Rabu, 30 Mei 2007

Penderitaan di ruas Kabanjahe-Kutacane

Suatu pagi pada pertengahan Mei 2007

Mobil Sebayang yang aku naiki perlahan-lahan meninggalkan Kabanjahe menuju Tigabinanga. Aku duduk di bangku depan, persis di samping sang sopir. Ia cukup ramah. Ia selalu tidak lupa mengucapkan ‘bujur’ kepada para penumpang yang membayar ongkos.

Tapi, aku tidak akan mengulas panjang lebar keramahan sang sopir itu. Aku ingin menceritakan suasana perjalanan sampai aku turun di simpang Perbesi, sekitar setengah jam kemudian.

Harus aku akui, perjalanan ini sangat jauh dari menyenangkan. Jalan Raya Kabanjahe-Kotacane sudah sangat memprihatinkan. Lubang menganga dimana-mana. Kubangan lumpur memaksa mobil harus berjalan jigjag bila tidak mau terperangkap dalam lubang yang dalam. Belum lagi lubang-lubang kecil akibat aspal yang sudah mengelupas. Sempitnya jalan di beberapa tempat semakin memaksa sang sopir bermanuver cepat bak Tommy Soeharto yang sedang rally di perkebunan sawit di Deli Serdang.


Kondisi sangat menjengkelkan ini mulai terasa sejak beberapa ratus meter keluar dari kota Kabanjahe. Lubang kecil sampai besar mulai terlihat menjelang jembatan Lau Biang. Mobil Sebayang (uh, kenapa namanya harus sebayang, bukan Ginting) yang aku naiki harus lama menunggu sebuah truk Fuso yang datang dari depan. Truk yang dugaanku penuh dengan Jeruk itu, oleng kiri dan ke kanan saat melewati kubangan lumpur.

Aku berpikir dalam hati, bagaimana kondisi ini bisa terjadi di Tanah Karo. Bagaimana mungkin jalan raya Kabanjahe-Kutacane ini seperti tidak pernah tersentuh pembangunan. Tahun 2004, saat aku melewatinya, jalan ini masih lumayan mulus. Tahun 2005, semakin memprihatinkan. Tahun 2006, aku sempat terjebak macet ketika ada truk terperangkap dalam sebuah lubang di jalan antara Singgamanik-Simpang Perbesi. Kini, di lokasi yang sama, kondisinya semakin parah. Sangat menyedihkan. Artinya, aku tidak melihat pembangunan menyentuh ruas jalan yang aku lewati setiap tahun ini.

Apa Bupati Karo tidak pernah lewat jalan ini? Apa kepala dinas PU Tanah Karo tidak pernah melintasinya? Ah, rasa-rasanya pasti pernah. Lalu kenapa dibiarkan? Kalo Jalan Kabanjahe-Kutacane adalah jalan provinsi, apa usaha sang bupati meminta dana ke sang gubernur. Kalau memang jalan nasional, apa juga usaha sang bupati ‘menodong’ sang menteri?

Kasian orang-orang Karo yang memiliki mobil sedan. Mereka tidak bisa membawa sedan mereka untuk mudik pada musim liburan sekolah ini. Atau sekadar bersilaturahmi ke sanak keluarga saat pesta Kerja Tahun berlangsung. Yang pasti, KERJA TAHUN di Perbesi akan berlangsung pada 23-24 Juni 2007. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar