Rabu, 21 April 2010

Reksa Dana Sebagai Maskawin Pernikahan

Salah satu hal yang membutuhkan pemikiran yang panjang dan melelahkan saat persiapan menikah, adalah menentukan maskawin atau mahar bagi calon mempelai wanita yang mau kita nikahi. Yang paling umum digunakan orang adalah memberikan maskawin berupa seperangkat alat sholat. Kalau tidak itu, yang sering dipakai lainnya adalah maskawin berupa uang atau emas. Ada kah bentuk maskawin lain yang lebih unik dan langka? Memberikan maskawin berupa rumah atau mobil sih, bagi aku bukan unik dan langka, karena sudah jamak terjadi. Lihat saja pernikahan orang-orang kaya atau selibritis.

Setelah berpikir lama dan mencari banyak referensi, akhirnya pilihan sudah aku jatuhkan. Maskawin yang aku pilih adalah reksa dana. Ya, reksa dana aku pilih dengan cara menggabungkannya dengan emas dan uang dolar amerika. Dan, hasilnya menurut aku unik dan langka. Pasalnya, masih banyak orang (setidaknya di keluargaku) yang belum melek reksa dana.


Ini memang kisah pernikahanku pada Januari 2010 lalu. Awalnya, aku berencana membuat maskawin berupa angka 16012010 dari uang logam pecahan 500. Angka 16012010 adalah penyatuan dari tanggal pernikahanku, 16 Januari 2010. Namun, rencana ini akhirnya batal karena susah juga mengumpulkan uang receh. Belum lagi kerepotan dalam menyusunnya nanti, agar rapi dan indah dipandang saat sudah dibentuk di bingkai. Singkat cerita, otak pun diputar lagu guna mencari ide lain.

Banyak ide-ide muncul dalam lamunan atau saat browsing di internet. Namun, pilihan akhirnya jatuh ke reksa dana. Banyak alasan yang melatarbelakanginya. Selain aku belum pernah menemukan ada orang menggunakan reksa dana sebagai maskawin, juga karena aku memang sedang senang-senangnya belajar dan mempraktekkan investasi di reksa dana. Reksa dana juga akan menjadi maskawin yang bisa dipakai sebagai kendaraan investasi kami ke depannya. Nilainya pun bisa naik seiring kenaikan perekonomian.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana menggunakan reksa dana tadi sebagai maskawin yang unik dan langka. Kalau sekadar memberikan maskawin berupa reksa dana memang gampang. Tinggal membeli sejumlah unit reksa dana dan menyerahkannya saat akad nikah. Namun, aku ingin tetap ada artinya dengan keberadaan reksa dana tadi. Akhirnya, otak pun di putar. Sebuah ide muncul, reksa dana dicampur dengan uang dolar dan emas guna membentuk angka tanggal pernikahanku, 16 Januari 2010.

Angka 16 dibentuk dari 16 dollar Amerika Serikat. Mengapa menggunakan dolar, dan bukan rupiah atau mata uang lainnya? Alasannya simpel saja. Mencari pecahan 16 rupiah bukan perkara gampang sekarang ini. Kalau tahun 50an dulu, barang kali mudah. Sedangkan mencari pecahan US$16 cukup gampang, karena ada pecahan US$10, US$5, dan US$1. Dolar pun dipakai karena nilai dolar bisa naik. Jadi bisa mengikuti inflasi bila tren rupiah sedang melemah. Artinya, ini juga salah satu bentuk investasi.

Agar lebih bagus, aku membentuk angka 16 tadi dengan kumpulan US$1. Beruntung ada kawan yang baru pulang dari luar negeri yang membawa cukup banyak pecahan US$1. Sebab, hasil survey ke beberapa money changer di Jakarta, pecahan US$1 jarang ada, dan kalaupun ada, kondisinya tidak bagus.

Untuk membentuk angka 1 (Januari), aku memilih emas batangan yang aku beli dari logam Mulia Aneka Tambang (Antam) . Aku membeli emas 1 gram itu langsung ke pusat penjualan logam mulia Antam di Jl Pramuka, Jakarta Timur. Aku pun mendapatkan satu pengalaman berharga saat membeli uang batangan ini. Pemilihan emas juga menjadi salah satu bentuk investasi yang diharapkan nilainya akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Nah, yang agak repot adalah menentukan angka 2010. Awalnya, agar menarik, aku ingin membentuknya dari reksa dana saham. Biasanya, setiap orang mendengar kata 'saham', bisa memunculkan banyak hal di dalam otak mereka. Biasanya sih decak kagum, walau mungkin juga tudingan norak. hehehe. Tapi, menentukan angka 2010 tidak lah mudah. Kecuali kita membeli reksa dana yang baru launching, dimana kita tinggal menyerahkan uang Rp 2.010.000 untuk mendapatkan 2010 unit reksadana saham itu dengan harga Rp 1.000 per unit. Tapi, akhir 2009 kemarin tidak ada reksa dana saham baru yang muncul. Membeli unit reksa dana saham yang sudah ada, tidak mungkin tepat bisa mendapatkan 2010 unit karena kita tidak tahu nilainya setiap hari, seiring pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pilihan akhirnya jatuh pada reksa dana pasar uang. Ini-lah jenis reksa dana yang paling mudah untuk menentukan berapa unit yang mau kita beli. Akhirnya, aku mengajak sang calon istri ke Bank Commenwealth cabang Supermall Karawaci untuk membuka rekening. Setelah itu, kami membeli reksadana pasar uang Mandiri Investa Pasar Uang keluaran PT Mandiri Manajemen Investasi, anak usaha dari Bank Mandiri. Mengapa harus mengajak sang calon istri? Agar rekening reksa dana memakai nama istri. Namanya juga mas kawin untuk calon istri. Kan ga lucu masih memakai nama si mempelai pria. Hehehe... Kami membeli 2010 unit reksadana Pasar Uang Mandiri Investa Pasar Uang sebesar 2010 unit dengan harga Rp 2.o10.000. Tak lama berselang, surat konfirmasi pembelian reksa dana sudah sampai di rumah. Ini-lah yang akan diserahkan secara fisik sebagai mas kawin.

Pemilihan reksadana sebagai mas kawin juga menjadi kendaraan investasi kami. Setidaknya, uang Rp 2.010.000 yang kami setor, kini sudah naik nilainya. Kalau tidak salah, awal April lalu sudah menjadi Rp 2.050.000. Menarik, bukan? Uang dolar, emas, dan reksa dana itu semuanya bisa menjadi investasi. Nilainya bisa mengikuti inflasi. Jadi tidak asal dipakai dalam satu hari saja saat akad nikah.

Persiapan mas kawin sudah beres. Aku membeli sebuah bingkai ukuran cukup besar. Di dalam bingkai, aku menyusun uang dolar, emas, dan surat konfirmasi pembelian reksa dana tadi untuk membentuk angka 16-1-2010, sesuai tanggal pernikahan kami.

Dan, ini-lah fotonya....
"...dengan mas kawin berupa 16 Dolar Amerika Serikat, 1 gram emas, dan 2010 unit reksa dana," kata Wahidin, penghulu pernikahan kami saat membacakan mas kawin pernikahan kami. Duh, senang juga mendengar ucapan penghulu yang juga Ketua KUA Kebayoran Baru itu. Tidak sia-sia waktu dan tenaga untuk menentukan mas kawin kami ini. Bagi aku, mas kawinku ini sudah unik dan langka.

Mas kawin kami ini, kini sudah terpajang di dalam kamar dan selalu kami pandangi tiap hari....

5 komentar:

  1. Anonim6:14 PM

    salut buat masnya. bener2 unik

    BalasHapus
  2. Anonim4:04 PM

    Artikelnya bagus. Saya bisa minta copypaste foto di atas buat referensi saya?

    rudi_vesta@hotmail.com

    BalasHapus
  3. terima kasih untuk komentarnya... :-)
    @rudi: boleh diperjelas, maksud anda ingin meng-kopi paste foto di atas ya? silahkan saja....

    BalasHapus
  4. Selamat Pagi Mas Edi Ginting,

    Saya Rudiyanto yang kemarin contact menggunakan email rudi_vesta@hotmail.com. Maksud saya, saya ingin memasukkan gambar foto di atas dalam blog saya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id.

    Artikelnya masih sedang saya kerjakan, rencananya akan saya publikasikan dengan menggunakan contoh foto tersebut. Jika tidak ada halangan, mudah2an bisa saya publikasikan di bulan Januari 2010 ini.

    Ngomong2 untuk reksa dana, apakah anda beli atas nama pribadi anda atau atas nama Istri anda?

    Saya akan berterima kasih sekali apabila bisa diberikan izin tersebut. Dan saya ucapkan selamat atas pernikahan anda. Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

    Saya bisa dihubungi di rudiyanto@infovesta.com.

    BalasHapus
  5. @Mas Rudi:
    Halo Mas....
    Maaf baru balas, krn baru sempat nge-blog lagi. Maklum, lagi punya kesibukan baru atas kehadiran 'si kecil' di rumah. hehehe..

    Silahkan saja dipakai foto di blog saya ini, mas.... Kalo demi kebaikan, tentu tidak ada alasan untuk melarangnya. hehehe...

    Untuk reksadana di mas kawin saya itu, saya membeli atas nama istri saya, agar lebih afdol sebagai mas kawan bagi istri. :-) Dan, untuk mendapatkan surat konfirmasi pembelian seperti yg ada di foto itu, sempat menjadi masalah. pasalnya, si tukang antar pos sempat menghilangkannya. hampir 4 hari saya bolak-balik mengurusnya. eh, ga taunya terselib di tas di tukang antar (katanya sih)

    terima kasih untuk ucapan selamatnya, mas....

    sukses selalu untuk mas Rudi.... :-)

    BalasHapus