Senin, 19 April 2010

'Dosa-Dosa' Susno Duadji

Serangan balik membidik Komjen Pol Susno Duadji, sang mantan Kabareskrim Mabes Polri. Gebrakannya yang membuka banyak borok di institusi Polri segera dibalas dengan sidang kode etik yang bisa saja memecatnya sebagai anggota Polri.

Serangan balik lainnya adalah tuduhan Susno ikut menikmati uang pemberian Sjahril Djohan, dan juga beredarnya dokumen aliran dana ke rekening yang diduga milik sang jenderal ini. Di sana terlihat Susno menerima uang miliaran rupiah dari seorang pengacara.

Sebuah dokumen setebal enam lembar diperoleh tim Metro Realitas. Dalam dokumen berlabel ‘sangat rahasia’ ini, diuraikan tentang transaksi keuangan yang melibatkan rekening bank yang disebutkan sebagai milik Susno Duadji. Ada sembilan aliran uang yang masuk ke rekening Susno Duadji di di Bank BCA dan Mandiri. Jmlahnya hampir mencapai empat miliar rupiah. semua aliran ini terjadi pada rentang waku tahun 2007 sampai 2009. Komjen pol Susno Duadji sendiri enggan mengomentari beredarnya dokumen ini. Ia mengatakan seharunya isi rekening seseorang tidak bisa beredar karena merupakan rahasia perbankan.


Di dalam dokumen itu, dari tujuh aliran uang ke rekening susno di BCA, lima diantaranya berasal dari transfer seseorang yang bernama Johnny Situwanda (JS). Johnny juga tercatat pernah mentransfer uang ke rekening Susno di Mandiri, masing-masing Rp 500 juta pada tanggal 11 Maret 2009 dan Rp 600 juta pada tanggal 27 maret 2009.

Johnny adalah seorang pengacara kelahiran Medan, Sumatera Utara. Ia disebutkan pernah menjadi kuasa hukum mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh yang pernah menjadi terpidana kasus korupsi.

Johnny sendiri sampai hari ini memilih untuk tidak muncul ke publik. Saat tim Metro Realitas mendatangi kantor Johnny, pengacara ini tidak bersedia untuk ditemui. Lewat anak buahnya, Johnny hanya memberikan keterangan secara tertulis, yang merupakan hak jawabnya kepada dua media yang pernah memberitakan aliran uang ke Susno dari rekeningnya.

Lewat lembaran dokumen ini, Johnny Situwanda tidak membantah adanya transfer dana dari dirinya ke rekening Susno duadji. Justru Johnny menulis kalau dirinya menyesalkan pihak yang telah membocorkan data transaksi rekening bank-nya. Johnny juga menyebut kalau tidak ada transaksi di rekeningnya dengan Susno yang terkait kasus pidana maupun perdata.

Selain dari Johnny Situwanda, dalam dokumen ini juga disebutkan kalau Susno pernah menerima kiriman uang dari dua nama lain. Salah satunya tertanggal 1 agustus 2008, Susno menerima pengiriman dari seseorang bernama Iskandar ZM. Nilai transfer mencapai Rp 150 juta.

Tim Metro Realitas lantas mencari keberadaan Iskandar ke Bengkulu. Iskandar Zulkarnaen Muin, begitu nama lengkapnya, adalah kepala dinas pekerjaan umum di provinsi ini. Menurut Zulkarnaen, soal transfer itu betul, namun tidak ada urusan dengan kasus. Ia juga baru sekali mentransfer uang ke Susno dalam kaitan bisnis. “Ada bisnis biasa. Kita biasa saling pinjam kok,” katanya.

Iskandar Zulkarnaen memang sedang bermasalah di daerahnya. Kepala Dinas PU Bengkulu ini pernah tersandung kasus korupsi penyaluran anggaran bencana senilai Rp 7,3 miliar. Hanya saja, Iskandar menampik transfer uang ke Susno dikaitkan dengan kasus yang tengah dihadapinya. Zulkarnaen mengaku, urusan duit itu sudah biasa mereka lakukan. Pasalnya, dirinya dan Susno tak lain adalah kerabat dekat.

Sosok Zulkarnaen Muin ini memang cukup menarik. Meski telah divonis bersalah oleh PN Bengkulu atas kasus korupsi penyaluran anggaran bencana alam di bengkulu senilai Rp 7,3 miliar, ia tidak pernah ditahan. Saat itu, ia divonis delapan bulan penjara. Dalam upaya bandingnya, vonis malah makin berat menjadi menjadi satu tahun enam bulan. Anehnya, hingga kini Zulkarnaen tak pernah dijebloskan di balik jeruji besi penjara. Namun zulkarnaen membantah penangguhan penahanan dirinya dikaitkan dengan posisi Susno sebagai pejabat di Mabes Polri. “Itu krn dijamin oleh keluarga, pengacara dan pemerintah. Saya sering bertemu Susno tapi itu hanya pertemanan saja,” katanya.

Pengakuan Sjahril Djohan
Sjahril djohan akhirnya menjadi tersangka dan ditahan. Mantan diplomat ini menjadi tersangka dengan tuduhan menjadi bagian dari makelar kasus di Kepolisian Negara Republik Indonesia/ atau Mabes Polri.

Adalah Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji yang pertama kali membongkar kasus perekayasaan perkara Gayus Tambunan. Dan Susno juga-lah yang pertama kali membuka topeng seorang Sjahril Djohan dalam rapat dengan Komisi 3 DPR.

Kini, serangan balik mulai menuju ke arah Susno Duadji, yang sejak awal disebut sebagai whistle blower alias pembongkar pertama markus di Mabes Polri yang kini sedang heboh-hebohnya. Yang terbaru adalah beredarnya berita acara pemeriksaan yang disebutkan sebagai BAP si Mr X alias Sjahril Djohan.

Dalam BAP ini, Sjahril mengaku pernah memberikan uang Rp 500 juta kepada Susno di rumah sang jenderal. Uang tersebut adalah titipan pengacara Haposan Hutagalung, dan terkait perkara arwana di Riau. Sjahril menyerangkan uang kepada Susno di rumah sang jenderal di jalan Abu Serin, Fatmawati, Jakarta Selatan. Bahkan, seorang perwira polri berpangkat AKBP, menjadi saksi kedatangan Sjahril ke rumah Susno pada hari itu.

Susno membantah isi berita ini. Pihak sjahril lewat pengacaranya, Hotma Sitompul juga membantah ikut membocorkan BAP kliennya. Sedangkan pihak Mabes Polri meminta wartawan untuk tidak segera mempercayai isi BAP yang tidak jelas sumbernya itu.

Susno memang pernah mengungkapkan sebuah kasus di Riau saat rapat dengan Komisi 3. Kasus bersandi ‘arwana’ ini disebutkan juga ‘dimarkuskan’ oleh kelompok yang sama dengan kasus gayus tambunan. Komjen Pol Susno Duadji menyebut kasus arwana ‘dimarkuskan’ oleh komplotan yang sama dengan kasus Gayus Tambunan, yakni trio kelompok Sjahril Djohan – Andi Kosasih- dan Haposan Hutagalung.

PT PT Salmah Arwana Lestari (SAL) tak lain adalah perusahaan penangkaran ikan arwana milik Anuar Salmah alias Amo. Perusahaan penangkaran ikan hias langka yang beromzet miliaran rupiah ini, kini sedang disidik di Mabes Polri. Amo, si pemilik usaha, dituduh telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan senilai 11 juta dollar Singapura. Pelapornya adalah Ho Kian Huat, pemilik PT Rainbow Aquarium yang berdomisili di Singapura, yang menjadi investor PT SAL.

Yang jadi persoalan, PT SAL sebenarnya sudah menang dalam gugatan perkara perdata dalam kasus yang sama. Anehnya, kini perusahaan penangkaran ikan hias yang berdomisili di kabupaten siak, Riau ini, justru dituding melakukan penipuan dan penggelapan oleh pihak yang sama, yakni investornya sendiri. Bahkan, polisi lebih mendahulukan laporan PT Rainbow ini daripada laporan PT SAL. Disinilah, kata Susno, peran markus beraksi.

10 Pelanggaran Susno Duadji
Penangkapan Susno Duadji yang akan berangkat ke singapura pada tanggal 12 april 2010 lalu di Bandara Soekarno-Hatta, bisa jadi menjadi puncak perseteruan antara dirinya dengan Mabes Polri. Mabes Polri beralasan, Susno dicegah pergi ke Singapura karena tidak punya izin dari Kapolri untuk pergi ke luar negeri.

Perkara pergi ke luar negeri tanpa izin ini menambah panjang daftar pelanggaran Susno Duadji sebagai seorang anggota polri. Sejak dicopot sebagai kabareskrim, Susno memang acapkali melakukan aktifitas yang membuat Mabes Polri gerah. Pasalnya, aktifitas tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan institusi Polri, dan cenderung menyerang kewibawan Polri.

Kini, beredar dokumen berlogo Polri yang berisi daftar perbuatan komjen pol Susno Duadji yang dianggap melanggar kode etik dan displin sebagai anggota Polri. Ada 10 ‘dosa’ Susno diluar kepergiannya ke Singapura tanda izin tadi.

Semua kesalahan Susno ini sudah disidik, termasuk memeriksa para saksi dan mengumpulkan barang bukti. Bahkan, saksi ahli yang memberatkan Susno juga kabarnya sudah dimintai keterangan. Ancaman pemecatan sebagai anggota polri pun sudah mengintai Susno. Dalam dokumen tersebut, direkomendasikan agar mantan kabareskrim itu diberhentikan secara tidak hormat.

Belum jelas bagaimana dokumen ini bisa beredar bebas. Yang pasti, Susno memang segera dipanggil lagi untuk diperiksa, yang mungkin akan berujung pada sidang pelanggaran kode etik. Susno sendiri sampai hari belum pernah diperiksa di Propam Mabes Polri. Ia memang sudah pernah datang memenuhi undangan pemeriksaan, namun saat itu ia menolak diperiksa. Ancaman menggelar sidang kode etik secara in ubsentia (tanpa kehadiran terperiksa/tersangka) pun mengancam Susno.

Catatan: artikel ini sudah ditayangkan dalam program Metro Realitas di Metro TV, edisi Senin, 19 April 2010, pukul 23.05 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar