Sabtu, 20 Februari 2010

Danareksa atau Reksa Dana

Ada yang menggelitik saat menyaksikan rapat Pansus Bank Century. Beberapa kali anggota Pansus yang terhormat itu mengucapkan ‘danareksa’, padahal maksudnya adalah ‘reksadana’. Ternyata banyak wakil rakyat yang belum melek investasi. Mereka tidak bisa membedakan antara danareksa dengan reksadana. Danareksa adalah sebuah BUMN investasi. Sedangkan reksadana adalah sebuah wadah investasi. Nah, yang mereka sedang bahas adalah reksadana bodong yang dijual Bank Century kepada para nasabahnya.

Lebih tepatnya, reksadana (mutual fund) adalah wahana yang digunakan untuk menghimpun dana masyarakat (pemodal) untuk kemudian diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh manajer investasi (MI). Portofolio efek tersebut bisa berupa saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau kombinasi dari beberapa di antaranya. Umur reksadana di Indonesia dimulai sekitar 1997. Namun, booming baru terjadi sekitar 2004.


Orang bilang jangan letakkan telur-telur Anda dalam satu keranjang. Maksudnya, untuk mengoptimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan risiko perlu dilakukan diversifikasi agar bila terjadi kerugian pada satu aset, masih bisa di-cover dengan aset lain untuk menghindari kerugian maksimal. Konsekuensinya, kita perlu membangun suatu portofolio aset, yakni sekumpulan aset dengan berbagai profil risiko yang berbeda seperti saham, obligasi, deposito, dan lainnya. Repotnya, untuk membangun portofolio ideal diperlukan dana yang relatif besar; hitung-hitungan saya, paling tidak perlu Rp 10 miliar.

Reksadana kemudian muncul sebagai solusi agar pemodal tak lagi kesulitan dalam berinvestasi. Kesulitan berupa dana yang mepet, keterbatasan pengetahuan dan informasi, kurangnya waktu dan tenaga untuk memonitor portofolio, dan risiko-risiko lain dapat diatasi dengan reksadana. Sebagai gambaran, penduduk Indonesia saat ini sekitar 230 juta jiwa, namun dana yang terkumpul dalam reksadana baru sekitar Rp 60 triliun saja (2006). Itu artinya reksadana masih merupakan wahana yang bagus dan potensial untuk berinvestasi. Untuk tahun 2009 kemarin, total dana kelolaan reksadana di Indonesia sudah tembus Rp 100 triliun, yang mayoritas ada di reksadana saham.

Menurut portofolio investasinya, reksadana dibagi menjadi:

• Reksadana Pasar Uang
Reksadana yang mayoritas alokasi investasinya pada efek pasar uang, yaitu efek utang berjangka kurang dari satu tahun seperti SBI, deposito, dan sebagainya. Tingkat risiko (dan return) relatif paling rendah. Reksadana ini cocok untuk jangka pendek sebagai pelengkap tabungan atau deposito. Tidak ada biaya pembelian dan penjualan kembali. NAB/NAV per UP selalu “di-reset” Rp 1.000 setiap harinya.

• Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana yang setidaknya 80% alokasi investasinya pada efek utang jangka panjang. Potensi risiko dan return lebih besar daripada tabungan, deposito, atau reksadana pasar uang. Cocok untuk investasi jangka menengah (kurang dari 5 tahun). Ada sebagian reksadana yang membagikan keuntungan berupa dividen secara berkala.

• Reksadana Saham
Reksadana yang melakukan investasi sekurangnya 80% dari portofolio ke efek ekuitas (saham). Dibanding reksadana lain, potensi risiko dan return relatif paling tinggi dan cocok untuk jangka panjang (3 tahun atau lebih).

• Reksadana Campuran
Alokasi aset merupakan kombinasi antara efek ekuitas dan efek hutang yang tidak termasuk dalam kategori di atas. Potensi risiko dan return biasanya berada di antara reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham.

Manajer Investasi (MI) adalah pihak yang bertanggung jawab mengelola dana yang terkumpul dalam reksadana. MI take care terhadap setiap kegiatan investasi, mulai dari analisis investasi, pengambilan keputusan, monitoring pasar, atau mengambil tindakan emergency yang sekiranya diperlukan. MI harus mendapat ijin dari Bapepam LK. MI mendapat imbalan jasa dalam bentuk management fee, performance fee, dan entry/exit fee.

Bank Kustodian adalah pihak yang memegang dana investasi sehingga dana investor tidak dipegang langsung dan/atau disalahgunakan oleh MI. Bank kustodian mengawasi setiap penggunaan dana. Biasanya merupakan bank umum yang disetujui Bapepam LK untuk menyelenggarakan jasa kustodian atau penitipan efek secara kolektif dan harta lain serta menerima dividen, bunga, atau hak-hak lainnya. Bank kustodian mengutip custodian fee sekian persen dari dana kelolaan yang dipotong langsung dari NAB/NAV.

Selain sebagai lembaga penitipan dan pengamanan, bank kustodian juga merupakan administrator yang mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya dan bertugas menghitung NAB/NAV setiap jenis reksadana KIK per akhir hari bursa untuk kemudian diumumkan melalui media. Bank kustodian juga berfungsi sebagai transfer agent, yang mencatat seluruh transaksi seperti pembelian (subscription) atau pencairan (redemption) yang dilakukan tiap nasabah.

Selain menyelesaikan transaksi efek, bank kustodian akan memberikan surat konfirmasi sebagai tanda bukti atas setiap transaksi reksadana. Kalau investor melakukan transaksi langsung ke perusahaan pengelola reksadana, tanda bukti akan diberikan langsung kepada investor. Sementara bila investor bertransaksi melalui selling agent (seperti bank), biasanya tanda bukti “dititipkan” di selling agent tersebut.

Prospek reksadana saat ini tampaknya masih sangat bagus. Bahkan, rata-rata reksadana saham memberikan imbal hasil 100% pada 2009 kemarin. Siapa yang tidak tergiur bila dibandingkan bunga deposito yang hanya 7%/tahun. Reksadana rata-rata memberi return 20% secara kontinu setiap tahun.

Tapi, jangan cuma melihat enaknya saja. risiko berinvestasi di reksadana tetap ada lho. Risiko yang mutlak dihadapi adalah turunnya NAB/NAV ketika pasar sedang kurang bergairah. Ini terjadi pada 2008 lalu. NAB anjlok lebih dari 50%. Kalau dana Anda ada Rp 1 juta di sebuah reksadana saham, maka nilainya menyusut menjadi Rp 500 ribu. Kuat kah Anda dengan resiko ini? Tapi, ingat.... Ini hanya resiko di atas kertas saja. Uang Anda menyusut bila dicairkan. Tapi, kalau ada bersabar, uang anda pasti kembali lagi, bahkan bisa meningkat. Ini terbukti pada 2009, ketika reksadana saham melesat hingga ada yang memberikan imbal hasil 130%. Artinya, uang Anda yang Rp 1 juta tadi, kita sudah menjadi Rp 1,3 juta. Menarik bukan?

Risiko lain adalah wanprestasi (default), yaitu kegagalan emiten, penerbit surat berharga, atau pihak lain yang terkait dengan transaksi gagal memenuhi kewajibannya. Reksadana juga tak luput dari risiko likuiditas dalam hal cepat-lambatnya investor dapat mencairkan unit penyertaannya.

Saat ini, berinvestasi di reksadana sangatlah mudah dan murah. Dengan modal Rp 200.000 saja, kita sudah bisa berinvestasi. Bahkan, beberapa bank sudah membuka program autodebet reksadana. Misalnya dilakukan oleh Bank Mandiri dan Commenwealth Bank. Kita tinggal mengisi aplikasi saja yang menyetujui untuk memberikan pihak bank meng-autodebet uang di rekening kita tiap tanggal tertentu tiap bulannya. Enaknya lagi, ada bank yang memberikan diskon 50% biaya pembelian bila kita mengikuti program ini.

Demikian dulu sedikit pengantar tentang reksadana.

Yang perlu diingat, tidak pernah ada kata terlambat untuk berinvestasi.
Selengkapnya...

Jumat, 19 Februari 2010

Kenapa IHSG doyan di 2.500an

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di level 2.500-an hingga saat ini. Beberapa kali sudah berhasil menembus level 2.600, tapi selalu tidak bisa dipertahankan. Level psikologis baru di angka 2.700 tampaknya masih harus bersahal untuk menantinya. Bahkan hari ini, IHSG akhirnya ditutup turun 21 poin.

Pada grafik yang diambil dari situs www.idx.co.id ini, terlihat bahwa index selalu naik turun membentuk banyak gunung. Pada Januari index sudah sangat dekat ke angka 2.700, tapi akhirnya malah longsor lagi ke angka 2.400an.

Mengawali perdagangan hari ini, IHSG sempat naik tipis ke level 2.581,441. Namun langsung melorot tajam hingga sempat menyentuh level 2.550,529. Koreksi tajam indeks saham sektor pertambangan menjadi penyebab utama penurunan IHSG, diikuti dengan koreksi indeks saham sektor infrastruktur dan konsumsi. Indeks saham sektor perkebunan yang sesi I tadi pagi masih di zona positif, kini ikutan jatuh ke zona negatif.


Aktivitas investor asing juga tidak terlalu ramai. Transaksi beli asing sebesar Rp 763,445 miliar, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 590,233 miliar. Transaksi beli bersih asing (foreign net buy) sebesar Rp 173,212 miliar.

Pada perdagangan Kamis (18/2/2010), IHSG ditutup ambles 21,306 poin (0,82%) ke level 2.560,034. Indeks LQ 45 juga melemah 5,218 poin (1,03%) ke level 498,763.

Perdagangan berjalan lambat dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar 72.978 kali pada volume 3,138 miliar lembar saham senilai Rp 2,59 triliun. Sebanyak 57 saham naik, 145 saham turun dan 49 saham stagnan.

Saham-saham paling aktif yang naik harganya antara lain AStra Otoparts (AUTO) naik Rp 350 ke Rp 6.650, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 150 ke Rp 5.100, Bhakti Investama (BHIT) naik Rp 60 ke Rp 305, United Tractors (UNTR) naik Rp 50 ke Rp 16.900, Ace Hardware (ACES) naik Rp 30 ke Rp 1.350.

Sedangkan saham-saham yang turun harganya antara lain Indo Tambang (ITMG) turun Rp 850 ke Rp 30.600, Indocement (INTP) turun Rp 400 ke Rp 13.600, Goodyear (GDYR) turun Rp 300 ke Rp 12.000, Astra International (ASII) turun Rp 250 ke Rp 36.000, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 ke Rp 16.100, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 100 ke Rp 2.325.

Sumber: Detikfinance
Selengkapnya...

Rabu, 17 Februari 2010

Ikuti Pesan dari Intuisi

Ada sebuah pesan dari orang tua dulu yang berkaitan dengan bepergian. Kata mereka, jangan sesekali pergi bila memang tidak ingin pergi. Sebab, bisa jadi akan terjadi sesuatu bila jadi pergi. Dulunya, aku sama sekali tidak mengerti maksudnya. Baru belakangan ini saja aku mengerti artinya setelah mengalaminya sendiri.

Sebenarnya pengalamannya ini tidak sama persis dengan pesan dari para orang tua tadi. Namun, maksudnya yang boleh dikatakan sama. Ceritanya begini. Beberapa hari lalu, aku hendak keluar rumah dengan naik sepeda motor. Karena hanya pergi sebentar, aku malas untuk ganti pakaian. Jadilah aku pergi dengan pakaian yang juga kukenakan saat tidur.


Untuk berjaga-jaga, aku memasukkan beberapa lembar uang rupiah ke dalam saku celana pendek. Aku pun memasukkan HP GSM-ku. Tiba-tiba saja muncul keraguan dan sepertinya ada yang berbisik padaku. "jangan bawa HP itu. Nanti terjatuh...'' kira-kira begini suara yang sepertinya dibisikkan padaku. Sempat aku kelurkan lagi HP dari dalam saku yang memang sempit dan tidak dalam itu. Namun, entah mengapa, aku cuek saja dan kembali memasukkannya.

Rupanya aku memang sedang sial. HP akhirnya hilang entah kemana saat aku mengendarai sepeda motor. Kuat dugaan, HP terjatuh di jalan yang memang memiliki banyak polisi tidur. Tiga kali aku kembali melewati jalur yang sama untuk mencari, namun sama sekali tidak ada jejak yang berhasil aku temukan. Aku pun harus mengiklaskan HP.

Intuisi. Ya....inilah yang belakangan bisa aku petik pelajaran dari hilangnya HP ini. Alam bawah sadarku sudah memberikan peringatan, namun aku tidak mau mendengarkannya, walau sudah aku dengar.

Kali ini, aku pun mulai untuk mencoba mendengarkan semua kata-kata alam bawah sadarku. Kata para juragan motivasi, dari seluruh aktivitas manusia, hanya 18% yang dikendalikan oleh alam sadar. Sedangkan 82% dikendalikan oleh alam bawah sadar. Bayangkan, alangkah indahnya kalo kita bisa mengendalikan yang 82% tadi demi apa maunya kita. Mmmm..... dahsyat!!!!

Gara-gara tidak mendengarkan intuisi itu, akhirnya aku pun harus kehilangan HP. Sebenarnya kehilangan HP-nya tidak seberapa. Yang paling menyedihkan adalah kehilangan simcard dan seluruh nomor HP di phonebook. Apalagi sudah agak lama aku tidak menyalin nomor-nomor kontak di HPku itu. Sedihnya lagi, sampai hari ini aku belum bisa mendapatkan nomorku itu lagi karena terkomsel di daeraku sedang kehabisan stok kartu kosong. Hiks....


Selengkapnya...

Selasa, 16 Februari 2010

Oleh-oleh Khas Jakarta

Oleh-oleh dari Medan: BIKA AMBON
Oleh-oleh dari Jogja: BAKPIA

Oleh-Oleh dari Semarang: LUMPIA

Oleh-oleh dari Bali: KACANG BALI

Oleh-oleh dari Bandung: BROWNIS KUKUS

Oleh-Oleh dari Palembang: PEMPEK

Oleh-oleh dari Bangka: KERUPUK BANGKA


OLEH-OLEH DARI JAKARTA?


Ide: Mari kita ciptakan sebuah makanan khas yang kemudian dipromosikan sebagai makanan khas dari Jakarta yang bisa dibawa pulang oleh para pelancong/bisnisman/ atau siapapun yang hendak pulang ke daerahnya.


Bayangkan saja berapa ribu orang tiap hari yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Tapi, sampai hari ni kayaknya tidak ada makanana khas jadi jadi oleh-oleh mereka sebagai bukti sudah datang ke Jakarta.

Kawasan Rawa Bokor mungkin bisa jadi lokasi toko. Sebab, para penumpang yang naik kendaraan lewat tol bisa mampir dulu ke Rawa Bokor sebelum sampai ke terminal bandara.

Ada yang tertaring dengan peluang bisnis ini?








Selengkapnya...