Kamis, 14 Mei 2009

KEHARMONISAN KLASIK DAN MODERN DI LONDON

Waktu baru menunjukkan pukul 10 siang waktu London, ketika Trafalgar Square sangat sesak oleh turis-turis. Ada yang datang sendiri-sendiri, namun lebih banyak yang berkelompok-kelompok. Mereka berasal dari banyak negara dan benua, namun memiliki satu tujuan; menikmati keindahan pesona harmoni antara romantisme klasik dan modern yang disuguhkan kota London, ibukota Inggris.

Setidaknya, itulah yang tergambar ketika penulis berkesempatan mengunjungi kota London bersama rombongan dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, beberapa waktu lalu. Sambil mempelajari sistem transportasi di ibukota negara David Beckam ini, tidak salahnya juga menikmati betapa indahnya kota ini mengatur tata kotanya tanpa perlu mengikis habis peninggalan ‘nenek moyang’ mereka.

Trafalgar Square berada tepat di jantung kota London. Lokasinya berada di ujung dua jalan besar, The Mall dan Whitehall. Sangat mudah menjangkau kawasan ini, karena sangat banyak jalur bus kota yang melewatinya. Stasiun kereta api bawah tanah juga ada tidak jauh dari kawasan Trafalgar Square.


Trafalgar Square memiliki halaman yang luas dan biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan sepanjang tahun, seperti konser musik, promosi dan pameran, shooting foto atau film, dan bahkan juga sering digunakan untuk demonstrasi.

Trafalgar Square dibangun untuk mengenang Pertempuran Trafalgar (1805). Dalam pertempuran tersebut, Inggris yang dipimpin oleh Horatio Nelson memenangi pertempuran melawan Perancis yang dikomandoi Napoleon.

Trafalgar Square dikelilingi oleh sejumlah bangunan bergaya arsitektur klasik, dengan air mancur di pinggir lapangan. Tugu Corinthia, Museum National Gallery, dan Gereja St Martin In The Fields adalah beberapa bangunan menjadi daya pikat Trafalgar Square. Yang paling mencolok adalah Musium National Gallery dengan pilar-pilar yang terkesan begitu kokoh, persis di depan Trafalgar Square.

Gaya bangunan di sekitar Trafalgar Square yang hampir seluruhnya berarsitektur klasik, seperti miniatur dari kota London secara keseluruhan. Kota ini memang sangat mempertahankan bangunan-bangunan klasik mereka, hasil peninggalan ratusan tahun dulu. Seorang kawan yang tinggal di London menyebutkan, siapa saja dilarang untuk mengganti bangunan yang sudah ada. Mereka hanya boleh memugar bagian dalam bangunan, namun jangan coba-coba untuk mengganti bentuk luar bangunan. Sebuah aturan yang tampaknya sangat ditaati penduduk London.

Memang mengherankan untuk sesaat. London, yang merupakan ibukota sebuah negara yang masuk dalam jajaran penguasa dunia ini, masih mempertahankan peninggalan ‘nenek moyang’ mereka. Sebagai negara maju dengan penguasaan ilmu dan teknologi kelas satu dunia, London seharusnya bisa saja mensulap semuanya dengan mengikuti tren dunia.

Namun, kota London justru memilih untuk memadukannya. Bangunan tua dipertahankan, dan justru melengkapinya dengan sarana modern, serta tidak meninggalkan kelestarian alam lewat pohon-pohon rindang yang ada di Trafalgar Square. Banyak orang menyebut kondisi ini dengan istilah harmoni antara romantisme klasik, kelestarian alam, dan arus modernisasi.

Namun, rasanya diri ini tidak boleh larut dalam sebuah mahakarya manusia yang ada di sekeliling Trafalgar Square. Rasanya, sangat kurang bila belum mengunjungi Istana Buckingham yang lokasinya memang tidak jauh dari Trafalgar Square. Keberadaan istana yang menjadi kediaman resmi Ratu Elizabeth II ini, juga menjadi simbol keharmonisan tadi. Sistem kerajaan masih melekat kuat di tengah arus modernisasi yang telah membekap dunia ini sejak beberapa dekade terakhir.

Untuk mencapai Istana Buckingham dari Trafalgar Square, cukup menyusuri Jalan The Mall yang yang ada di kanan Trafalgar Square. Sebuah gerbang yang sangat besar dan bergaya arsitektur klasik, akan menyambut siapa saja sebelum masuk ke Jalan The Mall. Keberadaan gerbang yang tampak sangat kokoh ini, seolah-olah menjadi pintu gerbang untuk masuk ke dalam sebuah benteng yang sangat besar. Bendera Inggris pun yang ada di puncak gerbang inu, tak henti-hentinya berkibar diterpa angin dari udara kota London yang dingin.

Menyusuri Jalan The Mall sangat memberikan kesan tersendiri. Pedestrian begitu lebar dan teduh oleh rindangnya pepohonan sepanjang jalan. Dalam jarak tertentu terbentang banyak bendera Inggris yang sangat terkenal itu. Sangat banyak turis yang berfoto di sini dengan memanfaatkan bendera Inggris tersebut sebagai latar foto.

Di sebelah kiri jalan adalah ST James’s Park, salah satu taman terluas di London. Taman diatur sedemikian rupa sehingga tercipta beraneka macam sudut. Ada sisi yang penuh dengan pohon-pohon yang besar. Di bagian lain, terbentang lapangan dengan rumput yang terawat rapi. Ada juga bagian yang ditanami bunga-bunga dengan kembang aneka warna. Pemandangan semakin dimanjakan oleh sebuah danau di tengah ST James’s Park. Di tengah danau ini juga ada sebuah pulau dengan nama Pulau Bebek (Duck Island).
Sedangkan di kanan Jalan The Mall berjejer sejumlah bangunan penting, dan masih bergaya klasik nan indah. Beberapa patung dari tokoh-tokoh penting Inggris ikut berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan bergaya klasik tersebut. Ini tentu sebuah pemandangan yang sangat mempesona ketika menyusuri Jalan The Mall. Saat wajah dipalingkan ke kiri, terhampar sebuah taman yang cantik nan eksotis. Begitu mata menatap ke kanan, maka mata dimanjakan dengan bangunan-bangunan gaya klasik yang begitu mempesona. Sampai akhirnya, langkah ini terhenti di depan Istana Buckingham.
Siang itu, begitu banyak turis yang memadati halaman depan pagar istana yang merupakan ke kediaman resmi Ratu Elizabeth II ini. Mereka larut dalam pemandangan keindahan arsitektur bangunan istana yang ada di depan mereka. Bisa jadi begitu banyak pikiran yang melayang-layang di dalam kepala mereka. Sekali lagi, sulit membayangkan kalau sistem kerajaan yang dijalankan Inggris, tidak lekang tergerus zaman dan kemajuan peradaban modern.
Khayalan dan pikiran di dalam kepala akhirnya terbuyarkan oleh kedatangan satu regu pasukan berkuda kerayaan, yang berjalan rapi mengitari Queen Victoria Memorial di depan istana. Pasukan yang berjumlah sekitar 13 orang ini, duduk tegap di atas kuda yang besar dan gagah, sambil mengenakan seragam hitam lengkap dengan pegang di tangan kanan mereka.
Inggris memang berhasil menyebar rasa kagum banyak orang. Dunia boleh saja terlena dengan kemajuan peradaban, dan melupakan nilai-nilai luhur yang sejak dulu didengungkan para pendahulu manusia. Namun Inggris memilih jalan lain dengan menyelaraskan semuanya. (Edi Ginting)

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat di harian Media Indonesia edisi Minggu, 10 Mei 2009, halaman Travelista

Tidak ada komentar:

Posting Komentar