Kamis, 02 April 2009

Around The Jawa in 10 Days

Selesai sudah perjalanan keliling Jawa selama 10 hari. Beragam cerita dan kenangan dilalui selama perjalanan. Berikut ini kisah singkatnya.

Rabu, 18 Maret

Berangkat dari Jakarta saat matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Kabar yang beredar menyebutkan, jalur pantura Jawa sedang banyak perbaikan jalan rusak. Karena itu, rute selatan pun ditempuh. Dari Jakarta, mobil dipacu lewat Tol Cikampek, lalu menuju Tol Cipularang, dan keluar di pintu tol Leunyi. Tidak lupa membeli sekantung Tahu Sumedang begitu keluar tol. Ngantuk pun hilang karena asyik menyantap tahu yang rasanya sedikit asin tersebut.


Kamis, 19 Maret

Pergantian hari terlewati di menjelang perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Jalur selatan memang relatif jauh lebih sepi daripada jalur pantura. Selain itu, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun bukit, membuat acara tidur semakin tidak nyaman. Saat menjelang pagi, mobil sudah sampai di kawasan Majenang. Kondisi jalan agak rusak di sekitar wilayah ini, terutama saat melintasi perkebunan karet.

Sekitar pukul 8 pagi, perut pun sudah minta diisi. Mobil pun diberhentikan di sebuah warung yang ada di Kabupaten Purworejo, Jogjakarta. Sepiring nasi dengan lauk ikan lele digulai pun, habis disantap dengan segelas teh manis hangat. Tidak sampai satu jam istirahat di warung ini, perjalanan diteruskan menuju Klaten. Mobil tiba di kota ini sekitar pukul 11 siang. Seorang kawan menawarkan untuk mentraktir makan siang di sebuah warung sate. Walau perut belum begitu lapar, namun tawaran ini tidak disia-siakan. Maka, jadilah siang yang sangat terik ini, diisi dengan acara makan sate kambing dan sop kambing. Lucunya, kawan yang lain malah asik makan kambing dengan segelas bir putih. Busyet....apa rasanya ya siang-siang begini minum bir.
Sekitar pukul 2 siang, akhirnya tiba juga di Kota Solo. Ini-lah untuk pertama kalinya aku singgah ke Solo dan berkesempatan untuk menikmatinya. Saat ke solo tahun 2002 lalu, sama sekali tidak bisa menikmati kota ini karena saat itu hanya sehari berada di sini.

Setelah pilih-pilih hotel, akhirnya pilihan jatuh pada sebuah hotel berkonsep butik, bernama Rumah Puri. Aku lupa alamat persisnya, namun lokasinya tidak jauh dari Solo Paragon yang sedang dibangun. Soal cerita tentang Rumah Puri, akan saya tulis dalam artikel tersendiri.

Sekitar pukul 7 malam, perjalanan diteruskan ke kota Karanganyar. Awalnya, bayanganku, Karanganyar cukup jauh dari Solo dan kedua kota terpisah. Namun, bayangan ini ternyata salah besar. Solo dan Karanganyar rupanya dua kota yang saling berdampingan. Mirip dengan Jakarta yang berdampingan dengan Tangerang atau Depok. Solo dan Karanganyar hanya dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo.

Jumat, 20 Maret

Hari Jumat ini lebih banyak diisi dengan beragam acara liputan ke Karanganyar. Kalau kemarin Karanganyar hanya terlihat pada malam hari, maka kini sudah terlihat jelas pada siang hari. Karanganyar berada di kawasan yang cukup lereng dengan pemandangan sawah yang banyak menghampar di mana-mana. Begitu kita sedikit keluar kotanya, maka pemandangan yang indah akan ada di depan mata. Belum lagi kawasan ini masih banyak tumbuh pohon-pohon besar di sepanjang jalan raya.Hari Jumat ini juga diisi dengan acara ziarah ke makam Soeharto dan keluarganya di Astana Giri bangun. Bahkan, aku sholat Jumat di masjid dalam kompleks Astana Giri bangun. Kisah perjalanan ke Astana Giri Bangun akan kutilis dalam artikel tersendiri.

Sabtu, 21 Maret

Hari ini masih diisi dengan kesibukan liputan. Tapi, kali ini liputan tersebar di Karanganyar dan Solo. Semua harus dikerjakan secepat-cepatnya, karena hasil liputan harus dikirim ke Jakarta paling lambat jam 3 siang ke Bandara Adie Sucipto. Selepas pengiriman kaset, beban sudah sedikit berkurang. Waktunya untuk makan siang. Seorang kawan merekomen untuk makan siang di sebuah warung soto tak jauh dari bandara ke arah kota. Warung makan soto ini sederhana dan terletak di pinggir sawah. Sepertinya warung ini memang sudah terkenal. Sangat banyak yang makan di sini. Harganya juga sangat murah untuk ukuran kantong orang Jakarta.Puas makan, maka acara dilanjutkan ke Pusat Grosir Solo (PGS). Kata orang Solo, ini adalah pasar untuk menyaingi Pasar Klewer. PGS menjadi pusat penjualan pakaian, terutama batik. segala macam jenis batik dari harga 20rb sampai ratusan ribu ada di sini. Kaos-kaos khas Solo juga banyak terdapat di sini.

Minggu, 22 Maret

Ini adalah hari terakhir di Solo. sekitar pukul 9 pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Ngawi, Jawa Timur. Perjalanan cukup nyaman dan banyak melewati perkebunan Jati atau Mahoni. Tidak ada yang berani memotong garis jalan saat berada di tengah perkebunan, walau di depan kita ada truk yang berjalan lambat sekali. Polisi-polisi di sini terkenal sangat 'galak' sekali.Cukup banyak kota yang dilewati selama perjalanan Solo-Ngawi. Yang paling besar adalah Sragen. Kotanya sangat bersih dan tertata sangat baik. Pohon-pohon rindang juga berjejer di sepanjang jalan. Ini-lah salah satu daerah yang kepala daerahnya beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai daerah yang mampu mengelola keuangan daerah secara baik.Tidak sampai dua jam, sampailah ke Ngawi. Kotanya lebih kecil daripada Sragen, namun sangat bersih dan rapi. Menjelang malam hari, perjalanan dilanjutkan menuju Magetan.

Senin, 23 Meret

Seharian mengisi kegiatan hari ini dengan mengitari Magetan. Magetan adalah sebuah kota yang kecil. Kata teman di sini, Magetan adalah kota pensiun, karena kecil dan tenang. Sudah begitu, lalulintas tidak terlalu ramai karena bukan kota persinggahan.

Selasa, 24 Maret

Setelah bermalam di Madiun, perjalanan dilanjutkan menuju Ponorogo. Kota ini terkenal dengan reog-nya. Karena itu, ornamen baik patung maupun lukisan tentang reog, banyak dijumpai di sini. Kota Ponorogo cukup ramai dan besar. Kota ini terkenal sebagai kota TKI karena banyak penduduknya yang merantau jadi TKI. Ponorogo juga memilik kantor bupati tertinggi di Indonesia, yakni 8 lantai.Selepas siang, perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya. Sangat banyak kota yang dilewati. Antara lain, Nganjuk, Jombang, Gresik, dan lain-lain.

Rabu, 25 Maret

Sepanjang hari ini habis di kota Surabaya. Sialnya, tidak ada yang tahu seluk-beluk kota ini. Akibatnya, lebih banyak diisi dengan acara sasar-kesasar. Untuk menuju satu tujuan saja, bisa bertanya kepada orang di pinggir jalan, sebanyak 10 kali. Hebat kan......

Kamis, 26 Maret

Di kalender, hari Kamis ini adalah hari libur nasional untuk hari Nyepi. Karena itu, Kota Surabaya terlihat sepi. Jalan-jalan lengang, dan tidak ada kemacetan seperti biasanya. Namun, tampaknya sudah agak malas untuk menikmati suasana kota. Kami memilih untuk langsung tancap gas menuju Jakarta lewat jalan tol menuju Lamongan. Ini-lah untuk pertama kali, aku menikmati perjalanan menyusuri jalur Pantura. Karena itu, perjalanan ini sangat tidak aku sia-siakan. Setiap kota yang dilewati aku perhatikan baik-baik. Hingga menjelang malam, entah sudah berapa kota kami lewati. Coba aku ingat-ingat ya. Surabaya-Gresik-Lamongan-Pati-Rembang-Pati- Kudus-Demak-Batang-Pekalongan-Brebes-Tegal. Benar ga ya urutannya? En ada beberapa kota yang terlewat ya?

Jumat, 27 Maret

Ada yang mengejutkan saat melewati jalur Cirebon-Cikampek. Sekitar 20 km sebelum masuk tol, terjadi kecelakaan antara sebuah bus dan sepeda motor. Sepertinya kami lewat belum lama terjadi kecelakaan. Pasalnya, korban yang mengendarai sepeda motor masih tergeletak di atas jalan tanpa ada yang menolong atau menutupinya. Kuat dugaan, kedua pengendara sepeda motor tewas. Aku tidak berani menatap lama-lama. Yang lama aku sempat liat adalah sepeda motor mereka yang setengahnya masuk ke dalam bis en tersangkut masih dalam posisi berdiri. Sepertinya bus menabrak sepeda motor.

Akibat kejadian ini, laju mobil yang tadinya rata-rata 100 km/jam sempat turun menjadi 80 km/jam sampai akhirnya memilih istirahat sejenak di warung yang ada di sebuah pom bensin. Satu pop mie dan segelas teh hangat akhirnya masuk ke dalam perut. Sejumlah truk yang mengangkut simpatisan Partai Demokrat sempat mengisi bahan bakar di sana. Kata mereka, hari ini adalah hari kampanye partai SBY itu di kawasan Subang, Jawa Barat.

Akhirnya selesai sudah perjalanan selama 10 hari mengitari Pulau Jawa. Berdasarkan kilometer mobil, jarak yang kami tempuh selama 10 hari sekitar 2.500 km. Wah, banyak jug ya.Ingin rasanya, kapan-kapan lagi mengulangi perjalanan yang sama, tapi lewat rute yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar