Jumat, 23 April 2010

Diskusi Intelijen soal Susno Duadji

Mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak dan dahsyat, adalah salah satu kenikmatan menjadi wartawan. Apalagi, informasi yang dahsyat itu seringkali diembel-embeli dengan kata "off the record" oleh si pemberi informasi.

Akibatnya, cerita yang muncul di media sering kali hanya kulit terluar dari seluruh informasi yang diperoleh si wartawan. Tapi, kalaupun tidak ada embel-embel kata tadi, seorang wartawan yang masih punya "otak", pasti tidak akan menelan mentah-mentah semua informasi tadi dan menuangkannya dalam laporan jurnalistik mereka. Pasalnya, semua info tadi perlu konformasi yang mendalam dari orang-orang yang dituduh terlibat, walau sekilas info tersebut memang masuk akal. Mengungkap semua sama saja dengan bunuh diri.

Misalkan saja ketika kasus Antasari Azhar terkait pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, sedang ramai-ramainya dikupas. Seorang narasumber di lingkaran Antasari pun membeberkan sejumlah kisah tentang apa dan siapa di balik kasus ini. Muncullah nama-nama lain yang diberitakan ikut terlibat dalam kasus ini. Nama-nama hebat pun disebut-sebut, mulai tokoh militer, menteri, direktur perusahaan, hingga presiden. Semua kisah ini dibingkai dengan alur cerita yang sepertinya sangat-sangat masuk akal. Soal kebenaranya? Mmmm.... walahualam.


Ini-lah yang sering diperoleh jurnalis ketika sedang menelusuri sebuah kasus. Ada saja kisah-kisah lain yang lebih seru diperoleh. Kisah-kisah tadi mirip cerita konspirasi intelijen atau konspirasi politik yang sering dikupas di film-film Hollywood. Mendengarkannya sangat asyik, sehingga sering muncul celetukan, "oooo", "oooooo...." dan "Oooooo...." yang panjang.

Kisah yang paling baru adalah tentang fenomena Susno Duadji, yang sudah hampir setengah tahun ini menjadi tokoh pemberitaan. Mengapa seorang Susno berani membongkar mafia kasus (markus) di Polri, rumahnya sendiri? Siapa yang melindunginya? Mungkin dua pertanyaan ini sering muncul di benak masyarakat. Dan, kalau kita diskusi dengan orang-orang yang ada di lingkaran pemerintahan soal kasus ini, apakah itu pejabat tingkat nasional, petinggi militer/polri, atau tokoh politik, maka beragam cerita yang penuh konspirasi akan dibeberkan dengan begitu semangatnya. Apa saja kisah-kisah itu, saya sendiri enggan untuk mengungkapkannya di forum ini.

Namun, di detikcom hari ini, ada sebuah berita yang kalau kita gali, penuh dengan kisah-kisah konspirasi tadi. Ini dia berita yang menarik perhatian saya itu:

Markus Pajak Rp 28 M
Anggota DPR: Susno Duadji Sedang Kirim Sinyal Politik untuk Seseorang

Jakarta - Proses penyelidikan persoalan makelar kasus (markus) pajak Rp 28 miliar Gayus Tambunan yang diungkap oleh Komjen Pol Susno Duadji memerlukan analisa dan kepekaan yang mendalam. Bukan tidak mungkin, Susno sedang mengirim sinyal politik tertentu kepada seseorang.

Sinyalemen itu disampaikan Anggota Komisi III DPR, Pieter Zulkifli, di Jakarta, Jumat (23/4/2010).

"Diperlukan analisa mendalam, dan kepekaan mempelajari apa sebenarnya yang diharapkan Susno. Walaupun statement Susno tentang reformasi Polri perlu digaris bawahi, kita berharap SD jujur. Sebab ada analisa bahwa tindakan Susno membongkar kasus Gayus Tambunan, sebenarnya untuk mengirim semacam pesan politik pada seseorang," ungkap Pieter.

Namun Pieter enggan menjelaskan lebih detil lagi tentang sinyal politik yang dimaksudnya. Begitu pula dengan pihak yang dituju oleh Susno.

Pieter juga menilai, kasus mafia pajak ini sudah melebar dan lintas institusi dan departemen. Karena itu, sambung Pieter, perlu kearifan serta analisa politik dan hukum yang lebih dalam lagi.

"Bukan saling mencaci-maki. Jasa Susno tidak sedikit, walaupun akhir-akhir ini dia memasuki wilayah politik untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. Dan saat ini mulai muncul pihak-pihak yang akan memainkan situasi ini agar muncul instabilitas politik baru bahkan dengan target untuk mendapatkan bargaining position," ungkap Pieter.

Di sisi lain, Pieter juga berharap penyidik Polri bertindak profesional dalam memeriksa Susno. Jika memang ditemukan indikasi kuat ada pelanggaran hukum, penyidik jangan ragu-ragu menetapkan Susno sebagai tersangka.

"Itulah sejatinya negara hukum, harus memegang teguh prinsip persamaan di muka hukum," tegas Pieter. (djo/ndr)

Atau, selengkapnya baca saja di sini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar