Minggu, 08 Maret 2009

Jalur Rally Kabanjahe-Kutacane

Nasib Jalan Raya Kabanjahe-Kutacane ibarat sinetron Cinta Fitri yang tidak tamat-tamat. Ruas jalan ini hampir tidak pernah mulus dan selalu saja rusak parah. Padahal, jalan ini adalah jalur utama yang menghubungkan sebagian kawasan tengah Aceh dengan Sumatera Utara. Jalur ini pun lebih mirip jalur rally daripada jalan raya.

Awal Desember 2008 lalu, ketika aku berkesempatan pulang ke kampung halaman di Perbesi, kubangan-kubangan menganga di hampir sepanjang jalan, setelah melewati jembatan Lau Biang. Hujan yang saat itu hampir tiap hari menyiram Tanah Karo, tampaknya tidak mensia-siakan setiap lubang yang ada. Sama sekali tidak terlihat kalau jalan yang sedang aku lintasi ini, adalah sebuah jalan negara.


Ketika aku kembali ke sana awal Februari 2009 lalu, kubangan tadi berubah menjadi seperti sungai kering. Kubangan berganti dengan lubang-lubang beraneka ukuran. Kondisinya mirip seperti sungai yang kekeringan pada musim kemarau. Karena tidak layak dilewati lagi, akhirnya setiap kendaraan justru menggunakan bahu jalan yang relatif lebih mulus dan rata, walau hanya berupa tanah yang sudah padat saja.

Mobil pun hanya mampu berjalan sekitar 10 kilometer perjam. Yang biasanya jarak Kabanjahe-Perbesi hanya ditempuh dalam waktu 20 menit, maka kini nyaris satu jam. Tidak hanya lamanya perjalanan yang harus dinikmati. Kita juga harus siap menikmati guncangan-guncangan akibat ban mobil yang harus melewati kubangan, dan juga jigjag mobil yang berusaha menghindari kubangan. Sebuah perjalanan yang tentunya sangat tidak mengenakkan. Alunan musik Kibot dari tape mobil dan pemandangan indah sepanjang perjalanan, sama sekali terasa tidak nikmati lagi.

Sebenarnya tidak semua ruas jalan yang rusak. Kalau kita perhatikan, ada beberapa bagian jalan yang tetap mulus. Bukan hanya nyaris tanpa lubang, tapi badan jalan di bagian ini juga lebih lebar. Sering muncul pertanyaan dalam diri ini, mengapa ruas jalan di bagian ini selalu lebih mulus.

“Kabarnya, ruas jalan yang tetap bagus ini adalah hasil bantuan dari luar negeri beberapa tahun lalu. Pekerjaannya dilakukan oleh insinyur-insinyur handal yang melakukan studi kelayakan yang mantap sekali. Pembangunannya tidak tuntas di seluruh ruas Kabanjahe-Kutacane karena kerja sama berhenti di tengah jalan,” kata Ucok Ginting, rekan dari Berastagi yang menemani ke Perbesi.

Entah benar atau tidak cerita senina ini. Namun, yang pasti, ruas jalan yang membuat aku heran tadi, selalu mulus dan kuat, walau tampaknya pemeliharaan jarang dilakukan. Tentu sangat layak untuk di pertanyakan, mengapa teknik yang digunakan saat itu, tidak ditiru saja untuk memperbaiki ruas Jalan Kabanjahe-Kutacane yang selalu rusak parah bak kubangan kerbau di Tigabinanga sana.

Sungguh sia-sia biaya tambal-sulam yang selalu dipakai untuk memperbaiki ruas Jalan Kabanjahe-Kutacane, bila perbaikan hanya bertahan dalam hitungan hari atau minggu. Atau, jangan-jangan cara ini dipakai hanya sebagai modus demi menghabiskan anggaran semata? Semoga saja tidak…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar