Selasa, 16 November 2010

Kenapa Saya Harus Memilih Unitlink itu?

Ini cerita tentang seorang agen asuransi yang ingin menawarkan sebuah produk unitlink kepadaku. Hari Jumat lalu ia menelepon dan mengatakan ingin bertemu untuk membahas asuransiku yang ada di perusahaan tempat dia bekerja. Ia mengaku ditunjuk perusahaan untuk mengecek apakah aku mengalami masalah atas asuransiku itu setelah ada perubahan nama perusahaan. Singkat kata, si agen ini sejak awal memang hanya ingin menawarkan unitlink kepadaku dengan embel-embel ingin menjelaskan perihal pergantian nama perusahaan itu.

Namun, yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Kepada si agen itu, aku malah menjelaskan tentang apa itu unitlink. Daripada ikut asuransi plus investasi seperti yang ditawarkan sebuah unitlink, aku mengaku lebih tertarik membeli asuransi murni seperti term life atau whole life. Eh, si agen malah menjawab hanya ingin menawarkan jenis unitlink saja. Aneh juga, kok si agen ini tidak tahu apa saja jenis asuransi di perusahaannya itu. Mmm……

Jadi begini ceritanya. Kami janjian untuk bertemu pada hari Senin kemarin. Si agen datang ke kantor menjelang sore hari dengan pakaian super rapi dan wangi parfum yang sangat menyengat. Kami pun mengobrol santai di lobi kantor.


Si agen pun menanyakan tentang perkembangan asuransiku yang ada di perusahaannya. Aku pun menjelaskan kalau selama ini tidak ada masalah. Pasalnya aku belum pernah melakukan klaim, mencairkan hasil investasiku di asuransi itu, ataupun masalaha yang lain. Aku pun mengaku sudah mendapatkan surat pemberitahuan tentang pergantian nama perusahaan. Namanya memang berubah karena nama yang lama tersangkut sebagai salah satu perusahana yang hampir bangkrut di kantor pusatnya di Amerika sana.

Setelah beres berbasa-basi, si agen lalu menjelaskan tentang jenis asuransiku itu. Rupanya, dia sudah memegang semua datanya, seperti berapa besar premi yang aku bayar setiap tahun, apa jenis asuransiku itu, berapa perbandingan premi untuk asuransi dan simpanan, dan sebagainya. Aku pun cukup terkejut dengan semua info yang ia pegang itu.

Ia lalu membuat sebuah ilustrasi di sebuah kertas yang sudah ia persiapkan. Ia mencoba menghitung berapa kira-kira uang yang sudah tersimpan di rekening asuransiku. Dengan 60% premi masuk dalam investasi, berarti dalam jangka waktu lima tahun yang sudah berjalan, ia memperkirakan aku sudah memiliki uang belasan juta rupiah di rekeningku.

Si agen yang sepertinya masih berumur 25-an ini kemudian mencoba mempengaruhiku. Menurut dia, dengan jenis asuransi simpanan yang aku pilih, maka investasiku itu akan sangat lambat berkembang. Pasalnya, bunganya hanya sekitar 8-15% pertahun.

Aha...aku semakit tergelitik untuk menunggu penjelasananya selanjutnya. Pasalnya, aku yakin, pasti ada maksudnya untuk menguasai uang simpananku itu. Dan, memang benar. Tidak sampai semenit kemudian, si agen ini mengatakan, perusahaannya tidak lagi mengeluarjan jenis asuransi yang aku punya dan sudah membuat produk asuransi berbasis unitlink. Mendengar ia mengucapkan kata unitlink, dalam hati aku tertawa terbahak-bahak. Sejak awal aku memang menduga pasti akan ke sini arahnya.

Si agen ini menawarkan kepadaku sebuah produk unitlink bernama Solution. Ia menawarkan agar duitku yang sudah ada di asuransi simpananku, dimasukkan saja dalam unitlink. Ia pun dengan bangga mengatakan, imbal hasil unitlink yang ia tawarkan bisa mencapai 30% bahkan lebih pertahun. Dia pikir aku tertarik......

Tidak lama kemudian, aku pun mengambil alih pembicaraan. Kepada si agen ini, aku mengatakan kalau sangat tidak tertarik untuk membeli unitlink, sebuah produk asuransi yang dibungkus dengan embel-embel investasi. Aku mengatakan, tidak ingin mencampuradukkan asuransi dengan investasi. Bahkan, kalau bisa, aku mengatakan ingin menutup saja asuransi simpanan yang aku miliki di perusahaannya. Namun, karena sudah berjalan separoh, rasa-rasanya sayang juga.

Investasi yang ada di dalam unitlink biasanya disimpan di dalam reksadana. Sebab, setahu aku, perusahan asuransi tidak boleh membeli saham di bursa sebagai alat untuk mengembangbiakkan duit mereka. Resiko investasi di saham cukup besar untuk dijelajahi oleh perusahaan asuransi. Nah, bagi orang yang mengerti seluk-beluk reksadana, tentu akan lebih bagus bila ia langsung membeli unit di reksadana daripada di unitlink.

Mengapa demikian? Sebab, bila kita investasi di reksadana, maka potongan hanya sekitar 1% dari dana simpanan kita. Bandingkan dengan potongan di unitlink yang bisa mencapai 5%. Pasalnya, di dalam unitlink, begitu banyak jenis potongan yang dibebaskan kepada si nasabah. Misalkan saja, biaya administrasi per-bulan berkisar antara Rp.25.000 - Rp.27.500, biaya untuk agen alias Komisi 30%, biaya pengelolaan investasi 1% - 1.75% dari total dana yang dikelola, biaya Top-Up sebesar 3% - 6%, biaya switching sampai dengan 1%, dan biaya penarikan dana kurang dari 2 tahun sebesar 2%.

Singkat cerita, si agen asuransi ini pun akhirnya menyerah juga untuk menyakinkanaku setelah sebuah argumen yang dia sampaikan, bisa aku bantah atau aku jawab dengan pertanyaan balik yang tidak bisa ia jawab.

Kami pun menutup pertemuan dengan obrolan seputar pekerjaan. Bahkan, ia akhirnya membeberkan sejumlah rahasia di industri perusahaan asuransi. Salah satunya adalah, bagaimanapun ceritanya, perusahaan asuransi tidak akan pernah rugi kalaupun sebuah nasabahnya mengajukan klaim. Pasalnya, si perusahan asuransi itu pun mengasuransikan perusahaannya kepada perusahaan lain. Mmmm.......
Selengkapnya...

Rabu, 20 Oktober 2010

Ting, Deni sudah tidak Ada!

"Ginting, Deni Aminudin ini yang mana sih orangnya?" Begitu seorang kawan bertanya padaku pada hampir dua tahun lalu. Sang kawan ini wajar saja bertanya-tanya. Nama Deni Aminudin memang tiba-tiba saja menjadi akrab di kalangan lulusan SMA 1 TANGERANG angkatan 95, khususnya yang aktif di jaringan Facebook. Tiap hari ia menyapa lewat status-statusnya yang khas. Ia pun rajin mengomentari status kawan-kawan lain. Komentarnya tersebut pun sering menjadi bahan pancingan sehingga teman-teman lain ikut memberikan komen.

Sejak dua tahun lalu, kehadirannya telah memberikan 'kesegaran' baru dalam hubungan antaralumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Sikapnya yang humoris menjadikannya sebagai 'bintang' di sana. Barangkali, sebuah bintang yang fresh yang tiba-tiba saja hadir di tengah-tengah para alumni ini. Padahal, sejak lulus tahun 1995 silam, nama Deni Aminudin tidak termasuk dalam 'lingkaran' pergaulan. Karena itu, wajar saja tidak banyak yang mengenal nama itu.

Aku juga termasuk orang yang baru akrab dengan nama Deni Aminudin sejak aktif di facebook. Aku lupa tepatnya, namun mungkin sejak 2008 akhir lah kami berteman di situs komunitas ini. Kalau tidak salah, Deni duluan yang meminta berteman denganku. Seperti biasa, aku selalu melihat profil orang yang mengajak berteman. Dari fotonya, sepertinya aku tidak mengenal. Dari identitasnya, ia mengaku lulusan SMA 1 Tangerang. Dan, dari daftar mutual friends-nya, seluruhnya adalah teman-teman SMA-ku. Karena itu, aku yakin orang yang bernama Deni Aminudin ini adalah memang teman seangkatan di SMA, walau aku lupa siapa dia.

Waktu terus berjalan dan hampir setiap hari Deni rajin mengomentari statusku maupun status teman-teman SMA yang lain. Terkadang, komentarnya mengundang tawa. Rasanya, jari-jari ini akhirnya juga tergoda untuk menyambung komentarnya itu. Akhirnya, sering kali, terjadi saling berbalas-balasan komentar. Karena aku belum begitu mengenal siapa sebenarnya sosok orang yang bernama Deni Aminudin ini, maka komentarku hanya 'datar-datar' saja. Tapi, yang aku bisa tangkap dari komentar-komentarnya, orang yang bernama Deni ini sepertinya 'asyik'.

Beberapa teman di Facebook juga sempat aku tanya tentang siapa sebenarnya Deni Aminudin ini. Belakangan, aku merasa kalau ternyata tidak hanya aku seorang yang kurang begitu mengenalnya. Pada umumnya mengaku lupa dengan nama Deni Aminudin. Ada yang ingat, tapi hanya sekadar ingat tanpa ada kenangan bersamanya.

Karena masih penasaran, aku akhirnya mencari buku alumni SMA 1 Tangerang di rak bukuku. Dari deretan nama-nama lulusan jurusan Biologi, akhirnya kutemukan ada nama Deni Aminudin. Kulihat pasfoto hitam putih di sana. Kucoba ingat-ingat siapa dia. Biologi 1....mmmm....yang mana gerangan orangnya. Aha....sedikit demi sedikit akhirnya kenanganku saat SMA dulu kembali hadir. Gambaran nama Deni Aminudin pun hadir.

Dalam kenanganku itu, sosok Deni ini hadir sebagai seorang teman SMA yang tidak cukup aktif di pergaulan sesama teman satu angkatan. Ia hanya aktif di teman-teman sekelasnya. Memoriku mulai menayangkan rekaman bagaimana Deni duduk di bangku belakang kelas dan sering menyapa siapa saja saat lewat di depannya, termasuk diriku. Maklum saja, karena jendela kelasnya yang tidak lagi memiliki kaca, maka ia bebas berinteraksi dengan siapa saja melintas.

Jujur aku akui, aku tidak ingat dengan nama Deni Aminudin itu. Bahkan, mungkin pada saat SMA dulu, aku hanya kenal orangnya namun tidak tahu siapa namanya. Yang membuatku bingung juga, dalam kenangangku itu, sosok Deni adalah teman satu SMA dengan postur tubuh yang biasa-biasa saja. Karena itu, ketika melihat foto-foto yang ada di Facebook-nya, aku tidak menemukan sosok seperti yang aku ingat itu. Jadi, wajar saja aku percaya kalau Deni Aminudin ini adalah memang teman SMA-ku hanya berdasarkan mutual friends yang sama diantara kami.

Nama Deni Aminudin pun semakin akrab bagiku karena termasuk friend yang paling rajin membuat status di Facebook. Statusnya dari hal-hal yang ringan sampai hal pribadi yang mungkin tidak ada yang mengerti maksudnya kecuali si pembuatnya sendiri. Ia pun sering mengomentari statusku dengan kata-kata yang ringan namun menggelikan. Dari sana, aku bisa merasakan kalau Deni ini bukan tipe orang yang tertutup, pendiam, pemarah, dan sifat-sifat sekelas lainnya. Aku menilai, ia adalah sosok yang penuh humor dan menjunjung tinggi arti persahabatan.

Kesempatan untuk bertemu langsung dengan orang yang bernama Deni Aminudin ini akhirnya muncul pada 2009. Saat itu adalah bulan puasa, dan Deni menjadi motor penggerak untuk buka bersama bagi alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Ia aktif mengontak baik lewat Facebook maupun lewat HP. Tempat buka puasa disepakati di D'cost Ocean Park BSD. Jelang buka puasa, aku pun meluncur ke sana bernama Yuliandi Kusuma, teman satu SMA lainnya.

"Den, duduk dimana?" tanyaku pada Deni via telepon ketika sudah berada di depan pintu masuk D'cost.
"Di sini. Di sebelah kanan pintu." jawabnya.

Aku dan Yuliandi pun berjalan masuk dan menatap ke seluruh penjuru ruangan rumah makan itu sambil tetap berkomunikasi dengan Deni via telepon. Sebentar kemudian, aku melihat ada seorang laki-laki yang melambai-lambaikan tangan pada kami. Sosoknya sempat membuatku terkejut. Benarkah itu Deni?

Kami pun segera berjalan menuju meja tempat Deni duduk. Dalam acara buka puasa itu, yang menjadi sentral obrolan adalah Deni. Rupanya bukan hanya aku yang belum pernah lagi bertemu dengan Deni sejak lulus SMA tahun 1995 silam. Semuanya penasaran dengan sosok Deni ini. Yang membuat semua heran adalah bagaimana postur tubuh Deni yang berubah drastis dari yang biasa-biasa saja saat SMA, menjadi 'tidak biasa' pada hari ini. Deni pun menjawab setiap pertanyaan kami dengan canda.

Malam itu begitu berkesan sampai akhir perjumpaan. Canda tawa selalu menyertai. Apalagi saat sesi foto-foto di halaman D'cost. Semua saling rebutan untuk berfoto dengan Deni. Atiek dan Ajrenk begitu puas menggoda Deni. Yang menarik lagi, Deni pun bisa menangkis setiap godaan itu lewat celetukan-celetukannya. Pokoknya, Deni menjadi bintang malam itu.

Pertemuan malam itu menjadi bekal untuk menambah keakraban dengan Deni di hari-hari berikutnya. Apalagi, foto-foto buka puasa itu di-posting di Facebook. Saling berbalas komentar terjadi dalam beberapa hari. Lagi-lagi, Deni menjadi topik pembicaraan. Dan, lagi-lagi pula, Deni mampu membalas setiap komentar dengan celetukan yang segar. Walau mungkin ada komentar yang tidak enak, namun Deni sepertinya tidak mempermasalahkannya. Ia tetap membalasnya dengan ceria.

Karena sosok Deni ini sudah semakin akrab pasca acara buka puasa itu, maka 'ritual' saling memberikan komentar di status Facebook pun bertambah ramai. Deni masih rajin membuat status di saat teman-teman lain justru semakin jarang membuatnya. Deni pun tetap rajin mengomentari status teman-teman lain. Walau Deni yang paling sering jadi bahan ledekan, namun ia tetap 'santai' menanggapinya. Ia membalas komentar itu dengan ledekan juga. Kalaupun ia akhirnya tersudut dalam acara ceng-cengan itu, Dani paling hanya berkomentar singkat, 'hehehehe' atau 'bisa aja lu'.

Sosok ramah, supel, dan humoris yang dimiliki Deni kembali terlihat saat acara halal-bihalal di sebuah rumah makan di Gading Serpong tahun lalu dan acara buka puasa di Lippo Karawaci, September 2010 lalu. Tampaknya semua teman-teman sangat menyukai pribadi Deni yang sangat friendly ini. Suasana akan semakin semarak dimana Deni hadir di situ. Canda tawa dipastikan selalu mewarnainya.

Deni benar-benar telah memberikan suasana baru di tengah-tengah akraban para alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Boleh dikatakan, ia telah menjadi ikon. Ya..., sebuah ikon yang tiba-tiba saja hadir setelah mungkin 13 tahun nama Deni Aminudin tidak pernah berkibar dalam kancah 'pergaulan' alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95.

Minggu, 17 Oktober 2010, sebuah status di Facebook menyebut kalau Deni sedang dirawat di RS Sari Asih, Tangerang. Deni dirawat di ruang ICU karena terkena demam berdarah. Kondisinya dikabarkan sudah kritis dan tidak mampu lagi mengenali keluarganya. Fungsi beberapa organ tubuhnya pun sudah terganggu.

"Ting, Deni sudah tidak ada," kata Nanto, seorang kawan, pada Senin sekitar pukul 17.00 WIB. Aku terkejut. Aku lemas. Aku tidak percaya. Padahal, sekitar lima jam sebelumnya aku masih melihat Deni di ruang ICU. Saat itu, kondisinya memang masih kritis. Ia tidak sadarkan diri dan hanya bisa menggerak-gerakkan kepala. Aku sempat menyentuh kaki kanannya, dan Deni sepertinya memberikan respons. Tiba-tiba saja kaki kanannya seperti digerakkan.

Kini, sahabat itu telah pergi selama-lamanya....
Selengkapnya...

Kamis, 14 Oktober 2010

Timur Pradopo Kapolri Keberapa?

Timur Pradopo duduk sendirian di deretan bangku-bangku itu. Sebuah monitor komputer ada di sisi kanannya. Sedangkan di sisi kirinya terdapat sebuah laptop. Secara serius, ia mendengarkan satu-persatu pertanyaan yang dilontarkan oleh para anggota Komisi III DPR RI. Sebentar kemudian, ia pun menjawab semua pertanyaan itu. Si penanya puas dan akhirnya Timur pun lolos menjadi Kapolri baru, untuk menggantikan Bambang Hendarso Danuri yang bulan ini sudah harus pensiun.

Dari mukanya, anggota polisi berbintang 3 ini sepertinya murah senyum dan ceria selalu. Bahkan, dalam setiap kesempatan muncul di layar kaca, senyum itu sangat mudah terlihat. Namun, selama hampir tiga jam mengikuti 'ujian' di ruang Komisi III ini, aku sangat jarang menikmati senyum itu. Apakah sang calon kapolri pilihan Mister SBY ini sedang tegang, ataukah alasan lain, aku sendiri tidak mendapatkan jawabannya.

Yang pasti, Timur Pradopo lolos 'ujian' ini. Ia pun segera naik pangkat menjadi jenderal berbintang empat. Kalau tidak ada halangan, mantan Kapolda Jawa Barat dan Kapolda Metro Jaya ini, akan dilantik menjadi kapolri pada akhir Oktober ini.

Sebenarnya nama Timur Pradopo tidak muncul tiba-tiba dalam bursa calon kapolri. Memang, namanya muncul belakangan dan orang sering menyebutnya sebagai kuda hitam akibat kebuntuan dalam pencaloan nama Nanan Soekarna dan Iman Soejarwo. Tapi, sekali lagi, sejak awal, nama Timur Pradopo memang sudah menggema.

Nama mantan Kapolres Jakarta Barat dalam peristiwa Tragedi Trisakti 98 ini, sejak awal diprediksi sebagai salah satu dari tiga calon kapolri. Dua nama lainnya adalah Nanan Soekarna dan Oegroeseno. Silahkan baca tulisan saya berjudul Kapolri Pengganti Bambang Hendarso Danuri yang saya posting tanggal 13 Juni 2010 lalu.

Dalam tulisan saya itu, Timur Pradopo memang saya sebut punya kans lebih kecil daripada Oegroeseno maupun Nanan Soekarna. Pasalnya, Timur baru saja mendapatkan promosi sebagai Kapolda Metro Jaya. Saat itu, saya memperkirakan Oegro-lah yang akan dipromosikan menjadi bintang 3 sebagai Kababinkam. Namun, ternyata Timur-lah yang menempati posisi itu.

Selamat untuk Pak Timur Pradopo. Selamat Bertugas, Jenderal!!!!!
Selengkapnya...

Rabu, 13 Oktober 2010

Liburan ke Citra Raya

Ada salah satu ide yang sangat ingin aku kerjakan saat sedang menikmati hari libur. Yakni, 'liburan' ke Citra Raya. Itu lho, kawasan perumahan milik konglomerat Ciputra yang berada di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Aku penasaran bagaimana kondisi kawasan itu sekarang ini. Sepertinya, hanya Citra Raya yang gaungnya kurang 'keras' dalam kompetisi kawasan perumahan berlahan luas di seputaran Tangerang. Mmmmm....benarkah demikian?

Akhirnya, ide yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang itu, bisa aku laksanakan hari Selasa ini. "Gue lupa kalo jadwal wartawan emang ga jelas. Gw pikir, lo bilang mau liburan ke Citra Raya itu, pasti pas hari libur seperti hari minggu," kata seorang kawan yang memang tinggal di kawasan itu. Beberapa hari sebelumnya, aku memang sempat mengatakan padanya ingin jalan-jalan ke Citra Raya.

Selama tiga jam aku mengelilingi seluruh kawasan Citra Raya. Seluruh kondisinya aku perhatikan. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh kawan yang tinggal di kawasan yang memilih ikon 'kota Nuansa Seni' ini. Citra Raya kini sudah ramai. Padahal, beberapa tahun lalu, setahu aku, kawasan ini masih sepi dan hanya ramai oleh lalu-lalang penduduk kampung sekitar. Terlebih lagi di kawasan danau yang sepertinya menjadi tempat rekreasi murah-meriah.

Tapi itu dulu. Sekarang kawasan ini memang sudah ramai oleh penduduknya sendiri. Pertokoan di sekitar gerbang utama tampak sudah dibanjiri oleh bermacam-macam barang dagangan. Hanya bank yang sepertinya masih sedikit membuka cabang di sini. Aneka makanan dan keperluan sehari-hari ada di sini.

Dan, tampaknya dalam tahun-tahun mendatang, kawasan ini dipastikan akan semakin ramai. Pengembang Citra Raya terus membangun cluster-cluster baru dan pusat pertokoan. Hasil 'liburan' hari ini, tampak ada sekitar lima cluster yang sedang dikerjakan. Keempatnya berada di cluster Waterpoint, Graha Pratama, Park View, Chrysant, dan Green Vista. Yang paling menarik mungkin Waterpoint. Tampaknya cluster ini memang diperuntukkan bagi menengah atas. Harganya di atas 400 jutaan. Suasananya juga lebih oke dengan penataan taman yang indah dan adanya fasilitas sport center.

Aku tertarik dengan cluster Green Vista dan Graha Pratama yang harganya sekitar Rp 160 jutaan. Menurut aku, harga seperti itu masih tergolong murah untuk kondisi yang diberikan. Rumah dibangun dengan bata merah, rangka baja ringan, dan lokasinya masih berada di depan. Mmm.... bisa ga ya aku bisa memiliki satu rumah di sana? Hehehe...

Sepertinya Citra Raya memang mengambil posisi sebagai penyedia rumah yang dijual dengan harga Rp 200 jutaan. Padahal, pengembang besar di sekitarnya kini sudah tidak menyiadakan lagi rumah dengan harga segitu. Mulai dari BSD City, Lippo Karawaci, Summarecon, Alam Sutra, atau yang lainnya, tidak lagi menjual rumah di bawah Rp 300 juta. Rata-rata rumah termurah di sana mungkin di atas Rp 400 jutaan.

Memang, lokasi Citra Raya paling jauh diantara semuanya. Tapi, bukan kah itu sudah menjadi ciri dari group Ciputra? Mereka terbiasa untuk membangun kota baru yang memang jauh dari kota yang sudah ada. Strategi seperti ini membuat mereka bisa membeli lahan murah dan membangunnnya menjadi kota baru dalam jangka waktu puluhan tahun. Karena itu, kata orang, membeli properti milik ciputra sangat bagus untuk jangka panjang.

Apalagi, dengan luas lahan mencapai 1000 hektar di Cikupa Tangerang, Citra Raya sepertinya bisa berbuat apa saja di sana. Kalau sekarang hanya menjual rumah dengan harga 200 jutaan, maka pasti dua-tiga tahun lagi harga rumah baru di sana sudah di atas 400 jutaan. Harga tanah juga meningkat tajam di sana. Tahun 2000an lalu, tanah semeter baru sekitar 200 ribuan. Tahun 2005an menjadi 500 ribuan. "Dan, harga tanah sekarang mencapai Rp 1 jutaan per meter," kata kawan yang tinggal di sana tadi.

Ah, kenapa aku dari tadi memuji Citra Raya saja ya? Apa karena aku memang tertarik sekali dengan rumah di Cluster Green Vista tadi? Hahaha.....
Selengkapnya...

Kamis, 07 Oktober 2010

Pergulatan 30 Tahun Membesarkan Toko Roti Majestyk

Toko roti asli Medan ini tetap eksis di tengah gempuran toko roti modern saat ini. Kondisinya makin berkembang di tangan generasi kedua. Bagaimana Anderson Nyam membesarkannya?

“Majestyk Bakery & Cake Shop asli Medan, Bung!” kata seorang pria Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta bangga. Ya, Majestyk Bakery & Cake Shop yang sudah tersebar di beberapa lokasi di Jakarta memang salah satu kebanggaan warga Medan. Di Ibukota Sumatera Utara itu, namanya sangat dikenal dan telah menjadi identitas kota itu.

Kekuatan itu bisa dimengerti karena Majestyk sudah lebih dari 30 tahun melayani pelanggannya. Eksis sejak 1976 sebagai toko yang menjual aneka roti, kue dan susu, awalnya namanya bukan Majestyk. Ketika itu, Farida Auw dan suaminya cuma mendirikan toko kelontong kecil-kecilan di pinggir jalan. Di tempat yang sama, mereka juga membuat serta menjual roti dan kue.

Barulah pada 1984, ketika Anderson Njam mengambil alih bisnis orang tuanya, dilakukan perubahan besar-besaran, termasuk mengganti nama. Anderson yang waktu itu berusia 18 tahun bersama orang tuanya nekat melakukan perombakan menyeluruh, mulai dari mengubah sistem pengelolaan agar lebih profesional, mengganti mesin produksi dengan yang lebih modern, menambah jenis produk yang diperdagangkan, hingga menggunakan nama dagang baru: Majestyk. “Majestyk berarti kebesaran, seperti kerajaan. Mudah-mudahan seperti itu,” ucap Anderson.

Keberanian Anderson mengambil alih bisnis roti orang tuanya tersebut tentu bukan sekadar bermodal nekat. Kebetulan, ia berminat menekuni bisnis roti dan punya keahlian membuat kue. Maklum, sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan bisnis roti oleh orang tuanya. Bahkan, setiap liburan sekolah ia selalu bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Selain mendapatkan tambahan uang saku, ia juga memperoleh pengetahuan tentang cara membuat roti dan cara berkomunikasi yang baik dengan konsumen.

Dengan semangat kuat ingin mengembangkan bisnis roti yang dirintis orang tuanya, Anderson pun membeli ruko di Jl. Gatot Subroto, Medan. Dari sinilah toko roti Majestyk mulai dikembangkan secara lebih serius, profesional dan modern.

Sistem manajemen yang lebih profesional diterapkan Anderson guna mengembangkan Majestyk. Berbeda dari orang tuanya, dalam menjalankan bisnis ia menanamkan prinsip “tidak boleh ada campur tangan anggota keluarga”. Artinya, jika suami terlibat, istri tidak boleh turut campur. Demikian pula sebaliknya. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan. Ia pun menerapkan sistem pendelegasian wewenang ke setiap departemen. “Sekarang tidak lagi one man show. Dengan perubahan ini, sudah ada delegasi untuk setiap tanggung jawab ke setiap departemennya,” Anderson menjelaskan.

Modernisasi dilakukan pula terhadap mesin produksi. Sebelumnya hampir 80% pengerjaan roti dilakukan secara manual (dengan tangan), sedangkan kini peran mesin mencapai 60%. “Hal ini terjadi karena sudah ada sebagian mesin yang lebih canggih dan otomatis,” kata Anderson. “Tetapi, base-nya dengan arah tradisional. Jadi, peran manusia masih tetap penting dalam produksinya.”

Kendati begitu, perubahan mesin dilakukan sesuai dengan keinginannya. Anderson biasa mengubah sendiri setingan alat itu untuk mendapatkan rasa produk yang sesuai dengan keinginannya. Jadi, ketika membeli mesin, ia tidak langsung menggunakannya, tetapi terlebih dulu dilakukan pengesetan sesuai dengan keinginannya. “Beberapa orang membuat dengan menggunakan machinery seperti tunnel oven, tetapi kualitasnya bisa berbeda. Karena itu, saya sesuaikan sendiri,” katanya memberi alasan.

Menurut Anderson, peralihan produksi dari manusia ke mesin memang sangat signifikan dalam hal peningkatan produksi. Misalnya, satu orang dalam satu jam hanya bisa memproduksi 9 loyang kue legit. Sementara lima orang yang bekerja dengan menggunakan mesin bisa memproduksi 360 loyang kue.

Selain menerapkan sistem manajemen terkontrol dan modernisasi mesin produksi, Anderson pun menstandardisasi mutu dan kualitas. Ini dilakukan seiring dengan bertambahnya cabang Majestyk, sehingga perlu adanya standardisasi mutu dan rasa di setiap cabang. Untuk itu, ia menerapkan sistem premix, yaitu dengan pembagian central purchasing dan central mix. Ini merupakan sentralisasi pembelian bahan baku dan pencampuran bahan baku sebelum dibuat

menjadi kue jadi. “Untuk purchasing saya menerapkan pembelian satu macam produk untuk produksi. Tidak bisa dibuat main-main. Jadi, misalnya, saya bilang di Jakarta belinya segini, di Medan beda lagi, tidak bisa. Jadi, pembeliannya satu sentral.”

Namun, walaupun pembelian dan pencampuran bahannya tersentral, tidak semua produksi kue dilakukan secara terpusat. Beberapa produksi bisa dilakukan di cabang. Untuk pengaturan pembuatannya, Anderson memberikan bagian-bagian yang khusus untuk kontrol mutu dan trial buat produksi kuenya. “Beberapa produksi di cabang ditentukan kapasitas buyers-nya. Maka, ada yang produksi sedikit, ada yang banyak,” katanya.

Sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis pun tak luput dari pembenahan. Misalnya, guna meningkatkan kinerja dan pengetahuan karyawannya, Anderson kerap mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan atau event di luar negeri, antara lain pelatihan produksi. Pengiriman itu bukan hanya untuk peningkatan wawasan di bidang produksi roti, tetapi juga wawasan bisnis. Menurutnya, hal itu berkaitan erat karena tanpa sisi bisnis, pembuatan roti tidak akan berjalan baik.

Namun, pengiriman pelatihan karyawan tersebut hanya dikhususkan pada manajemen produksi dan pemasaran, tidak mencakup bagian administrasi. Pengiriman karyawan juga ditujukan untuk melihat perkembangan pasar kue di luar negeri. “Setiap negara seperti Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Filipina kan tempatnya lain. Jadi, tidak melulu melihat dari bisnis roti saja, tetapi juga melihat perkembangan makanan secara keseluruhan. Nanti dari situ baru melihat aplikasi apa yang bisa diterapkan untuk bakery,” ujar Anderson sembari tersenyum.

Tak hanya itu. Sejak 2005 Anderson mengikutsertakan pegawainya di level manajemen produksi, operasional dan administrasi untuk ikut memiliki perusahaan dengan sistem pembagian saham. Pria kelahiran 1966 yang belakangan memasuki bisnis properti khusus RSS ini juga menawarkan rumah kepada karyawannya yang belum memiliki rumah. Mereka diberi subsidi uang muka dan keringanan mencicil. “Prinsip saya, jika karyawan makmur, sebagai atasan juga akan semakin makmur.”

Di luar itu, inovasi produk terus dilakukan. Setiap bulan sekitar empat jenis roti baru diperkenalkan. Kini, Majestyk memiliki ratusan jenis roti dan kue. Anderson pun sangat memperhatikan sensitivitas pembeli terhadap harga, sehingga harga kue dan rotinya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp 1.500/potong hingga ratusan ribu. Harga yang dipatok sama di setiap gerai.

Berkat kerja keras dan kegigihan Anderson, kini Majestyk menjadi salah satu ikon Kota Medan. Didukung sekitar 500 karyawan, yang kebanyakan sudah bertahan puluhan tahun, kini Majestyk memiliki 41 gerai yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Produktivitas Majestyk ditopang dua pabrik besarnya yang mempunyai kapasitas produksi 3.000 ton per jam. Juga, didukung beberapa pabrik kecil yang memiliki kapasitas kerja dan sistem distribusi berbeda. “Tahun ini kami targetkan jumlah outlet Majestyk mencapai 50. Saat ini kami juga sedang mempersiapkan sistem franchise,” ujar Anderson.

Selain itu, untuk menghadapi persaingan yang kian sengit, Majestyk telah mempersiapkan sistem integrasi terpadu sejak dua tahun lalu. Kini mereka memiliki kandang ayam sendiri yang mampu menyuplai kebutuhan telur, dan kebun buah untuk kebutuhan pembuatan aneka selai. Lalu, untuk memelihara loyalitas pelanggan, Majestyk juga menawarkan club member bagi pelanggan setia. Setiap tahun, pihak toko menyelenggarakan member gathering untuk melayani konsumen. “Dengan terus melakukan inovasi dan perbaikan di semua bidang, Majestyk mampu bertahan hingga sekarang,” ungkap ayah Tommy, Evelyn dan Andrew ini bangga.

Kendati begitu, diakui Anderson, tidak berarti upaya pengembangan Majestyk yang dilakukannya selalu berjalan mulus. Cukup banyak liku-liku yang dihadapi hingga Majestyk bisa seperti sekarang. Misalnya, ketika akan mengembangkan bisnis, ia mesti menjual rumah dan mobil demi menambah modal kerja. Itu terjadi pada 1987, ketika ia ingin membeli ruko yang ada di sebelah ruko pertamanya. “Setelah semua dijual, yang tersisa hanya satu unit sepeda motor untuk transportasi, dan itu masih ada di garasi hingga sekarang,” kata Anderson sambil tertawa.

Hal serupa juga dialaminya menjelang masa krisis 1998. Anderson mengakui saat itu merupakan masa tersulit yang harus dilaluinya. Menurunnya omset penjualan, karena berkurangnya pembeli, menyebabkan Majestyk hampir bangkrut. Namun, ia memutuskan tetap bertahan, tidak menutup usahanya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menjual aset. Ketika itu, ia menilai lebih aman memegang dana tunai untuk persiapan modal daripada menyimpan aset nonproduktif. Maka, ia menjual rumah dan mobil, kecuali rumah tinggal dan toko. Dan, dengan tambahan modal itu, pada 1999 ia mulai menambah gerai. “Momen 1998 saya pandang tepat saat itu karena saat orang mulai susah berbisnis, Majestyk justru merasa itu peluang emas untuk merebut pasar,” ujarnya bangga.

Menurutnya, pelajaran yang harus diingat dalam mengembangkan bisnis adalah jangan pernah memikirkan profit dulu, tetapi kembangkanlah profesionalitas. “Kebanyakan orang hanya

berpikir seperti itu. Seharusnya dikembangkan profesionalitasnya, nanti profit akan mengikuti,” ungkap Anderson. “Tentu saja masalah akan selalu ada, tetapi jangan sampai patah semangat. Problem is always a problem if you see as a problem, but if you can solve the problem you can finish that problem,” tambahnya mengingatkan.

Kepiawaian Anderson dalam mengelola dan mengembangkan Majestyk ini diakui ahli kewirausahaan Cahyo Pramono. Menurut Cahyo, karakter kewirausahaan Anderson adalah karakter berpola umum yang terjadi di Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir. “Ciri-cirinya, pertama, ada kenekatan karena faktor desakan, baik keluarga, ekonomi atau alasan lain. Kedua, mengandalkan kekuatan mental yang tinggi karena hampir tidak mendapat dukungan dari pihak luar. Ketiga, mewarisi gaya tertentu dari pendahulunya minimal pemahaman bahwa uang tidak datang begitu saja. Keempat, mulai mengenal inovasi. Dan kelima, mulai mencoba manajemen Barat walau kadang hanya kulitnya,” papar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara itu.

Cahyo menambahkan, era Anderson adalah era peralihan yang cukup berat dalam hal SDM. Pada pertengahan era tersebut muncul tantangan, jika ingin berkembang menjadi lebih banyak atau lebih besar, harus melibatkan banyak orang dan belajar memercayai orang. Karena itu, delegasi menjadi suatu keharusan. Di sinilah terjadi perubahan gaya, tidak lagi gaya one man show yang dulu menjadi budaya tunggal dalam alam bisnis di Medan umumnya.

Penilaian senada dikemukakan Sumarni, Kepala Pemasaran Majestyk. Menurut wanita yang bergabung dengan Majestyk sejak 1987 ini, bosnya merupakan orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. “Pak Anderson selalu penuh keyakinan dalam mengerjakan sesuatu. Di samping itu, dia juga mempunyai semangat yang tinggi dalam mewujudkan keinginannya,” kata Sumarni memuji. ”Selain tekun dalam bekerja, Pak Anderson juga orang yang loyal dan mempunyai rasa sosial tinggi, baik terhadap karyawan maupun pelanggannya,” tambahnya.

Sumber: Majalah SWA edisi September 2010
Selengkapnya...

Kamis, 23 September 2010

Gories Mere dan Kuda Hitam Kapolri

Suatu malam, sekitar tahun 2002 atau 2003, muncul rombongan kecil keluar dari dalam ruang tahanan Polda Metro Jaya. Jumlahnya sekitar lima atau enam orang. Dua orang di rombongan ini sangat aku kenal. Yang pertama, bernama Albertus Rachmad Wibowo. Aku mengenalnya saat ia menjadi Kasatseres Polres Tangerang sekitar tahun 2000. Yang satu lagi adalah Gorries Mere. Aku mengenalnya saat ia menjabat Kaditsere Polda Metro Jaya.

Karena rombongan kecil ini berjalan di dekatku, maka aku menyapa Rachmad Wibowo dan menyalaminya. Yang lain sempat memandangiku saat menyapa salah satu rekan mereka itu. Barangkali mereka heran dan tidak menyangka, mengapa ada wartawan malam-malam begini masih ‘nongkrong’ di Polda Metro Jaya. Hanya berbasa-basi satu-dua menit, sang mantan Kasatserse Polres Tangerang yang kini menjabat Kapolres KP3 Tanjung Priok tersebut pun akhirnya pamit pergi dan meninggalkanku.

Aku memandangi rombongan kecil ini yang bergegas pergi meninggalkan pelataran parkir di depan ruang tahanan Polda Metro Jaya. Aku mencoba mengenali siapa saja yang ada di rombongan itu. Namun, tidak ada yang aku kenal selain kedua orang tadi, Rachmad Wibowo dan Gorries Mere. Sebagai sebagai wartawan, sempat muncul pertanyaan dalam pikiran, untuk apa pejabat Polri sekelas Gorries Mere datang malam-malam ke sel tahanan. Sampai hari ini, pertanyaan itu belum terjawab.

Kenangan sesaat pada malam itu kembali muncul setelah nama Gories Mere ramai diperbincangkan sejak kemarin. Jenderal polisi berdarah NTT itu disebut-sebut ikut dalam rombongan Densus 88 yang melakukan serangkaian penggrebekan teroris di Sumatera Utara. Padahal, jabatannya adalah sebagai kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) dengan pangkat komisaris jenderal alias bintang tiga. Banyak yang bertanya-tanya apakah jaringan terorisme yang digerebek di Sumatera Utara berkaitan dengan jaringan narkotika sehingga kepala BNN pun harus ikut turun ke sana.

Awalnya, keberadaan Gories dalam penggerebekan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 di Medan, terungkap saat wartawan mendapatkan berita tentang Danlanud Medan yang mengirim surat kepada Kapolda Sumatera Utara, tertanggal 16 September 2010. Danlanud itu memprotes 'penerobosan' rombongan Densus 88 di Bandara Polonia. TNI Angkatan Udara merasa keberatan karena rombongan itu tidak mengindahkan aturan yang berlaku di bandara sesuai dengan standar Internasional.

Kabarnya, petugas yang berjaga di pos bandara, sempat digertak oleh salah satu orang di rombongan tersebut. Orang itu mengatakan agar si petugas pos tidak menghalangi misi negara. Selain itu, orang di rombongan itu juga menyebut ada jenderal bintang tiga di rombongan itu. Kuat dugaan, kalau memang ada jenderal bintang tiga di dalam rombongan itu, maka Gories Mere-lah orangnya.

Cerita dari Polonia ini segera menjadi berita hangat. Apalagi, cerita ini muncul berbarengan dengan peristiwa penyerbuan Polsek Hamparan Perak di Medan dan menewaskan tiga polisi. Mabes Polri buru-buru menyanggah adanya kaitan penyerbuan polsek ini dengan insiden di Bandara Polonia. Menurut polisi, penyerbuan itu dilakukan oleh kelompok teroris. Beberapa hari sebelumnya, wilayah Hamparan Perak memang menjadi salah satu tempat yang digerebek pasukan Densus 88.

Komisaris Jenderal Polisi Gories Mere adalah alumnus Akpol 1977. Teman satu angkatannya antara lain Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi dan mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji. Nama Gories disebut-sebut sebagai salah satu kuda hitam kapolri pengganti Bambang Hendarso Danuri, bila nama Nanan Soekarna dan Imam Soejarwo mental.

Saat ini, perwira Polri berpangkat komisaris jenderal atau komjen adalah Wakapolri Jusuf Manggabarani (Akpol 75), Kabareskrim Ito Sumardi (Akpol 77), Kababinkam Imam Haryatna (Akpol 75), Irwasum Nanan Soekarna (Akpol 78), Kepala BNN Gorries Mere (Akpol 77), Komjen Pol Imam Soejarwo, dan mantan Kabareskrim Susno Duadji (Akpol 77).

Ada dua kandidat yang sudah ramai disebut-sebut dalam bursa kapolri. Mereka adalah Komisaris Jenderal Polisi Nanan Soekarna yang menjabat Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Mabes Polri dan Komisaris Jenderal Polisi Imam Soedjarwo, yang kini menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdiklatpol).

Setidaknya ada dua alasan untuk memercayai bocoran tersebut. Pertama, sesuai tradisi kapolri dipilih dari perwira tinggi berbintang tiga. Kedua, berdasarkan UU 2/2002 tentang Polri, kandidat kapolri paling tidak punya masa dinas aktif dua tahun ke depan. Usia pensiun anggota kepolisian adalah 58 tahun, dan dapat diperpanjang hingga 60 tahun jika memiliki keahlian khusus atau sangat dibutuhkan dalam tugas kepolisian.

Namun, tidak semua punya masa dinas aktif minimal dua tahun. Jusuf Manggabarani dan Imam Haryatna akan memasuki masa pensiun. Jusuf yang kelahiran 1953, akan pensiun tahun depan. Sementara kolega satu angkatannya, Imam Haryatna sudah lebih dulu pensiun, April lalu. Nasib Ito Sumardi juga tak beda jauh. Meski angkatannya dua tahun lebih muda dari Jusuf dan Imam, namun usia Kabareskrim Mabes Polri ini tidak lagi muda. Ito lahir 17 Juni 1953, dan ini berarti juga akan pensiun tahun depan.

Teman satu angkatan Ito, Susno Duaji sebenarnya punya peluang. Malangnya, Susno kini terjerat kasus suap. Jadi tersisa Komjen Gregorius Mere alias Gorries Mere, dari angkatan 77 yang punya peluang. Dari sisi usia, Gories masih muda (17 November 1954). Dari sisi karier, Gories juga sudah makan asam garam sebagai Kapolres, Direktur Reserse, Wakapolda, Kadensus 88, Wakabareskrim, dan kini Kalakhar BNN.

Namanya Gories semakin berkibar saat ikut serta dalam perang terhadap terorisme yang dikobarkan Indonesia sejak Bom Bali 1. Jejaknya pun sangat kentara dalam sejarah terbentuknya Densus 88. Karena itu, tidak heran kalau sampai saat ini, banyak yang menyebut, Gories masih aktif di pergerakan pasukan Anti-Teror itu.

Polri memang harus bangga memiliki seorang Gories Mere. Kabarnya, keahliannya dalam bidang reserse dan intelijen tidak perlu diragukan lagi. Tidak heran kalau ada yang menyebut Gories adalah LB Moedani-nya polisi. LB Moerdani adalah tentara yang begitu disegani pada jamannya. Bahkan, hanya dia yang mampu menasihati Presiden Soeharto, walau akhirnya hubungannya dengan sang penguasa Orde Baru itu berakhir tidak mulus.

Nah, seorang Gories Mere pun sangat disegani di lingkungan Polri. Bagaimana dengan nasib kuda hitam itu? Kita tunggu saja dalam beberapa hari ke depan....
Selengkapnya...

Kamis, 16 September 2010

Pelajaran Penting dari Sang Pencerah

“Bang, sepertinya film Sang Pencerah, bagus tuh. Kita nonton, yuk!,” demikian sang mantan pacar berbisik di pagi hari, dua hari lalu. Karena memang tidak ada kegiatan, aku pun segera menyambut ajakan itu dengan penuh semangat. Walau aku belum tahu persis bagaimana para kritikus film mengomentari film ini, namun aku jadi penasaran juga setelah iklannya kerap muncul di layar TV.

Akhirnya, kami pun berangkat ke Supermal Karawaci dengan tujuan utama nonton film, sebuah kegiatan yang sebenarnya sangat jarang kami lakukan. Aku melihat begitu banyak orang-orang yang ingin menonton film ini. Banyak yang membawa keluarga mereka. Kaum perempuannya pun banyak memakai pakaian muslim. Dalam hati aku berbisik, produser film kembali berhasil menghipnotis masyarakat yang selama ini mungkin alergi datang ke bioskop, akhirnya mau juga singgah di sana.

Tepat pukul 18.45 WIB, film akhirnya mulai diputar. Aku pun duduk santai sambil terpancing juga melihat beberapa orang yang datang terlambat. Film dibuka dengan kisah kelahiran Darwis, seorang bocah yang kelak berganti nama menjadi Ahmad Dahlan, dan menjadi pendiri organisasi Muhammadiyah.

Sepanjang film ini berseting pada abad 19-an. Sebagai orang yang cukup jeli mengamati apapun, aku pun selalu memperhatikan apapun yang ada di layar. Dalam hati aku berharap bisa menemukan benda-benda yang seharusnya ada di zaman sekarang, namun bisa muncul di abad 19-an. Kalau saja bisa menemukannya, aku punya bahan untuk menertawakan film ini. Sebuah pikiran yang tampaknya tidak bagus, ya. Hehehe…..

Harus aku akui, Hanung Bramantyo, sang sutradara SANG PENCERAH, sangat jeli untuk menghadirkan setting abad 19 di film ini. Menurutku, untuk sekelas film Indonesia, Hanung sudah sangat berhasil. Apalagi film ini berlatar belakang kota Jogjakarta. Di film ini, suasana Malioboro masih digambarkan sebagai tempat yang masih rimbun dengan pepohonan. Belakangan, aku dapat informasi kalau Hanung harus menyulap Kebun Raya Bogor untuk membangun suasana ini.

Sedangkan untuk ceritanya, menurut aku juga sangat bagus. Apalagi kisahnya tentang KH Ahmad Dahlan yang mencoba mendobrak kekakuan kehidupan orang-orang Islam di Jogjakarta, yang menurutnya, sudah salah. Kelakuan Pak Kiai ini langsung ditentang oleh para kiai Kauman di sana. Ia dan seluruh pengikutnya pun dituduh kafir. Langgar miliknya dihancurkan. Masyarakat menjauhi mereka.

Hanung berhasil menyederhanakan dialog-dialog pemainnya. Padahal, yang dibahas adalah soal agama yang pada kenyataannya penuh dengan perdebatan yang tak pernah tuntas. Bisa jadi, ini bertujuan agar siapapun masyarakat yang menonton film ini, bisa mencernanya dengan enteng tanpa perlu berpikir-pikir sampai lupa memakan popcorn yang sudah dibeli.

Film ini hadir tepat ketika serangkaian peristiwa akibat perbedaan pandangan soal agama, hadir di tengah masyarakat Indonesia. KH Ahmad Dahlan digambarkan sebagai tokoh yang dengan gigih dan cerdas, bisa menyakinkan masyarakat tentang apa itu agama dan bagaimana seharusnya menerapkannya dalam sendi kehidupan. Saat seorang muridnya bertanya pada Sang Pencerah mengenai apa itu agama, KH Ahmad Dahlan menjawabnya dengan bermain biola dengan suara yang begitu merdu. “Itulah agama, yang seharusnya memberikan kesejukan, kedamaian,” katanya pada muridnya.

Film ini harus ditonton oleh orang-orang yang selama ini mengaku mengerti agama, namun malah membuat keonaran. Atas nama agama, mereka merusak tempat ibadah hanya karena menganggap umat di sana sudah melenceng dari ajaran. Atas nama agama, mereka merusak tempat usaha saudara se-imannya karena dituduh menjual miras ada kegiatan maksiat. Atas nama agama juga, mereka menusuk perut saudara sebangsanya sendiri. Mari ajak mereka menonton Sang Pencerah, agar mereka menjadi cerah dalam menjalani hidup mereka.

Kebon Jeruk, 16 September 2010, pukul 15.25 WIB
Selengkapnya...

Jumat, 10 September 2010

SMS Lebaran 1431 H


Sederet kata-kata menyembul dari dalam letusan GUNUNG SINABUNG. SELAMAT LEBARAN 1431 H. Mohon Maaf Lahir & Bathin.
Selengkapnya...

Sabtu, 04 September 2010

Kecoa-Kecoa Sok Jago dari Pangrango


Kecoa itu merayap di dekat tempat tidur. Kecoa itu bergerak di atas meja, di dekat piring yang penuh dengan makanan berbuka puasa. Kecoa itu terlihat di antara peralatan dapur. Kecoa itu menampakkan diri di pintu. Kecoa itu berpindah dari dinding ke lantai. Kecoa itu menempel di jendela kaca. Kecoa itu muncul di kamar mandi.

Ya, kecoa itu ada dimana-mana. Tanpa mengeluarkan suara apapun, mereka pun bebas pindah kemana saja sesuka hati. Mereka tidak peduli ada siapa di samping mereka. Padahal, orang-orang yang mereka dekati itu bukanlah orang sembarangan bila melihat dari jabatan yang sedang mereka sandang. Ada yang jadi direktur, profesor, calon jenderal, staf ahli menteri, hingga wakil menteri.

Kecoa-kecoa itu seakan ingin menunjukkan kalau penguasa Kapal Motor Pangrango ini adalah mereka. Akibat ulah mereka yang sok jago itu, terkadang memang fatal akibatnya. Hidup pun berakhir akibat ada manusia yang menginjak mereka secara tidak sengaja. Atau, ada manusia terkaget-kaget melihat kemunculan si kecoa, dan akhirnya memukulnya hingga terkapar untuk selama-lamanya di lantai.

Tapi, mati satu bukan jadi perkara yang menyusahkan bagi kecoa-kecoa di atas kapal milik Pelni ini. Mungkin masih ada ratusan atau bahkan ribuan kecoa lainnya yang siap kembali untuk menyapa siapa saja yang ada di atas kapal yang rutin berlayar dari Kupang hingga ke Ambon, dengan singgah di beberapa pulau kecil ini. Kali ini, aku dan para pejabat itu, bertemu dengan kecoa-kecoa itu untuk pergi berlayar menuju Pulau Kisar, sebuah pulau kecil di Maluku Barat Daya yang berbatasan dengan Timor Leste. Kapal berangkat dari Pelabuhan Kupang hari Minggu, 15 Agustus 2010.

Kecoa pertama menampakkan diri saat aku baru saja meletakkan tas di dalam Deck 3 kelas ekonomi. Seekor kecoa berwarna kecoklatan sepertinya mau menyapa kedatanganku dengan memunculkan diri di dinding lambung kapal. Ukurannya kecil dibandingkan dengan kecoa-kecoa yang sering ada di dapur rumah. Bisa jadi, jenis kecoa di kapal ini memang berbeda dengan kecoa di rumah, walau judulnya tetap sama, yakni kecoa. Kesimpulan ini dapat aku pastikan setelah tiga malam berada di atas kapal ini, sepertinya aku tidak pernah menjumpai kecoa berukuran sama dengan yang basa banyak di rumah.

Setelah kecoa pertama tadi muncul, sepertinya kecoa kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sangat mundah ditemukan. Sepertinya mereka memang ada dimana-mana di dalam kapal pelni produksi PT PAL ini. Dan, seperti yang sudah disampaikan, ukurannya tidak ada yang sebesar kecoa di rumah. Uh, ternyata kecoa akan menjadi teman selama berada di atas Kapal Pelni produksi tahun 1995-an ini. Ya, sepertinya memang tiada jalan lain selain menganggapnya sebagai kawan karena entah berapa banyak jumlah kecoa di atas kapal ini. Sebuah pepatah mengatakan, bersekutulah bila engkau tidak bisa mengalahkan lawanmu.

Aku tiba-tiba teringat seorang kawan yang sangat takut dengan binantang-binantang yang sudah dicap sebagai binatang kotor seperti kecoa. Entah apa cerita yang terjadi bila ia ikut berada di kapal ini. Bisa jadi ia akan sakit parah kalau harus tinggal empat hari tiga malam di atas kapal ini seperti yang aku alami di pertengahan Agustus 2010 ini. Iya, aku bisa meyakinkan ini. Karena ia memang sangat alergi dengan kecoa, kutu, bangsat, dan semua binatang sejenisnya.

Suatu hari, kami naik buskota. Ia duduk di bangku dekat jendela dan aku duduk di sampingnya. Tiba-tiba muncul seekor binatang yang merayap di depannya. Aku menduga binatang itu mungkin seekor bangsat. Ini dugaanku saja, sebab jujur saja, sampai hari ini aku tidak tahu persis bagaimana wujud bangsat, walau aku sering mendengar kata-kata itu. Terakhir aku mendengar kata itu ketika seorang sopir angkot berteriak dengan mengucapkan nama binatang itu setelah seorang pengendara sepeda motor tiba-tiba mau menyerempetnya.

Kembali ke kisah kawanku itu. Seketika saja kawan ini seperti menjadi resah begitu ia menatap binatang yang bernama bangsat tadi. Aku memakai kata ‘menatap’ untuk mengatakan bahwa ia tidak sekadar melihat. Kalau hanya melihat, mungkin hanya sebatas memandangnya. Tapi, kawan ini sepertinya lebih dari itu. Buktinya, ia pun tiba-tiba menggaruk-garuk badannya seperti di punggung dan kedua tangan. Ia seperti kegatelan. Padahal, binatang tadi belum sempat bersentuhan dengan kulit mulus teman ini.

Tidak sampai lima menit kemudian, kedua lengannya sudah bentol-bentol berwarna merah. Ia pun semakin panik. Sepertinya ia masih saja membayangkan binatang itu berubah menjadi seekor monster yang siap menerkamnya. Padahal, binatang itu sejak pertama kali dilihatnya sudah langsung dibunuh dan sudah jatuh ke lantai buskota, tanpa terlihat lagi entah dimana jasadnya kini berada. Ia sangat panik dengan selalu menggaruk-garuk lengannya selama hampir setengah jam. Setelah itu, mungkin ia sudah lupa dengan binatang, karena ia terlihat kembali normal dan kulitnya juga sudah tidak bentol-bentol dengan warna merah.

Entah apa jadinya kalau teman itu juga ada di atas kapal Pangrango ini yang harus berbagi tempat dengan kecoa-kecoa. Memang, dari semua anggota tim yang berangkat bersamaku, sepertinya tidak ada yang alergi dengan kecoa seperti teman tadi. Sama sepertiku, mereka sepertinya menganggap kecoa itu adalah kawan yang juga punya hak untuk berlayar di atas kapal ini. Termasuk juga para pejabat-pejabat yang tadi aku sebutkan di atas. Padahal, mungkin saja, dengan jabatan yang mereka sandang, fasilitas yang mereka dapat kalau sedang tidak berada di atas kapal ini, pastinya selalu kelas 1 atau bahkan VVIP, yang kecoa tidak bisa menjangkaunya.

Seperti yang aku alami, para pejabat ini bersantap sahur atau buka puasa dengan ditemani beberapa ekor kecoa kecil di dekat mereka. Bahkan, beberapa kali ada kecoa yang berhasil berlari-lari di meja, hanya beberapa sentimeter dari piring sang pejabat tadi. Mereka hanya menyapu si kecoa dengan tangan kiri atau selembar tisu hingga binatang itu terjatuh ke lantai. Tapi, harus diingat, kecoa adalah raja di atas kapal ini. Satu hilang, maka muncul lagi kecoa yang lain.

Atau, jangan-jangan kami semua sedang berpura-pura dengan tidak menganggap masalah dengan keberadaan rombongan kecoa-kecoa itu. Padahal, bisa jadi dalam hati kami semua sebenarnya jijik dengan binatang itu. Mmmm..... entah lah.

Dalam beberapa kali perbincangan dengan teman-teman, kami memang membahas bagaimana kecoa bisa begitu berlimpah di atas kapal ini. Tidak kah mereka pernah dibasmi?
Selengkapnya...

Senin, 30 Agustus 2010

Terjebak Diplomasi Serumpun

Suatu hari pada tahun 1964, ribuan orang memadati Istana Negara, Jakarta. Mereka menunggu-nunggu pidato Presiden Soekarno yang akan melancarkan aksi ganyang Malaysia. Ajakan untuk meng-ganyang Malaysia oleh presiden pertama Indonesia ini, keluar setelah sang Presiden marah besar karena merasa Malaysia sudah melecehkan martabat Indonesia.

Sikap tegas Bung Karno yang berani menghadapi Malaysia ini dicatat dengan tinta emas di sejarah perjalanan bangsa ini. Pasalnya, baru Soekarno-lah yang berani menggertak negara Mahathir Muhammad itu lewat aksi ganyang Malaysia. Di era pemerintahan setelah Bung Karno, Indonesia pun dikenal bersikap jauh lebih lunak dalam menghadapi Malaysia

Akibat sikap lunak Indonesia ini, akhirnya Malaysia pun dituding sering bertindak arogan dan berani melecehkan Indonesia. Misalnya saja, tindakan Malaysia yang menangkap 3 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan di Perairan Kepulauan Riau, Jumat 13 Agustus 2010 lalu. Mereka ditangkap polisi Diraja Malaysia saat sedang menggiring nelayan Malaysia yang dituduh mencuri ikan di wilayah laut Indonesia.

Pemerintah indonesia dinilai sangat lunak dalam mensikapi tindakan pelecehan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia oleh Malaysia itu. Pasalnya, dituding ada aksi barter dalam membebaskan ketiga petugas DKP. Mereka dibebaskan setelah Indonesia juga membebaskan tujuh nelayan Malaysia.

Sikap Indonesia dalam penangkapan petugas DKP oleh Malaysia, berbeda dengan zaman Soekarno yang berani menghadapi Malaysia. Bahkan, aksi ganyang Malaysia bukan hanya sebatas gertak sambal saja. Saat itu, Presiden Soekarno mengumpulkan seluruh komponen masyarakat untuk menggayang Malaysia. Mereka ditempa berani berperang dengan beragam latihan.

Untuk mensukseskan aksi ganyang Malaysia ini, Pemerintah di jaman itu juga mengadakan acara malam pengumpulan dana. Sekitar Rp 45 juta langsung terkumpul dalam sebuah acara malam dana.

Sikap Bung Karno yang langsung berada di garda terdepan dalam menghadapi Malaysia, dinilai berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Pasalnya, untuk memprotes tindakan Malaysia yang berani menangkap 3 petugas indonesia di Riau saja, begitu lambat dilakukan pemerintah.

Banyak pihak yang merasa heran dengan sikap pemerintah yang sepertinya begitu takut menghadapi Malaysia. Padahal, Indonesia punya posisi tawar-menawar yang banyak untuk menekan negara bekas koloni Inggris itu. Misalnya saja soal keberadaan 2 juta TKI di Malaysia yang sangat dibutuhkan oleh Malaysia. Negeri asal Siti Nurhaliza itu juga memiliki banyak perkebunan sawit di Indonesia. Ini baru dua alat yang bisa dipakai untuk menekan negeri kecil itu.

Artikel ini sudah tayang di program Metro Realitas di Metro TV, Senin, 30 Agustus 2010 pukul 23.05 WIB.
Selengkapnya...

Selasa, 24 Agustus 2010

Nikmatnya Ikan Bakar di Kampung Solor Kupang

Pergi ke manapun, rasanya belum sah kalau belum mencicipi makanan di tempat itu. Demikian juga saat berada di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan, di sana ada tempat makan yang selalu ramai pada malam hari. Lokasinya di Jalan Garuda. Orang-orang menyebut lokasinya dengan sebutan Kampung Solor, karena jalan itu memang berada di Kelurahan Solor.

Sepanjang jalan yang agak menurun ini, berjejer jajanan kaki lima memenuhi badan jalan. Tidak ada kendaraan yang boleh melintasi jalan ini karena sejak pukul enam sore memang sudah ditutup untuk kendaraan bermotor. Suasana wisata kuliner di Kampung Solor ini mirip dengan suasana Kia-kia di Surabaya atau Kesawan Square di Medan.

Setidaknya gerobak makanan berjejer memenuhi Jalan Garuda hingga sepanjang hampir seratus meter. Beragam jenis makanan ada di sini. Mulai dari nasi goreng, gorengan, beragam mie, sate, seafood, masakan padang, masakan Jawa Timur, dan masih banyak lagi. Nah, makanan wajib orang-orang yang datang ke sini adalah menikmati ikan bakar. Ada banyak pedagang yang menyajikan menu ikan bakar di sepanjang Kampung Solor ini. Namun, yang paling rame adalah di ujung sebelah bawah. Di sini, ikan-ikan laut yang disajikan jauh lebih banyak daripada pedagang lain, sehingga kita bisa lebih puas memilih ikan yang mau disantap. Ada banyak ikan yang disajikan yang kabarnya semuanya adalah hasil tangkapan nelayan Kupang.

Puas menyantap makanan, maka kita bisa menutup makan dengan memesan beragam jenis minuman. Yang khas di sini mungkin es jeruknya. Pasalnya, jeruk yang digunakan adalah jeruk Kupang yang mungkin tidak ada di tempat lain. Jeruk Kupang umumnya berukuran lumayan besar dan rasanya lumayan manis dengan warna kuning yang memancing selera.

Soal harga tidak usah khawatir. Harganya cukup terjangkau dan sepertinya tidak ada sistem 'merampok' pengunjung dengan menaikkan harga makanan kepada pengunjung tertentu seperti yang mungkin banyak di jumpai di jajanan kaki lima tempat lain.

Kampung Solor mulai buka sejak pukul enam sore dan akan buka sampai pukul dua dinihari. "Bahkan kalau malam minggu buka sampai menjelang pagi. Pengunjung juga tetap ramai ke sini," kata Hapsari, seorang pegang minuman yang begitu ramahnya diajak ngobrol. Wanita separuh baya yang mengaku berasal dari Flores Timur ini, mengaku sudah lama berjualan di Kampung Solor.

Nah, jangan lupa untuk mampir ke Kampung Solor kalau Anda berada di Kupang!
Selengkapnya...

Sabtu, 14 Agustus 2010

Persaudaraan di atas KRL Benteng Ekspress

Ada pengalaman unik saat ikut menikmati perjalanan di atas KRL Benteng Ekspress jurusan Kota-Tangerang. Penumpang tidak terlalu penuh di setiap gerbong, dengan hanya ada sekitar belasan orang yang berdiri di antara penumpang yang duduk. Dari pakaian mereka, mayoritas penumpang tampaknya adalah pekerja kantoran. Mereka sepertinya sudah saling kenal karena langsung terlibat obrolan-obrolan santai begitu mereka bertemu di dalam gerbong ini. Beberapa kali tawa pecah di antara obrolan itu. Aku hanya bisa melihat suasana ini sambil mencoba
memaknai apa yang ada di sekelilingku.

Ketika KRL mulai berjalan menyusuri rel menuju arah Tangerang, pemandangan lain aku lihat. Para penumpang tadi kemudian asyik berbisnis. Masing-masing mengeluarkan dagangan mereka dan menjualnya kepada sesama penumpang. Ada yang menjual tas, menjual kerupuk,
menjual perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik, menjual kue, atau menjual pakaian anak. Lucunya lagi, kerupuk yang dijual itu akhirnya dibagikan dan dimakan ramai-ramai oleh sesama penumpang.


Itulah yang aku lihat saat berada di gerbong 3 KRL Benteng Ekspress jurusan Kota-Tangerang yang lumayan dingin oleh AC ini. KRL berangkat dari Stasiun Kota pukul 18.10 WIB, dan tiba di Stasiun Tangerang sekitar pukul 19.00 WIB. Waktu tempuh ini jauh lebih singkat daripada
naik kendaraan umum, walau tarifnya lebih mahal dengan Rp 7.500 sekali naik. Karena itu, KRL ini sudah memiliki penumpang setia. Kesetian ini membuat mereka akhirnya menjadi saling kenal dan berujung pada persahabatan. Padahal nantinya mereka turun di stasiun yang tidak
sama. Aku berkesimpulan, mereka bisa seakrab ini karena mereka setiap hari bertemu dan akhirnya saling kenal dan bersahabat..

Selama tiga kali menggunakan angkutan massal ini dalam seminggu terakhir ini, sepertinya aku sudah familiar dengan wajah-wajah yang ada di gerbong 3 ini. Rata-rata mereka adalah karyawan yang berdomisili di sekitar Jakarta Barat dan Tangerang. Setidaknya mereka
kebanyakan turun di tiga stasiun, yakni Rawa Buaya, Poris, dan Tangerang. Umur mereka pun rata-rata sudah 30-an sampai 50an. Mayoritas adalah ibu-ibu. Hanya ada satu-dua pria yang sepertinya sudah menjadi bagian dari HPSBE alias Himpunan Penumpang Setia Benteng
Ekspress ini. Hehehe......

Beragam obrolan ringan yang mengundang tawa bermunculan semenjak berangkat dari Stasiun Kota. Bahkan, tawa seringkali meledak karena ada penumpang yang jail kepada penumpang lain. Misalkan saja dengan memasukkan koran bekas ke tas penumpang lain atau ada penumpang yang mengembalikan plastik bekas makanan kepada penumpang yang tadi membagikan makanan itu. “Ini kami kembalikan plastiknya lagi. Semoga bermanfaat,” kata seorang ibu kepada ibu lain yang kemudian mengundang tawa penumpang lain di sekitar mereka. Sifat jail ini seakan mengingatkan aku dengan masa-masa sekolah dulu, dan kini kembali dilakukan oleh orang-orang yang sudah berumur 40an yang ada di dekatku ini.

Satu rasa satu penanggungan memang terasa di gerbong ini. Bila ada penumpang yang membawa makanan, maka makanan itu juga dibagi ke penumpang lain sampai habis. Ini juga terjadi ketika ada penumpang yang menjual beberapa toples makanan kecil. Oleh penumpang yang membeli makanan itu, toples langsung dibuka dan memakan isinya. Setelah itu, ia menyerahkan toples ke penumpang lain agar ikut memakan isinya. Aku menyaksikan pemandangan ini dengan penuh rasa takjub. Dalam hati aku berujar, persaudaraan para penumpang setia KRL ini sepertinya sudah begitu kuat. Aku, yang bukan termasuk penumpang
setia, akhirnya hanya bisa menjadi penonton.

Sekitar 13 menit KRL melaju, datang seorang wanita yang berumur sekitar 36an dari arah gerbong nomor 4. Ia datang sambil membawa sebuah tas besar di tangan dan sebuah tas lebih kecil lagi tersangkut di punggung. Ia lantas duduk di lantai kereta persis di depan pintu
keluar dengan cueknya. Sejumlah penumpang lain segera menegur ibu ini. “Ini satu lagi datang yang mau jualan,” kata seorang ibu lain yang langsung disambut tawa penumpang lain.

Si ibu ini seperti tidak peduli dengan celetukan tadi, seperti kita sudah biasa mendengar celetukan seorang sahabat pada kita. Dengan sigapnya, ia pun mengeluarkan beberapa wadah-wadah plastik dari dalam tas besarnya. Sepertinya ibu ini adalah agen Tupperware. Wadah-wadah yang harganya sebenarnya jauh lebih mahal dari wadah plastik biasa, segera berpindah tangan ke beberapa penumpang. Mereka melihat-lihat, bertanya harganya, melihat-lihat lagi, dan akhirnya menawarnya. Ada yang akhirnya membeli dan lebih banyak yang sekadar melihat-lihat saja.

Sebentar kemudian, penglihatanku beralih pada seorang ibu yang sedang mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluhribuan. Lembaran uang itu lalu diserahkan ke seorang ibu yang ada di seberangnya. Sebagai penggantinya, ia mendapatkan beberapa ikat uang duaribuan baru.
Sepertinya, ibu yang memberikan uang dua ribuan itu adalah seorang karyawan bank. Hebatnya lagi, sepertinya stok uang dua ribuan di dalam tasnya lumayan banyak. Beberapa penumpang lain juga menukarkan uang mereka dengan lembaran uang dua ribuan. Dari obrolan yang aku dengar, hari sebelumnya sejumlah penumpang memang sudah memesan uang dua ribuan itu. Dan, transaksi money changer ala KRL ini, ternyata berlangsung saat aku juga ikut menjadi salah satu penumpang. Bisa jadi, pemandangan ini tidak terjadi setiap hari.

Satu persatu penumpang mulai turun di Stasiun Rawa Buaya. Kehebohan pun kembali terjadi saat kereta sudah berhenti. Seorang ibu yang mau turun, dihalang-halangi oleh beberapa penumpang yang belum turun. Mereka menahan si ibu sambil tertawa-tawa. Uniknya, si ibu ini juga berusaha melepaskan diri dengan sambil tertawa-tawa. Sebentar kemudian ia berhasil lepas dan segera turun dari gerbong. Dan, beberapa detik kemudian, pintu otomatis kereta, kembali tertutup. Kereta pun berangkat kembali menuju Tangerang.

Gerbong semakin sepi ketika tiba di Stasiun Poris, dan akhirnya benar-benar sepi sesampainya di Stasiun Tangerang. Aku pun turun dari KRL dan sejenak memandangi rangkaian KRL Benteng Ekspress ini, sebelum akhirnya keluar dari Stasiun Tangerang. “Unik juga pengalamanku menumpang KRL ini. Pantesan saja ada yang mengatakan, cinta bisa bersemi di atas KRL,” batinku berkata.
Selengkapnya...

Jumat, 13 Agustus 2010

Maaf, Bahan Bakar Bus Habis!

Lewat setengah jam, akhirnya datang sebuah bus Transjakarta dari arah lampu merah Grogol. Para penumpang di halte Busway depan Trisakti bersiap-siap untuk menyambutnya. Mereka merapatkan diri ke arah pintu. Namun, ternyata dari puluhan orang yang sudah berjejalan, hanya sekitar lima orang yang berhasil masuk ke dalam bus. Yang lainnya terpaksa bersabar lagi menunggu kedatangan bis berikutnya, dan itu berarti harus menunggu lagi belasan menit.

Itulah pemandangan yang dialami oleh para penumpang Transjakarta Koridor 3 jurusan Kalideres-Harmoni sepanjang hari Kamis kemarin. Tumpukan penumpang terjadi di setiap halte karena kedatangan bus sangat lama. Celakanya lagi, jarak kedatangan bus yang lama tadi akhirnya membuat tumpukan penumpang tidak terangkut. Suara orang kesal, jengkel, hingga memaki-maki, acap kali terdengar. Belum lagi aroma beranekaragam yang tercium dari para penumpang. Udara panas pun membuat keringat bercucuran. Ada apa gerangan?

Begitu bis yang ketiga datang setelah menunggu sekitar setengah jam, para penumpang saling mendorong untuk bisa masuk ke dalam bus. Demikian juga aku yang posisiku berada sekitar di barisan ketiga. Entah, siapa yang mendorong dari belakang, tiba-tiba saja aku sudah masuk ke dalam bus. Padahal, kondektur bus sebelumnya sudah berteriak hanya enam orang yang bisa masuk. Rupanya, teriakan itu diabaikan dan dorong-mendorong pun terjadi. Bahkan, si kondektur akhirnya ikut terdorong semakin menjauh dari pintu.

Suasana pun bisa terkendali ketika si kondektur bisa kembali 'menguasai' dirinya dan berdiri di posisi biasanya di dekat pintu. Ia pun mengarahkan penumpang yang di dekat pintu untuk keluar dari bus, karena pintu tidak bisa lagi ditutup akibat sudah kepenuhan. Bus pun akhirnya dapat melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Raya Kiai Tapa, Jalan Raya Hasim Ashari, dan akhirnya tiba di Harmoni.

Karena posisi si kondektur berada di sebelahku, maka aku pun mengajaknya berdialog.
"Mas, ada gangguan apa? Kok jarang banget bisnya?" tanyaku.
"Bahan bakarnya habis," kata si kondektur.
"Maksudnya BBG-nya habis, Mas."
"Iya. Dari pagi. makanya dari pagi bisnya sedikit."

Edan. Ini yang tepat ditujukan pada kejadian ini. Mengapa BBG bisa habis? Katanya Indonesia adalah penghasil gas terbesar di dunia. Tapi, mengapa suplai BBG ke buskota di Jakarta ini bisa kehabisan? Ini-lah potret Indonesia yang akan berulangtahun ke-65 tanggal 17 Agustus 2010 ini, yang membenahi sektor transportasi saja tidak becus. Menyuruh orang beralih dari transportasi umum, tapi tidak diberikan pelayanan yang nyaman dan aman.

Dan, dan ketika bus memasuki halte besar Harmoni, tampak antrean penumpang ke arah Kalideres sangat sangat panjangggggggggggggggg..... Selamat datang di Jakarta. Selamat datang di Indonesia.


Selengkapnya...

Kamis, 12 Agustus 2010

Boyke Gozali: Beri Anak Keleluasaan Memilih Bisnis

Bagi kalangan pengusaha nasional, Boyke Gozali bukanlah nama asing. Kelahiran 1957 ini pendiri Plaza Indonesia dan turut membesarkan perusahaan ritel premium, Grup Mitra Adiperkasa yang memegang lisensi merek-merek terkemuka dunia: Calvin Klein, Emporio Armani, Ninewest, Starbucks, Kinokuniya, Zara, Mark Spencer, Lacoste, Samsonite, Swatch, dan sederet lainnya.

Pada masa-masa sebelum krisis moneter 1998, nama Boyke identik dengan Grup Ometraco. Maklum, dia memang didaulat mertuanya, Ferry Teguh Sentosa, untuk memimpin bisnis keluarga mertuanya itu. Tak mengherankan, saat itu dia menjadi presdir untuk hampir semua bisnis Ometraco, mulai dari bisnis manufacturing, distributor elektronik, perdagangan, properti hingga pakan ternak (Japfa Comfeed). Namun setelah membantu mertua pada kurun 1982-98, Boyke memutuskan fokus di bisnis yang menjadi passion-nya: gaya hidup. Adapun bisnis Ometraco, kecuali properti, diserahkan ke adik iparnya.

Tangan dingin Boyke terasa nyata di bisnis properti dan gaya hidup, khususnya yang menyasar high class society. Lihatlah bagaimana dia sukses membesarkan Plaza Indonesia (PI) bersama Franky Widjaja (Sinarmas) dan Rosano Barack (Bimantara) yang tetap kokoh sebagai pusat ritel kelas atas. Meski banyak pesaing, PI tetap eksis. Boyke in charge penuh dalam pengelolaan PI sehingga tahu secara detail dan sangat bersemangat ketika menjelaskan konsep PI. “Bisnis ini memang passion saya. Saya tak suka kerja ngurusin pabrik ke daerah-daerah. Demen-nya bisnis yang perlente begini, shopping. Maunya kerja di metropolitan,” papar lelaki yang meraih gelar Master of Public Administration dari University of Southern California dan Sarjana Business Administration dari Pepperdine University ini.

Cerita sukses Boyke tak hanya di PI. Belakangan dia juga mengibarkan FX Plaza di Jl. Sudirman. Boyke merejuvenasi Sudirman Place yang dulu mangkrak menjadi FX Plaza yang kini menjadi pusat entertainment baru di seputar Bursa Efek Indonesia. Di sini, dia mereplikasi kisah suksesnya ketika membangun EX Plaza di samping PI beberapa tahun sebelumnya. Tak hanya itu, dia juga turut membesut lahirnya jaringan hotel baru, Hotel Harris.

Meski sibuk mengelola puluhan perusahaan baik yang menjadi aset pribadinya maupun perusahaan keluarga, Boyke tetap menyempatkan diri terlibat dalam kegiatan sosial, termasuk juga mengader putrinya, Amelia Gozali, agar memperlajari manajemen bisnis.

Awal Mei lalu, Kemal E. Gani, Rias Andriati dan Wisnu Tri Raharjo dari SWA berkesempatan mewawancarai Boyke di Kafe Luwak Plaza Indonesia Extension. Dengan ramah Boyle menceritakan perkembangan beberapa bisnisnya termasuk PI, dan bagaimana mengader anaknya. Wawancara ini terbilang langka. Maklum, taipan yang kini juga menjabat Wapresdir PT Plaza Indonesia Realty Tbk. ini memang sangat low profile dan tak pernah berbicara dengan media. Berikut ini petikan wawancara dengannya.

Bagaimana perkembangan PI?

Kami ini bisa dibilang tua di PI. Saya bergabung mulai dari PI lahir, ikut up and down seiring dengan perkembangan pasar. Kami menguasai produk “who are you”, “what are you”. Dari sisi pemiliknya, dari dulu juga masih sama, tidak berubah. Pak Franky Widjaja, saya dan Pak Rosano Barack yang eks Bimantara. Ketika krisis pun kami tetap gabung. Kami di sini mendapatkan blessing. Tidak semua orang bisa mendapatkan tanah di lokasi ini (Jl. Thamrin). Kami tidak pernah berpikir akan meninggalkan tempat ini. Secara operasional, kami sudah jalan 20 tahun. Namun kalau dari pembuatan konsep, sudah dari enam tahun sebelumnya. Jadi, sudah 26 tahun. Sebetulnya we’re not aggressive, justru konservatif. Sejak awal kami memilih jadi pionir di properti utama, high-end retailed. Itu sudah menjadi passion.

Bagaimana dengan kehadiran Grand Indonesia (GI), seberapa dampaknya?

Sejak awal kami tidak menganggap pemain lain sebagai kompetitor. Kami ingin bersinergi. Kami sadar tak mungkin bisa menguasai semua. Kami tidak punya kekuatan seperti itu. Untuk menangangi proyek 7 hektare saja baru bisa dikembangkan selama 26 tahun. Kami tahu waktu itu ada tender untuk Hotel Indonesia, tetapi tidak willing to participate. Saat itu kami masih punya tanah yang belum selesai dibangun untuk extension. Kalau greedy dengan ikut tender untuk size proyek yang hampir sama, kapan mau membangunnya? Kami tak melihat pemain sebagai kompetitor. Sebagai pemain properti, kalau you sendirian di mana lingkungan you kumuh, maka percuma properti you bagus. Sama saja dengan rumah you mewah, tetapi di belakang rumah you kampung. Secara sosial dan bisnis tidak benar. Kami sudah punya filosofi itu. Let’s other people take.

Sepertinya konsep GI head to head dengan PI?

Soal konsep, dia (Djarum) yang punya. Kami tidak bisa bilang apa-apa. Dia head to head dengan kami, menurut saya, itu salah. Seharusnya sinergi (antara PI dan GI). Karena kami sudah berdiri puluhan tahun. Kami pernah minta supaya dibuat jembatan penghubung antara GI dan PI. Saya berani bilang begini karena Pak Franky mengajak makan siang untuk membicarakan itu. Kami sudah ngomong dua atau tiga kali, tetapi mereka (Djarum) never come back, ya sudah. Nanti dikira kami yang butuh dia. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa. Kami bisa survive. Kami tahu mereka punya tanah dan mau membangun dengan size sangat besar. Saat itu kami punya area cuma 44 ribu m2. Adapun GI 140 ribu m2, tiga kali lipat kami. Bedanya, dia memanjang dan ke atas bangunannya. Itu kelemahan dia yang pertama. Kelemahan kedua, mereka terbagi dua (split) bangunannya karena ada jalanan umum, Jl. Teluk Betung.

Sogo kok tidak ada di PI lagi, ada kaitannya dengan GI?

Sogo waktu itu tidak kami perpanjang. Memang logikanya Sogo itu anchor brand, tetapi mengapa saya nggak perpanjang karena saya tidak mau head on (dengan GI). Dengan kami menghindar, itu akan men-differentiate produk. Itu teori pemasaran.

Bukankah Sogo anchor yang sangat besar?

Pasar kami menengah-atas. Kalau main di anchor, berarti kami main di middle. Waktu itu kami sudah tanya ke Sogo, “What’s your vision?” Dijawab, visinya seperti Sogo yang sudah ada. Kami bilang bahwa kami ingin Sogo tetap di sini, tetapi harus menciptakan the new Sogo yang high end. Kami mengusulkan Sogo yang specialty, kalau bahasa hotel, yang grand. Bukan berarti kami tidak butuh Sogo, tetapi pada saat itu Sogo sudah memburuk. Kami lihat Sogo buka gerai baru di Plaza Senayan dan lainnya. Mereka juga memasukkan brand baru: Seibu. Walaupun sebetulnya segmennya sama, kalau kita bandingkan antara barang lama dan baru, orang pasti lebih memilih barang baru. Ternyata, SOGO nggak menangkap visi kami, ya sudah. SOGO sudah 15 tahun di sini, dua kali perpanjangan.

Bagaimana dampak keluarnya Sogo?

Ini menjadi blessing in disguise. Dengan keluarnya Sogo, maka ada 10 ribu m2 (tiga lantai) yang bisa dipakai. Lahan kosong tersebut diganti butik-butik. Yang kami keep cuma supermarket. Blessing in disguise-nya, market is coming back. Jadi, kami bisa memasukkan lagi lebih banyak brand baru. Ini bukan kecelakan, tetapi lebih disebut berkat, bless. We’ve to survive ourselves. Kami juga berkeliling dunia, ada juga shopping center yang nggak perlu anchor tenant. Saya lihat butik-butik seperti Neiman Marcus, itu kan bukan dept. store, tetapi merupakan butik-butik di dalamnya. Jadi selama butik itu big and complete, they also become our anchor. Louis Vuitton is our anchor. Makanya, sekarang kami bikin yang besar. Kami juga membaca majalah luar negeri, tren dept. store is climbing down. Sekarang orang lebih suka ke specialty store. Kami maunya juga specialty store, butik besar. Dept. store cocok untuk suburban.

Dulu waktu ada dept. store (Sogo), hanya satu untungnya: dia bawa traffic. Namun, saya rugi secara income, ditambah lagi, saya mendapatkan traffic yang tidak saya mau. I loose double. Nah, sejak saya pecah-pecah menjadi butik, yang datang ke sini betul-betul traffic yang datang untuk kami. Sekarang, jelek-jelek traffic-nya bisa dirasakan tenant lainnya. Apalagi, saya bisa dapat dari penyewaan tenant. Jadi, saya happy, tenant juga happy. Tadinya saya cuma bisa menjual US$ 12, sekarang bisa US$ 30-40 per m2. Capital gain saya di situ. Orang yang datang yang betul-betul belanja. Dengan kehadiran Louis Vuitton dan Zarra, orang makin happy.

Apakah juga disebabkan pengembangan di lini lain?

Ya, physically kami improve. Segmen pasar lebih fokus. Operation service juga di-improve agar lebih berkulitas. Kami lebih selektif memilih tenant. Dulu kami tidak bisa membuat perluasan karena ruangan terbatas, sekarang kami bisa membuat extension (Plaza Indonesia Extention/PIE). Mau tidak mau size itu perlu. Dulu hanya 44 ribu m2 area yang bisa disewa, sekarang 70 ribu m2, itu belum termasuk EX Plaza. Sekarang bisa lebih fleksibel mengatur. Contohnya, sekarang kami bisa mendirikan Miniapolis, tempat bermain anak-anak. Lantai 3 juga ada Home. Segmen pasarnya masih sama, tetapi kebutuhan mereka kami penuhi sekarang. Semuanya semakin lebih baik. Kompetisi sudah semakin ketat. Misalnya, pelanggan Louis Vuitton, dia mau makannya di sini, anaknya main di sini. Kami selalu fokus di segmen menengah-atas. Lantai 4-6, untuk anak muda yang baru saja berkeluarga, umur 25-35 tahun, tidak semuanya membeli Louis Vuitton. Lalu, kami kasih seperti Apple, yang penting masih dalam konsep butik. Untuk PE, segmennya lebih dewasa ketimbang EX.

Bagaimana cerita berdirinya EX Plaza?

Terus terang, sebenarnya itu kecelakaan. Waktu itu krisis, kami punya tanah tetapi tidak diapa-apain. Bayangkan, yang di PI saja pembangunannya kami hentikan. Waktu itu kami menganggur, semua tidur. Akan tetapi kami berpikir, tidak boleh nggak membangun apa-apa lagi karena 3-4 tahun mendatang pasar akan bangkit. Kalau untuk membangun full, risikonya besar karena lagi krisis. Karena itu, kami buat bangunan untuk sementara. Lalu, kami berdebat. Ada pemikiran untuk membuat konsep family entertainment. Makanya, di sana terdapat boling, bioskop dan entertainment seperti Hard Rock. Celebrity Fitness masuk belakangan. Waktu itu kami tidak berpikiran memasukkan fitness menjadi bagian dari entertainment. Kami pikir fitness serius. Kehadiran bioskop, boling dan Hard Rock saling melengkapi. Dulu kami mendesain sebetulnya hanya untuk pemakaian 8 tahun yang jatuh pada 2012.

Berarti konsep yang dirancang di EX Plaza memang bisa jalan?

Kebetulan itu yang dibutuhkan konsumen kami. Ketika itu, entertainment center belum ada. Namun, sekarang semua shopping mall membuat hal serupa. Jadi, sekarang pihak yang mau mendirikan pusat belanja harus menyediakan dept. store dan entertainment center. Sekarang itu di-copy-paste Central Park Plaza, Mal Taman Anggrek.

Seandainya EX sudah dibongkar, apakah ada penggantinya?

Sebetulnya yang di lantai 5-6 (PIE) didedikasikan untuk menggantikan EX, agar tidak terlalu kehilangan. Ada yang bertanya, “Kok di PIE ada bioskop lagi?” Sebetulnya kami mengantisipasi EX dibongkar. Hal yang belum bisa diakomodasi adalah boling. Itu karena boling memakan tempat atap yang tinggi. Selain itu, untuk boling tidak boleh ada pilar. Pengganti Hard Rock (di PIE) sudah ada, Immigrant. Kasus Hard Rock sama seperti Sogo dulu. Kami sudah bilang pada Hard Rock agar melakukan upgrade karena pasarnya terlalu rendah. Makanya, kami masukkan Immigrant. Kami masih missing satu, boling.

Sukses dengan EX Plaza, Anda dipercaya membenahi FX. Bagaimana ceritanya?

FX Plaza itu kami bikin konsep untuk hiburan lainnya. Kalau di Orchard, kan tidak perlu ada shopping. Namun, kami lebih pada tipe dewasa, yaitu yang ada studio rekaman. Untuk kelas eksekutif, entertainment-nya tidak akan ke EX dan mungkin juga tidak mau di PIE. Sayangnya begitu buka, FX langsung jatuh karena krisis, saham banyak merugi. Waktu itu kami masukkan sejumlah tenant baru. Sebetulnya, konsep itu bagus sekali. Bisa belajar dansa, cha-cha. Juga saya pikir nostalgia Hotel Indonesia waktu dulu: ada grup Tango, cha-cha. Kami juga mulai melirik hal-hal yang belum ada. Seperti konsep tutoring, kelas-kelas, playgroup, day care.

Apa kunci untuk mengelola branded shop ini?

You musti punya orang yang knowledgeable dan prudent. Prudent maksud saya, kalau membuat janji, harus ditepati. Harus profesional dan capable. You tidak bisa bilang ke mereka hari ini kekuatan AC dan listrik sekian power. Besoknya, listrik byaar-pet (mati). Hal kedua, masalah servis. Servis bukan hanya pada toko-nya, tetapi juga treatment kepada pelanggan. Kami buka toko bintang lima, pelanggannya bintang lima. Kalau manajemennya tidak bintang lima, ya gimana! Kalau di swasta, kami harus berpikir semua adalah ambassador. Mengapa? Karena you deal with people.

Di atas PIE kabarnya dibangun apartemen dan perkantoran, bagaimana perkembangannya?

Perkantoran nggak terlalu banyak jumlahnya, kami kelola sendiri, pemasaran kami join dengan Collier. Apartemen nanti operasionalnya bekerja sama dengan Hyatt. Kami bikin apartemen yang high-end. Kalau asal cari, gampang, biasa saja masukin office 10-20 lantai. Pertamina juga mencari. Namun, kami tidak mau. Kami ingin sinergi. Saya tidak mau membangun Louis Vuitton di sini, tetapi nanti isinya gedung karyawan Pertamina. Ya.. sorry to say, karyawan Pertamina kan tidak bakal belanja di sini. Saya maunya butik-butik. Makanya, saya masukin seperti BMW. Jadi, corporate punya traffic ada. Jadi, itu memang by design. Begitu juga apartemen. Ujung-ujungnya kami mau create lingkungan menengah-atas. Dan mereka sangat nyaman bekerja, serta hidup bersama komunitas mereka: anak-anak, bahkan cucu mereka.

Berapa persen tingkat okupansi hingga sekarang?

Office sudah tersewa 60%, sedangkan apartemen 50%. Harga per m2-nya US$ 4.000. Mereka boleh mengubah-ubah desainnya. Akan tetapi, kami beri petunjuk desain. Itu keuntungannya dibanding apartemen lain. Namun, kami berpikir tidak mau dong dibandingkan dengan harga pasar. Saya mau perbandingannya dengan internasional. Kalau dengan internasional sangat murah, coba bandingkan dengan Armor dan Four Season di Singapura. Saya bilang ke mereka, harga saya ini murah. Namun kalau dibandingkan Ritz-Carlton punya Tan Kian, saya mengerti Anda bilang apartemen saya lebih mahal. Akan tetapi, you’re not my customer. Saya memang mencari orang-orang yang biasa membeli apartemen di Singapura.

Akan tetapi, meyakinkan pasar dengan harga seperti itu kan tidak mudah.

Tidak mudah. You need confidence, persistence and stamina. Makanya, office tidak kami jual. Kalau dulu kami jual, kami sudah tidak ada cash flow. Bayar cicilan bank dari mana? Ya dari sini. Tetapi kalau you bangun baru, padahal you belum ada cash flow, makanya banyak yang cepat-cepat menjual apartemen. Karena itu, kami harus investasi banyak. We lucky have the same vision three of us (Franky, Boyke dan Rosano).

Anda tampak masih sangat bersemangat?

Kami sudah 26 tahun dan masih selalu berkembang. Bukannya dengan usia sekarang kami berhenti. Sebetulnya kalau dibilang capek, ya capek. Kami harus selalu harus menciptakan kreativitas baru. Kalau kita kerja dengan hati, punya adrenalin dan passion, kreativitas kita tumbuh.

Apakah sudah punya kader?

Kadernya ya manajemen kami. Makanya, anak saya tidak ada di manajemen. Memang anak saya, Lia (panggilan akrab Amelia), sekarang mengelola Miniapolis, di PI. Namun, dia tidak ada urusan dengan manajemen. Miniapolis itu bagian dari apresiasi saja. Itu bagian dari training dia, tetapi saya tidak men-training dalam arti kata “saya groom dia”, ke mana-mana ikut saya. Tidak. Saya tidak bilang PI nanti harus dikelola anak-anak saya. Bisa saja nanti (regenerasi) pada anak-anaknya Arnes (nama direktur di PI). Kalau anak saya tidak mampu, tidak usah di sini. Itu sudah prinsip. Saya nggak mau gara-gara anak saya tidak mampu, jadinya malah seperti Ratu Plaza. Saya mau siapa pun itu bisa memajukan PT Plaza Indonesia Realty Tbk.

Mengapa tidak di-groom seperti itu? Bukankah itu biasa?

Saya lihat bakat orang berbeda. Soalnya kalau dia tidak mempunyai jiwa di situ, saya train, nanti malah buang-buang waktu.

Anda belum melihat siapa putra-putri Anda yang kira-kira bakatnya di sini?

Itu belum. Saya pikir dia harus mempunyai karier dan ekspetasi sendiri. Daripada nanti saya masukkan di sini ternyata tidak cocok. Dia rugi, saya juga rugi. Nah, Lia kebetulan punya passion untuk anak-anak dan saya juga mau membuat area untuk anak-anak. Soalnya kalau ternayata dia tidak cocok di fashion atau pemasaran, nanti buang waktu. Sekarang saya dan dia happy. Orang saya juga tidak merasa stres karena khawatir dengan anaknya Boyke. Kalau saya tempatkan di pemasaran, orang-orang saya bisa stres. Kalau mendengarkan, salah. Kalau nggak, juga salah. Dulu saya suruh dia magang di AT Kearney. Saya tarik dia dari sana.

Putra Anda juga ada yang di grup Hotel Harris?

Cuma namanya pakai nama anak saya (Harris Gozali). Manajemennya independen. Branding-nya saya yang ciptakan. Saya kerja sama dengan orang Prancis. Hotel itu sebetulnya operatornya orang asing, tetapi sudah lama tinggal di Indonesia. Dulu kepala Accor Asia Pasifik. Jadi, itu pure lokal yang dibuat oleh orang asing yang tinggal di Indonesia. Nama perusahaannya Tausyang, orangnya Mark Steinmeyer. Saya pernah membuka Novotel Surabaya dan Mercure, makanya kenal dia. Ketika pensiun, dia bilang mau bikin usaha konsultansi hotel, dia minta bisnis ke saya. Kebetulan, saya juga suka hotel, lalu saya tanya “What’s your concept? I trust you, but I want to have my own brand, Harris. You yang managed.” Saya investasi waktu pertama (awal). Sekarang dia sudah mengelola hotel. Di Kelapa Gading bukan saya yang punya, juga yang di River Bali, River View dan di Solo, bukan milik saya. Saya punya empat: di Tuban, Kuta (Bali) Batam dan Tebet-Jakarta. Di Harris Tebet saya join dengan Rachmat Gobel. Anak saya tidak ada yang ikut-ikutan walau brand-nya pakai nama anak saya.

Bagaimana Anda mengarahkan anak?

Saya percaya setiap anak punya bakat dari Tuhan. Tidak bisa dipaksa. Basic-nya pendidikan. Anak saya pertama jurusannya bisnis. Yang kedua kuliah psikologi. Adapun anak ketiga, laki-laki, kami belum tahu. Saya lihat saja dulu. Kalau nanti sudah lulus, saya minta dia magang yang mirip dengan jurusannya. Seperti anak pertama yang saya minta magang di AT Kearney. Baru dari situ, kami coba memberikan kesempatan. Lalu, Lia juga kami beri kesempatan membuat area anak-anak karena dia suka anak-anak. Saya bilang ke Lia, “Tapi ini within PI. You cuma atur area publiknya. Bukan bisnis-nya.” Toko-toko-nya tetap menjadi tenant saya (PI). Kami sama-sama mengembangkan (desain) area. Pertama-tama pasti dibantu. Lama-lama dia sudah independen. Sekarang dia sedang mengembangkan konsep publik area untuk anak-anak di FX. Kontribusinya di Miniapolis sudah membantu saya. Kalau tidak, saya pusing mencari orang untuk mengembangkannya.

Prinsip apa yang Anda pakai dalam melatih anak?

Yang penting, anak harus happy dan mempunyai kekuatan sendiri karena suatu hari kami tidak ada. Anak harus membangun they own legacy. Syukur dia bisa bersama kami. Namun, yang penting anak harus punya punya legacy dan willingness sendiri. Dulunya ketika Lia belum di Miniapolis, saya bilang, “Lebih bagus you di kerja di luar, di AT Kearney, Citibank atau apalah. You bisa menjadi top executive di sana, lalu saya juga besar di sini. Nah, nanti tinggal kita bargaining kalau lagi membutuhkan direktur.” Jadi, betul-betul profesional, tetapi kami family. Syukur kalau match. Saya bisa bayar anak saya sendiri, dan anak saya bisa bantu ayahnya sendiri. Itu kondisi yang sempurna. Saya tambahkan, "Kalau tidak, lebih bagus kalau you di luar dan saya juga di luar. Supaya you tidak ngeselin saya dan saya tidak ngeselin you."

Waktu Lia pulang ke Indonesia saya katakan ke dia, ada dua skenario kalau dia kemudian saya perintah. Dia akan enjoy atau tidak enjoy. Kalau tidak enjoy, dia menyesal seumur hidup, kami sebagai orang tua juga rugi. Namun kalau berhasil, dikatakan itu gara-gara dia. Kalau tidak berhasil, itu gara-gara orang tua. Kita selalu dikasih yang negatif. Saya tidak mau. Saya bilang, "Kalau you sudah berhasil, saya beli you. Itu berarti saya butuh. Tapi kalau you’re not worth that much, I don’t want to buy!"

Itu Anda bicara terus terang?

Ya. Karena itu, dia mau kerja di AT Kearney. Dia garap Miniapolis itu kan bukan karena saya, tetapi karena dia sehingga mau kerja siang-malam. Dia puas. Namun, tentu saja saya membimbing. Nah, sekarang di FX itu banyak tempat kosong, dia lagi kembangkan Kalau di FX dia berhasil, di mana-mana dia akan berhasil. Jangan gara-gara legacy kita, dia mesti menderita sampai tua. Karena, dulu saya mengalami seperti itu. Dulu saya nggak happy. Anak-anak mertua saya masih kuliah. Sebagai menantu pertama yang sudah selesai kuliah, saya lalu dipanggil. Ya, saya nurut. Saya disuruh pegang semua bisnis, pabrik, trading, dll. Japfa Comfeed dulu saya yang pegang. Saya melakukan itu karena kewajiban ke mertua (pemilik Grup Ometraco).

Namun, bukankah di situ Anda belajar?

Ya. Saya belajar trading, belajar di Ometraco yang membuat mesin. Belajar dari anak buah untuk jualan roti. Saya mengalaminya. Tidak apa-apa. Saya happy kalau soal itu. Itu membuat saya menjadi tahu di mana yang membuat saya suka. Japfa Comfeed dulu masih kecil. Itu dulu saya yang membangun. Lalu, saya juga pergi ke pabrik, tetapi saya tidak suka kerja di pabrik, banyak debu. Aduh.

Sampai seberapa lama Anda mengurusi bisnis-bisnis itu di Ometraco?

Sampai ketika adik ipar saya kembali ke Indonesia, tahun 1995-96. Sekitar tujuh tahun saya di situ. Waktu itu saya jadi dirut mana-mana (di anak-anak usaha Ometraco): ya di Japfa Comfeed, di Ometraco, di properti. Namun, saya sudah selesaikan sampai go public. Lalu, saya minta di posisi komisaris saja. Mertua saya bilang, “Gak bisa, jangan.” Namanya anak, kadang harus mau menjadi baby terus. Saya sendiri dengan Lia kadang-kadang juga bersikap begitu. Namun, itu mulai saya kurangi.

Waktu itu (1997) saya bilang ke mertua, “Sekarang kondisi sudah mulai krisis. Saya mesti konsentrasi. Kita punya banyak urusan.” Dan kebetulan ada ipar saya yang suka ngurus pabrik ke daerah-daerah. Waktu itu semua anggota keluarga meminta saya mengurus perusahaan keluarga. Saya bilang, “Nggak bisa.” Bayangin, saya harus ke daerah, ke bank minta kredit, ke pemerintah, lihat tanah untuk properti, buruh, lalu ada prinsipal soal mesin-mesin. Saya suka yang kerja perlente, shopping, di kota. Ke tempat kumuh saya suka, tetapi untuk urusan sosial. Kalau untuk tempat kerja, saya nggak suka. Kehidupan saya di metropolitan. It is a given.

Bagaimana sikap mertua?

Kebetulan mertua orangnya liberal. Saya katakan bahwa saya tidak suka trading. Namun, saya berkata demikian dengan tanggung jawab karena saya tahu ada adik ipar dan keponakan. Sekarang yang mengelola trading adalah keponakan saya, seperti Max Widjaja dan Pieter Djatmiko. Kebetulan karena dari keluarga nggak ada yang suka properti, sayalah yang pegang properti.

Bagaimana Anda menjaga agar passion tidak luntur dan bisa ditularkan ke anak buah?

Saya harus menjadi contoh dari sisi positif. Harus jadi contoh leader. Itu menjadi kepuasan saya. Kalau orang mau mengopi keberhasilan saya, tidak apa-apa. Bukannya saya besar kepala. Ini adalah berkat dari Tuhan. Jadi, saya harus menjaganya. Kalau tidak menjaganya, bukan malu kepada manusia, tetapi seharusnya kepada Tuhan. Kami mau karyawan di sini bangga menjadi karyawan PI. Kebanyakan karyawan yang pindah merasa nggak happy. Kecuali yang dipromosikan gila-gilaan. Karena, di sini hubungannya sangat dekat, family, apresiatif, manajemennya tidak kasar, treatment very well, dan insentifnya oke.

Apa yang belum tercapai baik dalam sisi bisnis maupun pribadi?
Saya pikir secara relatif sudah tercapai. Namun, selalu ada tugas baru. Pertama, jelas dari segi proyek, yang ini (PIE) juga baru selesai. Begitu pun FX. Selain itu, perlu ada regenerasi. Sekarang memang ada Pak Arnes dan lainnya. Tim manajemen baru pun perlu mempunyai manajemen yang lebih bagus. PI sekarang sudah bertransformasi. Dulu bisa membangun PI saja sudah amazing. (***)

Sumber: SWA edisi 23 Juni 2010
Selengkapnya...

Rabu, 11 Agustus 2010

Kelakuan Para Konglomerat

Namanya FX Boyke Gozali. Kalau anda tidak mengenalnya, saya coba untuk memperkenalkan siapa dia. Rasa-rasanya sebagian dari anda-anda mungkin pernah berkongkow-kongkow ria di salah satu gerai Starbucks Coffe di Indonesia, bukan? Atau Anda mungkin pernah mampir ke gerai Zara dan membeli satu stel jas untuk hari pernikahan Anda setelah meminum secangkir kopi di Starbucks tadi? Dan, ternyata semua itu anda alami di Plaza Indonesia. Aha... Tahu kah Anda siapa pemilik semua itu? Yup, tebakan Anda sudah benar. Dia memang FX Boyke Gozali. Dan, kemarin aku berkesempatan untuk bertemu dengannya.

Di lorong itu, aku melihat salah satu pengusaha papan atas Indonesia itu seperti sedang kebingungan mencari sebuah ruangan. Karena aku memang sudah tahu maksud kedatangannya, maka aku pun langsung menegurnya. "Ruangannya di sini, Pak Boyke," sapaku padanya. Dia seperti sedikit bingung dengan teguranku ini. Tapi, kulihat dia mengikutiku dari belakang.

Bersama Boyke, ikut seorang pria lain. Umurnya terlihat lebih muda dan gayanya lumayan oke. Dia adalah Rosanno Barack, yang juga seorang pengusaha di republik ini. Kedua pengusaha itu pun aku antar ke ruangan bosku. "Bang, Pak Boyke sudah datang," jawabku.

Rupanya, penampilan seorang Boyke Gozali sama dengan yang ada di foto-foto yang sering aku lihat. Orangnya tidak terlalu besar dengan rambut warna putih. Dilihat dari wajahnya, susah untuk menebak umurnya karena terlihat selalu berseri-seri, terawat, dan muda. Padahal, kalau tidak salah, pengusaha yang juga pemilik Hotel Harris ini, lahir pada 1957. Berarti sekarang umurnya sudah 53 tahun. Mmmm...memang benar apa yang sering ditulis di media cetak, kalau pengusaha ini kental dengan bisnis dunia gaya hidup ini. Penampilannya memang bergaya.

Tak lama kemudian, aku pun ikut dalam pertemuan itu. Selain dua pengusaha itu, tampak tiga orang lain yang ikut hadir. Satu orang sangat familiar bagiku, sedangkan dua lainnya masih asing. Satu orang yang familiar itu adalah Dibyo Widodo. Anda pasti tidak asing dengan nama itu. Ya, memang benar. Nama yang saya sebut tadi adalah Dibyo Widodo yang mantan kapolri itu. Tapi, ia bukan datang sebagai seorang pensiunan Jenderal dan mantan orang nomor satu di tubuh Polri. Rupanya, setelah menggantungkan baju dinas polri alias pensiun, Dibyo menjadi komisaris di perusahaan patungan Boyke dan Rosanno.

Selama hampir sejam aku ikut menikmati suasana di dalam ruangan itu. Sedikit demi sedikit, aku menjadi tahu bagaimana karakter pada tokoh-tokoh itu. Bahkan, aku jadi tahu bagaimana pengusaha kalau sedang berdebat atau setidaknya berkumpul. Suasananya ternyata jauh dari kesan formal. Bahkan, mereka hanya memanggil nama untuk menyebut yang lain, dan tidak perlu memakai kata 'pak', 'mas', atau yang lain. Sama persis kalau kita sedang berkumpul dengan teman-teman sepermainan.

Memang, baru pertama ini aku bertemu atau melihat dengan Boyke Gozali dan Rosanno Barack. Nama mereka memang sangat familiar padaku. Karena itu, pertemuan kemarin sungguh memberikan kesan mendalam buatku. Aku pun tahu bagaimana kalau para konglomerat berkumpul dan membahas sebuah masalah.
Selengkapnya...