 lalu. Hari itu, KPU Psat mengirim surat kepada KPU Karanganyar, yang seolah-olah menganggap menganggap tidak ada masalah di daerah ini.

Surat yang ditandatangani oleh Ketua KPU Pusat Hafiz Anshary ini, menyebutkan kalau surat suara yang ada tanda mirip contrengan, masih dianggap baik dan tetap bisa digunakan pada hari pemungutan suara 9 April 2009 nanti.

Surat KPU ini seperti penawar racun bagi KPU Kranganyar yang sebelumnya seperti tidak tahu harus bagaimana dengan kondisi surat suara di sana.

KPU Karanganyar pun segera mengumpulkan para pengurus partai di sini. Kepada mereka dijelaskan tentang adanya surat KPU yang menjelaskan kasus dugaan pencontrengan surat suara di Karanganyar telah dianggap selesai.

Namun, keluarnya surat KPU ini bukan berarti menyelesaikan masalah di lapangan. Bayang-bayang permasalahan masih di depan mata. Adanya surat KPU ini belum tentu bisa sampai merata ke seluruh pihak yang berkepentingan dengan pemungutan suara nanti.

Kesan menggampangkan masalah dengan keluarnya surat KPU yang seolah-olah tidak ada masalah surat suara di Karanganyar, memang sangat wajar. Cap sebagai lembaga yang sering gonta-ganti peraturan pun semakin melekat pada KPU.

Padahal berdasarkan surat KPU tertanggal 13 Maret 2009 dan ditujukan kepada seluruh KPU di daerah-daerah, jelas-jelas KPU sudah mengatur kriteria bagaimana surat surat disebut rusak. Pada pont satu huruf H mengatur tentang surat suara dianggap rusak bila terdapat tanda goresan warna merah yang menyerupai tanda contreng, tanda silang, garis mendatar, atau coblos.

Bila mengacu pada ketentuan KPU ini, maka seharusnya surat suara Kabupaten Karanganyar ini, dianggap rusak.

Kini, tinggal menunggu saja apakah masalah surat suara di Karanganyar akan berakhir manis pada tanggal 9 April nanti. Adu kuat antar caleg dan juga kompetesi antar mereka, bisa-bisa menimbulkan resiko saling tuduh-menuduh kalau surat suara tidak sah akibat adanya tanda-tanda tertentu pada surat suara.

Cap menggampangkan masalah, juga dialamatkan kepada KPU saat terjadi kisruh daftar pemilih tetap (DPT) yang dilaporkan banyak DPT ganda dan fiktif. Berkali-kali, KPU membantah ada penggelembungan DPT. KPU pun mempertanyakan asal DPT yang dipakai para partai politik yang melaporkan adanya DPT ganda.

Soal jadwal kampanye yang sekarang masih berlangsung pun adalah hasil modifikasi dari jadwal awal yang sebelumnya ditetapkan oleh KPU sendiri. Karena itu, cukup banyak partai politik yang sempat mengeluhkan perubahan jadwal kampanye ini, saat KPU mengeluarkan jadwal baru menjelang hari H kampanye.

Sekali lagi….ini-lah hasil dari kinerja kpu yang diberi mandat penuh sebagai lembaga yang menyelenggarakan pemilu di republik ini.

(Kisah ini sudah ditayangkan di program Metro Realitas di Metro TV, hari ini pukul 23.05 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar