Minggu, 31 Mei 2009

Pantai Tanjung Pesona yang Mempesona

Satu malam berada di Pantai Tanjung Pesona sudah menjadi bukti bagi diriku tentang betapa indahnya pantai di Pulau Bangka. Pasir yang putih, bongkahan batu yang ada di pantai, dan deburan ombak yang ralatif kecil, menjadi beberapa alasan keindahan tadi. Akhirnya, kini rasa penasaranku terhadap keindahan pantai-pantai di Pulau Bangka pun terjawab sudah.


Entah sudah berapa kali aku menyaksikan liputan tentang wisata pantai di Pulau Bangka, di layar TV. Bertahun-tahun aku menunggu saat-saat kapan memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Bangka. Awal Mei 2009 lalu akhirnya keinginan itu pun terkabul. Selama lima hari lamanya aku berada di pulau yang juga terkenal dengan sebutan pulau penghasil kerupuk ikan ini.

Salah satu pantai aku kunjungi adalah Pantai Tanjung Pesona. Pantai ini terletak sekitar 6 km dari kota Sungailiat, ibukota Kabupatan Bangka. Kalau dari kota Pangkalpinang, pantai ini bisa dicapai sekitar 50 menit perjalanan, dengan kondisi jalan yang sangat mulus.
Di pantai ini juga terdapat satu hotel yang bernama Tanjung Pesona Cottages. Ada beragam kamar di sini. Dari kamar biasa sampai kamar berbentuk bungalow berisi satu sampai dua kamar. Harga menginap per malam berkisar Rp 350.000 - Rp 2.000.0000, tergantung jenis kamarnya. Saat memilih menginap di hotel ini, aku memilih kamar bungalow satu kamar dengan harga sekitar Rp 650.000. Hasil lobi dengan pengelola hotel akhirnya membuat aku hanya harus membayar Rp 350.000. Mmmm.....lumayan juga kan.

Tanjung Pesona Cottages dikelilingi oleh pantai yang sangat bagus dan begitu memanjakan mata. Saat pagi hari, aku memilih bangun pukul enam pagi. Aku pun segera keluar kamar dan menuju ke arah Timur. Saat itu, seolah-olah matahari baru keluar dari dalam laut nun jauh di sana. Langit pun perlahan-lahan mulai terang. Memang aku tidak bisa menikmati matahari terbit ini dengan utuh karena ada sedikit awan di langit. Ah....namun ini tidak menjadi halangan bagiku untuk terus menikmati panorama di depan mataku ini.

Sekitar pukul tujuh pagi, matahari sudah cukup tinggi dan langit pun sudah cerah. Aku lalu berjalan menyusuri pantai menuju ke arah kiri pantai. Di sini terhanmpar pantai yang sangat indah untuk dipandang. Dari kejauhan, pantai ini terlihat indah dengan batu-batuan yang berserakan di bibir pantai. Keindahan semakin bertambah dengan banyaknya batu-batu yang seakan-akan muncul dari dalam air. Pasir putih memenuhi sekeliling pantai bagai permadani.
Puas memandang dari kejauhan, aku pun segera turun menuju pantai. Suara ombak yang menghantam pantai dan batu-batuan memberikan irama yang merdu terdengar di pagi hari ini. Aku terus berjalan menyusuri pantai dan sesekali membasahi kaki dengan air laut.

Tidak terasa, sudah hampir pukul sembilan. Matahari pun sudah meninggi dan terik panas mulai terasa di kulit. Aku pun memilih untuk meninggalkan pantai dan beranjak menuju restoran hotel. Rasanya, perut sudah meminta diisi setelah hampir 3 jam aku menikmati keindangan Pantai Tanjung Pesona.

Dalam hati aku berucap, semoga lain waktu aku masih bisa ke Pulau Bangka.Foto-foto: Edi Ginting

Selengkapnya...

Kamis, 14 Mei 2009

AWAS, TERSASAR DI KOTA LONDON!


Pengalaman menjajal sarana transportasi di kota London menjadi sebuah kisah yang sangat menarik dan susah untuk dilupakan. Apa yang dilihat dan dirasakan selama berada di London, akhirnya menimbulkan rasa iri bila membandingkannya dengan kondisi di Indonesia. Maaf saja, Jakarta memang masih jauh sekali ketinggalan.

Jangan khawatir berkeliling kota London bila tidak memiliki kendaraan sendiri. London sudah sangat bagus dalam mengatur sistem transportasi kota mereka. Bahkan, memilih kendaraan umum terkesan jauh lebih nyaman daripada menggunakan kendaraan pribadi. Terutama soal budget yang bakal dikeluarkan. Belum lagi kepadatan lalu lintas juga terjadi di kota ini, sehingga tentu lebih nyaman naik kendaraan umum sambil menikmati suasana perjalanan.

Pengalaman bermula ketika penulis dan teman-teman dari rombongan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, ingin menuju Istana Buckingham setelah selesai check in di Days Hotel London Shoreditch yang ada di Jalan Hackney, London.


Cukup dengan membeli travelcard seharga 5,3 pound (sekitar Rp 95.000), maka kita sudah bisa menikmati perjalanan naik bus kota dan kereta bawah tanah di London, seharian penuh tanpa perlu mengeluarkan ongkos lagi. Hebatnya lagi, kartu seukuran kartu kredit tadi bisa dibeli di minimarket yang banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan. Bila malas membelinya di supermarket, di halte pun ada mesin otomatis yang bisa mencetak travelcard tadi, bila memang memiliki kepingan uang logam.

Bus kota di London yang didominasi warna merah, akan berhenti persis di depan setiap halte. Jangan harap bis akan berhenti di sembarang tempat seperti di Jakarta. Penumpang naik dari pintu depan dengan cukup memperlihatkan travelcard yang sudah dibeli tadi. Pintu belakang hanya diperuntukkan untuk turun. Uniknya lagi, bus akan dibuat miring ke kiri agar memudahkan penumpang naik-turun tanpa perlu terganggu dengan tingginya lantai bis dengan permukaan aspal.

Bus kota umumnya diperuntukkan untuk jarak dekat. Jangan lupa untuk melihat papan rute yang ada di halte naik, agar tahu di mana seharusnya turun untuk menyambung naik bus rute lain. Jarak antarkedatangan bus sangat dekat waktunya, sehingga tidak perlu khawatir akan menunggu lama. Bahkan, ada beberapa rute bus kota yang dioperasikan selama 24 jam. Semuanya tertera di dalam papan rute, sehingga siapapun bisa merencanakan perjalanan mereka dengan baik tanpa perlu takut kemalaman pulang.

Puas menikmati nyamannya naik bis kota, tiba saatnya menjajal kereta bawah tanah di London yang terkenal dengan sebutan Tube. Sangat mudah mencari dimana posisi stasiun kereta bawah tanah di London, walau jalan menuju ke sana berada di antara gedung-gedung tinggi. Kita tinggal mencari lambang lingkaran merah yang ada tulisan kata ‘Underground’.

London sudah sangat maju dalam membangun sistem jaringan kereta bawah tanah. Sekarang ini, tidak hanya ada satu jaringan, tapi sudah lebih dari satu dalam satu stasiun. Tidak heran kalau kita harus turun jauh ke bawah tanah dengan eskalator, bila kereta yang ingin dinaiki, berada di posisi paling bawah. Memang sulit terbayangkan, stasiun maupun jaringan rel yang sangat hiruk-pikuk, ternyata tersusun bertingkat-tingkat di bawah gedung-gedung tinggi dan permukiman penduduk.

Kalau bosan dengan angkutan umum, silahkan saja menjajal taksi di London yang terkenal dengan sebutan black cab. Bentuk taksinya seperti mobil-mobil keluaran lama, sama seperti yang sering muncul di film-film berlatar kota London. Mungkin dulu warnanya selalu hitam sehingga disebut black cab. Hanya saja, kini warna taksi di London sudah macam-macam, termasuk warna pink juga ada.

Soal tarif, mmm.... ini yang perlu dipikirkan lebih panjang. Dibandingkan tarif taksi di Jakarta, maka saku harus dirogoh lebih dalam lagi untuk membayar taksi di London. Secara sederhananya, tarif taksi di London sekitar sepuluh kali lipat daripada tarif taksi di Jakarta dalam jarak yang sama. “Naik taksi lima menit saja, aku sudah membayar 10 pound (sekitar Rp 180.000),” kata Ester Teja Sukmana, rekan asal Indonesia yang sedang menuntut ilmu di London.

Bila berkendaraan pribadi menjadi pilihan, maka berhati-hatilah dalam berkendara, terutama tidak ada pendamping. Banyak artikel di internet yang mengutip sebuah penelitian, dimana London disebutkan sebagai kota yang paling mudah tersasar. Sistem kota yang memakai blok-blok memang sangat membingungkan. Apalagi bagi penduduk Indonesia yang terbiasa hidup dengan jalan lurus dan memanjang.

Selain itu, pilih-pilihlah jalur yang Anda lalui saat berada di tengah kota London. Salah-salah Anda melewati kawasan pembatasan kendaraan yang biasa disebut Congestion Charging Zone. Kawasan ini ditandai dengan lambang lingkaran merah dengan huruf C warna putih di tengahnya. Kawasan ini dibuat untuk mengurangi kepadatan lalulintas pada jam-jam sibuk. Bila melewati kawasan ini, maka tagihan sudah siap menanti. Jumlahnya sekitar 8 pound ( sekitar Rp 36.000) per hari. Cara ini cukup efektif meredam kepadatan lalulintas di London. Sebuah langkah yang sudah lama ingin ditiru Jakarta, namun masih saja sebatas wacana.

Nah, selamat menikmati liburan Anda di kota London………. (Edi Ginting)

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di harian Media Indonesia edisi Minggu, 10 Mei 2009, halaman Travelista
Selengkapnya...

KEHARMONISAN KLASIK DAN MODERN DI LONDON

Waktu baru menunjukkan pukul 10 siang waktu London, ketika Trafalgar Square sangat sesak oleh turis-turis. Ada yang datang sendiri-sendiri, namun lebih banyak yang berkelompok-kelompok. Mereka berasal dari banyak negara dan benua, namun memiliki satu tujuan; menikmati keindahan pesona harmoni antara romantisme klasik dan modern yang disuguhkan kota London, ibukota Inggris.

Setidaknya, itulah yang tergambar ketika penulis berkesempatan mengunjungi kota London bersama rombongan dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, beberapa waktu lalu. Sambil mempelajari sistem transportasi di ibukota negara David Beckam ini, tidak salahnya juga menikmati betapa indahnya kota ini mengatur tata kotanya tanpa perlu mengikis habis peninggalan ‘nenek moyang’ mereka.

Trafalgar Square berada tepat di jantung kota London. Lokasinya berada di ujung dua jalan besar, The Mall dan Whitehall. Sangat mudah menjangkau kawasan ini, karena sangat banyak jalur bus kota yang melewatinya. Stasiun kereta api bawah tanah juga ada tidak jauh dari kawasan Trafalgar Square.


Trafalgar Square memiliki halaman yang luas dan biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan sepanjang tahun, seperti konser musik, promosi dan pameran, shooting foto atau film, dan bahkan juga sering digunakan untuk demonstrasi.

Trafalgar Square dibangun untuk mengenang Pertempuran Trafalgar (1805). Dalam pertempuran tersebut, Inggris yang dipimpin oleh Horatio Nelson memenangi pertempuran melawan Perancis yang dikomandoi Napoleon.

Trafalgar Square dikelilingi oleh sejumlah bangunan bergaya arsitektur klasik, dengan air mancur di pinggir lapangan. Tugu Corinthia, Museum National Gallery, dan Gereja St Martin In The Fields adalah beberapa bangunan menjadi daya pikat Trafalgar Square. Yang paling mencolok adalah Musium National Gallery dengan pilar-pilar yang terkesan begitu kokoh, persis di depan Trafalgar Square.

Gaya bangunan di sekitar Trafalgar Square yang hampir seluruhnya berarsitektur klasik, seperti miniatur dari kota London secara keseluruhan. Kota ini memang sangat mempertahankan bangunan-bangunan klasik mereka, hasil peninggalan ratusan tahun dulu. Seorang kawan yang tinggal di London menyebutkan, siapa saja dilarang untuk mengganti bangunan yang sudah ada. Mereka hanya boleh memugar bagian dalam bangunan, namun jangan coba-coba untuk mengganti bentuk luar bangunan. Sebuah aturan yang tampaknya sangat ditaati penduduk London.

Memang mengherankan untuk sesaat. London, yang merupakan ibukota sebuah negara yang masuk dalam jajaran penguasa dunia ini, masih mempertahankan peninggalan ‘nenek moyang’ mereka. Sebagai negara maju dengan penguasaan ilmu dan teknologi kelas satu dunia, London seharusnya bisa saja mensulap semuanya dengan mengikuti tren dunia.

Namun, kota London justru memilih untuk memadukannya. Bangunan tua dipertahankan, dan justru melengkapinya dengan sarana modern, serta tidak meninggalkan kelestarian alam lewat pohon-pohon rindang yang ada di Trafalgar Square. Banyak orang menyebut kondisi ini dengan istilah harmoni antara romantisme klasik, kelestarian alam, dan arus modernisasi.

Namun, rasanya diri ini tidak boleh larut dalam sebuah mahakarya manusia yang ada di sekeliling Trafalgar Square. Rasanya, sangat kurang bila belum mengunjungi Istana Buckingham yang lokasinya memang tidak jauh dari Trafalgar Square. Keberadaan istana yang menjadi kediaman resmi Ratu Elizabeth II ini, juga menjadi simbol keharmonisan tadi. Sistem kerajaan masih melekat kuat di tengah arus modernisasi yang telah membekap dunia ini sejak beberapa dekade terakhir.

Untuk mencapai Istana Buckingham dari Trafalgar Square, cukup menyusuri Jalan The Mall yang yang ada di kanan Trafalgar Square. Sebuah gerbang yang sangat besar dan bergaya arsitektur klasik, akan menyambut siapa saja sebelum masuk ke Jalan The Mall. Keberadaan gerbang yang tampak sangat kokoh ini, seolah-olah menjadi pintu gerbang untuk masuk ke dalam sebuah benteng yang sangat besar. Bendera Inggris pun yang ada di puncak gerbang inu, tak henti-hentinya berkibar diterpa angin dari udara kota London yang dingin.

Menyusuri Jalan The Mall sangat memberikan kesan tersendiri. Pedestrian begitu lebar dan teduh oleh rindangnya pepohonan sepanjang jalan. Dalam jarak tertentu terbentang banyak bendera Inggris yang sangat terkenal itu. Sangat banyak turis yang berfoto di sini dengan memanfaatkan bendera Inggris tersebut sebagai latar foto.

Di sebelah kiri jalan adalah ST James’s Park, salah satu taman terluas di London. Taman diatur sedemikian rupa sehingga tercipta beraneka macam sudut. Ada sisi yang penuh dengan pohon-pohon yang besar. Di bagian lain, terbentang lapangan dengan rumput yang terawat rapi. Ada juga bagian yang ditanami bunga-bunga dengan kembang aneka warna. Pemandangan semakin dimanjakan oleh sebuah danau di tengah ST James’s Park. Di tengah danau ini juga ada sebuah pulau dengan nama Pulau Bebek (Duck Island).
Sedangkan di kanan Jalan The Mall berjejer sejumlah bangunan penting, dan masih bergaya klasik nan indah. Beberapa patung dari tokoh-tokoh penting Inggris ikut berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan bergaya klasik tersebut. Ini tentu sebuah pemandangan yang sangat mempesona ketika menyusuri Jalan The Mall. Saat wajah dipalingkan ke kiri, terhampar sebuah taman yang cantik nan eksotis. Begitu mata menatap ke kanan, maka mata dimanjakan dengan bangunan-bangunan gaya klasik yang begitu mempesona. Sampai akhirnya, langkah ini terhenti di depan Istana Buckingham.
Siang itu, begitu banyak turis yang memadati halaman depan pagar istana yang merupakan ke kediaman resmi Ratu Elizabeth II ini. Mereka larut dalam pemandangan keindahan arsitektur bangunan istana yang ada di depan mereka. Bisa jadi begitu banyak pikiran yang melayang-layang di dalam kepala mereka. Sekali lagi, sulit membayangkan kalau sistem kerajaan yang dijalankan Inggris, tidak lekang tergerus zaman dan kemajuan peradaban modern.
Khayalan dan pikiran di dalam kepala akhirnya terbuyarkan oleh kedatangan satu regu pasukan berkuda kerayaan, yang berjalan rapi mengitari Queen Victoria Memorial di depan istana. Pasukan yang berjumlah sekitar 13 orang ini, duduk tegap di atas kuda yang besar dan gagah, sambil mengenakan seragam hitam lengkap dengan pegang di tangan kanan mereka.
Inggris memang berhasil menyebar rasa kagum banyak orang. Dunia boleh saja terlena dengan kemajuan peradaban, dan melupakan nilai-nilai luhur yang sejak dulu didengungkan para pendahulu manusia. Namun Inggris memilih jalan lain dengan menyelaraskan semuanya. (Edi Ginting)

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di harian Media Indonesia edisi Minggu, 10 Mei 2009, halaman Travelista
Selengkapnya...

Rabu, 06 Mei 2009

Keindangan Pantai di Pulau Bangka

Ini salah satu oleh-oleh foto keindangan pantai di Pulau Bangka, awal Mei 2009 ini. Pulau yang berada di Provinsi Bangka-Belitung ini memang terkenal dengan sebutan pulau seribu pantai. Julukan ini diberikan karena provinsi ini memang memiliki banyak pantai yang indah-indah.

(Foto: Edi Ginting) Selengkapnya...