Kamis, 14 Mei 2009

AWAS, TERSASAR DI KOTA LONDON!


Pengalaman menjajal sarana transportasi di kota London menjadi sebuah kisah yang sangat menarik dan susah untuk dilupakan. Apa yang dilihat dan dirasakan selama berada di London, akhirnya menimbulkan rasa iri bila membandingkannya dengan kondisi di Indonesia. Maaf saja, Jakarta memang masih jauh sekali ketinggalan.

Jangan khawatir berkeliling kota London bila tidak memiliki kendaraan sendiri. London sudah sangat bagus dalam mengatur sistem transportasi kota mereka. Bahkan, memilih kendaraan umum terkesan jauh lebih nyaman daripada menggunakan kendaraan pribadi. Terutama soal budget yang bakal dikeluarkan. Belum lagi kepadatan lalu lintas juga terjadi di kota ini, sehingga tentu lebih nyaman naik kendaraan umum sambil menikmati suasana perjalanan.

Pengalaman bermula ketika penulis dan teman-teman dari rombongan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, ingin menuju Istana Buckingham setelah selesai check in di Days Hotel London Shoreditch yang ada di Jalan Hackney, London.


Cukup dengan membeli travelcard seharga 5,3 pound (sekitar Rp 95.000), maka kita sudah bisa menikmati perjalanan naik bus kota dan kereta bawah tanah di London, seharian penuh tanpa perlu mengeluarkan ongkos lagi. Hebatnya lagi, kartu seukuran kartu kredit tadi bisa dibeli di minimarket yang banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan. Bila malas membelinya di supermarket, di halte pun ada mesin otomatis yang bisa mencetak travelcard tadi, bila memang memiliki kepingan uang logam.

Bus kota di London yang didominasi warna merah, akan berhenti persis di depan setiap halte. Jangan harap bis akan berhenti di sembarang tempat seperti di Jakarta. Penumpang naik dari pintu depan dengan cukup memperlihatkan travelcard yang sudah dibeli tadi. Pintu belakang hanya diperuntukkan untuk turun. Uniknya lagi, bus akan dibuat miring ke kiri agar memudahkan penumpang naik-turun tanpa perlu terganggu dengan tingginya lantai bis dengan permukaan aspal.

Bus kota umumnya diperuntukkan untuk jarak dekat. Jangan lupa untuk melihat papan rute yang ada di halte naik, agar tahu di mana seharusnya turun untuk menyambung naik bus rute lain. Jarak antarkedatangan bus sangat dekat waktunya, sehingga tidak perlu khawatir akan menunggu lama. Bahkan, ada beberapa rute bus kota yang dioperasikan selama 24 jam. Semuanya tertera di dalam papan rute, sehingga siapapun bisa merencanakan perjalanan mereka dengan baik tanpa perlu takut kemalaman pulang.

Puas menikmati nyamannya naik bis kota, tiba saatnya menjajal kereta bawah tanah di London yang terkenal dengan sebutan Tube. Sangat mudah mencari dimana posisi stasiun kereta bawah tanah di London, walau jalan menuju ke sana berada di antara gedung-gedung tinggi. Kita tinggal mencari lambang lingkaran merah yang ada tulisan kata ‘Underground’.

London sudah sangat maju dalam membangun sistem jaringan kereta bawah tanah. Sekarang ini, tidak hanya ada satu jaringan, tapi sudah lebih dari satu dalam satu stasiun. Tidak heran kalau kita harus turun jauh ke bawah tanah dengan eskalator, bila kereta yang ingin dinaiki, berada di posisi paling bawah. Memang sulit terbayangkan, stasiun maupun jaringan rel yang sangat hiruk-pikuk, ternyata tersusun bertingkat-tingkat di bawah gedung-gedung tinggi dan permukiman penduduk.

Kalau bosan dengan angkutan umum, silahkan saja menjajal taksi di London yang terkenal dengan sebutan black cab. Bentuk taksinya seperti mobil-mobil keluaran lama, sama seperti yang sering muncul di film-film berlatar kota London. Mungkin dulu warnanya selalu hitam sehingga disebut black cab. Hanya saja, kini warna taksi di London sudah macam-macam, termasuk warna pink juga ada.

Soal tarif, mmm.... ini yang perlu dipikirkan lebih panjang. Dibandingkan tarif taksi di Jakarta, maka saku harus dirogoh lebih dalam lagi untuk membayar taksi di London. Secara sederhananya, tarif taksi di London sekitar sepuluh kali lipat daripada tarif taksi di Jakarta dalam jarak yang sama. “Naik taksi lima menit saja, aku sudah membayar 10 pound (sekitar Rp 180.000),” kata Ester Teja Sukmana, rekan asal Indonesia yang sedang menuntut ilmu di London.

Bila berkendaraan pribadi menjadi pilihan, maka berhati-hatilah dalam berkendara, terutama tidak ada pendamping. Banyak artikel di internet yang mengutip sebuah penelitian, dimana London disebutkan sebagai kota yang paling mudah tersasar. Sistem kota yang memakai blok-blok memang sangat membingungkan. Apalagi bagi penduduk Indonesia yang terbiasa hidup dengan jalan lurus dan memanjang.

Selain itu, pilih-pilihlah jalur yang Anda lalui saat berada di tengah kota London. Salah-salah Anda melewati kawasan pembatasan kendaraan yang biasa disebut Congestion Charging Zone. Kawasan ini ditandai dengan lambang lingkaran merah dengan huruf C warna putih di tengahnya. Kawasan ini dibuat untuk mengurangi kepadatan lalulintas pada jam-jam sibuk. Bila melewati kawasan ini, maka tagihan sudah siap menanti. Jumlahnya sekitar 8 pound ( sekitar Rp 36.000) per hari. Cara ini cukup efektif meredam kepadatan lalulintas di London. Sebuah langkah yang sudah lama ingin ditiru Jakarta, namun masih saja sebatas wacana.

Nah, selamat menikmati liburan Anda di kota London………. (Edi Ginting)

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di harian Media Indonesia edisi Minggu, 10 Mei 2009, halaman Travelista

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar