Selasa, 30 Maret 2010

Gayus Tambunan yang membuat Heboh

Nama Gayus Halomoan Tambunan seminggu terakhir ini menjadi tokoh utama berita-berita di semua media. Pegawai Ditjen Pajak golongan III-A ini memiliki uang Rp 25 Miliar di rekeningnya. Ia juga memiliki banyak aset bernilai miliaran. Tuduhan masih adanya kebocoran uang pajak pun akhirnya kembali digugat dengan berkaca dari kasus Gayus ini.

Gayus Galomoan Tambunan pasti-lah membuat iri banyak orang. Bayangkan, dengan usia baru 30 tahun, pegawai Direktorat Jenderal Pajak ini sudah jadi milyader. Ia memiliki uang 25 milyar rupiah di bank. Harta bendanya juga banyak dan bernilai miliaran. Padahal, bila ditilik dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri golongan III- A, tidak mungkin Gayus mengumpulkan semua kekayaannya itu dengan masa kerja belum lebih dari 10 tahun sebagai PNS.


Sebagai PNS golongan III-A, gaji Gayus hanya sekitar 2 juta rupiah per bulan. Karena berdinas di Ditjen Pajak, Gayus juga mendapatkan remunerasi Rp, 8, 2 juta dan imbalan prestasi Rp 1,5 juta. Total penghasilan Gayus sekitar Rp 12,1 juta. Remunerasi adalah hasil dari reformasi perpajakan di era Presiden SBY.

Remunerasi di perpajakan diberikan untuk meredam perilaku korupsi pegawai perpajakan yang sejak dulu menjadi rahasia umum. Celakanya, walau gaji sudah berkali-kali lipat dinaikkan, ternyata reformasi tadi kini dipertayakan kembal. K Gayus Tambunan menjadi bukti perilaku korup di perpajakan masih ada.

Kepemilikan rekening Rp 25 miliar oleh Gayus Tambunan ini, awalnya tercium oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Rekening yang mencurigakan ini pun dilaporkan ke mabes polri. Berdasarkan laporan PPATK itu, Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri segera menyelidiki rekening Gayus yang diduga hasil praktek pencucian uang dan korupsi.

Hasil penyididkan menunjukkan, ternyata hanya Rp 400 juta uang di rekening Gayus yang dianggap bermasalah. Sedangkan sisanya yang Rp 24,6 milyar dinyatakan bersih. Gayus menyatakan uang Rp 24,6 milyar itu merupakan titipan temannya, seorang pengusaha bernama Andi Kosasih, yang ironisnya, penyidik sangat percaya dengan pengakuan itu.

Begitu kasus kepemilikan rekening Rp 25 milyar mencuat di media massa, Gayus pun diperiksa oleh Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya (KITSDA) Ditjen Pajak. Hasilnya, dalam satu perkara, Gayus terbukti telah menerima uang senilai Rp 370 juta dari wajib pajak yang kasusnya sedang ditangani pegawai pajak itu.

Adanya fakta bahwa Gayus telah menerima suap Rp 370 juta dari salah satu wajib pajak yang sedang ditanganinya itulah, Ditjen Pajak akhirnya memilih untuk kembali membuka semua perkara pajak yang pernah ditangani gayus. Kuat dugaan, uang miliaran rupiah yang mampir di rekening Gayus berasal dari suap atau success fee dari kasus-kasus sengketa pajak yang ditanganinya.

Posisi Gayus adalah sebagai staf penelaah keberatan dan banding di Ditjen Pajak. posisi ini sangat strategis karena Gayus-lah yang bertugas menguraikan banding ketika terjadi sengketa pajak di hadapan hakim di persidangan Pengadilan Pajak.

Tak tanggung-tanggung, sepanjang karirnya di Subdit Banding, Ggayus 40 kali kalah saat mewakili negara di Pengadilan Pajak. Padahal dalam kurun waktu 2008 hingga 2010 ini, Gayus menangani 51 kasus banding.

Ditengarai, ppegawai pajak yang mengawali karirnya sejak tahun 2004 ini, kerap bermain mata alias kongkalikong dengan beberapa wajib pajak yang kasusnya bergulir di pengadilan pajak. Umumnya, perkara-perkara pajak yang ditanganinya berskala besar yang melibatkan wajib pajak badan atau perusahaan.

Bila kalah di pengadilan, direktorat pajak harus membayar kelebihan pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak, atau biasa disebut disebut restitusi pajak. Bisa jadi, Pengadilan Pajak yang berujung pada restitusi pajak ini, dijadikan modus kongkalikong antara Gayus dan wajib pajak yang ditanganinya.

Saat diperiksa oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum sebelum kabur ke Singapura, Gayus mengungkapkan Pengadilan Pajak merupakan tempat kongkalikong pegawai pajak

Artikel ini sudah ditayangkan di program METRO REALITAS di layar Metro TV pada Senin, 29 Maret 2010 Pukul 23.05 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar