Jumat, 03 April 2009

Unlimited Power

Buku Unlimited Power menjadi salah satu buku terbagus yang pernah aku baca. Sangat banyak pengetahuan yang aku dapat dari membaca buku ini, dari halaman dengan halamannya. Padahal, buku karangan Anthony Robbins ini aku peroleh juga secara tidak sengaja. Namun, ternyata, begitu aku baca, aku seperti terhipnotis dan tidak mau berhenti untuk membacanya hingga tuntas. Aku merasa seperti dipertemukan dengan apa yang selama ini aku cari dalam hidupku.


Adalah Tung Desem Waringin yang memperkenalkan aku dengan nama Anthony Robbins. Nama orang Amerika Serikat ini begitu sering disebut dalam bukunya Financial Revolution. Bahkan, Tung Desem Waringin menyebut dirinya sebagai murid dari Anthony Robbins. Karena itu, saat aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah seminar Tung Desem Waringin di Jakarta, aku kembali sangat sering mendengar nama Anthony Robbins, dan langsung keluar dari mulut Tung Desem Waringin.

Kebetulan, di seminar itu juga ada stan yang menjual buku-buku. Saat melihat-lihat buku, mataku terpaku pada buku yang berjudul Unlimited Power, karangan Anthony Robbins. Aha....aku akhirnya melihat bukunya juga. Tapi, saat itu, aku tidak langsung membeli. Aku lihat sebentar, dan kemudian meletakkannya kembali ke dalam rak. Aku kembali melihat-lihat buku lain hingga beberapa saat. Namun, akhirnya aku kembali mengambil buku Unlimited Power. Aku memegangnya, membaca judulnya, membaca sekilas isinya, dan akhirnya....aku pun membelinya.

Kini, aku sangat bersyukur telah membeli buku itu saat itu. Bagi aku, ini-lah salah satu buku terbaik yang pernah aku baca. Pantas saja Tung Desem Waringin sangat mengidolakan Anthony Robbins. Entah mengapa, begitu selesai membaca buku Unlimited Power, aku pun segera mengirim SMS kepada Tung Desem Waringin. Kalau tidak salah, isi SMS-ku begini:

"Pak Tung, saya baru saja selesai membaca buku Anthony Robbins berjudul Unlimited Power. Saya jadi tahu mengapa Pak Tung sangat sering menyebut nama Anthony Robbins."

Di luar dugaan, aku mendapatkan SMS balasan dari Tung Desem Waringin. Seingatku, begini bunyinya:

"Saya menjadi seperti ini juga karena 75% dari Anthony Robbins."

Saya kembali membalasnya:

"Saya pun ingin seperti Pak Tung. Saya ingin mendapatkan 75% dari Anthony Robbins seperti Pak Tung, dan 25% lagi dari Pak Tung."

"Dahsyat!" balas Tung Desem Waringin kepada saya.

Secara singkat, isi buku Unlimited Power mengulas tentang bagaimana cara manusia mengendalikan dirinya untuk mencapai tujuan. Bagi diriku, semua yang dibahas di dalam buku ini adalah tips-tips untuk mencapai sukses. Tip-tips yang diberikan bukan semata kata-kata untuk memotivasi diri, tapi dalam bentuk teknik-teknik atau rumus-rumus. Tips-tips yang diuraikan Anthony Robbins ini adalah penjabaran dari NLP (Neuro Linguistic Programming).

Menurut Wikipeda, Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal. NLP diawali pada sekitar tahun 1970-an oleh Richard Bandler dan John Grinder. Semula pembahasan lebih terpusat pada berbagai "hal beda yang dapat membuat perbedaan" antara individu "unggul" dengan individu "rata-rata". Guna memahami lebih lanjut akan perbedaan tersebut, mereka melakukan serangkaian pemodelan pada berbagai aspek dari individu "unggul", seperti berbagai prilaku dalam menerima serta menyikapi lingkungan sekitar. Hal itu berujung pada pemahaman mengenai mekanisme kerja pikiran. Sehingga NLP berisikan berbagai presuposisi mengenai mekanisme kerja pikiran dan berbagai cara individu dalam berinteraksi dengan lingkungan dan antar sesamanya, disertai dengan seperangkat metode untuk melakukan perubahan.

Baca deh buku Unlimited Power bagi Anda yang menggemari seni memberdayai diri!


Selengkapnya...

Kamis, 02 April 2009

Around The Jawa in 10 Days

Selesai sudah perjalanan keliling Jawa selama 10 hari. Beragam cerita dan kenangan dilalui selama perjalanan. Berikut ini kisah singkatnya.

Rabu, 18 Maret

Berangkat dari Jakarta saat matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Kabar yang beredar menyebutkan, jalur pantura Jawa sedang banyak perbaikan jalan rusak. Karena itu, rute selatan pun ditempuh. Dari Jakarta, mobil dipacu lewat Tol Cikampek, lalu menuju Tol Cipularang, dan keluar di pintu tol Leunyi. Tidak lupa membeli sekantung Tahu Sumedang begitu keluar tol. Ngantuk pun hilang karena asyik menyantap tahu yang rasanya sedikit asin tersebut.


Kamis, 19 Maret

Pergantian hari terlewati di menjelang perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Jalur selatan memang relatif jauh lebih sepi daripada jalur pantura. Selain itu, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun bukit, membuat acara tidur semakin tidak nyaman. Saat menjelang pagi, mobil sudah sampai di kawasan Majenang. Kondisi jalan agak rusak di sekitar wilayah ini, terutama saat melintasi perkebunan karet.

Sekitar pukul 8 pagi, perut pun sudah minta diisi. Mobil pun diberhentikan di sebuah warung yang ada di Kabupaten Purworejo, Jogjakarta. Sepiring nasi dengan lauk ikan lele digulai pun, habis disantap dengan segelas teh manis hangat. Tidak sampai satu jam istirahat di warung ini, perjalanan diteruskan menuju Klaten. Mobil tiba di kota ini sekitar pukul 11 siang. Seorang kawan menawarkan untuk mentraktir makan siang di sebuah warung sate. Walau perut belum begitu lapar, namun tawaran ini tidak disia-siakan. Maka, jadilah siang yang sangat terik ini, diisi dengan acara makan sate kambing dan sop kambing. Lucunya, kawan yang lain malah asik makan kambing dengan segelas bir putih. Busyet....apa rasanya ya siang-siang begini minum bir.
Sekitar pukul 2 siang, akhirnya tiba juga di Kota Solo. Ini-lah untuk pertama kalinya aku singgah ke Solo dan berkesempatan untuk menikmatinya. Saat ke solo tahun 2002 lalu, sama sekali tidak bisa menikmati kota ini karena saat itu hanya sehari berada di sini.

Setelah pilih-pilih hotel, akhirnya pilihan jatuh pada sebuah hotel berkonsep butik, bernama Rumah Puri. Aku lupa alamat persisnya, namun lokasinya tidak jauh dari Solo Paragon yang sedang dibangun. Soal cerita tentang Rumah Puri, akan saya tulis dalam artikel tersendiri.

Sekitar pukul 7 malam, perjalanan diteruskan ke kota Karanganyar. Awalnya, bayanganku, Karanganyar cukup jauh dari Solo dan kedua kota terpisah. Namun, bayangan ini ternyata salah besar. Solo dan Karanganyar rupanya dua kota yang saling berdampingan. Mirip dengan Jakarta yang berdampingan dengan Tangerang atau Depok. Solo dan Karanganyar hanya dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo.

Jumat, 20 Maret

Hari Jumat ini lebih banyak diisi dengan beragam acara liputan ke Karanganyar. Kalau kemarin Karanganyar hanya terlihat pada malam hari, maka kini sudah terlihat jelas pada siang hari. Karanganyar berada di kawasan yang cukup lereng dengan pemandangan sawah yang banyak menghampar di mana-mana. Begitu kita sedikit keluar kotanya, maka pemandangan yang indah akan ada di depan mata. Belum lagi kawasan ini masih banyak tumbuh pohon-pohon besar di sepanjang jalan raya.Hari Jumat ini juga diisi dengan acara ziarah ke makam Soeharto dan keluarganya di Astana Giri bangun. Bahkan, aku sholat Jumat di masjid dalam kompleks Astana Giri bangun. Kisah perjalanan ke Astana Giri Bangun akan kutilis dalam artikel tersendiri.

Sabtu, 21 Maret

Hari ini masih diisi dengan kesibukan liputan. Tapi, kali ini liputan tersebar di Karanganyar dan Solo. Semua harus dikerjakan secepat-cepatnya, karena hasil liputan harus dikirim ke Jakarta paling lambat jam 3 siang ke Bandara Adie Sucipto. Selepas pengiriman kaset, beban sudah sedikit berkurang. Waktunya untuk makan siang. Seorang kawan merekomen untuk makan siang di sebuah warung soto tak jauh dari bandara ke arah kota. Warung makan soto ini sederhana dan terletak di pinggir sawah. Sepertinya warung ini memang sudah terkenal. Sangat banyak yang makan di sini. Harganya juga sangat murah untuk ukuran kantong orang Jakarta.Puas makan, maka acara dilanjutkan ke Pusat Grosir Solo (PGS). Kata orang Solo, ini adalah pasar untuk menyaingi Pasar Klewer. PGS menjadi pusat penjualan pakaian, terutama batik. segala macam jenis batik dari harga 20rb sampai ratusan ribu ada di sini. Kaos-kaos khas Solo juga banyak terdapat di sini.

Minggu, 22 Maret

Ini adalah hari terakhir di Solo. sekitar pukul 9 pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Ngawi, Jawa Timur. Perjalanan cukup nyaman dan banyak melewati perkebunan Jati atau Mahoni. Tidak ada yang berani memotong garis jalan saat berada di tengah perkebunan, walau di depan kita ada truk yang berjalan lambat sekali. Polisi-polisi di sini terkenal sangat 'galak' sekali.Cukup banyak kota yang dilewati selama perjalanan Solo-Ngawi. Yang paling besar adalah Sragen. Kotanya sangat bersih dan tertata sangat baik. Pohon-pohon rindang juga berjejer di sepanjang jalan. Ini-lah salah satu daerah yang kepala daerahnya beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai daerah yang mampu mengelola keuangan daerah secara baik.Tidak sampai dua jam, sampailah ke Ngawi. Kotanya lebih kecil daripada Sragen, namun sangat bersih dan rapi. Menjelang malam hari, perjalanan dilanjutkan menuju Magetan.

Senin, 23 Meret

Seharian mengisi kegiatan hari ini dengan mengitari Magetan. Magetan adalah sebuah kota yang kecil. Kata teman di sini, Magetan adalah kota pensiun, karena kecil dan tenang. Sudah begitu, lalulintas tidak terlalu ramai karena bukan kota persinggahan.

Selasa, 24 Maret

Setelah bermalam di Madiun, perjalanan dilanjutkan menuju Ponorogo. Kota ini terkenal dengan reog-nya. Karena itu, ornamen baik patung maupun lukisan tentang reog, banyak dijumpai di sini. Kota Ponorogo cukup ramai dan besar. Kota ini terkenal sebagai kota TKI karena banyak penduduknya yang merantau jadi TKI. Ponorogo juga memilik kantor bupati tertinggi di Indonesia, yakni 8 lantai.Selepas siang, perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya. Sangat banyak kota yang dilewati. Antara lain, Nganjuk, Jombang, Gresik, dan lain-lain.

Rabu, 25 Maret

Sepanjang hari ini habis di kota Surabaya. Sialnya, tidak ada yang tahu seluk-beluk kota ini. Akibatnya, lebih banyak diisi dengan acara sasar-kesasar. Untuk menuju satu tujuan saja, bisa bertanya kepada orang di pinggir jalan, sebanyak 10 kali. Hebat kan......

Kamis, 26 Maret

Di kalender, hari Kamis ini adalah hari libur nasional untuk hari Nyepi. Karena itu, Kota Surabaya terlihat sepi. Jalan-jalan lengang, dan tidak ada kemacetan seperti biasanya. Namun, tampaknya sudah agak malas untuk menikmati suasana kota. Kami memilih untuk langsung tancap gas menuju Jakarta lewat jalan tol menuju Lamongan. Ini-lah untuk pertama kali, aku menikmati perjalanan menyusuri jalur Pantura. Karena itu, perjalanan ini sangat tidak aku sia-siakan. Setiap kota yang dilewati aku perhatikan baik-baik. Hingga menjelang malam, entah sudah berapa kota kami lewati. Coba aku ingat-ingat ya. Surabaya-Gresik-Lamongan-Pati-Rembang-Pati- Kudus-Demak-Batang-Pekalongan-Brebes-Tegal. Benar ga ya urutannya? En ada beberapa kota yang terlewat ya?

Jumat, 27 Maret

Ada yang mengejutkan saat melewati jalur Cirebon-Cikampek. Sekitar 20 km sebelum masuk tol, terjadi kecelakaan antara sebuah bus dan sepeda motor. Sepertinya kami lewat belum lama terjadi kecelakaan. Pasalnya, korban yang mengendarai sepeda motor masih tergeletak di atas jalan tanpa ada yang menolong atau menutupinya. Kuat dugaan, kedua pengendara sepeda motor tewas. Aku tidak berani menatap lama-lama. Yang lama aku sempat liat adalah sepeda motor mereka yang setengahnya masuk ke dalam bis en tersangkut masih dalam posisi berdiri. Sepertinya bus menabrak sepeda motor.

Akibat kejadian ini, laju mobil yang tadinya rata-rata 100 km/jam sempat turun menjadi 80 km/jam sampai akhirnya memilih istirahat sejenak di warung yang ada di sebuah pom bensin. Satu pop mie dan segelas teh hangat akhirnya masuk ke dalam perut. Sejumlah truk yang mengangkut simpatisan Partai Demokrat sempat mengisi bahan bakar di sana. Kata mereka, hari ini adalah hari kampanye partai SBY itu di kawasan Subang, Jawa Barat.

Akhirnya selesai sudah perjalanan selama 10 hari mengitari Pulau Jawa. Berdasarkan kilometer mobil, jarak yang kami tempuh selama 10 hari sekitar 2.500 km. Wah, banyak jug ya.Ingin rasanya, kapan-kapan lagi mengulangi perjalanan yang sama, tapi lewat rute yang berbeda.
Selengkapnya...

Rabu, 01 April 2009

SPT Pajak, apaan sih nih?

Hari ini, ada pengalaman penting yang terjadi pada diriku. Untuk pertama kalinya, aku harus mengisi SPT pajak. Ga enaknya, rupanya aku sudah terlambat mengisi SPT karena batas akhir SPT adalah 31 Maret lalu. Lha, gimana kita mau mengisi kalau kita sedang ada tugas luar kota.

Sepulangnya ke Jakarta, akupun segera mengurus SPT di kantor. Sebenarnya apa sih SPT itu? Aku mencoba mencari singkatannya. surat pemberitahuan tertanggung, surat pajak tertanggung, dan beragam singkatan lainnya yang muncul di kepalaku. Namun, setelah aku cek ke mas Google, rupanya singkatan SPT adalah SURAT PEMEBERITAHUAN. Alamak.....

Mungkin karena yang mengurus adalah kantor, maka aku tinggal SPT atas namaku ke HRD. Setelah itu, aku tinggal membawa SPT itu ke orang yang mengurusnya. Ia segera mengisi form yang ada di file komputernya dengan data-dataku. Tidak sampai lima menit, beberapa lembar kertas print-an sudah diserahkan kepadaku. Aku diminta untuk menyerahkan dokumen-dokumen itu ke kantor pajak terdekat. Wah....apalagi nih? :-)

Sampai hari ini aku belum paham apa itu SPT. Apakah ini bagian dari reformasi perpajakan yang pernah dijalankan pemerintahan SBY-JK, bebeberapa waktu lalu? Mmmm....bisa juga ya.

Kabar dari seorang kawan, Indonesia akan meniru Amerika Serikat untuk menggenjot pajak dari warganya. Karen itu, pemerintah ingin meningkatkan jumlah NPWP agar wajib pajak semakin banyak yang terjaring. Sebagai iming-iming, maka pemerintah memberikan insentif berupa bebas bayar fiskal bila bepergian ke luar negeri. Yah....pintar juga ya trik pemerintah ini.

Masih kata kawan itu, begitu sudah banyak wajib pajak, maka pemerintah akan menarik pajak apapun dari pemilik NPWP itu. Karena itu, ketika kawan ini tadi membeli mobil baru, maka ia mengatasnamakan mobil sebagai milik kantor, bukan milik pribadi. "Ini untuk menghindari pajak," kata kawan tadi.

Aku masih saja bingung, untuk apa SPT ini....
Selengkapnya...