Rabu, 28 April 2010

Ketemu Teman Lama

Tampaknya Facebook sudah tidak semeriah dua tahun lalu. Dari yang dulunya bisa tiap jam membuka facebook, maka kini bisa dalam beberapa hari tidak online. Nah, hari ini aku iseng-iseng berlama-lama memelototi Facebook. Hasilnya adalah, aku bertemu kembali dengan teman lama yang sudah lama sekali tidak bertemu. Mungkin hampir 10 tahun kami tidak berjumpa. Kami pun chat di ruang chating Facebook. Rupanya dia sudah menjadi orang hebat. Setidaknya begitu penilaianku.


Aku menyapanya dengan kata 'Horas'. Lama tidak berbalas, sampai beberapa menit kemudian ia pun membalas, "sdh nikah belum?". Setelah itu, percakapan-percakapan pun mengalir tanpa henti. Kawan lama ini pun menceritakan kabarnya yang tampaknya lumayan komplit.

"akhir mei ini anak ketigaku lahir....jadi anak pertamaku laki, kedua perempuan, ketiga laki dan br kami kb.... anak pertamaku sdh TKA, dan anak kedua PG1... kami tinggal disurabaya(sementara) sampai S2 ku selesai. rumah kami di puri bintaro hijau...jadi itu rumah kami kontrakkan karena pindah kerja ke surabaya..." tulis kawan tersebut dalam obrolan via chatting itu. Aku sengaja tidak mengubah huruf atau tata bahasa tulisannya, agar terasa lebih alami sebagai sebuah obrolan via chatting.

Kabar terakhir aku memang mendengar kalau kawan ini sedang mengambil S2 di Surabaya. Dulunya, ia mengajar di sebuah sekolah swasta kelas atas di kawasan Bintaro, Jakarta. Sejak kuliah ia memang hobi mengajar. Saat masih sekolah dulu, ia juga mengisi waktu luang dengan memberikan bimbangan belajar ke sejumlah anak SMA maupun SMP. Soal otak dan hitung-hitungan, kawan ini memang jagonya.

Ia bercerita, S2-nya akan selesai November 2010 ini. Hebatnya lagi, kini ia sudah diminta UPH untuk bergabung setelah tamat S2. "selesai S2 aku diminta gabung ke UPH ccollege di Karawaci...S2 baru akan selesai november nanti... UPH college minta aku gabung juni tp belum selesai kuliah(memang tinggal thesis)... aku mau pindah ke UPH college karena akan diberikan beasiswa ambil S3 stelah ngajar disana 2thn-an." Aku pu meledeknya dengan mengatakan ia akan bisa menjadi seorang profesor dalam beberapa tahun lagi.

Menurut dia, S2-nya merupakan bantuan dari tempatnya mengajar di Bintaro. Sambil kuliah S2, dia pun mengajar di sebuah sekolah di Surabaya yang memiliki kurikulum yang sama dengan tempat mengajarnya di Bintaro. Ia mengajar matematika dan Filsafat dasar dalam Bahasa Inggris di sini. Bahas Inggris memang keahliannya yang lain. Dulu kami sama-sama kursus Bahas Inggris di LIA. Bedanya, ia lulus sampai tingkat advance, aku sendiri lulus intermediate pun tidak. Nasib.....

"disekolah ini aku jadi students affair coordinator(wakasek kesiswaan)...jumlah murid smp-sma 700-an, klo total dari TK-SMA 1600-an siswa", lanjut kawan ini. Ia pun menceritakan suka-duka mengajar di sekolah yang 90% muridnya adalah keturunan Cina.

Kawan ini rupanya tergolong orang yang tidak bisa diam. Selain mengajar dan kuliah, ia juga memberikan training di sekitaran Jawa Tengah, Jawa Barat, dan juga Jawa Timur. "Lumayan buat tambah pengalaman. Aku trakhir baru pulang dari china ikut seminar matematika internasional 2 minggu," katanya.

Selain memberikan training pendidikan, kawan ini juga pernah pergi ke Aceh tahun lalu untuk ikut tsunami project, yang merupakan sponsor dari swiss. Di sana ia menjadi pembicara utama di depan para profesor matematika dari sejumlah universitas di provinsi paling barat Indonesia itu.

"bentar lagi muncul YOHANES SURYA bidang matematika nih...." ledekku.

Acara chatting pun harus berakhir karena si kawan ini mengaku harus segera pergi mengajar.... Selengkapnya...

Selasa, 27 April 2010

Peter Firmansyah, Denim Bandung untuk Dunia


Sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Peter Firmansyah terbiasa mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Kini, ia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara. dwi bayu radius

Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.


Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim.

Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal.

”Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke kelab, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. ”Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

Peter kecil akrab dengan kemiskinan. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter pun mengalami masa suram. Orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan.

Pernah mereka tak mampu membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. ”Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung,” kata Peter.

Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.

Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya—perselisihan yang sempat disesali Peter—karena sudah menghabiskan biaya besar.

Mulai dari nol

Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong.

”Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya.

”Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat,” ujarnya.

Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

”Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit,” katanya. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.

”Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua,” katanya. Jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji.

Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. ”Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. ”Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. ”Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.

”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.

Sumber: Kompas edisi Senin, 26 April 2010




Selengkapnya...

Sabtu, 24 April 2010

Negeri Para Penikmat Infotainment

Rakyat Indonesia memang penggemar berat acara gosip artis. Ini dia buktinya; acara TV yang mengulas gosip-gosip selebritis tayang sejak pagi hingga malam hari. Tidak perlu takut ketinggalan berita. Tidak sempat menonton pagi, siang ada. Kalau masih tidak sempat, silahkan menontonnya malam hari sebelum tidur. Dijamin Anda akan terpuaskan. Tidak perlu takut mabuk karena kebanyakan menonton acara seperti ini. Survey membuktikan, belum ada orang yang mati karena terlalu banyak menonton acara gosip.


Acara infotainment dimulai pada pukul 06.30 WIB. Ada dua TV yang menanyangkan acara gosip pada jam ini. Yakni, WAS-WAS di SCTV dan GO SPOT di RCTI. Jangan heran kalau melihat sebagian berita gosip artis di kedua acara ini mirip-mirip. Yang lagi hangat sekarang ini adalah tentang berita cinta segitiga yang melibatkan Krisdayanti alias KD. Yang tadinya orang tidak mengenal siapa itu Raul Lemos dan siapa itu Silvalay Noor Athalia, maka keduanya kini sangat ngetop di Indonesia. Tiap hari dalam beberapa minggu ini, mereka selalu muncul di TV, tapi ya itu tadi, munculnya di acara-acara infotainment. Bahkan, ketika WAS-WAS mewawancarai Silvalay Noor Athalia secara langsung bersama si presenter acara, maka di layar TV pun muncul kata 'EXCLUSIF WAS-WAS". Ada-ada saja.....

Belum puas menikmati acara gosip pada pagi itu, nantikan saja acara HALO SELEBRITIS di SCTV pada pukul 09.30 WIB, setelah acara musik INBOX. Isi beritanya, ya masih mirip-miriplah dengan yang jam 06.30 WIB tadi.

Acara gosip kembali banyak pada pukul 11.00 WIB. Ada INSERT di Trans TV dan SILET di RCTI. Penyajian SILET memang agak lain daripada acara gosip lain. Formatnya adalah mengupas satu tema dalam durasi sejam. Jadi, kalau tidak puas menonton kisah cinta segitiga KD tadi dalam paket-paket pendek, maka dalam SILET, kisah itu akan dibahas tuntas selama sejam. Pengerjaannya juga lumayan rapi dengan host yang bergantian antara Feni Rose dan Dona Arsinta.

Dari siang hingga sore hari, akan semakin banyak acara gosip. Ada KISS di INDOSIAR, IGOSIP di Trans7, Cek & RICEK di RCTI, STATUS SELEBRITIS di SCTV, INSERT INVESTIGASI di TRANS TV, dan banyak acara lain. Pokoknya, rajin-rajinlah pencet-pencet tombol remote TV kalau belum kenyang dengan acara-acara gosip ini. Dijamin, nanti akan puas deh. Jangan lupa untuk memperhatikan gaya si pembawa acara yang terkadang genit, ayu, anggun, hingga yang norak dan sok centil.

Nah, bila belum puas juga dan membuat anda tidak bisa tidur, maka ada LOELEBAY di OCHANNEL, sebuah TV lokal Jakarta. Sesuai dengan namanya, beritanya memang benar-benar 'lebay'. Dua pembawa acaranya juga 'lebay'. Nama mereka Melanie Ricardo dan Ichsan Albar!. Keduanya kompak banget dan cuek banget mengomentari berita gosip yang akan ditayangkan. Bahkan, kadang-kadang lebih asyik melihat tingkah laku kedua host ini daripada beritanya sendiri. Mereka memberikan pengantar tentang berita gosip artis yang akan ditayangkan. Komentar mereka sering kali pedes walau dibungkus dengan jenaka. Misalnya saja, mereka membahas tentang orang-orang yang lebih terkenal karena sering muncul di acara gosip daripada kehebatan si artis tadi dalam dunia hiburan. Julia Perez adalah salah satu artis yang pernah menjadi topik obrolah mereka.

Wawancara dengan sebuah kelompok musik yang sama sekali belum terkenal, dan hanya diwawancarai tentang rencana si vokalis untuk berbisnis, bisa muncul di LOELEBAY. Garing banget deh..... Uniknya, ternyata si pembuat acara LOLEBAY sadar kalau berita seperti itu memang tidak menarik. Karena itu, akan muncul sosok pria serba hitam yang jingkrak-jingkrak di layar TV. Kedua pembawa acara diceritakan hanya bisa merasakan kehadiran orang itu, tanpa bisa melihatnya. Mereka menjuluki si 'hantu hitam' tadi dengan nama SEBA lias SETAN BANCI.

Kalau SEBA muncul, berarti berita gosip yang segera ditayangkan memang sangat-sangat tidak menarik, basi, dipaksakan, dan menjadi ejek-ejekan si kedua pembawa acaranya.

Masih belum puas juga? Uh....
Selengkapnya...

Jumat, 23 April 2010

Diskusi Intelijen soal Susno Duadji

Mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak dan dahsyat, adalah salah satu kenikmatan menjadi wartawan. Apalagi, informasi yang dahsyat itu seringkali diembel-embeli dengan kata "off the record" oleh si pemberi informasi.

Akibatnya, cerita yang muncul di media sering kali hanya kulit terluar dari seluruh informasi yang diperoleh si wartawan. Tapi, kalaupun tidak ada embel-embel kata tadi, seorang wartawan yang masih punya "otak", pasti tidak akan menelan mentah-mentah semua informasi tadi dan menuangkannya dalam laporan jurnalistik mereka. Pasalnya, semua info tadi perlu konformasi yang mendalam dari orang-orang yang dituduh terlibat, walau sekilas info tersebut memang masuk akal. Mengungkap semua sama saja dengan bunuh diri.

Misalkan saja ketika kasus Antasari Azhar terkait pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, sedang ramai-ramainya dikupas. Seorang narasumber di lingkaran Antasari pun membeberkan sejumlah kisah tentang apa dan siapa di balik kasus ini. Muncullah nama-nama lain yang diberitakan ikut terlibat dalam kasus ini. Nama-nama hebat pun disebut-sebut, mulai tokoh militer, menteri, direktur perusahaan, hingga presiden. Semua kisah ini dibingkai dengan alur cerita yang sepertinya sangat-sangat masuk akal. Soal kebenaranya? Mmmm.... walahualam.


Ini-lah yang sering diperoleh jurnalis ketika sedang menelusuri sebuah kasus. Ada saja kisah-kisah lain yang lebih seru diperoleh. Kisah-kisah tadi mirip cerita konspirasi intelijen atau konspirasi politik yang sering dikupas di film-film Hollywood. Mendengarkannya sangat asyik, sehingga sering muncul celetukan, "oooo", "oooooo...." dan "Oooooo...." yang panjang.

Kisah yang paling baru adalah tentang fenomena Susno Duadji, yang sudah hampir setengah tahun ini menjadi tokoh pemberitaan. Mengapa seorang Susno berani membongkar mafia kasus (markus) di Polri, rumahnya sendiri? Siapa yang melindunginya? Mungkin dua pertanyaan ini sering muncul di benak masyarakat. Dan, kalau kita diskusi dengan orang-orang yang ada di lingkaran pemerintahan soal kasus ini, apakah itu pejabat tingkat nasional, petinggi militer/polri, atau tokoh politik, maka beragam cerita yang penuh konspirasi akan dibeberkan dengan begitu semangatnya. Apa saja kisah-kisah itu, saya sendiri enggan untuk mengungkapkannya di forum ini.

Namun, di detikcom hari ini, ada sebuah berita yang kalau kita gali, penuh dengan kisah-kisah konspirasi tadi. Ini dia berita yang menarik perhatian saya itu:

Markus Pajak Rp 28 M
Anggota DPR: Susno Duadji Sedang Kirim Sinyal Politik untuk Seseorang

Jakarta - Proses penyelidikan persoalan makelar kasus (markus) pajak Rp 28 miliar Gayus Tambunan yang diungkap oleh Komjen Pol Susno Duadji memerlukan analisa dan kepekaan yang mendalam. Bukan tidak mungkin, Susno sedang mengirim sinyal politik tertentu kepada seseorang.

Sinyalemen itu disampaikan Anggota Komisi III DPR, Pieter Zulkifli, di Jakarta, Jumat (23/4/2010).

"Diperlukan analisa mendalam, dan kepekaan mempelajari apa sebenarnya yang diharapkan Susno. Walaupun statement Susno tentang reformasi Polri perlu digaris bawahi, kita berharap SD jujur. Sebab ada analisa bahwa tindakan Susno membongkar kasus Gayus Tambunan, sebenarnya untuk mengirim semacam pesan politik pada seseorang," ungkap Pieter.

Namun Pieter enggan menjelaskan lebih detil lagi tentang sinyal politik yang dimaksudnya. Begitu pula dengan pihak yang dituju oleh Susno.

Pieter juga menilai, kasus mafia pajak ini sudah melebar dan lintas institusi dan departemen. Karena itu, sambung Pieter, perlu kearifan serta analisa politik dan hukum yang lebih dalam lagi.

"Bukan saling mencaci-maki. Jasa Susno tidak sedikit, walaupun akhir-akhir ini dia memasuki wilayah politik untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. Dan saat ini mulai muncul pihak-pihak yang akan memainkan situasi ini agar muncul instabilitas politik baru bahkan dengan target untuk mendapatkan bargaining position," ungkap Pieter.

Di sisi lain, Pieter juga berharap penyidik Polri bertindak profesional dalam memeriksa Susno. Jika memang ditemukan indikasi kuat ada pelanggaran hukum, penyidik jangan ragu-ragu menetapkan Susno sebagai tersangka.

"Itulah sejatinya negara hukum, harus memegang teguh prinsip persamaan di muka hukum," tegas Pieter. (djo/ndr)

Atau, selengkapnya baca saja di sini.



Selengkapnya...

Kamis, 22 April 2010

IHSG dan Awan Hitam Investasi

Hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali membuat rekor baru sepanjang Indonesia mengenal bursa saham. IHSG ditutup pada posisi 2.926,53 atau naik 13,71 poin (0,47%) dari posisi hari sebelumnya. Posisi 3.000 pun semakin dekat. Akankah posisi itu akan cepat dicapai dalam beberapa hari ke depan? Atau malah IHSG sudah mencapai titik tertingginya, dan berangsur-angsur akan turun atau stag di angka 2.700-2.900? Prediksi sih banyak, tergantung pada pengamat mana kita bertanya.


Saat sedang berbincang-bincang dengan seorang rekan yang jauh lebih jago daripaku aku dalam hal ilmu 'kebursaan', mengatakan bahwa akan segera menjual seluruh sahamnya di Jasa Marga (JSMR). Pasalnya, ia khawatir bursa akan turun dalam waktu dekat ini. Ia pun mengaku sedang ingin belajar investasi di emas. Menurut dia, investasi emas ke depannya sepertinya akan aduhai. Kawan ini pun mengumbar banyak analisa, yang sekilas, memang ada benarnya.

Si kawan ini berujar, indeks 3.000 memang bisa dipastikan dapat tercapai tahun ini. Namun, ia pesimistis akan tercapai dalam waktu dekat. Ia lebih yakin angka 3.000 akan tercapai pada menjelang akhir tahun, atau kwartal keempat tahun 2010 ini. Mengapa tidak dalam waktu dekat ini? "karena musim membagikan deviden memang terjadi sekitar April. Setelah investor mendapatkan divedin, mereka akan berlomba-lomba menjual saham mereka. Akibatnya indeks akan tertekan," begitu analisa si kawan ini.

Selain itu, ada beberapa faktor yang ikut menekan indeks. Antara lain soal harga minyak dunia yang sudah di atas 80 dolar lagi. Kenaikan harga minyak akan membuat ongkos produksi meningkat. Akibatnya, inflasi akan naik. Kalau inflasi sudah naik, maka Bank Indonesia sudah pasti akan menaikkan suku bunga. Kalau suku bunga naik, maka efeknya akan ke mana-mana. Saham tentu bertolak belakang dengan kenaikan suku bunga, yang cenderung akan turun. Ini diakibatkan karena banyak investor yang melarikan dana mereka ke produk obligasi atau deposito, sambil menunggu kondisi sudah 'aman' lagi.

Karena itu, si kawan ini lebih memilih emas yang akan menjadi primadona ke depannya. Harga emas dipastikan akan naik lebih cepat karena inflasi dunia akan meninggi. Negara-negara di dunia ini juga akan semakin banyak memburu emas untuk mengamankan cadangan devisa mereka.

Ini memang hanya sebuah analisa yang belum tentu benar dan terjadi. Yang pasti, teruslah berinvestasi demi masa depan yang lebih baik....

Keterangan gambar: gambar yang dipakai di awal tulisan ini adalah grafik IHSG selama 60 hari terakhir. Naiknya dahsyat, kan?
Selengkapnya...

Rabu, 21 April 2010

Reksa Dana Sebagai Maskawin Pernikahan

Salah satu hal yang membutuhkan pemikiran yang panjang dan melelahkan saat persiapan menikah, adalah menentukan maskawin atau mahar bagi calon mempelai wanita yang mau kita nikahi. Yang paling umum digunakan orang adalah memberikan maskawin berupa seperangkat alat sholat. Kalau tidak itu, yang sering dipakai lainnya adalah maskawin berupa uang atau emas. Ada kah bentuk maskawin lain yang lebih unik dan langka? Memberikan maskawin berupa rumah atau mobil sih, bagi aku bukan unik dan langka, karena sudah jamak terjadi. Lihat saja pernikahan orang-orang kaya atau selibritis.

Setelah berpikir lama dan mencari banyak referensi, akhirnya pilihan sudah aku jatuhkan. Maskawin yang aku pilih adalah reksa dana. Ya, reksa dana aku pilih dengan cara menggabungkannya dengan emas dan uang dolar amerika. Dan, hasilnya menurut aku unik dan langka. Pasalnya, masih banyak orang (setidaknya di keluargaku) yang belum melek reksa dana.


Ini memang kisah pernikahanku pada Januari 2010 lalu. Awalnya, aku berencana membuat maskawin berupa angka 16012010 dari uang logam pecahan 500. Angka 16012010 adalah penyatuan dari tanggal pernikahanku, 16 Januari 2010. Namun, rencana ini akhirnya batal karena susah juga mengumpulkan uang receh. Belum lagi kerepotan dalam menyusunnya nanti, agar rapi dan indah dipandang saat sudah dibentuk di bingkai. Singkat cerita, otak pun diputar lagu guna mencari ide lain.

Banyak ide-ide muncul dalam lamunan atau saat browsing di internet. Namun, pilihan akhirnya jatuh ke reksa dana. Banyak alasan yang melatarbelakanginya. Selain aku belum pernah menemukan ada orang menggunakan reksa dana sebagai maskawin, juga karena aku memang sedang senang-senangnya belajar dan mempraktekkan investasi di reksa dana. Reksa dana juga akan menjadi maskawin yang bisa dipakai sebagai kendaraan investasi kami ke depannya. Nilainya pun bisa naik seiring kenaikan perekonomian.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana menggunakan reksa dana tadi sebagai maskawin yang unik dan langka. Kalau sekadar memberikan maskawin berupa reksa dana memang gampang. Tinggal membeli sejumlah unit reksa dana dan menyerahkannya saat akad nikah. Namun, aku ingin tetap ada artinya dengan keberadaan reksa dana tadi. Akhirnya, otak pun di putar. Sebuah ide muncul, reksa dana dicampur dengan uang dolar dan emas guna membentuk angka tanggal pernikahanku, 16 Januari 2010.

Angka 16 dibentuk dari 16 dollar Amerika Serikat. Mengapa menggunakan dolar, dan bukan rupiah atau mata uang lainnya? Alasannya simpel saja. Mencari pecahan 16 rupiah bukan perkara gampang sekarang ini. Kalau tahun 50an dulu, barang kali mudah. Sedangkan mencari pecahan US$16 cukup gampang, karena ada pecahan US$10, US$5, dan US$1. Dolar pun dipakai karena nilai dolar bisa naik. Jadi bisa mengikuti inflasi bila tren rupiah sedang melemah. Artinya, ini juga salah satu bentuk investasi.

Agar lebih bagus, aku membentuk angka 16 tadi dengan kumpulan US$1. Beruntung ada kawan yang baru pulang dari luar negeri yang membawa cukup banyak pecahan US$1. Sebab, hasil survey ke beberapa money changer di Jakarta, pecahan US$1 jarang ada, dan kalaupun ada, kondisinya tidak bagus.

Untuk membentuk angka 1 (Januari), aku memilih emas batangan yang aku beli dari logam Mulia Aneka Tambang (Antam) . Aku membeli emas 1 gram itu langsung ke pusat penjualan logam mulia Antam di Jl Pramuka, Jakarta Timur. Aku pun mendapatkan satu pengalaman berharga saat membeli uang batangan ini. Pemilihan emas juga menjadi salah satu bentuk investasi yang diharapkan nilainya akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Nah, yang agak repot adalah menentukan angka 2010. Awalnya, agar menarik, aku ingin membentuknya dari reksa dana saham. Biasanya, setiap orang mendengar kata 'saham', bisa memunculkan banyak hal di dalam otak mereka. Biasanya sih decak kagum, walau mungkin juga tudingan norak. hehehe. Tapi, menentukan angka 2010 tidak lah mudah. Kecuali kita membeli reksa dana yang baru launching, dimana kita tinggal menyerahkan uang Rp 2.010.000 untuk mendapatkan 2010 unit reksadana saham itu dengan harga Rp 1.000 per unit. Tapi, akhir 2009 kemarin tidak ada reksa dana saham baru yang muncul. Membeli unit reksa dana saham yang sudah ada, tidak mungkin tepat bisa mendapatkan 2010 unit karena kita tidak tahu nilainya setiap hari, seiring pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pilihan akhirnya jatuh pada reksa dana pasar uang. Ini-lah jenis reksa dana yang paling mudah untuk menentukan berapa unit yang mau kita beli. Akhirnya, aku mengajak sang calon istri ke Bank Commenwealth cabang Supermall Karawaci untuk membuka rekening. Setelah itu, kami membeli reksadana pasar uang Mandiri Investa Pasar Uang keluaran PT Mandiri Manajemen Investasi, anak usaha dari Bank Mandiri. Mengapa harus mengajak sang calon istri? Agar rekening reksa dana memakai nama istri. Namanya juga mas kawin untuk calon istri. Kan ga lucu masih memakai nama si mempelai pria. Hehehe... Kami membeli 2010 unit reksadana Pasar Uang Mandiri Investa Pasar Uang sebesar 2010 unit dengan harga Rp 2.o10.000. Tak lama berselang, surat konfirmasi pembelian reksa dana sudah sampai di rumah. Ini-lah yang akan diserahkan secara fisik sebagai mas kawin.

Pemilihan reksadana sebagai mas kawin juga menjadi kendaraan investasi kami. Setidaknya, uang Rp 2.010.000 yang kami setor, kini sudah naik nilainya. Kalau tidak salah, awal April lalu sudah menjadi Rp 2.050.000. Menarik, bukan? Uang dolar, emas, dan reksa dana itu semuanya bisa menjadi investasi. Nilainya bisa mengikuti inflasi. Jadi tidak asal dipakai dalam satu hari saja saat akad nikah.

Persiapan mas kawin sudah beres. Aku membeli sebuah bingkai ukuran cukup besar. Di dalam bingkai, aku menyusun uang dolar, emas, dan surat konfirmasi pembelian reksa dana tadi untuk membentuk angka 16-1-2010, sesuai tanggal pernikahan kami.

Dan, ini-lah fotonya....
"...dengan mas kawin berupa 16 Dolar Amerika Serikat, 1 gram emas, dan 2010 unit reksa dana," kata Wahidin, penghulu pernikahan kami saat membacakan mas kawin pernikahan kami. Duh, senang juga mendengar ucapan penghulu yang juga Ketua KUA Kebayoran Baru itu. Tidak sia-sia waktu dan tenaga untuk menentukan mas kawin kami ini. Bagi aku, mas kawinku ini sudah unik dan langka.

Mas kawin kami ini, kini sudah terpajang di dalam kamar dan selalu kami pandangi tiap hari....
Selengkapnya...

Selasa, 20 April 2010

Edy Joenardi: Saham Bumi Menggelembungkan Asetnya Hingga Triliunan

Dengan modal tabungan Rp 62 juta, Edy memberanikan diri bermain saham lima tahun lalu. Siapa sangka, kini nilai portofolio sahamnya membengkak hingga triliunan rupiah. Bagaimana strateginya?

Nama Edy Joenardi tidak hanya familier di kalangan pengusaha, tapi juga di lingkungan pelaku pasar modal. Sejak 2003 ia menginjakkan kaki di lantai bursa. Ia bermain saham melalui sejumlah broker, seperti Kim Eng Securities dan Nikko Securities. Kode booking-nya, i-Jun (baca: ai-jun), sudah sangat dihafal para pialang saham. Aksinya menjual saham Bumi Resources (Bumi) tahun 2008 dengan nilai yang menggemparkan membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Maklum, aksinya itu memberi kontribusi 90% dari total transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ketika awal krisis global mendera.

“Saya tidak bisa sebutkan berapa nilai penjualan saham Bumi milik saya tahun lalu. Yang pasti, sekarang dana likuid saya pribadi dan perusahaan milik saya mencapai Rp 12-12,6 triliun,” ujar Preskom PT Ejra Energy, PT Indonesia Equipment dan i-Capital International itu tanpa bermaksud menyombongkan diri. Padahal, ketika masuk ke pasar modal, ia hanya bermodalkan dana Rp 64 juta.


Capital gain yang diraih Edy dari penjualan saham Bumi terbilang dahsyat. Awalnya, ia membeli saham Bumi dengan harga Rp 400-an/lembar. Pada saat harganya menyentuh level Rp 6.000/lembar, ia pun menjualnya. Waktu itu ia membeli 2 juta lot atau sekitar 1 miliar saham. Maka, capital gain yang diraihnya pun mencapai Rp 5,6 triliun. Ketika saham Bumi jatuh, Edy membelinya lagi di harga Rp 700/lembar sebanyak 1 miliar saham juga. Lalu, menjualnya kembali di harga Rp 1.210/saham. “Kejadian seperti ini bisa berulang-ulang,” ia menandaskan.

Itu baru dari saham Bumi. Hal serupa juga ia dapat dari portofolio saham-saham lain, baik di bursa saham dalam negeri maupun luar negeri. Namun, “Dua tahun belakangan saya lebih banyak bermain di bursa saham negeri. Komposisinya, ia menambahkan, 60% dananya diinvestasikan di bursa saham dalam negeri dan 40% di luar negeri. “Saya juga bermain saham via Internet dengan bursa di luar negeri pada tengah malam,” pehobi basket itu mengungkapkan.

Bagaimana ia bisa membaca situasi pasar bahwa inilah saat yang pas melepas Bumi, padahal waktu itu banyak investor yang justru bersikap menahan diri dengan menyimpan (keep) saham migas itu?

Edy mengaku, sebelum pasar modal Amerika Serikat babak belur tahun lalu, ia berhasil menyelamatkan investasi sahamnya di BEI dari imbas krisis global itu. “Sebelum pasar jatuh, saya mendapat berita tentang market AS dari teman-teman pasar modal di AS, yang waktu itu belum berani diungkapkan oleh Bush atau pemerintah negara tersebut. Pada saat yang bersamaan, harga saham Bumi justru rebound di sini hingga Rp 8 ribuan harganya. Lalu saya jual semua,” tutur pria kelahiran Majalengka, 1969, itu dengan lega. Strategi Edy sungguh jitu. Betul saja, sebulan kemudian krisis di AS itu berdampak bagi Indonesia, khususnya BEI, sampai akhirnya saham Bumi di-suspend.

Selain mengandalkan luasnya jejaring hingga ke bursa luar negeri, Edy mengaku tidak rakus dalam bermain saham manakala trennya rebound. Artinya, ketika harga saham grafiknya menunjukkan kenaikan, ia tidak terlalu serakah menunggu capital gain lebih besar lagi. Yang penting, harga sudah naik di atas harga pembelian, maka cepat-cepatlah dilepas. Daripada menunggu persentase kenaikan lebih gede, tapi yang terjadi sebaliknya, harga-harga saham justru terjungkal.

Tidak sekadar mengambil untung sesaat (profit taking) adalah kiat lain Edy bermain saham. Menurut lulusan Magister Manajemen Prasetiya Mulya ini, investasi saham sebaiknya untuk jangka panjang. Ini dibuktikan dengan imbal hasil yang diraupnya dari pembelian saham Bumi itu.

Jurus lain, ketika harga saham rendah, itulah waktu yang tepat untuk masuk atau membeli. Tip ini dibuktikan Edy dengan keberaniannya membeli kembali saham Bumi saat ini, padahal banyak investor yang sekarang justru menjauhi atau menjual saham Grup Bakrie itu. “Saya tertarik mengambil saham Bumi. Beberapa pemegang saham Bumi yang cukup besar dari luar sudah kontak saya. Mereka menunggu langkah saya selanjutnya untuk menyelesaikan masalah Bumi,” ujar aktivis Partai Golkar itu. Menurutnya, terkait dengan transaksi saham Bumi ini, ia tidak melulu berorientasi bisnis. “Saya dididik lingkungan untuk menghargai senior. Kalau saya cuma berpikir profit, saya bisa bergerak dari tahun lalu,” kata pendiri Edy Joenardi Foundation itu. Adapun besarnya saham Bumi yang dibelinya kini sejumlah 9,8% dari total saham beredar dengan harga Rp 425/lembar. Bagi Edy, saham Bumi prospeknya menjanjikan. Sebab, secara internal Bumi tidak ada masalah, baik itu di Arutmin maupun Kaltim Prima Coal, dan produksinya luar biasa.

Bila kita tarik waktu ke belakang, jurus bermain saham Edy dulu tidak secanggih sekarang. Meski demikian, baru empat bulan setelah masuk ke bursa, ia telah memetik untung -- yang ia gunakan untuk jalan-jalan ke Singapura. “Sebagai pemula, lima tahun lalu saya belum mengenal apa itu profit taking dan semacamnya,” ujar pria yang pernah menjadi kuli di pabrik itu. Namun, dengan ketelatenan dan kecerdasannya dalam menyerap ilmu, ia pun lebih piawai bertransaksi. Apalagi, belakangan pergaulannya merambah ke pialang-pialang asing di Indonesia dan mancanegara.

“Ya, learning by doing. Saya punya keinginan kuat untuk hidup lebih baik. Semua dipelajari sambil berjalan, tidak harus saya ketahui lebih dulu,” ungkapnya. Namun, ia pun mengakui, ada kekuatan lain di luar dirinya sehingga bisa menjadi sosok yang kaya raya seperti sekarang. “Mungkin Allah sudah menggariskannya,” Edy menegaskan.

Tahun ini Edy mengalokasikan dana minimal Rp 6 triliun untuk investasi di saham, obligasi dan sektor riil. Mengapa? Ia berpendapat, keterkaitan harga saham dan sektor riil sangat kuat. Selain itu, secara bertahap ia bakal menambah porsi kepemilikan saham Bumi. “Contohnya, hari ini (10 Maret) saya membeli 600 ribu lembar saham Bumi di harga Rp 472/lembar via Internet dengan broker BNI Securitas,” katanya seraya menambahkan, beberapa sahamnya dibeli atas nama adik dan kakaknya. Sebenarnya selain saham Bumi, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini juga memasukkan saham lain ke dalam keranjang investasinya, antara lain, saham , Bukit Asam dan Antam.

Dalam bermain saham, Edy tidak melulu untung. Sama halnya dengan investor lain, ia pun tak luput dari buntung. “Saya pernah rugi Rp 400 miliar gara-gara kejeblos bermain saham,” ujarnya mengenang pilu. Meski sempat syok, ia segera ingat Allah swt. bahwa semua itu cobaan dan ia pun segera intropeksi. “Mungkin waktu itu saya pamrih atau kurang amal,” katanya menduga. Itulah sebabnya, sejak itu ia selalu menyisihkan sekitar 25% keuntungannya untuk kegiatan sosial. Contohnya, baru-baru ini menyalurkan bantuan sosial Rp 220 miliar dari return main saham ke Edy Joenardi Foundation. Juga, membangun masjid, menyantuni anak yatim, membangun jalan kampung, memberikan 600 traktor (harganya Rp 16-18 juta/unit) kepada petani di berbagai daerah.

Edy juga tercatat sebagai pemilik i-Capital International (ICI) --hedge fund berbasis di Singapura. Perusahaan ini dibesut Edy dengan modal dari koleganya orang asing senilai Rp 2 miliar. Ia bisa pergi ke Singapura berkat keuntungan dari bermain saham. Dan, di Singapura inilah Eddy bertemu partnernya itu.

Ceritanya begini. Kala itu ada seseorang yang meminta berbagi meja untuk menikmati sarapan di Orchid Hotel, tempatnya menginap. “Kami pun mengobrol, saya lalu tahu bahwa dia ingin sekali berbisnis di bidang investasi,” ujarnya. Dari obrolan tersebut, Mr. X (ia menolak menyebut namanya) mengajaknya mendirikan perusahaan investasi.

Lalu, secara intensif kedua orang ini berkomunikasi dan saling mengenal masing-masing. “Saya ajak dia mengenal saya lebih dekat. Saya junjung kejujuran, sampai ia berkunjung ke kos-kosan saya. Tapi, waktu itu saya sudah ngontrak di tempat yang bagus dengan harga Rp 1,4 juta per bulan,” ayah dua anak ini mengenang. Akhirnya, mitranya itu menyerahkan sepenuhnya i-Capital International itu kepada Edy. “Saya sama sekali tidak setor modal, hanya kepercayaan dan berkah dari Allah yang membawa saya seperti sekarang ini,” ia menegaskan.

Edy merasa modalnya hanyalah kejujuran, kemampuannya berkomunikasi dan pengetahuan yang luas yang membuat orang tersebut mempercayakan uang investasinya padanya. “Meski tidak setor modal, saya diberi saham kekayaan intelektual di perusahaan hedge fund itu,” kata lulusan Magister Manajemen dari Prasetiya Mulya. Edy menyebutkan, i-Capital merupakan penyumbang 90% keuntungan usahanya. Perusahaan hedging fund itu 98% investasinya mayoritas di pasar luar negeri. “Saya baru masuk pasar Indonesia 2 tahun lalu,” katanya. Ia menambahkan, minimal investasi di i-Capital setara dengan Rp 2 miliar.

Kini, ICI sudah mengelola dana investor senilai Rp 12 triliun. Nyaris 98% investasi ICI di luar negeri dan baru dua tahun terakhir masuk ke pasar Indonesia. “Tapi, kalau bermain saham pribadi, saya tidak pernah melalui ICI,” ujar Edy yang menyadari hal itu dilakukan agar tidak terjadi konflik kepentingan.

Selain bermain di pasar modal, Edy pun mengelola bisnis di sektor riil. Melalui PT Indonesia Heavy Equipment (IHE) yang dibangun tahun 2008, ia menginjeksikan modal besar yang ia rahasiakan nilainya. Perusahaan ini menyewakan crane yang mampu mengangkat beban 25-600 ton. Pertimbangannya masuk IHE, semua pembangunan infrastruktur pasti membutuhkan crane, sehingga prospeknya cerah. Saat ini kliennya antara lain Freeport, Newmont dan BP Migas.

Ia juga mendirikan PT Ejra Energy (EE) pada 2008. Perusahaan ini bergerak dalam pembuatan tabung gas 3 kg. Kini EE mendapat order dari Wika dan pemenang tender Pertamina. Adapun pabriknya ada dua: di Cikupa, Tangerang, dan di Kawasan Industri Jababeka dengan produksi rata-rata 3-4,5 juta tabung gas tiap bulan.

Kemudian, bekerja sama dengan Grup Summa, Dahana dan Grup Yara dari Swedia, ia melakukan investasi di pabrik amoniak nitrat di Bontang. “Pabrik ini terbesar se-Indonesia dengan kapasitas produksi 350 ribu metrik ton/tahun,” ia mengklaim. Kepemilikan Edy di perusahaan ini sebesar 35% dari total investasi US$ 500 juta. Targetnya, tahun 2011 perusahaan ini sudah jalan. Ia berinvestasi pula di usaha penyewaan rig atau pengeboran minyak bumi. Saat ini ia memiliki empat unit rig dengan kekuatan 450 ribuan pk. Salah satunya disewakan ke Exxon Mobile.

Guna melengkapi investasi rig-nya, Edy pun merambah ke penyewaan rumah terapung (lessee boat) bersama beberapa temannya. Ia menjadi pemilik mayoritas di bisnis ini. Rumah terapung itu diperlukan perusahaan yang akan melakukan pengeboran lepas pantai (offshore). Sarana tersebut digunakan untuk tempat tinggal, rumah sakit, helipad, dan sebagainya dengan harga sewa US$ 75 ribu/hari.

Masih ada beberapa investasi riil Edy lainnya. Misalnya, investasi di pabrik ban untuk alat berat yang terletak di Banten bersama sejumlah kawannya. Juga, ada investasi di usaha percetakan PT Data Print. Perusahaan ini memiliki sekitar 300 unit mesin printing yang tersebar di Bandung, Semarang dan Yogyakarta. Edy mengungkapkan, investasinya di sektor riil itu didanai dari keuntungan bermain saham, valas dan sebagainya.

Keuntungan dari investasi di sektor riil ini pun makin menggemukkan pundi-pundi Edy. EE dan IHE, misalnya, meski baru dirintis, telah menyokong laba lebih dari Rp 800 miliar. Yang menarik, dalam menjalankan bisnis, ia tak hanya menggunakan ilmu bisnis, tetapi juga mengandalkan feeling. Orang-orang di sekitar Edy, seperti para direktur utama di perusahaannya, memang heran dan tidak percaya pada apa yang ia lakukan. Nyatanya, langkah-langkah bisnisnya bisa menghasilkan untung. Dalam memilih saham pun ia cenderung demikian, meski sebelumnya juga melakukan riset melalui Internet dan melihat internal perusahaan.

Di mata perencana keuangan, strategi dan return investasi, Edy nyaris sempurna. “Terus terang saya bingung apa yang mau disarankan ke Edy. Karena saya lihat dia sudah jago kok. Apalagi, dia masuk dalam player yang sedang untung. Dia masuk ke saham yang tepat, masuk ke saham Bumi pun di harga yang tepat. Jelas saja untung gede kalau dia main saham Bumi masuk di harga murah, lalu melepas kala harganya naik. Jika kemudian dia masuk sektor riil, buat saya tidak ada bedanya. Dia investor kakap dan saya yakin dia lebih banyak pengalaman daripada saya,” ujar Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dari Pavillion Wealth Management.

Sumber: Majalah SWA


Selengkapnya...

Senin, 19 April 2010

'Dosa-Dosa' Susno Duadji

Serangan balik membidik Komjen Pol Susno Duadji, sang mantan Kabareskrim Mabes Polri. Gebrakannya yang membuka banyak borok di institusi Polri segera dibalas dengan sidang kode etik yang bisa saja memecatnya sebagai anggota Polri.

Serangan balik lainnya adalah tuduhan Susno ikut menikmati uang pemberian Sjahril Djohan, dan juga beredarnya dokumen aliran dana ke rekening yang diduga milik sang jenderal ini. Di sana terlihat Susno menerima uang miliaran rupiah dari seorang pengacara.

Sebuah dokumen setebal enam lembar diperoleh tim Metro Realitas. Dalam dokumen berlabel ‘sangat rahasia’ ini, diuraikan tentang transaksi keuangan yang melibatkan rekening bank yang disebutkan sebagai milik Susno Duadji. Ada sembilan aliran uang yang masuk ke rekening Susno Duadji di di Bank BCA dan Mandiri. Jmlahnya hampir mencapai empat miliar rupiah. semua aliran ini terjadi pada rentang waku tahun 2007 sampai 2009. Komjen pol Susno Duadji sendiri enggan mengomentari beredarnya dokumen ini. Ia mengatakan seharunya isi rekening seseorang tidak bisa beredar karena merupakan rahasia perbankan.


Di dalam dokumen itu, dari tujuh aliran uang ke rekening susno di BCA, lima diantaranya berasal dari transfer seseorang yang bernama Johnny Situwanda (JS). Johnny juga tercatat pernah mentransfer uang ke rekening Susno di Mandiri, masing-masing Rp 500 juta pada tanggal 11 Maret 2009 dan Rp 600 juta pada tanggal 27 maret 2009.

Johnny adalah seorang pengacara kelahiran Medan, Sumatera Utara. Ia disebutkan pernah menjadi kuasa hukum mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh yang pernah menjadi terpidana kasus korupsi.

Johnny sendiri sampai hari ini memilih untuk tidak muncul ke publik. Saat tim Metro Realitas mendatangi kantor Johnny, pengacara ini tidak bersedia untuk ditemui. Lewat anak buahnya, Johnny hanya memberikan keterangan secara tertulis, yang merupakan hak jawabnya kepada dua media yang pernah memberitakan aliran uang ke Susno dari rekeningnya.

Lewat lembaran dokumen ini, Johnny Situwanda tidak membantah adanya transfer dana dari dirinya ke rekening Susno duadji. Justru Johnny menulis kalau dirinya menyesalkan pihak yang telah membocorkan data transaksi rekening bank-nya. Johnny juga menyebut kalau tidak ada transaksi di rekeningnya dengan Susno yang terkait kasus pidana maupun perdata.

Selain dari Johnny Situwanda, dalam dokumen ini juga disebutkan kalau Susno pernah menerima kiriman uang dari dua nama lain. Salah satunya tertanggal 1 agustus 2008, Susno menerima pengiriman dari seseorang bernama Iskandar ZM. Nilai transfer mencapai Rp 150 juta.

Tim Metro Realitas lantas mencari keberadaan Iskandar ke Bengkulu. Iskandar Zulkarnaen Muin, begitu nama lengkapnya, adalah kepala dinas pekerjaan umum di provinsi ini. Menurut Zulkarnaen, soal transfer itu betul, namun tidak ada urusan dengan kasus. Ia juga baru sekali mentransfer uang ke Susno dalam kaitan bisnis. “Ada bisnis biasa. Kita biasa saling pinjam kok,” katanya.

Iskandar Zulkarnaen memang sedang bermasalah di daerahnya. Kepala Dinas PU Bengkulu ini pernah tersandung kasus korupsi penyaluran anggaran bencana senilai Rp 7,3 miliar. Hanya saja, Iskandar menampik transfer uang ke Susno dikaitkan dengan kasus yang tengah dihadapinya. Zulkarnaen mengaku, urusan duit itu sudah biasa mereka lakukan. Pasalnya, dirinya dan Susno tak lain adalah kerabat dekat.

Sosok Zulkarnaen Muin ini memang cukup menarik. Meski telah divonis bersalah oleh PN Bengkulu atas kasus korupsi penyaluran anggaran bencana alam di bengkulu senilai Rp 7,3 miliar, ia tidak pernah ditahan. Saat itu, ia divonis delapan bulan penjara. Dalam upaya bandingnya, vonis malah makin berat menjadi menjadi satu tahun enam bulan. Anehnya, hingga kini Zulkarnaen tak pernah dijebloskan di balik jeruji besi penjara. Namun zulkarnaen membantah penangguhan penahanan dirinya dikaitkan dengan posisi Susno sebagai pejabat di Mabes Polri. “Itu krn dijamin oleh keluarga, pengacara dan pemerintah. Saya sering bertemu Susno tapi itu hanya pertemanan saja,” katanya.

Pengakuan Sjahril Djohan
Sjahril djohan akhirnya menjadi tersangka dan ditahan. Mantan diplomat ini menjadi tersangka dengan tuduhan menjadi bagian dari makelar kasus di Kepolisian Negara Republik Indonesia/ atau Mabes Polri.

Adalah Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji yang pertama kali membongkar kasus perekayasaan perkara Gayus Tambunan. Dan Susno juga-lah yang pertama kali membuka topeng seorang Sjahril Djohan dalam rapat dengan Komisi 3 DPR.

Kini, serangan balik mulai menuju ke arah Susno Duadji, yang sejak awal disebut sebagai whistle blower alias pembongkar pertama markus di Mabes Polri yang kini sedang heboh-hebohnya. Yang terbaru adalah beredarnya berita acara pemeriksaan yang disebutkan sebagai BAP si Mr X alias Sjahril Djohan.

Dalam BAP ini, Sjahril mengaku pernah memberikan uang Rp 500 juta kepada Susno di rumah sang jenderal. Uang tersebut adalah titipan pengacara Haposan Hutagalung, dan terkait perkara arwana di Riau. Sjahril menyerangkan uang kepada Susno di rumah sang jenderal di jalan Abu Serin, Fatmawati, Jakarta Selatan. Bahkan, seorang perwira polri berpangkat AKBP, menjadi saksi kedatangan Sjahril ke rumah Susno pada hari itu.

Susno membantah isi berita ini. Pihak sjahril lewat pengacaranya, Hotma Sitompul juga membantah ikut membocorkan BAP kliennya. Sedangkan pihak Mabes Polri meminta wartawan untuk tidak segera mempercayai isi BAP yang tidak jelas sumbernya itu.

Susno memang pernah mengungkapkan sebuah kasus di Riau saat rapat dengan Komisi 3. Kasus bersandi ‘arwana’ ini disebutkan juga ‘dimarkuskan’ oleh kelompok yang sama dengan kasus gayus tambunan. Komjen Pol Susno Duadji menyebut kasus arwana ‘dimarkuskan’ oleh komplotan yang sama dengan kasus Gayus Tambunan, yakni trio kelompok Sjahril Djohan – Andi Kosasih- dan Haposan Hutagalung.

PT PT Salmah Arwana Lestari (SAL) tak lain adalah perusahaan penangkaran ikan arwana milik Anuar Salmah alias Amo. Perusahaan penangkaran ikan hias langka yang beromzet miliaran rupiah ini, kini sedang disidik di Mabes Polri. Amo, si pemilik usaha, dituduh telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan senilai 11 juta dollar Singapura. Pelapornya adalah Ho Kian Huat, pemilik PT Rainbow Aquarium yang berdomisili di Singapura, yang menjadi investor PT SAL.

Yang jadi persoalan, PT SAL sebenarnya sudah menang dalam gugatan perkara perdata dalam kasus yang sama. Anehnya, kini perusahaan penangkaran ikan hias yang berdomisili di kabupaten siak, Riau ini, justru dituding melakukan penipuan dan penggelapan oleh pihak yang sama, yakni investornya sendiri. Bahkan, polisi lebih mendahulukan laporan PT Rainbow ini daripada laporan PT SAL. Disinilah, kata Susno, peran markus beraksi.

10 Pelanggaran Susno Duadji
Penangkapan Susno Duadji yang akan berangkat ke singapura pada tanggal 12 april 2010 lalu di Bandara Soekarno-Hatta, bisa jadi menjadi puncak perseteruan antara dirinya dengan Mabes Polri. Mabes Polri beralasan, Susno dicegah pergi ke Singapura karena tidak punya izin dari Kapolri untuk pergi ke luar negeri.

Perkara pergi ke luar negeri tanpa izin ini menambah panjang daftar pelanggaran Susno Duadji sebagai seorang anggota polri. Sejak dicopot sebagai kabareskrim, Susno memang acapkali melakukan aktifitas yang membuat Mabes Polri gerah. Pasalnya, aktifitas tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan institusi Polri, dan cenderung menyerang kewibawan Polri.

Kini, beredar dokumen berlogo Polri yang berisi daftar perbuatan komjen pol Susno Duadji yang dianggap melanggar kode etik dan displin sebagai anggota Polri. Ada 10 ‘dosa’ Susno diluar kepergiannya ke Singapura tanda izin tadi.

Semua kesalahan Susno ini sudah disidik, termasuk memeriksa para saksi dan mengumpulkan barang bukti. Bahkan, saksi ahli yang memberatkan Susno juga kabarnya sudah dimintai keterangan. Ancaman pemecatan sebagai anggota polri pun sudah mengintai Susno. Dalam dokumen tersebut, direkomendasikan agar mantan kabareskrim itu diberhentikan secara tidak hormat.

Belum jelas bagaimana dokumen ini bisa beredar bebas. Yang pasti, Susno memang segera dipanggil lagi untuk diperiksa, yang mungkin akan berujung pada sidang pelanggaran kode etik. Susno sendiri sampai hari belum pernah diperiksa di Propam Mabes Polri. Ia memang sudah pernah datang memenuhi undangan pemeriksaan, namun saat itu ia menolak diperiksa. Ancaman menggelar sidang kode etik secara in ubsentia (tanpa kehadiran terperiksa/tersangka) pun mengancam Susno.

Catatan: artikel ini sudah ditayangkan dalam program Metro Realitas di Metro TV, edisi Senin, 19 April 2010, pukul 23.05 WIB.
Selengkapnya...

Kamis, 15 April 2010

Dari Fessy Alwi sampai Ziza Hamzah

Tanpa sengaja, ritual pencet-memencet remote TV berhenti di layar ANTV. Rupanya sedang tayang program Topik Siang. Aku menahan jari yang ingin segera pindah stasiun TV lagi. Aku tertarik dengan si pembaca acara program berita di stasiun TV milik grup Bakrie ini. Nama pembaca beritanya Ziza Hamzah. Sambil menonton, aku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Kalau tidak salah, presenter berwajah Arab ini dulunya adalah salah satu penyiar Indosiar. Ya...memang aku tidak salah. Aku jadi ingat, dulu beberapa kali melihatnya bersiaran di Fokus Siang atau Patroli, dua program berita di Indosiar.

Sambil terus menyaksikan Ziza Hamzah membawakan berita, aku mengingat-ingat tentang pengalaman mengamati dunia para presenter berita di Indonesia. Dunia mereka seakan mirip selebritis, yang dipuja penggemarnya. Coba saja browsing tentang penyiar berita di internet. Akan ditemukan forum yang membahas tentang penyiar berita favorit mereka lengkap dengan komentar-komentar lucu, unik, dan terkadang nakal. Banyak juga artikel blog yang membahasnya. Para penulis blog tadi juga melengkapi dengan foto yang tampaknya hasil memotret sang presenter saat sedang muncul di layar TV. Salah satunya aku copy ke dalam artikel ini.


Entah apa alasan seorang Ziza Hamzah akhirnya berlabuh di ANTV. Yang pasti loncat-meloncat memang sudah biasa di kalangan penyiar berita. Ada yang sukses menaikkan nama mereka di stasiun baru, namun ada juga yang akhirnya malah tenggelam dan akhirnya hilang entah kemana setelah keluar dari stasiun TV lama mereka. Ada yang pindah karena motivasi tidak nyaman lagi di stasiun yang lama, karena dibajak, atau ikut rombongan sesama rekan-rekan mereka ke stasiun baru.

Fessy Alwi, yang kini menjadi penyiar berita di Metro TV, sebelumnya adalah awak dari ANTV. Boleh dikata, nama Fessy Alwi makin berkibar setelah hijrah ke Metro TV. Saat ini, penyiar berwajah Arab ini menjadi salah satu penyiar utama di stasiun TV berita pertama di Indonesia ini. Ia menjadi andalan di program berita utama, acara talkshow, atau program breaking news. Selain Metro TV dan ANTV, Fessy Alwi juga tercatat pernah menjadi penyiar berita di RCTI.

Selain Fessy Alwi, ritual pindah stasiun TV juga dilakoni oleh banyak presenter berita lain. Di Metro TV ada Eva Julianti yang sebelumnya di SCTV, dan Nina Melinda yang sebelumnya di Trans7. Di RCTI ada Isyana Bagoes Oka yang sebelumnya di Trans7. Di ANTV, selain Ziza Hamzah, ada Fitri Megantara yang sebelumnya mengudara di Trans TV dan Astro TV.

Sebenarnya ada yang menarik kalau berbicara tentang ANTV. Ketika TV ini berusaha memperbaiki citra dengan mengubah format acara dan wajah pada tahun 2006 silam, mereka banyak membajak penyiar berita dari stasiun TV lain. Ada nama Fessy Alwi (RCTI), Valerina Daniel (Metro TV), Indy Rahmawati (SCTV), dan Grace Natalie (SCTV). Namun, rupanya program berita ANTV masih belum bisa mengalahkan TV lain. Akhirnya, semua presenter tadi pun memilih hengkang.

Beberapa orang memilih pindah ke Lativi, yang kemudian berganti nama menjadi TvOne dengan format stasiun berita. TV ini memang terlihat gencar membajak presenter berita yang dianggap punya karaktar kuat dari hati pemirsa. Ada nama Indy Indy Rahmawati dan Grace Natalie dari ANTV. Ada Alfito Diannova dan Indiarto Priadi dari SCTV. Tina Talisa, yang pindah dari Trans TV, juga makin naik daun begitu hijrah ke TvOne. Nama lain adalah Rahma Sarita dari Metro TV dan Ratna Dumila dari Trans TV.

Sekali lagi, ada presenter berita yang makin ngetop setelah pindah stasiun, namun ada juga yang akhirnya tenggelam dan menghilang begitu mereka lompat....

Selengkapnya...

Rabu, 14 April 2010

Tas Sisa Kebakaran pun Habis Terjual


Ini kisah tentang para pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang kios mereka baru saja musnah terbakar pada 11 Maret 2010 dinihari lalu. Bagi mereka, tidak ada gunanya bersedih berlama-lama. Yang harus segera dilakukan adalah sesegera mungkin kembali berdagang, walaupun belum ada pengganti ruko. Mereka pun terpaksa berjualan di pinggiran lokasi Pasar Inpres Senen yang terbakar. Beragam hal unik nan jenaka mereka alami.

“Tiap hari kami tertawa-tawa saja sambil jualan. Tidak ada gunanya bersedih. Bahkan, penjualan kami tetap ada, walau tempat jualannya darurat,” kata Bu Kiap Sebayang saat ditanya bagaimana kondisinya setelah kebakaran lalu.


Ibu (yang bahasa Karo-nya adalah nande) ini adalah salah satu korban kebakaran. Tokonya yang penuh dengan pakaian, habis terbakar. Hal yang sama juga dialami oleh delapan anggota keluarganya yang lain. Maklum saja, anak-anaknya serta beberapa beberapa saudara kandung Ibu ini, juga menjadi korban su jago merah itu. Sebagian besar adalah pedagang grosir tas. Beberapa diantara mereka ini pun membagi cerita unik dan jenaka tentang pengalaman mereka berjualan setelah musibah itu.

“Saya heran juga dengan para pembeli yang datang ke Senen. Ada penjual tas yang menjual tas-tas dan dompet yang tidak ikut terbakar. Tas itu semua telah basah dan warnanya hitam yang mungkin terkena arang. Tas yang masih lumayan bagus, dijual 20 ribu. Laku sekali. Tas yang agak lusuh dijual 10 ribu, dan itupun habis. Bahkan, dompet yang warnanya sudah hitam pekat terkena arang, masih laku dijual lima ribu rupiah. Benar-benar tidak disangka. Padahal tangan si pembeli itu juga jadi kotor warna hitam saat memilih tas,” kata Nande Dedy, yang masih bersaudara dengan Nande Kiap.

Sambil menunggu kios yang sedang direnovasi kembali, Nande Kiap dan para pedagang lain memilih berdagang di pinggir pasar yang terbakar. Ada yang di dekat trotoar, dan ada juga yang di halaman pasar dimana masih menumpuk sampah-sampah sisa kebakaran. Mereka mengggelar barang dagangan di bawah atap terpal seadanya. Beberapa kali hujan turun dan mereka pun menikmatinya dengan penuh tawa saja.

“Kalau sedang tidak ada pembeli, kami hanya ngobrol-ngobrol dan tertawa. Sesekali kami berteriak menanyakan gimana kabar kawan kami yang di sebelah sana, yang jawabannya pasti mengundang tawa. Pokoknya ramai sekali,” Kata Nande Kiap yang bercerita penuh semangat.

Karena berjualan di atas sisa-sisa puing kebakaran, kaki mereka pun acapkali berwarna hitam saat pulang ke rumah. Belum lagi sesak napas yang mereka alami akibat menghirup debu sisa kebakaran. Bahkan, hingga kini Nande Kiap masih mengaku mengalami gangguan pernapasan.

Yang menggembirakan mereka, rupanya rejeki tetap ada di tengah musibah. Mereka mengaku masih mampu menjual barang dagangan dengan angka lumayan untuk menjaga dapur tetap berasap. Bahkan, beberapa kali hasil penjualan di luar perkiraan mereka. Suatu hari ada orang yang membeli ratusan pasang sendal yang mereka jual. Padahal hal demikian dulunya sangat jarang terjadi. Karena itu, para pedagang ini tetap optimistis berjualan sambil menunggu kios yang selesai direnovasi.

Dan, yang pasti senyum dan tawa mereka terlihat jelas. “Buat apa bersedih. Harus tetap berusaha dengan hati penuh suka cita. Tuhan Dibata pasti membantu,” kata Nande Kiap di ujung pembicaraan.
Selengkapnya...

Senin, 05 April 2010

Nyanyian Gayus Tambunan

Tersangka kasus mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan mulai bernyanyi. Selain nama-nama sejumlah aparat hukum, Gayus juga menyebut beberapa nama koleganya di Direktorat Jenderal Pajak yang terlibat dalam kasus penggelapan pajak. Pengakuan ini didapat setelah Gayus menyerahkan diri ke polisi. Dam utuk kedua kalinya, Gayus resmi menjadi tersangka kasus korupsi, pencucian uang, dan penggelapan pajak. Kasus besarnya adalah terkait uang Rp 28 miliar di rekeningnya.

Duit super jumbo sebesar Rp 28 milyar di rekening Gayus awalnya terdetiksi oleh sensor Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK. Duit itu antara lain diduga hasil kongkaling Gayus dengan sejumlah perusahaan yang persoalanan pajaknya sedang ia tangani. Berdasarkan data yang diperoleh tim Metro Realitas, ada sekitar 149 perusahaan yang proses persoalan pajaknya melibatkan Gayus. Sejumlah nama perusahaan besar ada dalam daftar ini.


Memang belum dibuktikan perusahaan mana saja yang telah bermain mata dengan Gayus. Namun, yang pasti, sebanyak 80 % aduan yang ditelaah Gayus/ akhirnya dimenangkan oleh si wajib pajak tersebut. Buntutnya adalah, negara harus mengembalikan uang kelebihan pembayaran pajak kepada perusahaan tersebut. Jumlahnya tak main-main, bisa mencapai angka ratusan milyar rupiah. Dari sinilah Gayus diduga mendapat tanda terima kasih dari wajib pajak perusahaan besar itu.

Dalam menjalankan aksinya, Gayus berkomplot dengan konsultan pajak. Salah satu rekanan pria lulusan sekolah tinggi akutansi negara (STAN) ini adalah Roberto Santonius. Dalam aliran dana yang ditelusuri PPATK, Roberto Santonius tercatat menyetor Rp 25 juta ke rekening Gayus yang disebut sebagai uang pinjaman. Kini, polisi pun sudah menjadikan Roberto sebagai tersangka dalam komplotan mafia pajak.

Sesuai KTP-nya, Roberto Santonius tinggal di Perumahan Daan Mogot Estate, Cengkareng, Jakarta Barat. Namun rumah tersebut kini dalam keadaan kosong. Satpam kompleks perumahan ini mengatakan, rumah Roberto sudah hampir setahun kosong. Itulah sebabnya, surat panggilan pemeriksaan dari Mabes Polri untuk konsultan pajak ini, dititipkan di pos satpam. Surat panggilan pemeriksaan dari Mabes Polri ini tertanggal 30 maret 2010 dan ditandatangani oleh Direktur II Tindak Pidana Ekonomi Khusus Brigjen Pol Raja Erizman.

Salah satu tetangganya mengungkapkan, Roberto santonius dikenal sebagai konsultan pajak yang berkantor di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Ia pun dikenal kaya di lingkugannya. Bahkan setahun lalu, Robert membeli rumah di Pantai Indah Kapuk, sebuah perumahaan super mewah di pinggir pantai Jakarta Utara.

Tersangka lain yang sudah ditahan polisi adalah Alif Kuncoro. Ia dituduh memberikan keterangan palsu saat diperiksa sebagai saksi terhadap Gayus Tambunan pada bulan september 2009 lalu. Dalam keterangannya saat itu, Alif yang mengaku memiliki bengkel motor, mengaku mentransfer uang ke rekening gayus Rp 35 juta untuk membayar utangnya.

Selain itu, Alif Kuncoro juga disebut-sebut turut berperan dalam pemberian satu motor Harley Davidson seharga RP 400 juta untuk Komisaris Polisi Muhammad Arafat Enanie. Motor tersebut sebagai hadiah dari Gayus karena Arafat telah mengatur agar pemblokiran rekening pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu dicabut.

Tersangka lain dalam mafia hukum terkait gayus tambunan adalah Haposan Hutagalung. Mantan pengacara Gayus ini dituduh sebagai dalang untuk menyusun skenario untuk membagi-bagi uang miliaran rupiah milik Gayus setelah divonis bebas majelis hakim pengadilan negeri tangerang 12 maret 2010. Namun, Haposan membantah keras tuduhan itu.

Adalah andi kosasih yang mendapatkan peran sebagai orang yang mengaku pemilik uang Rp 24, 6 miliar di rekening Gayus sehingga akhirnya hanya sekitar Rp 400 juta yang dianggap bermasalah. Caranya adalah dengan membuat surat perjanjian kerja sama andi kosasih dengan gayus tambunan dalam hal proyek penyediaan tanah di Jakarta Utara.

Akibat kongkalikong ini, polisi membuka blokir rekening Gayus, dan uang akhirnya mengalir kemana-mana. Andi Kosasih sendiri kebagian hampir dua miliar rupiah. Kini andi kosasih sudah ditahan dan dituduh ikut dalam praktek mafia hukum yang melibatkan Gayus Tambunan dan aparat penegak hukum.

Hingga kini/ sudah tujuh tersangka yang ditahan dalam kasus mafia hukum perekayasaan kasus Gayus Tambunan. Jumlah ini diperkirakan akan segera bertambah. Apalagi, kasus mafia pajak-nya masih terus ditusuri.

Artikel ini merupakan bagian dari kisah yang diungkap dalam program Metro Realitas edisi Senin, 5 April 2010, pukul 23.05, di layar Metro TV, dengan judul "Nyanyian Gayus Tambunan".

Selengkapnya...

Kamis, 01 April 2010

Saham itu Judi

Beberapa waktu lalu, terjadi diskusi yang sengit dengan seorang kawan. Topiknya bukan soal Gayus Tambunan, pegawai Ditjen Pajak yang ketahuan memiliki uang Rp 28 Miliar di dalam rekeningnya. Bukan juga soal kasus Bank Century yang sudah antiklimaks pasca rapat paripurna DPR. Apalagi berhubungan dengan Mafia Kasus atau Markus yang sedang hot-hotnya dibahas di koran atau layar TV. Ini tentang saham. Ya, tentang saham. yang menjadi perdebatan adalah, si kawan tersebut terus saja menyebut investasi di saham oti adalah sama saja dengan bermain judi. "Main saham itu sama dengan judi. Haram!," kata kawan tersebut.


Perdebatan berawal ketika kami membahas tentang menabung di bank yang tidak lagi menguntungkan. Si kawan tadi mengeluh tentang tabungannya yang berkurang saban bulan. Padahal, dalam mindset-nya, menabung adalah cara untuk melipatgandakan uangnya. Celakanya, yang ia alami kini adalah sebaliknya. Uangnya malah tergerus karena bunga tidak bisa menuntup biaya.

Sebagai kawan yang baik (hehehe), aku pun menjelaskan kepadanya sejumlah investasi lainnya di luar menabung di bank. Aku menjelaskan kepadanya tentang tabungan rencana yang kini banyak dikeluarkan oleh sejumlah bank, obligasi, ORI, Reksadana, hingga saham. Nah, saat menyebutkan saham tadi, si kawan langsung menyambar dengan mengatakan, main saham itu sama dengan judi. Makanya haram.

Menurut si kawan tadi, orang membeli saham karena berharap harga sahamnya naik. Nah, saat sudah naik, maka saham kembali dijual untuk mendapatkan untung. Dalam membeli saham tadi, orang-orang selalu asal beli. Si pembeli juga tidak tahu untuk apa uang hasil penjualan saham tadi. Singkat kata, si kawan kembali mengatakan, "saham itu judi."

sebagai orang yang sudah melek investasi pasar modal (ciela.....), aku pun berusaha 'mencuci otak' si kawan itu. Kepadanya berkali-kali aku mengatakan kalau investasi di saham itu bukan judi karena dalam berinvestasi, kita harus memiliki banyak pengetahuan tentang saham, tentang perusahaan yang sahamnya mau kita beli, dan juga tentang perekonomian indonesia, dan bahkan dunia. Artinya, dalam investasi di saham, ada banyak kalkulasinya. Ini jelas berbeda dengan bermain judi yang kita tinggal menunggu mukjizat dari setan saja untuk menang. Mengapa dari setan? Ya jelas dari setan dong. Agama sudah mengatakan judi itu haram, jadi masak pemain judi mengharapkan mukjizat dari Tuhan. Ya ga bisa dong. Hehehe....

Kepada si kawan yang sepertinya sangat konservatif dalam soal mengelola uang itu, aku menjelaskan kalau dalam membeli sebuah saham, kita harus tahu kondisi perusahaaannya. Istilah dalam sahamnya, kita harus melakukan analisa fundamental si perusahaan itu. Dengan membeli sahamnya, maka sama saja kita memberikan tambahan modal kepada perusahaan itu, dengan harapan kinerja akan semakin meningkat. Kalau kinerja meningkat, maka pendapatan akan meningkat pula. Kalau pendapatan meningkat, sudah pasti perusahaan semakin besar. Kalau sudah besar, maka harga perusahaan pasti makin mahal kalau memang mau di jual.

Dengan demikian, bila kita beli saham sebuah perusahaan dengan harga Rp 100. Ternyata setahun kemudian perusahaan itu semakin besar dan menggoda orang lain untuk ikutan menjadi pemiliknya dengan bersedia membeli sahamnya dengan harga Rp 200. Karena kita memilik sahamnya, bisa saja kita menjual saham kita tadi dengan harga Rp 200. Itu artinya, dalam setahun uang kita naik Rp 100 atau 100%. Itu kalau mau dijual. Kalaupun tidak, ya tidak apa-apa. Siapa tahu 10 tahun lagi hargnya sudah menjadi Rp 100.000. Amin....

Jadi dimana letak judinya? Si kawan itu semakin bingung..... :-)


Selengkapnya...